*Flashback*
*Park Ririn POV*
“PARK RIRIIIIIN,” teriak Nichan ketika aku baru memasuki kelasku.
“Ne?” jawabku santai sambil duduk disamping sahabatku itu.
“Darimana saja kau baru datang jam segini?” ucapnya lagi dengan nada yang lebih tenang.
Aku menaruh tanganku di dagu. “Mian, aku kesiangan. Semalem aku harus membantu Yesung oppa menyelesaikan skripsinya,”
“WAA, YESUNG OPPA. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Sampaikan salamku ya, Ririn!” jawab Nichan semangat sambil mengeluarkan kerlingan andalannya ketika menginginkan sesuatu. Dia temanku dari SMP hingga sekarang, dan begitulah kebiasaannya ketika aku menyebutkan nama oppa-ku. Ya memang sih bisa dibilang oppa-ku itu ganteng dan menyenangkan, tak heran jika banyak yang suka padanya. Termasuk teman dekatku sendiri.
”Iya iya, tenang saja. Oiya tadi kenapa kau berteriak seperti itu kepadaku dan hampir membuatku kehilangan pendengaranku?” tanyaku.
” Hari ini ada murid baru pindahan dari Kanada. Dan yang paling penting dia lucuuuuu bangeeeeeeeeeeeet Ririn!” jawab Nichan lebih bersemangat sambil menunjukan muka sok-imutnya.
”Jeongmal? Selucu itukah? Memangnya kau sudah melihatnya?” jawabku sambil mengeluarkan hape karena ada sms. Oh Yesung Oppa.
”Sudah, tadi pas dia ke ruang kepala sekolah. Sumpah Ririn lucu banget mukanya, pipinya Rin, pipinyaaaaaaaa,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan bahuku.
”Iya, iya nanti kau tunjukkan saja padaku. Hm, aku punya berita bagus buatmu. Nanti siang Yesung Oppa akan menjemputku dan mentraktir makan. Kau mau ikut?” tanyaku padanya dan itu membuatnya melupakan masalah murid baru kanada yang ’katanya’ lucu itu. Nichan tersenyum lebar. Dan aku sudah tau jawabannya.
*Henry POV*
”Iya pak. Gomawo,” ucapku sambil menundukkan kepalaku kepada kepala sekolah baruku, Pak Leeteuk.
”Ya. Silahkan Pak Siwon antar dia ke kelasnya,” ucap Pak Leeteuk ke Pak Siwon, wali kelasku. ”Ya. Ayo Henry, ikuti saya,”
Aku mengikutinya dari belakang bahu gagahnya, mungkin usianya sekitar 28-an. Beberapa murid melihatku dan beberapa ada yang berbisik, ’Itu murid barunya?’ ’Wah, benar kata kau, dia lumayan juga’ ’Cool banget’ ’Pak Siwon makin lama makin ganteng saja’ dan masih banyak lagi yang kudengar. Kukira semuanya berbisik tentang diriku, ternyata ada juga yang membicarakan Pak Siwon, dia guru favorit ternyata.
Ya, aku sudah didepan kelasku. Di depanya tertulis X-A. Pak Siwon masuk duluan dan katanya ketika dia sudah memanggil namaku, aku baru boleh masuk. Sambil menunggu beliau memanggil namaku aku masih melihat murid-murid perempuan mengobrol ke arahku. ”Henry, ayo masuk!” panggil Pak Siwon. Dan aku memasuki kelasku. Seluruh siswa yang ada didalam melihatku dan mereka kembali berbisik, kali ini benar-benar berbisik walaupun aku bisa mendengarnya sayup-sayup.
Aku melihat sekeliling kelas itu dan mataku tertuju pada satu perempuan di barisan dua paling belakang. Dia cantik dan hanya dia yang tidak berkomentar apa-apa ketika melihatku masuk sedangkan teman sebangkunya sangat sibuk dengan senyumnya.
”Silahkan perkenalkan namamu,” Pak Siwon membuatku mengalihkan pandanganku dari perempuan itu.
”Oke. Nama saya Henry Lau, kalian bisa memanggil saya Henry. Saya pindahan dari Kanada,” aku memperkenalkan diriku sambil tersenyum. Aku melihat perempuan itu lagi, tapi kali ini dia ikut tersenyum.
” Ada yang mau bertanya?” kali ini Pak Siwon sudah duduk di kursinya. Beberapa murid wanita mengangkat tangannya. ”Baik, hanya 2 pertanyaan saja jadi 2 murid. Silahkan Park Nichan dan kemudian Lee Jungmin”
Aku berharap perempuan itu mengangkat tangannya, ternyata malah teman sebangkunya yang bertanya. ”Henry, kenapa kau pindah ke Korea ? Hm, bahasa koreamu bagus juga,” tanyanya sambil tersenyum mesem.
”Ayahku ditugaskan di Korea dan aku harus ikut. Dulu selama beberapa tahun aku sempat tinggal di Korea , jadi aku bisa sedikit-sedikit,” jawabku. ’Yaampun pipinyaa, senyumnya’ aku mendengar seseorang berbisik lagi. Aku langsung memegang pipiku. Apa yang salah dengan pipiku?
Tanpa dipersilahkan lagi, wanita yang tadi berbisik tentang pipiku bertanya, ”Kau sebenarnya orang mana? Aku melihat banyak perpaduan di wajahmu,” tanyanya. Apa maksud pertanyaannya itu? Hah
”Aku lahir di Taiwan Ibuku orang China dan Ayahku orang Kanada,“
”Oke cukup. Sekarang kau boleh duduk di belakang Nona Ririn. Sekarang keluarkan buku matematika kalian,“ ucap Pak Siwon. Ya, aku mendapatkannya. Namanya Ririn, nama yang cantik. Aku berjalan ke arah kursiku, kursi paling belakang. Aku tersenyum pada gadis itu dan dia membalas senyumku. Ah ternyata cantik sekali dia dari dekat.
”Henry, tolong cepat sedikit. Sedang apa kau berdiri disamping meja Ririn?” Pak Siwon mengagetkanku. Aku mengangguk dan segera duduk di kursiku. Dan aku mulai mengikuti pelajaran matematika walaupun mataku tertuju pada punggung Ririn.
*Park Ririn POV*
Sekarang waktunya istirahat dan kelas ini hampir kosong. Hanya ada Aku, Nichan, dan murid baru itu. Benar juga kata Nichan, dia lucu dan aku suka pipinya. Putih, tembem, dan terkadang kemerahan seperti waktu dia tersenyum kepadaku.
Setiap istirahat aku memang jarang ke kantin, karena aku dan Nichan membawa bekal dari rumah. Dan Henry pun begitu. Lucu sekali ada murid laki-laki yang membawa bekal seperti dia, sepertinya dia anak mama. Aish, mengapa aku jadi memikirkan dia seperti ini sih?
“Rin, mengapa kau melamun sambil senyum-senyum seperti itu, hah? Bahkan kau belom menyentuh makananmu sedikit pun. Makanlah, nanti kau sakit” Tanya Nichan dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
“Hh, iya iya aku makan,” jawabku. Aku membuka kotak makanku dan mulai memakannya. Hm cowok di belakangku ini mengapa tenang sekali makannya? Apa dia masih malu-malu? Batinku sambil menunduk.
”Hai. Aku Henry,” Aku mengangkat wajahku dan aku melihat wajahnya sudah di depanku. Dia mengulurkan tangannya ke arahku dan tersenyum. AA tolong jangan senyum seperti itu.
”Park Nichan imnida,” Nichan menyambut uluran tangan Henry yang kearakhu.
Henry melepas tangannya dan mengulurkannya lagi kearahku ”Kau?”. Aku bersalaman dengannya, ”Park Ririn imnida,” ucapku sambil menundukan kepalaku.
”Oke, kalian berdua mau tidak menjadi temanku? Aku belum mempunyai teman disini,” tanyanya. Aah aku suka mata sipitnya itu.
”Ya ya. Pasti kita berdua mau menjadi temanmu. Iya, kan Ririn?” tanya Nichan padaku.
”Hah? Iya pasti,”
”OKE. Kita berteman sekarang,” kata Henry sambil tersenyum (lagi).
*flashback end*
µµµ
*Park Ririn POV*
”Kau sedang apa Ririn?” tanya Nichan kepadaku dan membuyarkan lamunanku 4 tahun yang lalu.
”Ah, tidaak. Udara disini enak sekali. Aku suka berada disini,” jawabku tersadar dari lamunanku. Aku memang sedang berada di balkon kamarnya Henry dan merasakan udara yang sangat segar disini.
”Mau sampai kapan kau disini Ririn? Ayo turun, orang-orang sudah menunggu dibawah. Dan dibawah juga makin banyak orang berdatangan,” katanya lagi sambil berdiri disampingku.
”Iya, beberapa menit lagi Nichan,” kataku masih memandang lurus kedepan dan memang sudah banyak mobil yang berdatangan.
”Baiklah. Jangan terlalu lama ya. Nanti kau masuk angin. Mau hujan sepertinya,” respon Nichan sambil berlalu keluar kamar Henry.
Setelah Nichan aku mendengar obrolan Nichan dengan Eunhyuk, kekasihnya. ”Dia belum mau keluar juga, jagi?” itu suara Eunhyuk. ”Belum, mungkin sebentar lagi” jawab Nichan lirih.
Aku berbalik kearah pintu yang belum tertutup sempurna. Eunhyuk terlihat mengelus rambut Nichan lembut, merangkul pundaknya dan menutup pintu. Itu semua membuatku melamun lagi.
µµµ
*Flashback*
*Ririn POV*
”Waa, gak kerasa kita kelas 3 sekarang. Tahun depan berarti kita ujian yaa?” kata Henry sambil menjatuhkan tubuhnya di kasurku. Aku sudah terbiasa dengan sikap Henry yang seperti itu. Berbeda sekali dengan 2 tahun lalu ketika dia memintaku dan Nichan menjadi temannya.
Dulu kesan pertamaku dia pendiam, cool, anak mama, dan semuanya yang baik-baik. Untuk anak baik-baik dan anak mama itu memang benar. Karena mamanya memang selalu menelponnya 3 kali atau bahkan lebih dalam sehari. Tapi untuk pendiam, dan cool sepertinya aku salah besar. Dia baweeeel, seperti anak kecil, dan jorok. Dia jarang mandi dan sering meninggalkan bungkus makanan seenaknya di kasurnya bahkan kasurku dan kasurnya Nichan.
”Iya ya? Dan satu tahun lagi juga kau kembali ke Kanada. Hm,” ucapku sambil duduk di kasurku.
Henry bangun dan bersila di sampingku. “Aku belom memberitahukan ini padamu ya?” kata Henry mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Belum. Apa?” tanyaku penasaran sambil mendorong wajah Henry karena menurutku jaraknya terlalu dekat.
Henry melompat dari tempat tidur dan menuju balkon kamarku. “Yang ke Kanada tahun depan itu hanya orangtuaku saja,”
”Mwo? Kau bagaimana?” tanyaku berjalan menuju balkon.
”Aku tetap tinggal di Korea ,” katanya sambil mengembangkan senyum andalannya kepadaku.
”WAAAAA, YANG BENAR?” kataku membalas senyumannya.
”Ne, Ririn. Aku akan di Korea dan melanjutkan kuliah disini bersamamu dan Nichan tentunya,” katanya sambil mengacak rambutku.
”WAA, aku sangat senang mendengarnya Henry!” kataku dan reflek memeluknya.
”Nanti malam kau datang ke Blue Cafe ya. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Jam 7. On time. ” katanya sambil melepas pelukanku dan mencolek hidungku. Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
”BUAT APA? KATAKAN SAJA SEKARANG! SEENAKNYA SAJA KAU MEMELUKKU DAN LANGSUNG MENINGGALKANKU!” jawabku meninggikan suara walaupun aku tau Henry sudah keluar.
BRAK! ”HEI, JANGAN BERTERIAK SEPERTI ITU. BAGAIMANA KALAU IBUMU MENDENGARNYA. DAN SATU LAGI, TADI ITU BUKAN AKU YANG MEMELUKMU. TAPI KAU YANG MEMELUKKU, HEHE,” jawabnya cengengesan. Aku tersenyum dan pipiku terasa panas.
”Jangan lupa Blue Cafe jam 7. On Time!” teriak seseorang dibawah dan langsung mengendarai mobilnya cepat. Seperti jin saja dia sudah langsung ada dibawah.
”Ririn, jangan terlambat ya nanti jam 7,” ucap Ummaku sambil membawa selang hendak menyiram tanaman. HENRYYYYY! Batinku
*Henry POV*
”Mom, apakah anakmu ini sudah tampan?” tanyaku.
”Yes, you look so handsome, dear. Sukses ya, Mom yakin kau pasti bisa,” jawab Mom yakin.
“Aku berangkat Mom, salam buat Daddy ya,” kataku sambil mengecup kening Mom dan bergegas pergi.
Sekarang jam 7 kurang 15, dan aku sudah sampai di Blue Café 30 menit yang lalu. Aku sudah menghabiskan 20 menit untuk mengeluarkan perasaanku sekarang pada Nichan dan Eunhyuk disini. Cafe ini, tepatnya tempat aku duduk bersama Nichan dan Eunhyuk sudah disulap menjadi tempat yang indah. Diatas meja ada lilin beraroma yang cantik, dan dihiasi bunga mawar. Ririn akan datang 10 menit lagi. Hmmmm
10 menit kemudian…
“Henry,” akhirnya suara yang kutunggu datang juga.
Aku berbalik, “Ririn,” kataku kaget. Dia cantik sekali, memakai gaun biru tua selutut. Hm tampak serasi denganku yang menggunakan kemeja biru tua senada. ”Kau cantik sekali, Ririn” lanjutku sambil menarik kursi di depanku dan mempersilahkan dia duduk.
”Gomawo. Kau juga terlihat tampan Henry. Dan sepertinya baju kita serasi hihi,” jawabnya sambil duduk didepanku. Aku bingung mau mulai berbicara seperti apa kepadanya. Barusan saja aku menghabiskan makanan utamaku dan tinggal menunggu dessertnya datang.
”Silahkan Tuan, Nona, nikmati dessertnya,” kata pelayan disana ramah. ”Gomawo,” ucapku dan Ririn bebarengan.
”Waa, puding vanila. Kau tau aku suka puding Henry,” kata Ririn, aku hanya tersenyum dan dadaku bergemuruh. Semoga saja Ririn tidak mendengarnya. Aku ’terlihat’ tenang memakan pudingku, sesekali aku menoleh ke pojok belakang dan aku selalu melihat Nichan dan Eunhyuk kompak mengacungkan jempolnya.
”MWOO, kertas apa ini? Kenapa bisa ada di dalam puding enak ini?” teriak Ririn, kemudian dia membuka kertas itu perlahan.
DEG!!!
Aku memberanikan berdiri dan berjalan kearahnya kemudian aku berlutut sambil menggengam tangannya. ”Bagaimana?” tanyaku sambil tersenyum tentunya. Karena aku tahu, dia pasti luluh dengan senyumku hihi
Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Aku menariknya kepelukanku, tapi kemudian adegan yang sudah kutunggu-tunggu itu dirusak oleh duo Nichan-Eunhyuk.
”WOOOOW, CHUKAE YAAA, RIRIN-HENRY,” teriak Nichan sambil memelukku hingga membuat semua pengunjung menoleh ke arah teriakan Nichan. Sedangkan Eunhyuk malah nge-dance yang tidak jelas maksud dan juntrungannya apa. ”CHUKAE BROO!” teriak Eunhyuk tak kalah heboh sambil menepuk pundak Henry.
”Kalian bertiga sekongkol ternyata,” ucapku
”HAHAHA,” mereka bertiga hanya tertawa-tawa
*flashback end*
µµµ
*Park Ririn POV*
Aku tersenyum miris mengingat itu semua. Huh, aku merasa dibawah sudah semakin ramai. Tadi aku mencari sesuatu ditempat Henry biasa menyimpan foto albumnya. Tapi ternyata tidak ada aku hanya mengambil foto album keluarganya saja. Ketika aku menaruh foto album milik Henry ketempat semula aku menemukan banyak bon obat disana. Aku melihat tanggalnya dan ternyata itu beberapa hari sebelum Henry menyatakan perasaannya padaku. Tenyataa...
Aku menuruni tangga. Tadi aku minta izin kepada Ummanya Henry untuk ke kamarnya Henry sebentar. Ternyata disana sudah ada Appanya Nichan yang dulu juga kepala sekolahku Pak Leeteuk, ada Pak Siwon juga dan ada beberapa guruku waktu SMA dua tahun yang lalu. Ada teman-teman SMAku juga. Ada Appa-Ummaku, ada Yesung Oppa yang sedang berbicara bersama Hankyung Oppa, oppanya Nichan. Aku tidak menyangka akan ada banyak orang yang datang.
”Ririn,” kata Yesung Oppa dan Hankyung Oppa yang langsung menghampiriku. ”Kau tak apa?” lanjut Hankyung Oppa.
“Ne, kwaenchanha,” kataku menatap mereka dan langsung berjalan ke arah Appa-Ummanya Henry berdiri.
“Henry,” ucapku, tangan Yesung oppa memegang pundakku.
Aku terisak hebat ketika aku memegang sisi balok persegi panjang. Dan tiba-tiba semuanya gelap...
“Rin, kau sudah sadar?” tanya suara yang ku kenal, Nichan. Tadinya aku berharap itu Henry karena aku mencium aroma tubuhnya di kasur ini, tempat Henry tidur setiap hari. Tapi itu sudah tidak mungkin lagi.
“Aduh, kepalaku pusing Nichan,” aku berusaha bangun dan Nichan membantuku. “Yang lain kemana?” lanjutku.
“Masih dibawah Rin. Kau disini saja dulu ya. Acaranya masih dimulai satu jam lagi,” katanya berkaca-kaca. “RIRIIIIN,” isak Nichan sambil memelukku.
“Nichan, aku tak akan kuat. Aku tidak bisa. AKU GAK BISA!!” teriakku frustasi.
“Kau harus bisa Rin, aku yakin Henry akan sedih melihatmu seperti ini. Dia juga pasti ingin melihatmu bahagia, Rin,” katanya menenangkanku lalu menghapus air mataku yang pecah.
Nichan berjalan menuju lemari baju Henry dan mengeluarkan kotak sangat besar dan sepertinya berat. “Ini titipan dari Henry, tadinya Ummanya Henry yang mau menyerahkannya kepadamu. Tapi, tidak jadi karena kalau melihatmu dia pasti teringat wajah anaknya,” dia menyerahkannya padaku. “Aku kebawah sebentar ya, mau memberitahukan Yesung Oppa kalau kau sudah sadar. Dia khawatir sekali tadi,”
Setelah pintu tertutup, aku membuka kotak itu hati-hati. Hm, kenapa di kotak seperti ini masih saja tercium aroma tubuh Henry. Mataku berkaca-kaca lagi. Napasku tercekat begitu melihat isi kotak itu. Tuhan, aku tidak kuat. Aku mengambil isinya satu persatu.
Ada violin putih kesayangan Henry disitu lengkap dengan tas-nya. Aroma itu lagi.. Ada jaket kulit dariku yang setahun lalu aku berikan kepadanya sewaktu usianya bertambah. Ada beberapa dvd yang memang sengaja dia beli untuk maraton dvd bersamaku, Nichan dan Eunhyuk. Ada barang yang tadi aku cari di tempat foto album. Foto-fotoku dengan Henry, dan Nichan.
Ada pelampung dariku juga yang sering dipakainya untuk belajar berenang walaupun hasilnya nihil. Aku jadi mengingat pembicaraanku dengannya waktu itu di villa-nya Henry, “Kau apa-apaan sih? Bagaimana kalau tidak ada yang menolongmu tadi? Bagaimana kalau kau tenggelam? Kenapa kau tidak memakai pelampung yang ku belikan? Hah? Kau membuatku panik Henry,” ucapku lancar. “Mian jagi, aku hanya mau mencoba tidak memakai pelampung. Aku hanya ingin bisa melindungimu kalau kau tenggelam,” jawab Henry sambil memasang tampang innocent-nya. “Babo, itu sama saja kau mendoakanku tenggelam,” jawabku ngambek dan kita hanya tertawa-tawa sampai malam.
Ada kertas yang waktu itu ada di pudingku. Masih terlihat tulisan tangan Henry disitu. Tes! Air mataku menetes tepat diatas tulisan tangannya itu. Aku masih bisa membacanya, “Maukah kah menjadi kekasihku?”. Tulisan itu membuatku bergetar. Aku ingat sehabis itu Nichan bercerita banyak tentang perasaan Henry padaku. Nichan bercerita, Henry membutuhkan waktu selama beberapa bulan untuk menyatakan perasaannya kepadaku, bahkan menit-menit terakhir sebelum dia menyatakan perasaannya. Aku tidak menyangka Henry masih menyimpan ini semua.
Terakhir aku melihat surat yang tertempel di parfumnya yang masih ada setengah. Aku mencabutnya dan membacanya:
‘Aku mau kau menyimpan semua yang ada disini, Jagi. Aku mohon kau menjaganya dengan baik. Aku pasti kangen saat kamu memarahi ku kalau aku lupa mandi, kalau masih ada bungkus snack, kalau aku berenang tidak menggunakan pelampung, kalau aku meletakkan violinku sembarangan. Aku pasti kangen saat kau mencubit pipiku dan mukamu selalu seperti kepiting rebus saat aku mengeluarkan senyum mautku. Tapi aku suka itu.
Mian, aku tidak mengatakannya dari awal kalau aku sakit. Aku kanker otak stadium 3 waktu itu. Kalau saja aku mengatakan hal ini padamu pasti aku masih berada disisimu sekarang, karena kau pasti akan selalu mengingatkan jam minum obat kepadaku. Mian, aku meninggalkanmu. Jangan sedih ya disana. Kau harus tersenyum, karena kau pasti lebih cantik kalau tersenyum. punya Terima kasih selama ini sudah menjadi teman dekatku sekaligus kekasihku. Satu lagi, kau harus mencari penggantiku, harus yang lebih baik dan lebih sayang padamu ya. Jangan salah pilih. Tapi jangan mencari yang pipinya sepertiku, karena aku yakin hanya aku yang punya pipi seperti ini. Gomawo Ririn-ah. Saranghae’
Aku mengusap air mataku, mengembalikan semua barang milik Henry kedalam kotak itu dan menutupnya rapat. Aku menuju balkon kamar Henry. Aku teringat satu hal lagi, tepat sehari sebelum Henry masuk rumah sakit dan meninggalkanku selamanya.
Waktu itu aku menangis karena mendengar Ummanya Henry menelfonku sambil menangis. Aku yang waktu itu sedang membantu Nichan membuat kejutan untuk ulang tahun Eunhyuk langsung menuju rumah Henry. Ketika aku sampai di kamarnya, aku melihat tubuh Henry dibalut baju tidur serba putih membelakangiku sedang menikmati angin sepoi sepoi di balkonnya. Aku mengendap-endap mendekatinya dan berencana ingin mengagetinya tapi aku gagal. Dia tahu aku sudah datang. Dia menghampiriku dan menarik tanganku menuju balkon.
“Huh, kau tau rencanaku barusan, Henry,” ucapku sambil bergelayut manja di lengannya. Mukanya pucat sekali, rambutnya berantakan diterpa angin sore.
“Aku selalu tahu setiap kau datang, Jagi,” jawabnya sambil tersenyum kearahku. Aku membalas senyumannya dan ikut memandang lurus ke depan. “Ada yang ingin kubicarakan padamu,” lanjut Henry.
“Apa?” tanyaku. “Eh tunggu dulu, sebenarnya kau ini sakit apa Henry? Kau tak pernah bercerita sedikitpun tentang penyakitmu ini?” lanjutku sebelum Henry menjawabnya.
“Kanker otak,” jawabnya santai tanpa melihat ekspesi mukaku. Mulutku terkatup. Dadaku sesak, aku makin kuat mencengkram lengan Henry. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Aku bingung. Takut! “Stadium 4,” kali ini dia menoleh kearahku, tersenyum.
DEG! KANKER OTAK? STADIUM 4?
Aku ingat waktu itu mataku perih. Nafasku hampir habis. Setelah beberapa jam Henry bercerita tentang penyakitnya, dia masuk rumah sakit dan pergi...
“AAAAAH, sudah cukup aku mengingat hal itu. Aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak menangis,” ucapku sedikit berteriak pada diriku sendiri. Aku memutuskan untuk segera menuruni tangga. Acara pemakaman Henry akan dilaksanakan 10 menit lagi. Saat aku sampai di ruang tadi tempatku pingsan, aku melihat peti Henry sudah tertutup. “Gomawo, Henry,” kataku dalam hati.
-THE END-
*Park Ririn POV*
“PARK RIRIIIIIN,” teriak Nichan ketika aku baru memasuki kelasku.
“Ne?” jawabku santai sambil duduk disamping sahabatku itu.
“Darimana saja kau baru datang jam segini?” ucapnya lagi dengan nada yang lebih tenang.
Aku menaruh tanganku di dagu. “Mian, aku kesiangan. Semalem aku harus membantu Yesung oppa menyelesaikan skripsinya,”
“WAA, YESUNG OPPA. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Sampaikan salamku ya, Ririn!” jawab Nichan semangat sambil mengeluarkan kerlingan andalannya ketika menginginkan sesuatu. Dia temanku dari SMP hingga sekarang, dan begitulah kebiasaannya ketika aku menyebutkan nama oppa-ku. Ya memang sih bisa dibilang oppa-ku itu ganteng dan menyenangkan, tak heran jika banyak yang suka padanya. Termasuk teman dekatku sendiri.
”Iya iya, tenang saja. Oiya tadi kenapa kau berteriak seperti itu kepadaku dan hampir membuatku kehilangan pendengaranku?” tanyaku.
” Hari ini ada murid baru pindahan dari Kanada. Dan yang paling penting dia lucuuuuu bangeeeeeeeeeeeet Ririn!” jawab Nichan lebih bersemangat sambil menunjukan muka sok-imutnya.
”Jeongmal? Selucu itukah? Memangnya kau sudah melihatnya?” jawabku sambil mengeluarkan hape karena ada sms. Oh Yesung Oppa.
”Sudah, tadi pas dia ke ruang kepala sekolah. Sumpah Ririn lucu banget mukanya, pipinya Rin, pipinyaaaaaaaa,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan bahuku.
”Iya, iya nanti kau tunjukkan saja padaku. Hm, aku punya berita bagus buatmu. Nanti siang Yesung Oppa akan menjemputku dan mentraktir makan. Kau mau ikut?” tanyaku padanya dan itu membuatnya melupakan masalah murid baru kanada yang ’katanya’ lucu itu. Nichan tersenyum lebar. Dan aku sudah tau jawabannya.
*Henry POV*
”Iya pak. Gomawo,” ucapku sambil menundukkan kepalaku kepada kepala sekolah baruku, Pak Leeteuk.
”Ya. Silahkan Pak Siwon antar dia ke kelasnya,” ucap Pak Leeteuk ke Pak Siwon, wali kelasku. ”Ya. Ayo Henry, ikuti saya,”
Aku mengikutinya dari belakang bahu gagahnya, mungkin usianya sekitar 28-an. Beberapa murid melihatku dan beberapa ada yang berbisik, ’Itu murid barunya?’ ’Wah, benar kata kau, dia lumayan juga’ ’Cool banget’ ’Pak Siwon makin lama makin ganteng saja’ dan masih banyak lagi yang kudengar. Kukira semuanya berbisik tentang diriku, ternyata ada juga yang membicarakan Pak Siwon, dia guru favorit ternyata.
Ya, aku sudah didepan kelasku. Di depanya tertulis X-A. Pak Siwon masuk duluan dan katanya ketika dia sudah memanggil namaku, aku baru boleh masuk. Sambil menunggu beliau memanggil namaku aku masih melihat murid-murid perempuan mengobrol ke arahku. ”Henry, ayo masuk!” panggil Pak Siwon. Dan aku memasuki kelasku. Seluruh siswa yang ada didalam melihatku dan mereka kembali berbisik, kali ini benar-benar berbisik walaupun aku bisa mendengarnya sayup-sayup.
Aku melihat sekeliling kelas itu dan mataku tertuju pada satu perempuan di barisan dua paling belakang. Dia cantik dan hanya dia yang tidak berkomentar apa-apa ketika melihatku masuk sedangkan teman sebangkunya sangat sibuk dengan senyumnya.
”Silahkan perkenalkan namamu,” Pak Siwon membuatku mengalihkan pandanganku dari perempuan itu.
”Oke. Nama saya Henry Lau, kalian bisa memanggil saya Henry. Saya pindahan dari Kanada,” aku memperkenalkan diriku sambil tersenyum. Aku melihat perempuan itu lagi, tapi kali ini dia ikut tersenyum.
” Ada yang mau bertanya?” kali ini Pak Siwon sudah duduk di kursinya. Beberapa murid wanita mengangkat tangannya. ”Baik, hanya 2 pertanyaan saja jadi 2 murid. Silahkan Park Nichan dan kemudian Lee Jungmin”
Aku berharap perempuan itu mengangkat tangannya, ternyata malah teman sebangkunya yang bertanya. ”Henry, kenapa kau pindah ke Korea ? Hm, bahasa koreamu bagus juga,” tanyanya sambil tersenyum mesem.
”Ayahku ditugaskan di Korea dan aku harus ikut. Dulu selama beberapa tahun aku sempat tinggal di Korea , jadi aku bisa sedikit-sedikit,” jawabku. ’Yaampun pipinyaa, senyumnya’ aku mendengar seseorang berbisik lagi. Aku langsung memegang pipiku. Apa yang salah dengan pipiku?
Tanpa dipersilahkan lagi, wanita yang tadi berbisik tentang pipiku bertanya, ”Kau sebenarnya orang mana? Aku melihat banyak perpaduan di wajahmu,” tanyanya. Apa maksud pertanyaannya itu? Hah
”Aku lahir di Taiwan Ibuku orang China dan Ayahku orang Kanada,“
”Oke cukup. Sekarang kau boleh duduk di belakang Nona Ririn. Sekarang keluarkan buku matematika kalian,“ ucap Pak Siwon. Ya, aku mendapatkannya. Namanya Ririn, nama yang cantik. Aku berjalan ke arah kursiku, kursi paling belakang. Aku tersenyum pada gadis itu dan dia membalas senyumku. Ah ternyata cantik sekali dia dari dekat.
”Henry, tolong cepat sedikit. Sedang apa kau berdiri disamping meja Ririn?” Pak Siwon mengagetkanku. Aku mengangguk dan segera duduk di kursiku. Dan aku mulai mengikuti pelajaran matematika walaupun mataku tertuju pada punggung Ririn.
*Park Ririn POV*
Sekarang waktunya istirahat dan kelas ini hampir kosong. Hanya ada Aku, Nichan, dan murid baru itu. Benar juga kata Nichan, dia lucu dan aku suka pipinya. Putih, tembem, dan terkadang kemerahan seperti waktu dia tersenyum kepadaku.
Setiap istirahat aku memang jarang ke kantin, karena aku dan Nichan membawa bekal dari rumah. Dan Henry pun begitu. Lucu sekali ada murid laki-laki yang membawa bekal seperti dia, sepertinya dia anak mama. Aish, mengapa aku jadi memikirkan dia seperti ini sih?
“Rin, mengapa kau melamun sambil senyum-senyum seperti itu, hah? Bahkan kau belom menyentuh makananmu sedikit pun. Makanlah, nanti kau sakit” Tanya Nichan dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
“Hh, iya iya aku makan,” jawabku. Aku membuka kotak makanku dan mulai memakannya. Hm cowok di belakangku ini mengapa tenang sekali makannya? Apa dia masih malu-malu? Batinku sambil menunduk.
”Hai. Aku Henry,” Aku mengangkat wajahku dan aku melihat wajahnya sudah di depanku. Dia mengulurkan tangannya ke arahku dan tersenyum. AA tolong jangan senyum seperti itu.
”Park Nichan imnida,” Nichan menyambut uluran tangan Henry yang kearakhu.
Henry melepas tangannya dan mengulurkannya lagi kearahku ”Kau?”. Aku bersalaman dengannya, ”Park Ririn imnida,” ucapku sambil menundukan kepalaku.
”Oke, kalian berdua mau tidak menjadi temanku? Aku belum mempunyai teman disini,” tanyanya. Aah aku suka mata sipitnya itu.
”Ya ya. Pasti kita berdua mau menjadi temanmu. Iya, kan Ririn?” tanya Nichan padaku.
”Hah? Iya pasti,”
”OKE. Kita berteman sekarang,” kata Henry sambil tersenyum (lagi).
*flashback end*
µµµ
*Park Ririn POV*
”Kau sedang apa Ririn?” tanya Nichan kepadaku dan membuyarkan lamunanku 4 tahun yang lalu.
”Ah, tidaak. Udara disini enak sekali. Aku suka berada disini,” jawabku tersadar dari lamunanku. Aku memang sedang berada di balkon kamarnya Henry dan merasakan udara yang sangat segar disini.
”Mau sampai kapan kau disini Ririn? Ayo turun, orang-orang sudah menunggu dibawah. Dan dibawah juga makin banyak orang berdatangan,” katanya lagi sambil berdiri disampingku.
”Iya, beberapa menit lagi Nichan,” kataku masih memandang lurus kedepan dan memang sudah banyak mobil yang berdatangan.
”Baiklah. Jangan terlalu lama ya. Nanti kau masuk angin. Mau hujan sepertinya,” respon Nichan sambil berlalu keluar kamar Henry.
Setelah Nichan aku mendengar obrolan Nichan dengan Eunhyuk, kekasihnya. ”Dia belum mau keluar juga, jagi?” itu suara Eunhyuk. ”Belum, mungkin sebentar lagi” jawab Nichan lirih.
Aku berbalik kearah pintu yang belum tertutup sempurna. Eunhyuk terlihat mengelus rambut Nichan lembut, merangkul pundaknya dan menutup pintu. Itu semua membuatku melamun lagi.
µµµ
*Flashback*
*Ririn POV*
”Waa, gak kerasa kita kelas 3 sekarang. Tahun depan berarti kita ujian yaa?” kata Henry sambil menjatuhkan tubuhnya di kasurku. Aku sudah terbiasa dengan sikap Henry yang seperti itu. Berbeda sekali dengan 2 tahun lalu ketika dia memintaku dan Nichan menjadi temannya.
Dulu kesan pertamaku dia pendiam, cool, anak mama, dan semuanya yang baik-baik. Untuk anak baik-baik dan anak mama itu memang benar. Karena mamanya memang selalu menelponnya 3 kali atau bahkan lebih dalam sehari. Tapi untuk pendiam, dan cool sepertinya aku salah besar. Dia baweeeel, seperti anak kecil, dan jorok. Dia jarang mandi dan sering meninggalkan bungkus makanan seenaknya di kasurnya bahkan kasurku dan kasurnya Nichan.
”Iya ya? Dan satu tahun lagi juga kau kembali ke Kanada. Hm,” ucapku sambil duduk di kasurku.
Henry bangun dan bersila di sampingku. “Aku belom memberitahukan ini padamu ya?” kata Henry mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Belum. Apa?” tanyaku penasaran sambil mendorong wajah Henry karena menurutku jaraknya terlalu dekat.
Henry melompat dari tempat tidur dan menuju balkon kamarku. “Yang ke Kanada tahun depan itu hanya orangtuaku saja,”
”Mwo? Kau bagaimana?” tanyaku berjalan menuju balkon.
”Aku tetap tinggal di Korea ,” katanya sambil mengembangkan senyum andalannya kepadaku.
”WAAAAA, YANG BENAR?” kataku membalas senyumannya.
”Ne, Ririn. Aku akan di Korea dan melanjutkan kuliah disini bersamamu dan Nichan tentunya,” katanya sambil mengacak rambutku.
”WAA, aku sangat senang mendengarnya Henry!” kataku dan reflek memeluknya.
”Nanti malam kau datang ke Blue Cafe ya. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Jam 7. On time. ” katanya sambil melepas pelukanku dan mencolek hidungku. Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
”BUAT APA? KATAKAN SAJA SEKARANG! SEENAKNYA SAJA KAU MEMELUKKU DAN LANGSUNG MENINGGALKANKU!” jawabku meninggikan suara walaupun aku tau Henry sudah keluar.
BRAK! ”HEI, JANGAN BERTERIAK SEPERTI ITU. BAGAIMANA KALAU IBUMU MENDENGARNYA. DAN SATU LAGI, TADI ITU BUKAN AKU YANG MEMELUKMU. TAPI KAU YANG MEMELUKKU, HEHE,” jawabnya cengengesan. Aku tersenyum dan pipiku terasa panas.
”Jangan lupa Blue Cafe jam 7. On Time!” teriak seseorang dibawah dan langsung mengendarai mobilnya cepat. Seperti jin saja dia sudah langsung ada dibawah.
”Ririn, jangan terlambat ya nanti jam 7,” ucap Ummaku sambil membawa selang hendak menyiram tanaman. HENRYYYYY! Batinku
*Henry POV*
”Mom, apakah anakmu ini sudah tampan?” tanyaku.
”Yes, you look so handsome, dear. Sukses ya, Mom yakin kau pasti bisa,” jawab Mom yakin.
“Aku berangkat Mom, salam buat Daddy ya,” kataku sambil mengecup kening Mom dan bergegas pergi.
Sekarang jam 7 kurang 15, dan aku sudah sampai di Blue Café 30 menit yang lalu. Aku sudah menghabiskan 20 menit untuk mengeluarkan perasaanku sekarang pada Nichan dan Eunhyuk disini. Cafe ini, tepatnya tempat aku duduk bersama Nichan dan Eunhyuk sudah disulap menjadi tempat yang indah. Diatas meja ada lilin beraroma yang cantik, dan dihiasi bunga mawar. Ririn akan datang 10 menit lagi. Hmmmm
10 menit kemudian…
“Henry,” akhirnya suara yang kutunggu datang juga.
Aku berbalik, “Ririn,” kataku kaget. Dia cantik sekali, memakai gaun biru tua selutut. Hm tampak serasi denganku yang menggunakan kemeja biru tua senada. ”Kau cantik sekali, Ririn” lanjutku sambil menarik kursi di depanku dan mempersilahkan dia duduk.
”Gomawo. Kau juga terlihat tampan Henry. Dan sepertinya baju kita serasi hihi,” jawabnya sambil duduk didepanku. Aku bingung mau mulai berbicara seperti apa kepadanya. Barusan saja aku menghabiskan makanan utamaku dan tinggal menunggu dessertnya datang.
”Silahkan Tuan, Nona, nikmati dessertnya,” kata pelayan disana ramah. ”Gomawo,” ucapku dan Ririn bebarengan.
”Waa, puding vanila. Kau tau aku suka puding Henry,” kata Ririn, aku hanya tersenyum dan dadaku bergemuruh. Semoga saja Ririn tidak mendengarnya. Aku ’terlihat’ tenang memakan pudingku, sesekali aku menoleh ke pojok belakang dan aku selalu melihat Nichan dan Eunhyuk kompak mengacungkan jempolnya.
”MWOO, kertas apa ini? Kenapa bisa ada di dalam puding enak ini?” teriak Ririn, kemudian dia membuka kertas itu perlahan.
DEG!!!
Aku memberanikan berdiri dan berjalan kearahnya kemudian aku berlutut sambil menggengam tangannya. ”Bagaimana?” tanyaku sambil tersenyum tentunya. Karena aku tahu, dia pasti luluh dengan senyumku hihi
Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Aku menariknya kepelukanku, tapi kemudian adegan yang sudah kutunggu-tunggu itu dirusak oleh duo Nichan-Eunhyuk.
”WOOOOW, CHUKAE YAAA, RIRIN-HENRY,” teriak Nichan sambil memelukku hingga membuat semua pengunjung menoleh ke arah teriakan Nichan. Sedangkan Eunhyuk malah nge-dance yang tidak jelas maksud dan juntrungannya apa. ”CHUKAE BROO!” teriak Eunhyuk tak kalah heboh sambil menepuk pundak Henry.
”Kalian bertiga sekongkol ternyata,” ucapku
”HAHAHA,” mereka bertiga hanya tertawa-tawa
*flashback end*
µµµ
*Park Ririn POV*
Aku tersenyum miris mengingat itu semua. Huh, aku merasa dibawah sudah semakin ramai. Tadi aku mencari sesuatu ditempat Henry biasa menyimpan foto albumnya. Tapi ternyata tidak ada aku hanya mengambil foto album keluarganya saja. Ketika aku menaruh foto album milik Henry ketempat semula aku menemukan banyak bon obat disana. Aku melihat tanggalnya dan ternyata itu beberapa hari sebelum Henry menyatakan perasaannya padaku. Tenyataa...
Aku menuruni tangga. Tadi aku minta izin kepada Ummanya Henry untuk ke kamarnya Henry sebentar. Ternyata disana sudah ada Appanya Nichan yang dulu juga kepala sekolahku Pak Leeteuk, ada Pak Siwon juga dan ada beberapa guruku waktu SMA dua tahun yang lalu. Ada teman-teman SMAku juga. Ada Appa-Ummaku, ada Yesung Oppa yang sedang berbicara bersama Hankyung Oppa, oppanya Nichan. Aku tidak menyangka akan ada banyak orang yang datang.
”Ririn,” kata Yesung Oppa dan Hankyung Oppa yang langsung menghampiriku. ”Kau tak apa?” lanjut Hankyung Oppa.
“Ne, kwaenchanha,” kataku menatap mereka dan langsung berjalan ke arah Appa-Ummanya Henry berdiri.
“Henry,” ucapku, tangan Yesung oppa memegang pundakku.
Aku terisak hebat ketika aku memegang sisi balok persegi panjang. Dan tiba-tiba semuanya gelap...
“Rin, kau sudah sadar?” tanya suara yang ku kenal, Nichan. Tadinya aku berharap itu Henry karena aku mencium aroma tubuhnya di kasur ini, tempat Henry tidur setiap hari. Tapi itu sudah tidak mungkin lagi.
“Aduh, kepalaku pusing Nichan,” aku berusaha bangun dan Nichan membantuku. “Yang lain kemana?” lanjutku.
“Masih dibawah Rin. Kau disini saja dulu ya. Acaranya masih dimulai satu jam lagi,” katanya berkaca-kaca. “RIRIIIIN,” isak Nichan sambil memelukku.
“Nichan, aku tak akan kuat. Aku tidak bisa. AKU GAK BISA!!” teriakku frustasi.
“Kau harus bisa Rin, aku yakin Henry akan sedih melihatmu seperti ini. Dia juga pasti ingin melihatmu bahagia, Rin,” katanya menenangkanku lalu menghapus air mataku yang pecah.
Nichan berjalan menuju lemari baju Henry dan mengeluarkan kotak sangat besar dan sepertinya berat. “Ini titipan dari Henry, tadinya Ummanya Henry yang mau menyerahkannya kepadamu. Tapi, tidak jadi karena kalau melihatmu dia pasti teringat wajah anaknya,” dia menyerahkannya padaku. “Aku kebawah sebentar ya, mau memberitahukan Yesung Oppa kalau kau sudah sadar. Dia khawatir sekali tadi,”
Setelah pintu tertutup, aku membuka kotak itu hati-hati. Hm, kenapa di kotak seperti ini masih saja tercium aroma tubuh Henry. Mataku berkaca-kaca lagi. Napasku tercekat begitu melihat isi kotak itu. Tuhan, aku tidak kuat. Aku mengambil isinya satu persatu.
Ada violin putih kesayangan Henry disitu lengkap dengan tas-nya. Aroma itu lagi.. Ada jaket kulit dariku yang setahun lalu aku berikan kepadanya sewaktu usianya bertambah. Ada beberapa dvd yang memang sengaja dia beli untuk maraton dvd bersamaku, Nichan dan Eunhyuk. Ada barang yang tadi aku cari di tempat foto album. Foto-fotoku dengan Henry, dan Nichan.
Ada pelampung dariku juga yang sering dipakainya untuk belajar berenang walaupun hasilnya nihil. Aku jadi mengingat pembicaraanku dengannya waktu itu di villa-nya Henry, “Kau apa-apaan sih? Bagaimana kalau tidak ada yang menolongmu tadi? Bagaimana kalau kau tenggelam? Kenapa kau tidak memakai pelampung yang ku belikan? Hah? Kau membuatku panik Henry,” ucapku lancar. “Mian jagi, aku hanya mau mencoba tidak memakai pelampung. Aku hanya ingin bisa melindungimu kalau kau tenggelam,” jawab Henry sambil memasang tampang innocent-nya. “Babo, itu sama saja kau mendoakanku tenggelam,” jawabku ngambek dan kita hanya tertawa-tawa sampai malam.
Ada kertas yang waktu itu ada di pudingku. Masih terlihat tulisan tangan Henry disitu. Tes! Air mataku menetes tepat diatas tulisan tangannya itu. Aku masih bisa membacanya, “Maukah kah menjadi kekasihku?”. Tulisan itu membuatku bergetar. Aku ingat sehabis itu Nichan bercerita banyak tentang perasaan Henry padaku. Nichan bercerita, Henry membutuhkan waktu selama beberapa bulan untuk menyatakan perasaannya kepadaku, bahkan menit-menit terakhir sebelum dia menyatakan perasaannya. Aku tidak menyangka Henry masih menyimpan ini semua.
Terakhir aku melihat surat yang tertempel di parfumnya yang masih ada setengah. Aku mencabutnya dan membacanya:
‘Aku mau kau menyimpan semua yang ada disini, Jagi. Aku mohon kau menjaganya dengan baik. Aku pasti kangen saat kamu memarahi ku kalau aku lupa mandi, kalau masih ada bungkus snack, kalau aku berenang tidak menggunakan pelampung, kalau aku meletakkan violinku sembarangan. Aku pasti kangen saat kau mencubit pipiku dan mukamu selalu seperti kepiting rebus saat aku mengeluarkan senyum mautku. Tapi aku suka itu.
Mian, aku tidak mengatakannya dari awal kalau aku sakit. Aku kanker otak stadium 3 waktu itu. Kalau saja aku mengatakan hal ini padamu pasti aku masih berada disisimu sekarang, karena kau pasti akan selalu mengingatkan jam minum obat kepadaku. Mian, aku meninggalkanmu. Jangan sedih ya disana. Kau harus tersenyum, karena kau pasti lebih cantik kalau tersenyum. punya Terima kasih selama ini sudah menjadi teman dekatku sekaligus kekasihku. Satu lagi, kau harus mencari penggantiku, harus yang lebih baik dan lebih sayang padamu ya. Jangan salah pilih. Tapi jangan mencari yang pipinya sepertiku, karena aku yakin hanya aku yang punya pipi seperti ini. Gomawo Ririn-ah. Saranghae’
Aku mengusap air mataku, mengembalikan semua barang milik Henry kedalam kotak itu dan menutupnya rapat. Aku menuju balkon kamar Henry. Aku teringat satu hal lagi, tepat sehari sebelum Henry masuk rumah sakit dan meninggalkanku selamanya.
Waktu itu aku menangis karena mendengar Ummanya Henry menelfonku sambil menangis. Aku yang waktu itu sedang membantu Nichan membuat kejutan untuk ulang tahun Eunhyuk langsung menuju rumah Henry. Ketika aku sampai di kamarnya, aku melihat tubuh Henry dibalut baju tidur serba putih membelakangiku sedang menikmati angin sepoi sepoi di balkonnya. Aku mengendap-endap mendekatinya dan berencana ingin mengagetinya tapi aku gagal. Dia tahu aku sudah datang. Dia menghampiriku dan menarik tanganku menuju balkon.
“Huh, kau tau rencanaku barusan, Henry,” ucapku sambil bergelayut manja di lengannya. Mukanya pucat sekali, rambutnya berantakan diterpa angin sore.
“Aku selalu tahu setiap kau datang, Jagi,” jawabnya sambil tersenyum kearahku. Aku membalas senyumannya dan ikut memandang lurus ke depan. “Ada yang ingin kubicarakan padamu,” lanjut Henry.
“Apa?” tanyaku. “Eh tunggu dulu, sebenarnya kau ini sakit apa Henry? Kau tak pernah bercerita sedikitpun tentang penyakitmu ini?” lanjutku sebelum Henry menjawabnya.
“Kanker otak,” jawabnya santai tanpa melihat ekspesi mukaku. Mulutku terkatup. Dadaku sesak, aku makin kuat mencengkram lengan Henry. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Aku bingung. Takut! “Stadium 4,” kali ini dia menoleh kearahku, tersenyum.
DEG! KANKER OTAK? STADIUM 4?
Aku ingat waktu itu mataku perih. Nafasku hampir habis. Setelah beberapa jam Henry bercerita tentang penyakitnya, dia masuk rumah sakit dan pergi...
“AAAAAH, sudah cukup aku mengingat hal itu. Aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak menangis,” ucapku sedikit berteriak pada diriku sendiri. Aku memutuskan untuk segera menuruni tangga. Acara pemakaman Henry akan dilaksanakan 10 menit lagi. Saat aku sampai di ruang tadi tempatku pingsan, aku melihat peti Henry sudah tertutup. “Gomawo, Henry,” kataku dalam hati.
-THE END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar