Nichan’s POV
Koper, check. Kamera, check. Makanan, check. Sepatu, check. Sepertinya sudah lengkap. “Baiklah ayo berangkat!” seruku yang memang sudah tidak sabar untuk liburan kali ini. “Ya sudah masukkan saja barang-barangmu ke mobilku” Jihyun masih sibuk dengan mobilnya. “Barang-barangmu sudah masuk semua?” aku bertanya padanya. “Sudah. Nah beres. Ayo berangkat!”
“Chagiiiiiii! Tunggu sebentar!” Minji berteriak dari dalam rumahnya. “Wae? Ayo berangkat!!” Jihyun ikut berteriak dari luar. Minji berlari menuju mobil. “Mian tadi aku nyari sepatu dulu. Ayo berangkat!”
Yeey! Hari ini aku dan sahabatku serta pacarnya yang juga sahabatku (jadi ribet) pergi liburan! Kami ingin hiking di Bukhansan. Sebenarnya kami masih kurang satu orang, yaitu pacarku. Kalian semua pasti sudah mengenalnya. Kalian tahu Lee Jinki kan? Masih kurang familiar? Itu loh, SHINee’s Leader, Onew. Kalian tahu? Kami berpacaran sejak dia mulai debut sampai sekarang. Tidak ada yang tahu, hanya aku dan 2 sahabatku
Aku melihat 2 sahabatku itu bermesraan di kursi depan. Aah aku iri! Jinki-ya, bogoshipoyo, sejak SHINee mengeluarkan album Ring Ding Dong, kami makin jarang bertemu. Hanya bertemu di sms atau telpon. Itu juga jarang. Sedang apa ya dia?
“Chagi, kita sampai berapa lama lagi?” Minji bertanya pada Jihyun yang sibuk menyetir. “Kira-kira satu jam lagi” jawabnya. Mwo? satu jam lagi? Omo, aku tidur sajalah kalau begitu. Aku membetulkan posisi badanku agar dapat posisi tidur super nyaman.
‘Juliette, oh~’
Ada telpon, ah Jinki! “Yobeseyo, Jinki-ya! Bogoshipoyo! Tumben menelponku” aku menjawab telponnya semangat. “Nado! Aku sedang menunggu waktu latihan, jadi aku menelpon. Kau sedang apa?” tanyanya. Ah aku mendengar suaranya lagi! “Aku sedang di perjalanan ke Bukhansan! Hiking! Harusnya kau juga ikut, kita sudah lama tidak bertemu”
“Jinca? Aku ingin ke situ” katanya memelas.
“Ke sini saja tidak ada yang melarang kok” aku bercanda.
“Oke sebentar ya, aku cegat taksi dulu”
“Kau serius?”
“Iyalah, kau menginap di rumah lamanya Jihyun ya?”
“Ne, hey Jinki, kau serius ingin menyusul?”
“Iyaa! Kau tidak mau aku datang ya? Kau tidak rindu padaku?”
“Ya mau, tapi latihanmu?”
“Aku sudah dapat taksi, tunggu aku ya? Annyeong chagi!”
KLEK. Telepon di tutup. Hey dia serius ingin menyusul kami? Yang benar saja. Mungkin dia bercanda. “Kenapa Nichan? Jinki menelponmu?” Jihyun bertanya padaku. “Ne, dan dia bilang dia mau menyusul kita..” jawabku. “Mwo? yang benar saja dia menyusul kita. Dia bercanda kali” kata Jihyun yang masih menyetir mobil dengan serius. “Iya pasti dia bercanda, namja chingu mu kan memang begitu dari dulu” sambung Minji.
Tentu saja dia bercanda. Pikirku. Mana mungkin dia mangkir dari pekerjaannya. Ia kan sangat profesional meski dia masih 21 tahun. Sudahlah tidak usah dipkirkan.
==
Onew’s POV
Hari ini seperti biasa aku bangun pagi, lalu sarapan, lalu latihan untuk album terbaru kami. Jujur, aku sudah mulai muak dengan semua yang ku lakukan. Aku ingin liburan, ingin bertemu udara segarku, Park Nichan. Sedang apa ya? Ku telepon saja ah.
“Yobeseyo, Jinki-ya! Bogoshipoyo! Tumben menelponku” ia menjawab teleponku. Ah, suaranya seperti air yang segar untuk jiwaku. “Nado! Aku sedang menunggu waktu latihan, jadi aku menelpon. Kau sedang apa?” aku bertanya padanya. “Aku sedang di perjalanan ke Bukhansan! Hiking! Harusnya kau juga ikut, kita sudah lama tidak bertemu”. Mwo? hiking? Pasti di rumah lamanya Jihyun. Hey, apa aku menyusul mereka saja? “Jinca? Aku ingin ke situ” aku melihat sekeliling, sepertinya aman. “Ke sini saja tidak ada yang melarang kok” jawabnya lagi. Aku jadi makin semangat untuk pergi. “Oke sebentar ya, aku cegat taksi dulu” aku berjalan keluar gedung SM. “Kau serius?” ia meragukan perkataanku.
“Iyalah, kau menginap di rumah lamanya Jihyun ya?” aku melihat sekeliling mencari taksi kosong.
“Ne, hey Jinki, kau serius ingin menyusul?” ia masih ragu rupanya.
“Iyaa! Kau tidak mau aku datang ya? Kau tidak rindu padaku?”
“Ya mau, tapi latihanmu?”
Nah, dapat taksi. Aku masuk kedalam taksi itu. “Aku sudah dapat taksi, tunggu aku ya? Annyeong chagi!”aku menutup telpon. “Ke Bukhansan ya ahjussi, tolong cepat” kataku pada supir ahjussi. Yes! Aku sudah sabar bertemu udara segar!
==
Nichan’s POV
Akhirnya sampai juga! Wuaah sudah lama aku tidak kesini. Terakhir saat aku, Minji, Jinki, dan Jihyun masih kelas 2 SMP. Sekarang kami sudah lulus sekolah. Waktu yang sangat lama ya. “Nichan-ah! Ayo bantu aku keluarkan barang-barang, kita masak!” Minji membawa semua peralatan kami untuk masak makan siang hari ini. “Ne! Aku keluarkan makanannya ya!” aku menuju mobil dan mengeluarkan bahan makanan. Lalu tiba-tiba..
“Chagi!” seseorang memelukku dari belakang. “Ah!” aku kaget dan semua makanan. Pasti ini.. “Jinki-ya! Mengapa kau ada disini? Lihat tuh makanannya jatuh semua” aku melepaskan pelukannya. “Hehe mianhae, aku bantu sini”
“Nichan-ah! Kwaenchanha?” Jihyun keluar dari dapur bersama chagiya nya. “Kwaenchanhaa!” aku menjawab. “Ada siapa sih di luar? Kenapa ribut sekali” kata Jihyun lagi. “Ada aku! Lee Jinki!”
“Mwo? Jinki?” Jihyun dan Minji keluar rumah. “Jinki-ya! Bogoshipoyo~” Jihyun berpelukan dengan sahabat jiwanya. “Nado! Bagaimana kau dengan Minji?” tanya Jinki. “Seperti yang kau lihat” jawabnya.
“Kenapa kau bisa di sini? Bukannya kau mau latihan? Bagaimana dengan...hmph” Jinki membekap mulutku. “Sudah jangan banyak tanya, kau cerewet sekali sih.. ayo masuk kita masak, aku lapar nih”
==
Author’s POV
Sementara itu di gedung SM..
“Jonghyun-sshi, mana Onew? Bukankah ia datang lebih dulu?” tanya sang koreografer pada Jonghyun yang juga kebingungan karena tidak bisa menemukan Leader SHINee yang satu itu. “Molla, iya, tadi dia datang duluan. Tapi kemana dia sekarang?” Jonghyun mengutak-ngatik handphonenya, mencari nomor Onew. “Aku telpon dia”
Tidak ada jawaban. “Sial, mailbox” Jonghyun mulai kesal. “Kemana sih dia?” Minho ikut-ikutan bingung dengan hyungnya yang tiba-tiba menghilang. “Di culik kali hyung” Taemin nimbrung dengan santainya. “Andwae! Hati-hati kalau bicara, babo!” Key menjitak kepala Taemin. “Ya! Sakit tau! Umma macam apa kau” Taemin mengelus kepalanya yang sakit.
“Umma yang peduli pada suaminya! Apa kau?” Key membela diri. “Ya! Key, Taemin, bukannya ikutan mencari..” Jonghyun melerai kedua dongsaengnya itu.
“Mau mencari kemana lagi? Bukankah kita sudah berkeliling di sekitar sini, lalu menelponnya, dan memang di tidak ketemu, mau bagaimana?” kata Key. “Telpon pacaranya?” usul Minho. “”Emang dia punya pacar? Diakan payah sekali untuk urusan wanita” Jonghyun berpendapat.
“Bukannya punya?” tebak Taemin. “Kau salah dengar mungkin. Sudah kita latihan saja dulu, mungkin beberapa saat lagi dia datang” Minho menenangkan suasana. Mereka kembali latihan.
==
Nichan’s POV
“Mwo? kabur? Leader macam apa kau ini Jinki? Bisa-bisanya..” aku kaget mendengar Jinki yang bisanya sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. “Chagi, kau tidak mengerti, aku hanya ingin bersenang-senang untuk 2 hari ini saja.. tolong jangan usir aku ya? Jebal..” oh jebal Jinki, jangan memohon dengan muka seperti bayi, aku tidak bisa menolak tahuu!
“Sudahlah Nichan, aku tau kau pasti merindukannya, kasihan sekali dia kalau harus balik lagi untuk latihan” inilagi Minji ikut-ikutan membujukku. “Sekali-sekali ada artis yang gabung dengan kita boleh juga loh, Nichan” lanjut Jihyun sambil menyuap makanan. “Ahaha bisa saja kau” Jinki bertos-tosan dengan Jihyun.
“Baiklah kau tidak akan ku usir” aku menyerah. “Tapi kau janji habis pulang dari sini kembali bekerja seperti biasa” lanjutku. Jinki tersenyum senang, dan ciumannya mendarat di pipiku. “Kyaa! Tidak sopan!” pipiku bersemu merah. Jinki! Kau..
“Kkk, gomawo chagi, saranghae! Aku main dulu ya? Jihyun-ah! Ayo main badminton!” ia berlalu, membawa raketnya dan mulai bermain. Ah apa-apaan ini? Aku di kalahkan sebuah ciuman dari seorang SHINee’s Onew? Omona~ pipiku sudah balik seperti semula belum ya?
Aku dan Minji melihat namja chingu kami bermain badminton. Haha lucu sekali mereka, sudah lama mereka tidak bermain seperti itu. Yap sejak Jinki debut di SHINee, Jihyun bermain dengan kami terus, untung belum jadi banci, haha (siap-siap di tinju Minji).
“Ya! Kalian berdua! Daripada menonton kami lebih baik ikutan kami, main ganda campuran” usul Jinki. “Ayo ikut, balli!” Jihyun menarik Minji. Jinki juga menarikku. “Ayo chagi..” aku pun ikut bermain dengan mereka.
Malam menjelang, kami sudah kelelahan dan selesai bermain. Seperti biasa, kami kalah. Jinki makin payah di olahraga. “Hhhh Jinki-ya! Makanya kau belajar sama Minho biar bisa menang” aku berkata pada Jinki yang masih kelelahan setelah bermain. “Hehe mianhae! Yang penting senang kan?” katanya sambil mengibaskan rambutnya. Omo, dia keren juga kalau seperti itu. “Ne! Mandi sana, kau bau” aku menutup hidungku, bercanda. “Jinca? Okelah aku mandi”
==
“Ayo kita tidur, besok pagi kita hiking!” Jihyun menyuruh kami tidur. “Ne! Chaljayo yorobun! Ayo Nichan aku ngantuk” Minji menarikku masuk ke dalam kamar. “Eits, tunggu dulu” Jinki menarik tanganku yang satu lagi. “Biarkan kami berdua dulu” heh? Apa yang mau dia lakukan? “Kalian? berdua? Mau ngapain?” tanya Minji pada Jinki. “Itu urusanku, kau tidur saja sana” kini aku sudah berada di sisi Jinki. “Ah ara, ara, aku masuk duluan, tapi kalian jangan berbuat macam-macam ya!”
“Nah sekarang kita sudah berdua” ia tersenyum. “Lalu mengapa kalau kita sudah berdua saja?”
“Tidak kenapa-kenapa. Kau diam saja ya, jangan bergerak, aku tidak – akan – berbuat- sesuatu – yang – buruk – padamu. Arasseo?”
“Ne, arasseo”
Ia menatap wajahku lekat, lamaa sekali. “Kau kenapa Jinki?” aku bertanya padanya yang masih menatapku. “Aku baik-baik saja” jawabnya. “Aku mau tidur sekarang, chaljayo cahgi~” ia beranjak pergi ke kamarnya.
Jinki yang aneh. Aneh aneh aneeh! “Random sekali kau, kenapa dulu aku mau jadi pacarmu ya?” ucapku dalam hati. “Cha-chaljayo”.
==
“sst, Nichan-ah, bangun chagi!” seseorang berbisik di kupingku mengganggu ketentraman pagi ini. “Mwo? Jinki-ya! Ngapain disini? Masuk kamar perempuan seenaknya!” aku sedikit berteriak karena kaget tiba-tiba ada Jinki di sampingku. “Kau bisa tidak berisik tidak? Aku ingin mengajakmu hiking duluan”
Mwo? Anak ini.. “Andwae! Aku mau tidur lagi ah, masih gelap tauu” aku menarik selimutku lagi. “Jebal Nichan-ah, aku mau hiking sekarang, temani aku ya ya?” ia memohon dengan seperti biasa, memasang tampang bagai seorang malaikat. “Ne, ne, aku sikat gigi dulu”
==
“Hap! Awas di situ agak licin” Jinki membantuku menaiki gunung Bukhansan ini. Di pagi yang masih gelap dan dingin. “Nah kita sudah sampai” ia tersenyum senang. “Ah.. udara segar. Sudah lama aku tidak dapat yang seperti in” katanya lagi. “Sebenarnya kau mau melakukan apa di sini chagi?”
“Kau tidak ingat sekarang hari apa?” ia balik bertanya. “Hmm, Sabtu?” jawabku. “Aish.. kau lupa ya? Hari ini tepat 2 tahun kita berpacaran, ingat tidak?”
Mwo? Kami sudah 2 tahun berpacaran? Sejak SHINee mulai debut sampai sekarang? “Jinca? Kita sudah 2 tahun berpacaran? Aku pikir baru 2 bulan, hihi” aku sedikit kaget. “Iya bodoh, aku minta hadiah dong” ia mendahkan tangannya. “Sudah mengataiku bodoh masih minta hadiah. Namja chingu payah!” aku pura-pura ngambek. “Aku? Payah?”
“Ne! Namja paling payah se Korea” kataku lagi. Senang sekali rasanya mengejeknya payah. “Apa kau masih mengejekku payah jika aku memberikanmu ini?” katanya seperti telah menyiapkan sesuatu. “Memberikanku apa?” aku balik bertanya. “Jam berapa sekarang?” ia bertanya lagi. Aku melihat jam digitalku “Masih jam 05.58”. “Oh sebentar lagi”. Sebentar lagi?
“Coba kau balik arah” ia menyuruhku berbalik arah. “Kau mau apasih sebenarnya?” aku masih bingung dengan apa yang sudah Jinki rencanakan padaku. “Mau memberikanmu hadiah yang akan mebuatmu tersenyum” katanya. “Aku tutup matamu sebentar ya” ia menutup mataku hati-hati. “Ne..”
“Hana, dul, set!”
Aku membuka mataku dan... aku tersenyum lebar
Koper, check. Kamera, check. Makanan, check. Sepatu, check. Sepertinya sudah lengkap. “Baiklah ayo berangkat!” seruku yang memang sudah tidak sabar untuk liburan kali ini. “Ya sudah masukkan saja barang-barangmu ke mobilku” Jihyun masih sibuk dengan mobilnya. “Barang-barangmu sudah masuk semua?” aku bertanya padanya. “Sudah. Nah beres. Ayo berangkat!”
“Chagiiiiiii! Tunggu sebentar!” Minji berteriak dari dalam rumahnya. “Wae? Ayo berangkat!!” Jihyun ikut berteriak dari luar. Minji berlari menuju mobil. “Mian tadi aku nyari sepatu dulu. Ayo berangkat!”
Yeey! Hari ini aku dan sahabatku serta pacarnya yang juga sahabatku (jadi ribet) pergi liburan! Kami ingin hiking di Bukhansan. Sebenarnya kami masih kurang satu orang, yaitu pacarku. Kalian semua pasti sudah mengenalnya. Kalian tahu Lee Jinki kan? Masih kurang familiar? Itu loh, SHINee’s Leader, Onew. Kalian tahu? Kami berpacaran sejak dia mulai debut sampai sekarang. Tidak ada yang tahu, hanya aku dan 2 sahabatku
Aku melihat 2 sahabatku itu bermesraan di kursi depan. Aah aku iri! Jinki-ya, bogoshipoyo, sejak SHINee mengeluarkan album Ring Ding Dong, kami makin jarang bertemu. Hanya bertemu di sms atau telpon. Itu juga jarang. Sedang apa ya dia?
“Chagi, kita sampai berapa lama lagi?” Minji bertanya pada Jihyun yang sibuk menyetir. “Kira-kira satu jam lagi” jawabnya. Mwo? satu jam lagi? Omo, aku tidur sajalah kalau begitu. Aku membetulkan posisi badanku agar dapat posisi tidur super nyaman.
‘Juliette, oh~’
Ada telpon, ah Jinki! “Yobeseyo, Jinki-ya! Bogoshipoyo! Tumben menelponku” aku menjawab telponnya semangat. “Nado! Aku sedang menunggu waktu latihan, jadi aku menelpon. Kau sedang apa?” tanyanya. Ah aku mendengar suaranya lagi! “Aku sedang di perjalanan ke Bukhansan! Hiking! Harusnya kau juga ikut, kita sudah lama tidak bertemu”
“Jinca? Aku ingin ke situ” katanya memelas.
“Ke sini saja tidak ada yang melarang kok” aku bercanda.
“Oke sebentar ya, aku cegat taksi dulu”
“Kau serius?”
“Iyalah, kau menginap di rumah lamanya Jihyun ya?”
“Ne, hey Jinki, kau serius ingin menyusul?”
“Iyaa! Kau tidak mau aku datang ya? Kau tidak rindu padaku?”
“Ya mau, tapi latihanmu?”
“Aku sudah dapat taksi, tunggu aku ya? Annyeong chagi!”
KLEK. Telepon di tutup. Hey dia serius ingin menyusul kami? Yang benar saja. Mungkin dia bercanda. “Kenapa Nichan? Jinki menelponmu?” Jihyun bertanya padaku. “Ne, dan dia bilang dia mau menyusul kita..” jawabku. “Mwo? yang benar saja dia menyusul kita. Dia bercanda kali” kata Jihyun yang masih menyetir mobil dengan serius. “Iya pasti dia bercanda, namja chingu mu kan memang begitu dari dulu” sambung Minji.
Tentu saja dia bercanda. Pikirku. Mana mungkin dia mangkir dari pekerjaannya. Ia kan sangat profesional meski dia masih 21 tahun. Sudahlah tidak usah dipkirkan.
==
Onew’s POV
Hari ini seperti biasa aku bangun pagi, lalu sarapan, lalu latihan untuk album terbaru kami. Jujur, aku sudah mulai muak dengan semua yang ku lakukan. Aku ingin liburan, ingin bertemu udara segarku, Park Nichan. Sedang apa ya? Ku telepon saja ah.
“Yobeseyo, Jinki-ya! Bogoshipoyo! Tumben menelponku” ia menjawab teleponku. Ah, suaranya seperti air yang segar untuk jiwaku. “Nado! Aku sedang menunggu waktu latihan, jadi aku menelpon. Kau sedang apa?” aku bertanya padanya. “Aku sedang di perjalanan ke Bukhansan! Hiking! Harusnya kau juga ikut, kita sudah lama tidak bertemu”. Mwo? hiking? Pasti di rumah lamanya Jihyun. Hey, apa aku menyusul mereka saja? “Jinca? Aku ingin ke situ” aku melihat sekeliling, sepertinya aman. “Ke sini saja tidak ada yang melarang kok” jawabnya lagi. Aku jadi makin semangat untuk pergi. “Oke sebentar ya, aku cegat taksi dulu” aku berjalan keluar gedung SM. “Kau serius?” ia meragukan perkataanku.
“Iyalah, kau menginap di rumah lamanya Jihyun ya?” aku melihat sekeliling mencari taksi kosong.
“Ne, hey Jinki, kau serius ingin menyusul?” ia masih ragu rupanya.
“Iyaa! Kau tidak mau aku datang ya? Kau tidak rindu padaku?”
“Ya mau, tapi latihanmu?”
Nah, dapat taksi. Aku masuk kedalam taksi itu. “Aku sudah dapat taksi, tunggu aku ya? Annyeong chagi!”aku menutup telpon. “Ke Bukhansan ya ahjussi, tolong cepat” kataku pada supir ahjussi. Yes! Aku sudah sabar bertemu udara segar!
==
Nichan’s POV
Akhirnya sampai juga! Wuaah sudah lama aku tidak kesini. Terakhir saat aku, Minji, Jinki, dan Jihyun masih kelas 2 SMP. Sekarang kami sudah lulus sekolah. Waktu yang sangat lama ya. “Nichan-ah! Ayo bantu aku keluarkan barang-barang, kita masak!” Minji membawa semua peralatan kami untuk masak makan siang hari ini. “Ne! Aku keluarkan makanannya ya!” aku menuju mobil dan mengeluarkan bahan makanan. Lalu tiba-tiba..
“Chagi!” seseorang memelukku dari belakang. “Ah!” aku kaget dan semua makanan. Pasti ini.. “Jinki-ya! Mengapa kau ada disini? Lihat tuh makanannya jatuh semua” aku melepaskan pelukannya. “Hehe mianhae, aku bantu sini”
“Nichan-ah! Kwaenchanha?” Jihyun keluar dari dapur bersama chagiya nya. “Kwaenchanhaa!” aku menjawab. “Ada siapa sih di luar? Kenapa ribut sekali” kata Jihyun lagi. “Ada aku! Lee Jinki!”
“Mwo? Jinki?” Jihyun dan Minji keluar rumah. “Jinki-ya! Bogoshipoyo~” Jihyun berpelukan dengan sahabat jiwanya. “Nado! Bagaimana kau dengan Minji?” tanya Jinki. “Seperti yang kau lihat” jawabnya.
“Kenapa kau bisa di sini? Bukannya kau mau latihan? Bagaimana dengan...hmph” Jinki membekap mulutku. “Sudah jangan banyak tanya, kau cerewet sekali sih.. ayo masuk kita masak, aku lapar nih”
==
Author’s POV
Sementara itu di gedung SM..
“Jonghyun-sshi, mana Onew? Bukankah ia datang lebih dulu?” tanya sang koreografer pada Jonghyun yang juga kebingungan karena tidak bisa menemukan Leader SHINee yang satu itu. “Molla, iya, tadi dia datang duluan. Tapi kemana dia sekarang?” Jonghyun mengutak-ngatik handphonenya, mencari nomor Onew. “Aku telpon dia”
Tidak ada jawaban. “Sial, mailbox” Jonghyun mulai kesal. “Kemana sih dia?” Minho ikut-ikutan bingung dengan hyungnya yang tiba-tiba menghilang. “Di culik kali hyung” Taemin nimbrung dengan santainya. “Andwae! Hati-hati kalau bicara, babo!” Key menjitak kepala Taemin. “Ya! Sakit tau! Umma macam apa kau” Taemin mengelus kepalanya yang sakit.
“Umma yang peduli pada suaminya! Apa kau?” Key membela diri. “Ya! Key, Taemin, bukannya ikutan mencari..” Jonghyun melerai kedua dongsaengnya itu.
“Mau mencari kemana lagi? Bukankah kita sudah berkeliling di sekitar sini, lalu menelponnya, dan memang di tidak ketemu, mau bagaimana?” kata Key. “Telpon pacaranya?” usul Minho. “”Emang dia punya pacar? Diakan payah sekali untuk urusan wanita” Jonghyun berpendapat.
“Bukannya punya?” tebak Taemin. “Kau salah dengar mungkin. Sudah kita latihan saja dulu, mungkin beberapa saat lagi dia datang” Minho menenangkan suasana. Mereka kembali latihan.
==
Nichan’s POV
“Mwo? kabur? Leader macam apa kau ini Jinki? Bisa-bisanya..” aku kaget mendengar Jinki yang bisanya sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. “Chagi, kau tidak mengerti, aku hanya ingin bersenang-senang untuk 2 hari ini saja.. tolong jangan usir aku ya? Jebal..” oh jebal Jinki, jangan memohon dengan muka seperti bayi, aku tidak bisa menolak tahuu!
“Sudahlah Nichan, aku tau kau pasti merindukannya, kasihan sekali dia kalau harus balik lagi untuk latihan” inilagi Minji ikut-ikutan membujukku. “Sekali-sekali ada artis yang gabung dengan kita boleh juga loh, Nichan” lanjut Jihyun sambil menyuap makanan. “Ahaha bisa saja kau” Jinki bertos-tosan dengan Jihyun.
“Baiklah kau tidak akan ku usir” aku menyerah. “Tapi kau janji habis pulang dari sini kembali bekerja seperti biasa” lanjutku. Jinki tersenyum senang, dan ciumannya mendarat di pipiku. “Kyaa! Tidak sopan!” pipiku bersemu merah. Jinki! Kau..
“Kkk, gomawo chagi, saranghae! Aku main dulu ya? Jihyun-ah! Ayo main badminton!” ia berlalu, membawa raketnya dan mulai bermain. Ah apa-apaan ini? Aku di kalahkan sebuah ciuman dari seorang SHINee’s Onew? Omona~ pipiku sudah balik seperti semula belum ya?
Aku dan Minji melihat namja chingu kami bermain badminton. Haha lucu sekali mereka, sudah lama mereka tidak bermain seperti itu. Yap sejak Jinki debut di SHINee, Jihyun bermain dengan kami terus, untung belum jadi banci, haha (siap-siap di tinju Minji).
“Ya! Kalian berdua! Daripada menonton kami lebih baik ikutan kami, main ganda campuran” usul Jinki. “Ayo ikut, balli!” Jihyun menarik Minji. Jinki juga menarikku. “Ayo chagi..” aku pun ikut bermain dengan mereka.
Malam menjelang, kami sudah kelelahan dan selesai bermain. Seperti biasa, kami kalah. Jinki makin payah di olahraga. “Hhhh Jinki-ya! Makanya kau belajar sama Minho biar bisa menang” aku berkata pada Jinki yang masih kelelahan setelah bermain. “Hehe mianhae! Yang penting senang kan?” katanya sambil mengibaskan rambutnya. Omo, dia keren juga kalau seperti itu. “Ne! Mandi sana, kau bau” aku menutup hidungku, bercanda. “Jinca? Okelah aku mandi”
==
“Ayo kita tidur, besok pagi kita hiking!” Jihyun menyuruh kami tidur. “Ne! Chaljayo yorobun! Ayo Nichan aku ngantuk” Minji menarikku masuk ke dalam kamar. “Eits, tunggu dulu” Jinki menarik tanganku yang satu lagi. “Biarkan kami berdua dulu” heh? Apa yang mau dia lakukan? “Kalian? berdua? Mau ngapain?” tanya Minji pada Jinki. “Itu urusanku, kau tidur saja sana” kini aku sudah berada di sisi Jinki. “Ah ara, ara, aku masuk duluan, tapi kalian jangan berbuat macam-macam ya!”
“Nah sekarang kita sudah berdua” ia tersenyum. “Lalu mengapa kalau kita sudah berdua saja?”
“Tidak kenapa-kenapa. Kau diam saja ya, jangan bergerak, aku tidak – akan – berbuat- sesuatu – yang – buruk – padamu. Arasseo?”
“Ne, arasseo”
Ia menatap wajahku lekat, lamaa sekali. “Kau kenapa Jinki?” aku bertanya padanya yang masih menatapku. “Aku baik-baik saja” jawabnya. “Aku mau tidur sekarang, chaljayo cahgi~” ia beranjak pergi ke kamarnya.
Jinki yang aneh. Aneh aneh aneeh! “Random sekali kau, kenapa dulu aku mau jadi pacarmu ya?” ucapku dalam hati. “Cha-chaljayo”.
==
“sst, Nichan-ah, bangun chagi!” seseorang berbisik di kupingku mengganggu ketentraman pagi ini. “Mwo? Jinki-ya! Ngapain disini? Masuk kamar perempuan seenaknya!” aku sedikit berteriak karena kaget tiba-tiba ada Jinki di sampingku. “Kau bisa tidak berisik tidak? Aku ingin mengajakmu hiking duluan”
Mwo? Anak ini.. “Andwae! Aku mau tidur lagi ah, masih gelap tauu” aku menarik selimutku lagi. “Jebal Nichan-ah, aku mau hiking sekarang, temani aku ya ya?” ia memohon dengan seperti biasa, memasang tampang bagai seorang malaikat. “Ne, ne, aku sikat gigi dulu”
==
“Hap! Awas di situ agak licin” Jinki membantuku menaiki gunung Bukhansan ini. Di pagi yang masih gelap dan dingin. “Nah kita sudah sampai” ia tersenyum senang. “Ah.. udara segar. Sudah lama aku tidak dapat yang seperti in” katanya lagi. “Sebenarnya kau mau melakukan apa di sini chagi?”
“Kau tidak ingat sekarang hari apa?” ia balik bertanya. “Hmm, Sabtu?” jawabku. “Aish.. kau lupa ya? Hari ini tepat 2 tahun kita berpacaran, ingat tidak?”
Mwo? Kami sudah 2 tahun berpacaran? Sejak SHINee mulai debut sampai sekarang? “Jinca? Kita sudah 2 tahun berpacaran? Aku pikir baru 2 bulan, hihi” aku sedikit kaget. “Iya bodoh, aku minta hadiah dong” ia mendahkan tangannya. “Sudah mengataiku bodoh masih minta hadiah. Namja chingu payah!” aku pura-pura ngambek. “Aku? Payah?”
“Ne! Namja paling payah se Korea” kataku lagi. Senang sekali rasanya mengejeknya payah. “Apa kau masih mengejekku payah jika aku memberikanmu ini?” katanya seperti telah menyiapkan sesuatu. “Memberikanku apa?” aku balik bertanya. “Jam berapa sekarang?” ia bertanya lagi. Aku melihat jam digitalku “Masih jam 05.58”. “Oh sebentar lagi”. Sebentar lagi?
“Coba kau balik arah” ia menyuruhku berbalik arah. “Kau mau apasih sebenarnya?” aku masih bingung dengan apa yang sudah Jinki rencanakan padaku. “Mau memberikanmu hadiah yang akan mebuatmu tersenyum” katanya. “Aku tutup matamu sebentar ya” ia menutup mataku hati-hati. “Ne..”
“Hana, dul, set!”
Aku membuka mataku dan... aku tersenyum lebar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar