“KIKUKIKUK”
“KRIIIIIINGKRIIIIIING”
“KUKURUYUUUUUUK”
“AAAAAAH,” teriakku frustasi dengan selimut masih diatas kepala. Aku bangkit untuk mematikan semua alarm. Mulai dari alarm handphone, jam beker ataupun alarm jam tangan. Dan tidak berapa lama mataku terpejam lagi.
Drrrrt, drrrrrt
“AAAAH, apalagi sekarang?” kataku geram dan mengambil handphoneku yang tak mau berenti bergetar.
“Halo,”
“Hei, dimana kau? Sudah sampai bandara?” mataku membesar begitu mendengar suara berat Bos Juki di seberang telfon. Aku menepuk jidatku keras.
“Hah, sebentar lagi jalan Bos, tinggal nunggu taksi,” kataku berbohong, jelas-jelas aku masih menggunakan piyama tidur lengkap dengan iler di dekat bibirku.
“Bagus, jangan sampai terlambat ya. Jam 9 kau sudah harus sampai sana. Kalau tidak kau dipecat!” katanya langsung menutup sambungan telfon.
“Mampus gue! Jam berapa sekarang? OMAYGAT, JAM 8? AAAAAAH,” aku loncat dari tempat tidur setelah melihat jam di handphoneku dan melarikan diri ke kamar mandi.
Hanya butuh waktu 3 menit di kamar mandi. Aku rasa aku cukup cantik jadi tidak perlu berlama-lama di kamar mandi. Aku memakai sepatuku kasar dan menuruni tangga.
”Kak, gue pergi dulu,” kataku ketika melihat kakakku yang sedang anteng menonton televisi.
”Sarapan dulu woy,” teriak kakakku.
”Alah, gak cukup waktunya, udah ya. Jaga rumah!” jawabku asal sambil menutup pintu.
Aku memasuki taksi yang kemarin sudah ku pesan, sepertinya taksi ini sudah menunggu lama. Tapi untunglah supirnya sabar menungguiku. Aku harus cepat-cepat sampai di bandara jam sembilan karena kalau tidak aku bisa dipecat oleh Bos Juki. Ngomong-ngomong soal Bosku itu, semua orang yang pertama kali mendengar namanya akan berfikiran kalau dia itu ndeso tapi kalau udah liat orangnya, beuuuuh ganteng ciiiin.
Oke stop ngomongin bosku itu, aku ini kerja sama Bos Juki udah hampir 5 bulan, aku kerja sebagai tour guide di perusahaannya. Aku harus bekerja karena kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku hanya tinggal berdua selain itu aku juga harus bisa membayar uang kuliahku sendiri, karena kakakku sudah terlalu pusing mengurusi semua kebutuhanku. Pekerjaan ini lumayan menyenangkan buatku, karena kerjaannya hanya berjalan-jalan menemani bule yang kadang ganteng haha. Hari ini aku harus menjadi tour guide untuk seorang bule Korea.
”Tunggu sebentar ya Pak,” kataku kepada supir taksi ketika aku sampai di Bandara.
Aku sampai jam 9 lewat 15 di bandara dan segera berlari ke tampat kedatangan internasional. Aku membawa karton dengan tulisan korea, aku tidak mengerti apa artinya, yang aku tahu ini nama bule korea itu. Nah tuh dia mba-mba bandaranya udah ngasih pengumuman kalau pesawat dari Korea sudah mendarat, sekarang tinggal nunggu dia nunjukin batang hidungnya.
Aku melihat banyak mata-mata sipit yang satu-persatu keluar, tapi kok belum aja yang berjalan kearahku ya? Waah ada cowo ganteng menghampiriku.
”Dari Juki’s Tour and Travel?” tanyanya kepadaku dengan bahasa Inggris yang lancar. Lucu sekali saat dia mengucapka kata Juki. Alhamdulilah dia ngomong pake bahasa Inggris rasanya aku ingin sujud syukur, karena daritadi hal yang paling aku takutkan adalah kalau dia menggunakan bahasa Korea.
”Iya, anda Tuan?” tanyaku menggantung.
”Jang Geun Seok,” katanya dingin sambil menyerahkan koper-koper besar kepadaku dan berjalan lurus tanpa memperdulikanku. Astagfirullah, cobaan apa lagi ini?
Aku berlari mengejarnya sambil membawa koper-kopernya. Dia bawa apa saja sih sampai ada 3 koper besar? Apa dia memasukkan bantal guling nya juga disini?
“Kau itu jalannya lama sekali sih. Cepat aku ingin berjalan-jalan di sekitar kota Jakarta,” katanya lagi.
“Iya Tuan. Ayo kita ke taksi disitu,” kataku sambil menunjuk taksi yang tadi aku tumpangi. Aku memasukkan 3 kopernya itu ke bagasi sambil dibantu oleh supir taksi. Sedangkan bule sombong itu sudah enak-enakan duduk di dalam taksi.
Aku memasuki taksi itu, ”Hari ini mau langsung jalan-jalan Tuan?” tanyaku canggung kepadanya.
”Iyalah. Tujuanku ke Jakarta kan ingin jalan-jalan. Dan kau harus membawaku ke tempat yang menarik ke Jakarta,” jawabnya ketus. Haaah, baru sekali aku menemukan klien yang menyebalkan dan sombong seperti ini. Kuatkanlah hambamu ini. ”Siapa namamu?” tanyanya sambil menatap kagum ke luar jendela.
”Azumah Tuan, tapi tuan bisa memanggilku Jume,” jawabku sambil tersenyum. Akhirnya dia menanyakan namaku juga.
”Zume?”
”Jume, Ju, Jume,” jawabku sambil memonyongkan bibirku ketika mengatakan Jume.
”Jzume, ya Zume,” jawabnya lagi sambil sedikit tersenyum.
”Ya, terserah kau sama tuan mau memanggilku apa,” jawabku frustasi. Dasar bule, ngomong Ju aja susah amet. Hiiih.
”Aku lapar, kau harus mengajakku ke tempat makanan yang khas Jakarta,” pintanya lagi. Banyak sekali sih permintaannya.
AHA! ”Bagaimana kalau kita ke Pekan Raya Jakarta Tuan?” tawarku padanya. Dan dia hanya mengangguk pelan. Sip, supir taksi itu mengarahkan mobilnya ke Pekan Raya Jakarta.
”Tuan bangun Tuan, kita sudah sampai,” kataku membangunkan tuan muda ini. Tadi dia tidur maniiiiiiis sekali dan aku sempat memotretnya lewat handphoneku haha.
”Kita sudah sampai, Zume?” tanyanya setelah mengucek matanya pelan, awawaw mukanya seperti bayi kalau habis bangun tidur. Dan aku senang dia memanggilku Zume, setidaknya dia lebih ramah sekarang. Aku hanya mengangguk dan keluar untuk membukakan pintunya.
”WAW, acara apa ini? Ramai sekali,” katanya senang ketika melihat keramaian di PRJ. Dan dia tersenyum lebaaar, kau lebih tampan kalau tersenyum Tuan.
”Ini acara yang diadakan Jakarta setahun sekali Tuan, acara ini dilakukan dalam rangka menyambut ulang tahun Jakarta,” kataku menjawab pertanyaannya sambil berjalan mengelilingi kawasan PRJ. Dia mengambil kameranya dan memotret beberapa objek foto.
”Hei, Zume. Katanya kau mau mengajakku makan makanan khas Jakarta,” katanya sambil menatapku. MasyaAllah matanya.
”Oiya Tuan. Tuan juga keasyikkan foto-foto sih. Ayo ikut!” jawabku.
”Hei, kau harus menarik tanganku Zume,” teriaknya. Aku bingung atas permintaannya itu. Tapi aku nggak menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung menarik tangannya sampai ke abang-abang yang sedang dikerumunin banyak orang.
”Ini kerak telur Tuan. Makanan khas Jakarta, makanan ini selalu ada di setiap Pekan Raya Jakarta diselenggarakan. Kau mau?” kataku. Dia hanya mengangguk dan memotret abang-abang kerak telur itu. Abang-abangnya banci kamera pula, langsung senyum pepsodent ketika kamera Jang Geun Seok mengarah ke arahnya.
”Bang kerak telor 2 ya, gapake lama. Bule noh bang mau nyobain kerak telor. Mantep kan saya bisa ngajak tuh bule makan kerak telor. Ganteng ya bang bulenya? Sayangnya agak sombong bang,” kataku kepada abang kerak telur itu dan duduk disampingnya. Kok aku malah curhat sih?
“Iya neng ganteng, cocok sama eneng. Eneng juga cantik kok, cocok neng. Pacaran aja gih sana,” jawab abang kerak telur itu sambil senyum meses-mesem. Aku ikut meses-mesem mendengar komentarnya abruzan.
“Kau bicara apa dengan orang itu? Aku tidak mengerti bahasamu,” komentarnya sambil duduk disampingku. Abang kerak telur itu menoleh ke arahku dan kembali senyum meses-mesem. Abang, jangan mesem-mesem seperti itu, nanti aku ikutan meses-mesem (?)
“Aku hanya memesan 2 kerak telur padanya,” jawabku. “Tuan boleh aku mengatakan sesuatu padamu?” tanyaku kepadanya yang sedang sibuk melihat-lihat hasil jepretannya.
“Apa?” jawabnya singkat.
“Kau terlihat lebih tampan kalau tersenyum Tuan, jadi sebaiknya kau lebih banyak tersenyum,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Aku sebenarnya takut apa reaksinya. Tapi ternyata dia malah tersenyum MANIIIIIIIS MANISSSSS MANIIIIIS bangeeet, sampe gula aja kalah manisnya.
“Neng, jangan senyum-senyuman kayak gitu atuh. Abang jadi kangen istri nih neng,” kata abang kerak telur sambil menyerahkan 2 kerak telurnya yang sudah matang. Aku menyerahkan kerak telur itu pada bule manis disebelahku.
“Ah si abang mah ganggu aja nih,” jawabku asal kepada abang kerak telur itu. Bodo amet lah, si bule nggak ngerti ini aku ngomong apa.
“Makan saja Tuan. Ini enak kok, dijamin,” kataku setelah melihat keraguan di raut wajah Jang Geun Seok sambil mengacungkan jempolku.
Walaupun awalnya dia ragu, tapi akhirnya dia memakan kerak telur itu dengan lahap. Akupun ikut menghabiskan kerak telur punyaku.
“Aku ingin lagi,” katanya sambil memohon kepadaku. Aku mengangguk dan memesankan satu lagi untuknya. Dan hanya beberapa menit kerak telur keduanya habis tidak tersisa.
“Bagaimana? Enak kan Tuan?” tanyaku padanya.
“Enak sekali Zume. Oiya tolong fotoin aku berdua dengan ’abhang’ ini,” pintanya sambil menyerahkan kameranya kepadaku. Aku baru pertama kali menemukan bule yang minta foto sama abang-abang kerak telur, dan aku pertama kali mendengar bule mengatakan kata abang.
“Kita lanjut Tuan?” tanyaku padanya. Dia mengangguk dan menundukkan badannya kepada abang tadi. Si abang malah senyum mesem lagi, dan megacungkan jempolnya kepadaku. Apa maksudnya?
Aku dan Jang Geun Seok melihat-lihat berbagai barang yang dijual disana. “Apa itu, Zume?” tanyanya padaku ketika melihat ondel-ondel. Dia mendekat ke arah ondel-ondel itu.
“Itu ondel-ondel Tuan. Itu ikon dari kota Jakarta,” jawabku sambil berjalan mengikutinya.
”Kau berdiri di sebelah ’Ondhel-ondhel itu. Aku akan memotretmu,” katanya sambil mendorongku pelan. Aku sempat kaget, namun aku mengikutinya lagi, aduuh aku tak bisa menolak permintaannya. Kapan kau memintaku menjadi kekasihmu Tuan?
Dia tersenyum setelah selesai memotretku. Dan tiba-tiba dia meminta seseorang untuk membantunya memotretnya. Jang Geun Seok berlari ke arahku. Dia merangkul pundakku dan tersenyum, aku pun ikut tersenyum ketika melihat blitz kamera. Yaampun dia merangkulku. Dia mengucapkan terima kasih kepada orang yang memotret kami.
”Ayo pulang Tuan, sudah sore. Kau harus beristirahat karena besok kita masih harus berjalan-jalan lagi,” ajakku.
”Kau lupa ya? Kau harus menarik tanganku, Zume,” katanya. Akupun menarik tangannya sampai ke taksi yang menunggu kami. Aku sempat melihat dia tersenyum tipis saat aku menarik tangannya.
Wah sepertinya supir taksi itu sedang pedekate sama mbo-mbo jamu yang berjualan tidak jauh dari kawasan PRJ. Maafkan saya Pak Supir, saya harus membatalkan pedekate anda, kalau tidak bule ini akan mencak-mencak.
Drrrrrt Drrrrt
Aku mengambil handphoneku yang berada di kantung celana.
”Ya, bos ada apa? APAAAAA? Kau yakin? Memang hotelnya kenapa? Oh oke baiklah Bos. Iya iya tenang saja,” tutupku pasrah. Perkataan Bos Juki barusan membuatku shock setengah edan.
“Kau akan tinggal dirumahku Tuan?” tanyaku pada Jang Geun Seok yang tenang melihat pemandangan kota Jakarta di sore hari.
Dia menoleh kearahku dan mengangguk. “Kenapa? Kan di hotel lebih enak Tuan. Lagian rumahku kecil dan jelek Tuan,” tanyaku bingung. Tadi bos Juki menelpon untuk mengatakan bahwa Tuan muda ini ingin tinggal dirumahku selama dia berada di Jakarta.
“Kenapa memangnya kalau aku lebih memilih tinggal bersamamu? Kau keberatan? Rumahku di Korea juga kecil dan jelek. Jadi sama saja kan?” jawabnya.
“Tidak, aku tidak keberatan Tuan. Kau boleh tinggal dirumahku kok,” jawabku. Sebenarnya aku sangat senang kalau dia bisa tinggal di rumahku tapi tetap saja aku merasa aneh. Aku memutuskan menelfon kakakku.
“Woy, bang. Loe siapin kamar tamu ya. Masa bule-nya mau tinggal dirumah. Gatau tuh kenapa, dia demen kali ya sama gue? Haha. Yaudah gausah bawel, loe siapin aja kamar tamu. Makanannya gampang ntar gue yang masak. Loe belajar bahasa Inggris ya, ntar lu kagak ngerti lagi tuh bule ngomong apaan. Jangan lupa pake baju yang bagus biar gak malu-maluin. Yaudah sebentar lagi gue nyampe, yo dah,” tutupku.
Jang Geun Seok lagi-lagi memandangku aneh, mungkin dia bingung aku berkata apa barusan haha, aku suka sekali pandangan anehnya itu. Minta dicium banget sih mukanya (?)
“Sudah sampai Tuan. Ayo turun,” kataku setelah taksi berhenti tepat di depan rumahku. Aku turun menuju bagasi hendak menurunkan koper beratnya itu.
”Biar aku saja, Zume. Koper ini terlalu berat untuk wanita sekecil dirimu. Kau pegang kameraku saja,” katanya sambil menyerahkan kameranya kepadaku.
”Aku bisa kok Tuan,” sanggahku. Kenapa dia cepat sekali berubahnya.
”Diam!” katanya sambil membawa kopernya kedepan pintu rumahku. Akhirnya aku hanya menunggu di depan pintu rumahku. Aku mengetok pintu rumahku. Dan kakakku membukanya dengan senyuman yang mengambang.
Aku tertawa melihat penampilan kakakku sekarang. Dia memakai kemeja, jas dan celana bahan. Jang Geun Seok tersenyum dan membungkukan badannya. Aku membantunya membawa koper dan menuntunnya ke kamar tamu. Jago juga kakakku, kamar ini jadi bersih banget dan wangii.
”Mau kemana, Bang? Haha. Kayak mau ketemu Obama aja,” kataku setelah keluar dari kamar tamu dan menghampiri kakakku.
”Kan kata loe gue harus pake baju bagus gimana sih?” jawab kakakku.
”Ya tapi gausah gitu juga kali Bang. Haha yaudah ah terserah lu, gue mau mandi dulu abis itu masak,” ucapku sambil meninggalkan kakakku sendirian.
Aku mandi dan membersihkan badanku kemudian aku turun ke dapur dan membuatkan makan malam untuk Jang Geun Seok dan kakakku. Aku memutuskan membuat omelet dan sayur sop daging.
“Silahkan dimakan Tuan. Maaf kalau masakanku tidak enak,” kataku ketika makan malam. Jang Geun Seok tampan sekali menggunakan kaus oblong putih dan celana tidur.
”Enak kok, sangat sangat enak. Hm kalau boleh ku tahu. Kemana orang tuamu? Aku tidak melihatnya daritadi,” tanyanya sambil mengunyah makanannya.
”Hm orang tuaku sudah meninggal Tuan tiga tahun yang lalu. Aku hanya tinggal berdua dengan kakakku,” jawabku lirih.
”Oh, maaf aku menanyakan itu padamu,” jawabnya canggung.
”Tak apa Tuan. Kau lanjutkan saja makanmu,” ucapku sambil tersenyum. Dia mengangguk pelan dan ikut tersenyum. Aaaah Mama Papa anakmu ini sedang jatuh cinta sama bule ganteng hihi.
Setelah makan malam kakakku naik ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang terhenti, mencari lowongan pekerjaan. Kasihan sekali dia 2 bulan lalu dipecat oleh bosnya karena dia naksir sama anak bosnya itu. Aku juga baru tahu ada pegawai yang dipecat karena naksir sama anak bos.
Aku merapikan piring-piring kotor dan tanpa disangka Jang Geun Seok membantuku, haaah kalau saja aku orang kaya aku pasti sudah menjatuhkan piring kotor yang kupegang untuk mengecek apakah ini mimpi atau beneran. Aku mencuci piring kotor, kukira Jang Geun Seok akan masuk kekamarnya untuk beristirahat, tapi dia malah duduk di kursi dan menungguiku.
”Kau tidak tidur, Tuan? Ini sudah malam, kau pasti capek berjalan-jalan seharian daritadi. Apa kasurnya kurang empuk, atau ruangannya pengap?,” tanyaku sambil tetap mencuci piring.
”Aku akan tidur setelah kau selesai mencuci piringmu. Aku mau membantumu tapi aku takut yang ada malah piringmu pecah semua,” katanya sambil bertopang dagu memperhatikanku.
”Kau tak perlu menungguku Tuan. Eh tapi tak apa deh hehe. Oiya kau berapa hari di Jakarta?” tanyaku mengajaknya ngobrol. Doi enak juga diajak ngobrol.
”Lusa aku akan kembali ke Korea. Jadi aku akan menikmati sisa hariku di Jakarta di rumah ini bersamamu,” jawabnya manis sekali. Aku menengok ke arahnya dan tersenyum tak percaya? Apa yang dikatakannya barusan? Dia ingin menikmati sisa harinya bersamaku? Yaampun apa yang terjadi padaku? Aku benar-benar dibuatnya tergila-gila.
”Kau ini kenapa Tuan?” tanyaku. Tiba-tiba ada peri bertanduk merah muncul di sebelah kiriku ”Kau tidak boleh jatuh cinta padanya Azumah. Dia hanya bule yang ingin memanfaatkanku, nanti kalau dia sudah kembali ke Korea dia juga melupakanmu,” ucap peri merah itu sambil mengipas-ngipaskan tangannya.
”Kau jangan mendengar peri merah itu Azumah, bule itu tulus terhadapmu. Aku bisa melihat itu dari cara dia memandangmu, kau jangan berfikiran buruk tentangnya dulu,” peri putih dengan sayap dipundaknya kini muncul di sebelah kananku.
”Peri putih, mengapa kau suka sekali mengangguku? Aku sedang menghasutnya,”
”Hei peri merah aku tahu niat jahatmu. Orang bule itu tulus kepada Azumah kenapa kau malah bilang dia hanya memanfaatkan Azumah? Bilang saja kau naksir kan sama bule itu. Ngaku aja peri merah”
”Yang naksir itu aku atau kau peri putih. Memang sih dia tampan dan semua wanita dari dunia manapun akan naksir sama dia,”
Kok mereka malah berantem sih? Lagian darimana datangnya mereka berdua? Tiba-tiba muncul. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan akhirnya bayangan peri gak jelas itu menghilang dari pandanganku. Huh untunglah.
”Aku sudah selesai Tuan,” kataku sambil membalikkan badanku kearah Jang Geun Seok duduk. Dia ketiduran rupanya.
”Tuan, bangun. Ayo tuan tidur di kasur,” dia hanya menggumam. Aku membopongnya ke dalam kamarnya dan menidurkannya di kasurnya. Aku yang hendak keluar tiba-tiba tanganku ditahan olehnya.
”Saranghae, Zume. Saranghae!” dia mengigau rupanya. Aku menarik selimutnya hingga dada, dan keluar dari kamarnya. Eh ngomong-ngomong saranghae itu apa ya? Bahasa korea mungkin, atau saranghae itu nama kekasihnya di Korea. Kalau itu benar nama kekasih, terbanglah semua harapanku hah. Entahlah aku tidak peduli. Selamat malam Tuan Jang Geun Seok yang ganteng nan elok (?)
µµµ
”Kau sudah bangun Tuan?” sapaku pada Jang Geun Seok yang baru keluar dari kamarnya. Lagi-lagi dia menunjukkan mukanya yang seperti bayi kalau baru bangun tidur.
”Iya. Selamat pagi Zume. Oiya mana kakakmu?” tanyanya sambil menarik kursi meja makan menunggu aku selesai memasak nasi goreng untuk sarapan paginya.
”Dia sudah pergi karena ada panggilan kerja. Kau sudah lapar ya Tuan? Tunggu sebentar ya,” jawabku sambil menyiapkan piring saji dan menempatkan nasi goreng panas disitu.
Jang Geun Seok langsung menempatan nasi goreng yang masih panas itu di piringnya dan memakannya perlahan. Akupun melakukan hal yang sama dengannya.
”Hm, Tuan. Saranghae itu apa ya? Semalam ketika aku membawa kau ke kamar, kau menahan tanganku dan mengucapkan Saranghae Zume,” jawabku karena masih penasaran dengan arti dari saranghae itu.
”Hah? Uhuk, aku mengucapkan hal itu padamu?” tanyanya kaget sampai tersedak. Aku memberikan air putih padanya.
”Aduh Tuan hati-hati. Kalau makan nafas Tuan, jangan seperti itu. Iya, kemarin malam kau mengucapkan kata-kata itu,” jawabku.
”Oh, engg itu artinya selamat malam. Ya saranghae itu bahasa korea artinya selamat malam. Iya, kau harus percaya padaku, aku kan orang korea asli,” katanya gugup.
”Iya Tuan aku percaya padamu,” jawabku sambil melanjutkan sarapanku. Hanya ucapan selamat malam ternyata. Yasudahlah.
Setelah aku mencuci piringku aku bersiap-siap mandi karena hari ini aku akan mengajak Jang Geun Seok menaiki busway menuju monas lalu ke bundaran HI. Hari ini hari terakhirnya di Jakarta karena besok dia akan kembali ke Korea.
Aku dan Jang Geun Seok menaiki taksi sampai ke halte busway. Sontak kami menjadi pusat perhatian warga Jakarta yang sedang berada di halte busway (tepatnya Jang Geun Seok yang menjadi pusat perhatian). Aku melihat dia malah tersenyum tebar pesona dan itu membuatku hampir mengeluarkan api dari telingaku.
Tak berapa lama busway yang kutunggu datang dan sialnya aku dan Jang Geun Seok harus berdiri karena tidak dapat tempat duduk. Jang Geun Seok berdiri tepat dibelakangku, dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus di leherku, geli-geli cepoi-cepoi gimana gitu (?)
”Maaf ya Tuan membuatmu harus berdiri seperti ini,” kataku pada bule dibelakangku ini.
”Tak apa, aku suka kok. Ngomong-ngomong ini transportasi apa, Zume?” tanyanya. Sepertinya aku salah mengajak ngobrolnya, karena nafasnya makin membuatku ingin kabur.
”Ini Busway Tuan, sama seperti bis lainnya. Cuman bahan bakarnya menggunakan gas, dan busway mempunyai jalur khusus,” jawabku singkat. ”Nah Tuan sebentar lagi kita akan turun di halte Monumen Nasinal, tapi kita harus berjalan sedikit untuk kesana,” lanjutku.
Setelah sampai di halte Monas aku dan bule tampan ini berjalan beberapa kilometer. Dan lagi-lagi dia sibuk dengan kameranya.
”Nah Tuan, kita naik kesana ya agar kau bisa melihat kota Jakarta di siang hari. Setelah itu kita baru makan siang,” kataku sambil menunjuk ujung Monas.
”Iya, eh tunggu dulu. Aku ingin mengabadikan momen ini. Tunggu sebentar ya,” katanya. Dia menghampiri sesama bule, tapi ini bule istrinya pakle yang sedang berada di kawasan Monas untuk memotretku dan Jang Geun Seok di depan tangga Monas. Aku bergaya lagi di depan blitz kamera dan bule tampan ini lagi-lagi merangkul pundakku, aku panas dingin sekarang hh.
Bule Korea itu berterimakasih kepada bule istrinya pakle dan kami langsung membeli tiket dan naik lift agar sampai di lantai atas.
”Haah, indah sekali disini! Kota Jakarta sangat padat di siang hari,” komentarnya ketika sampai di atas Monas dan kembali ke perkerjaannya memotret Kota Jakarta dari atas. Aku hanya bisa mengamatinya.
”Hah, enak sekali makanan ini Zume,” katanya setelah menghabiskan satu porsi nasi timbel di salah satu restoran sunda dekat Monas.
”Ini makanan Sunda Tuan. Kau suka kan?” tanyaku padanya. Dia hanya mengangguk. ”Baiklah sekarang kita harus cepat-cepat ke Bundaran HI sebelum hujan, ayo Tuan tampan,” kataku sambil menarik tangannya. Kemajuaan, akhirnya aku berani bilang dia tuan tampan, ayo kita selametan (?)
”Ini transportasi apa Zume? Berisik sekali!” kini dia berbicara agak keras karena kami sedang berada di
JENG JENG
BAJAAAAAJ
“Ini bajaj Tuan. Ini juga kendaraan khas di Jakarta. Kau belum bisa dikatakan sudah ke Jakarta kalau belum menaiki bajaj,” jawabku bahagia melihat wajahnya yang keberisikan dengan mesin bajaj itu.
”Bazai? Namanya aneh,” jawabnya. Setelah Jume jadi Zume, sekarang Bajaj dari Bazai.
”Sebenarnya tidak aneh Tuan, kau saja yang menyebutnya aneh haha,” jawabku. Sepertinya dia tidak mendengar perkataanku barusan kerena suaraku kalah dengan mesin bajaj ini.
Setelah beberapa menit kami sampai juga di bundaran HI. Aku bingung kenapa dia mau sekali kesini.
”Kau bergaya disitu Zume,” katanya sambil mendorongku pelan ke dekat air mancur. Aku bergaya lagi untuk kesekian kalinya, sepertinya aku berbakat menjadi model, kenapa dia tidak mendaftarkanku saja ke agen model kali aja aku bisa menjadi model terkenal. Dan kini aku yang harus bergantian memotretnya.
”Kau senang Tuan? Maaf kalau pelayananku selama di Jakarta kurang berkenan,” kataku sambil duduk di tepi bundaran HI. Romantis gak sih duduk di tengah-tengah bundarah HI ditemani angin sore trus diliatin banyak orang? Hah bukan romantis sih kayaknya, malu iya.
”Aku senaaang sekali Zume, aku bisa kau ajak ke apa tuh yang kemarin? Pi Ar Jey (re: PRJ)? Ya itu. Aku senang bisa kau ajak makan krak tlor, aku senang bisa makan masakanmu, aku senang bisa melihat kota Jakarta dari ketinggian, aku senang bisa naik busway, aku senang bisa naik bazai, dan aku senang bisa duduk di tengah-tengah bundharan HA-HI (re: HI),” jawabnya panjang lebar. Aku senang mendengar jawabannya.
”Dan aku lebih senang karena selama di Jakarta kau yang mengajakku berkeliling, aku senang bisa mengenal wanita sepertimu Zume,” lanjutnya.
”Aku juga senang Tuan, bisa berkenalan dengan Tuan yang baik dan tammpan hihi. Tuan sepertinya mau hujan, ayo kita cepat mencari taksi dan pulang. Lagipula ini sudah mau gelap,” Aku menarik tangannya dan aku menyetop taksi yang lewat. Ternyata benar hujan turun dengan lebat.
”Kau istirahat saja Tuan, saranghae,” kataku sambil tersenyum ketika aku selesai mencuci piring bekas makan malam, dan hari ini dia menungguiku lagi. Keren juga aku bisa bahasa Korea sekarang.
”Hah? Saranghae? Baiklah, saranghanda Zume,” jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Aku bingung, mungkin artinya itu ’selamat malam juga Zume’ ya ya haha.
Aku menaiki tangga dan masuk ke kamar. Ah sudah lama aku tidak internetan, sekalian belajar bahasa Korea deh. Aku menyalakan laptopku.
”Belajar bahasa Korea,” gumamku sambil mengetik kata kunci di google.
HAP! AKU SESAK NAPAS!
µµµ
Aku berada di taksi bersama Jang Geun Seok, hari ini dia kembali ke Korea, yaah aku ingin menanyakan hal itu cuman malu bok, ntar aja deh.
”Pesawat jam berapa Tuan?” tanyaku ketika berjalan sambil membantu mengeluarkan kopernya. Dia hanya dua hari di Jakarta tapi bawaannya kayak sebulan tinggal di Jakarta.
”Jam sebelas,” jawabnya sambil melihat ke tiket pesawatnya.
”Lah, sekarang masih jam 9 Tuan, kenapa buru-buru sekali?” tanyaku heran. Kami berjalan ke tempat duduk yang dekat dengan restoran cepat saji.
”Tak apa,” katanya singkat sambil tersenyum dan menjatuhkan pantatnya di tempat duduk yang tadi kamu tuju.
Aku bingung mau bicara apa lagi. Hm apa aku menanyakan hal itu sekarang saja ya? Ayolah Jume bukannya urat malumu sudah putus? Kenapa begini saja takut.
”Tuan, aku mau bertanya sesuatu padamu. Tapi kau jawab yang jujur ya?” tanyaku malu-malu padanya. Tuan muda itu hanya mengangguk.
”Hm, kemarin malam aku mencari arti saranghae di internet dan artinya itu hm hm artinya aku cinta kamu bukan selamat malam,” kataku dengan muka polos. Aku melihat mukanya kaget, ”Hm, apa kau mencintaiku, Tuan?” tanyaku ragu-ragu. Aku sesak nafaaaaas.
Dia menggelengkan kepalanya cepat, ”Hm, tidak aku tidak menyukaimu,” katanya lantang.
”Oh, aku yang terlalu pede sepertinya haha, aku jadi malu Tuan,” kataku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aduh Jume, kenapa bisa bodoh banget sih nanya kayak gitu.
”Em. Saranghae Zume,” katanya pelan sambil menatapku dalam.
”Tuan, ini masih pagi, kenapa mau mengucapkan selamat malam,” jawabku pura-pura bloon padahal rasanya hatiku ini mau keluar.
”Aku berbohong, kau benar saranghae itu artinya aku cinta kamu. Aku berbohong, kau benar kalau aku benar-benar mencintaimu Zume,” jawabnya sambil memandang ke arahku.
”Apa Tuan? Kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku meyakinkan pertanyaannya. Aku harus menahan jantungku agar tidak berdetak lebih kencang.
”Iya, aku suka padamu. Aku suka saat kau pertama kali memperkenalkanku pada Jakarta. Aku suka dua hari kemarin saat aku mengelilingi Jakarta bersamamu. Kau mau kan menungguku sampai aku kembali lagi ke Jakarta?” tanyanya.
”Kau akan kembali ke Jakarta Tuan?” tanyaku bengong.
”Ya, sebenarnya aku ditugaskan memimpin perusahaan Ayahku di Jakarta dan Bos Juki itu om-ku, jadi aku sengaja meminta Om Juki agar selama aku di Jakarta ada guide yang membimbingku, dan ternyata Om Juki memilihmu,” jawabnya dengan tatapan hangat. Agak aneh sebenarnya seorang Jang Geun Seok memanggil Bos Juki dengan sebutan Om.
”Kapan kau kembali ke Jakarta?” tanyaku padanya.
”Seminggu lagi. Aku harus mengurus perusahaan ayahku yang di Korea dulu. Em ini, kau boleh pegang kameraku sebagai jaminan kalau aku kan kembali ke Jakarta. Bagaimana?” tanyanya lagi.
”Baiklah aku akan menunggumu dengan senang hati,” jawabku sambil nyengir kuda dan menerima kameranya.
”Hah? Beneran? Jadi sekarang kita pacaran?” tanyanya lagi dengan senyum yang mengambang di bibirnya. Aku mengangguk pelan, pipiku panas seperti pantat sekarang.
”Waaaah, aku boleh meluk?” tanyanya. Aku mengangguk semangat, oh Tuhan aku ditimpa durian runtuh sekarang.
”Sudah setengah 11 Tuan, kau harus segera boarding,” kataku sambil membantunya mendorong kopernya.
”Kau hati-hati ya di Jakarta. Jangan lupa menungguku seminggu lagi,” ucapnya dengan bahasa Indonesia yang jelas.
”KAU BISA BAHASA INDONESIA TUAN?” tanyaku geram.
”Sedikit sebenarnya aku mengerti ketika kau berbicara dengan penjual kerak telur kemarin,” jawabnya sambil tersenyum dan mengacak rambutku ringan.
Rasanya aku ingin memukul kepalanya dengan wedges yang sedang kupakai sekarang, tapi aku kasian padanya.
”Jangan marah ya. Aku berangkat ke Korea sekarang, kau harus jaga dirimu baik-baik, jaga kameraku juga, dan kau harus menjadi guru privatku belajar bahasa Indonesia. Oke?” katanya setelah sampai di pintu boarding.
”Iya Tuan Muda tampan. Hati-hati ya, dadah. Saranghae,” tutupku.
”Saranghanda,”
Aku berjalan senang menuju ke taksi yang menungguku.
”Azumah kan aku sudah bilang dia hanya memanfaatkanmu. Kau harus mendengar perkataanku Azumah,” Peri bertanduk itu muncul lagi di sebelah kiriku ketika aku sudah duduk di taksi.
”Peri merah kau itu tidak pernah berubah ya? Bule tampan itu tulus mencintai Azumah, kalau kau iri kau tak perlu menghasut Azumah seperti itu,” balas peri putih di sebelah kananku.
”Kau itu selalu saja menganggu pekerjaanku, kau sirik ya?”
”Dengar ya aku tidak sirik padamu, aku....,”
“HAAAAAAH BERISIK,” aku menggerakkan wedgesku ke arah kiri dan kananku untuk memukul dua peri genit itu.
“Kenapa Neng? Kok teriak? Siapa yang berisik? Kenapa sepatunya lepas?” tanya supir taksi borongan kayak di blok M. kini dia menghentikan taksinya itu dipinggir jalan.
“Gapapa pak, jalan aja hehe,” jawabku malu sekali. Ini semua gara-gara 2 peri aneh itu.
Aah aku tidak peduli dengan peri aneh itu, yang pasti aku harus menyibukkan diriku untuk belajar bahasa korea dan menunggu seminggu lagi ketika Jang Geun Seok datang.
THE END
note: sekali-sekali kdrama actor gapapa kan ya? huehe
note from Tiara: ff ini buat temanku tersayang jumbul, mian ya sayang kalo ffnya rada gila hihi
Read more...