Laman

Minggu, 27 Juni 2010

Our Status : Engaged [part 3]

Hyunmi’s POV

“Ya Kim Jonghyun! Tanganku sakit jangan di tarik-tarik!” aku melepskan lenganku dari tangan Jonghyun. “Ada apa?” kataku sambil mengelus-ngelus lenganku yang sakit. “Itu, yang tadi pagi, kau naik motor dengan Taemin ketua klub dance kan?” katanya seperti menginterogasiku. “Aish.. kau melihatnya?” kataku lagi. “Iya, ayo cepat jelaskan!” Jonghyun memaksaku untuk menjelaskannya. “Sabar, jangan di sini, nanti Sungrin tahu, pasti aku jelaskan” aku berjalan menuju kantin. Jonghyun menyusulku.

“Jadi kau benar pacaran dengan dia? Teganya menyakiti sahabat sendiri” Jonghyun menjadi salah paham. “Ya! Jangan menuduhku yang tidak-tidak” aku jadi kesal. “Ya sudah harusnya kau jelaskan sekarang!” katanya memaksaku lagi. “Arasseo! Ikut aku ke kantin sekarang!” sekarang aku yang menarik lengannya.

==

“Jadi kau… di jodohkan? Ah kolot sekali..” dari mukanya Jonghyun kelihatan kaget. “Memang, sekarang aku bingung, aku harus bilang ke Sungrin atau tidak?” tanyaku sambil memakan sandwich yang kubeli tadi. “Jangan, nanti dia marah padamu” katanya lagi. “Bukannya kau malah senang kalau aku bilang padanya? Nanti dia jadi melupakan Taemin lalu nanti kau bisa jadi pacarnya kan?”

“Hey! Aku serius!” ia menyangkal. “Aku juga serius” kataku santai. “Jebal, jangan katakan padanya dulu, kalu melihat dia menangis, hatiku sakit” kali ini dia benar-benar serius sepertinya. “Arasseo, jangan sedih begitu dong, malu sama rambut” aku menunjuk rambutnya yang di jambul itu. “Hahaha, gomawo. Tapi kalau kau di jodohkan dengan si Taemin, kau putus dengan pacarmu dong?”

Pacarku? “Pacarku? Siapa?” aku menaruh curiga. Jangan-jangan yang dia maksud.. “Itu si Kibum” katanya lagi. “Aigoo, sudah aku bilang berapa kali dia bukan pacarku” aku menatapnya kesal. “Tapi kalian dekat sekali kan?” katanya sambil melihat ke arah Kibum, atau yang lebih sering di kenal orang dengan Key, karena dia adalah kunci semua mata pelajaran. Murid yang paling pintar di sekolah kami.

Ah dia melihat ke sini lalu menghampiriku. “Tuh pacarmu datang, aku kembali ke kelas saja, annyeong Hyunmi-ah” Jonghyun berlalu. “Eh Kim Jonghyuun!” aku memanggilnya. Dia malah memunggungiku sambil melambaikan tangannya. Cih sok keren!

“Kenapa dia?” Key sekarang sudah duduk di hadapanku. Dia juga heran kenpa Jonghyun berlagak aneh seperti itu. “Molla” jawabku. “Hmm tadi malam kau kemana? Aku telepon ke rumah, katanya kau sedang pergi” ia membuka pembicaraan. “Ah, mianhae, tadi malam aku memang pergi, kenapa menelpon?” tanyaku. “Tadinya aku mau mengerjakan PR bersama di rumahmu, tapi kau sedang pergi” katanya seperti biasa dengan penuh senyum. “Baiklah, lain kali oke?”

==

Aku sudah ada di ruangan untuk latihan dance, kami ada pementasan minggu besok. Jadi latihanku agak lama sore ini. Hmm semoga umma tidak marah. Aku lupa beli pulsa, tidak bisa menelponnya deh.

Aku dapat giliran latihan paling akhir. Sekarang masih giliran kelompok 1, kelompok Taemin. Lagi-lagi aku selalu menganga lebar melihat Taemin melakukan popping dance. Satu-satunya dance yang tidak bisa ku lakukan. Karena itu aku gagal jadi ketua. Poor me T_T

Yap akhirnya mereka selesai. Aku bersiap untuk latihan. Aku sudah berdiri dan membetulkan bajuku. Tapi tiba-tiba Taemin menarik pergelangan tanganku. “Wae?” tanyaku heran. “Nanti latihannya jangan lama-lama, aku di suruh mengantarmu pulang” bisiknya. “Mwo? Aku pulang sendiri saja” kataku menolak. “Aku juga tidak mau mengantarmu pulang, orang tuaku memaksa, arasseo?” katnya masih sambil berbisik.

“Ehm, Hyunmi-ah, latihan!” panggil seseorang di kelompokku. “Ah, mianhae!”

“Ne, arasseo” kataku pada Taemin sebelum pergi meninggalkannya. Aku melanjutkan latihanku. Dan semua orang melihat padaku dan Taemin. Jebal chingudeul, jangan salah paham!

==

Ah, badanku pegal sekali. Untung saja Taemin di suruh mengantarku pulang. Kalau aku naik bis atau jalan kaki, pasti badanku rontok. Sekarang aku sudah di motornya. Seperti tadi pagi, ia mengebut.. angin malam menerpa wajahku. Aku jadi…… mengantuk.

==

Taemin’s POV

Aku merasakan punggungku seperti di timpa sesuatu yang berat. Aku menengok ke belakang. Omo, anak ini tertidur. Lebih baik aku cepat mengantarkannya sampai rumah. Punggungku bisa sakit berhari-hari kalau terlalu lama di timpa kepalanya.

Sudah sampai depan rumahnya. Dan aku bingung sekarang aku harus membangunkan anak ini atau tidak. Bangungkan sajalah. “Hyunmi-sshi, kau sudah sampai rumah, cepat turun” kataku sambil menggoyangkan badanku agar badannya juga bergoyang (?). “Hyunmi-sshi, bangun!” kataku lagi. “Hyunmi-ah!” aku menggoyangkan tubuhku lebih keras. Dasar tukang tidur, susah sekali di bangunkan. Baiklah, aku akan menggendongnya.

Hap! Untung badan anak ini tidak berat. Aku membopongnya sambil berjalan masuk ke rumahnya. Untung lagi, pagarnya tidak di kunci. Untungnya lagi, ibunya langsung membuka pintu rumahnya. Tapi sialnya, aku harus membawanya masuk ke kamarnya. Dan kamarnya ada di lantai dua. Bagus sekali!

“Gomawo ya Taemin sudah mengantar Hyunmi pulang, maaf merepotkan” ujar ibunya sambil tersenyum. “Cheonmaneyo ahjumma, saya pamit pulang sudah malam, annyeonghi gyeseyo” aku pamit pulang. “Ne annyeonghi gyeseyo”

==

Hyunmi’s POV

Hoahm… loh? Aku sudah di kasurku. Tadi kan aku masih di motor Taemin, sekarang sudah di sini. Pasti aku tadi tertidur. Berarti tadi Taemin menggendongku begitu? Tidak mungkin ah, badannya kan hanya berlapis tulang masa dia bisa mengangkatku? Mungkin appa yang membawaku kesini.

Aku mandi lalu mengganti bajuku. Lalu aku bersiap-siap tidur. Tapi aku mendengar nada dering sms dari handphoneku. Ah, Kibum rupanya.

 “Besok mau mengerjakan PR bersama? Jika kau tidak ada jadwal :)”


Hmm, aku ingat aku punya PR Matematika dan Bahasa Inggris. Baiklah, lumayan bersenang-senang sebelum besoknya, acara pertunanganku. Kalau mengingatnya aku mau menangis. Tapi tenang saja, kan Taemin sudah mau kabur dari acara itu. Semoga saja dia berhasil.

 “Baiklah, di perpustakaan kota seperti biasa?"
balasku.
“Ne, jam 10 ya? Chaljayo~” balasnya lagi.
“Ne, chaljayo!”
Oke. Besok, perpustakaan kota, jam 10 pagi. Aku tidak boleh terlambat. Selamat tidur semua!!

-TBC-

Read more...

Kamis, 24 Juni 2010

Our Status : Engaged [part 2]

Hyunmi’s POV

Aku tidak menyangka orang tuaku dan orang tua Taemin saling mengenal. Mereka benar-benar bersenang-senang sementara aku dan Taemin hanya diam dan melihat ke piring makanan kami. Aku tidak terlalu dekat dengan dia, kami belum pernah sekelas. Aku hanya mengenalnya lewat klub modern dance. Ia ketuanya dan aku hanya anggota biasa.

“Ekhem” ia menyadarkan orang tua kami yang masih terus mengobrol. Mereka sadar juga akhirnya. “Mianhae” kata appa. “Ehm, sepertinya kalian sudah mengenal ya?” kata umma. “Ne, dia teman sekolahku” jawab Taemin. “Satu kelas?” gantian umma nya yang bertanya. “Ani.. kami teman di klub dance..” dan gantian aku yang menjawab.

“Oh begitu, sudah mengenal ya, jadi kita tidak perlu repot mengenalkan lagi ya..” eh? Memang untuk apa aku dan Taemin di kenalkan satu sama lain? “Kalau gitu pertunangannya bisa langsung di adakan minggu ini ya..”

“UHUK” aku dan Taemin sama-sama tersedak. Pertunangan?

“Umma, ini terlalu..” Taemin bereaksi dengan raut muka kesal. “Tidak apa-apa, lebih cepat lebih baik” umma nya sekarang yang membuatku kesal. Aku kan belum mau diikat seperti ini! Enak saja menjodohkan aku dengan dia, aku kan tidak mencintainya.

Seakan tidak perduli padaku dan Taemin yang sedang kesal, mereka terus saja membicarakan acara pertunangan kami. Taemin yang tidak tahan akhirnya pergi meninggalkan tempat duduknya. Aku mengikutinya saja. Aku juga kesal mendengar rencana yang mau mereka lakukan untuk kami.

“Lee Taemin-sshi” panggilku. “Ya?” jawabnya dia sambil duduk di sebuah bangku di taman restoran itu. “Aku tidak mengerti mengapa mereka menjodohkan kita” katanya lagi. “Kita? Di jodohkan? Siapa yang merencanakan?” pertanyaan bodoh. Sudah jelas orang tua kami yang menjodohkan. “Orang tuamu dan orang tuaku. Karena perjanjian konyolnya itu” katanya lagi, kali ini dengan nada sedikit kesal. “Perjanjian apa?”

Menurut cerita dari Taemin, orang tuaku dan orang tuanya sudah menjadi sahabat saat mereka masih SMA. Kebetulan appaku dan ummaku berpacaran dan appa-ummanya juga berpacaran. Dan mereka membuat perjanjian, ya itu tadi, jika anak mereka dapat di pasangkan, mereka akan menjodohkannya. Sungguh konyol.

“Sekarang kita harus bagaimana…” kataku pasrah. “Molla…” ia menghela nafas. “apa kabur saja?” lanjutnya. “Ide bagus! Siapa yang akan kabur? Aku atau kau?” kataku setuju . “Aku saja, perempuan biasanya susah kabur” katanya lagi. “Baiklah, aku doakan kau berhasil kabur, fighting!” kataku sambil mengepalkan tanganku dan mengangkatnya. Dia malah tertawa. “Baiklah, fighting!”

==

Aku bangun pagi lebih awal hari ini. Ada pelajaran tambahan hari ini. Aku sudah memakai seragamku lalu pergi ke ruang makan. Sarapan pagi ini kenapa cuma roti? “Aku belum sempat masak sarapan, roti saja dulu ya?” kata Umma mengambilkan susu untukku.

‘TING TONG’

“Nuguseyo? Ah pasti Taemin” ujar umma setelah mengambilkan susu. Anak itu lagi? Mau apa dia pagi-pagi kesini?

==

Taemin’s POV

“Lee Taemin, bangun!” umma membangunkan aku. Tidak biasanya. “Hmm, kenapa membangunkan aku?” aku membetulkan rambutku. “Hari ini kau harus mengantarkan Hyunmi ke sekolah, mulai sekarang kau harus mengantar jemput dia ke sekolah. Araji?” ah, yang benar saja. Bisa-bisa seluruh penghuni sekolah tau aku akan di jodohkan dengan dia. “Kenapa malah diam? Cepat mandi!” umma menyibak selimutku. “Ne, ne. aku mandi”

“Tidak usah sarapan, langsung jemput dia saja, nanti kalian terlambat” mwo? “Umma, aku kan lapar..” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal itu. “Makan di sekolah saja, cepat jemput Hyunmi sana” umma malah mengusirku. Aish.. aku bahkan belom bertunangan dengannya tapi sudah harus menjemputnya ke sekolah. Orang tua kami benar-benar keterlaluan.

Aku segera menaiki motorku lalu mengendarainya menuju alamat keluarga Park. “Yang ini ya rumahnya” gumamku sambil melihat sebuah rumah dengan pagar putih dan penuh dengan bunga mawar. Aku masuk ke halaman rumah ini lalu memencet bel rumahnya.

Seseorang keluar dari rumah. Oh ternyata ummanya. “Ah, Taemin, kau datang untuk menjemput Hyunmi kan?”ummanya terlihat senang. “Ne” aku mengangguk pelan. “Sebentar ya aku panggilkan dia, kau duduk saja dulu disini” ia pergi masuk rumahnya lagi. “Ne gamsahamnida”

Hyunmi keluar rumahnya diikuti ummanya. “Lee Taemin-sshi, kau naik motor?” tanya Hyunmi. Mungkin dia asing melihatku dengan motor, biasanya aku berjalan kaki atau naik bis dri rumah. “Iya, soalnya..” aku belum sempat menjawab dia sudah berlari menuju motorku. “Palli, aku ada kelas tambahan pagi!! Palli palli!” katanya. “Ne, ne!” aku juga berlari lalu menaiki motorku. Lalu kami berjalan ke sekolah.

“Pegangan, aku mau ngebut” aku menyalakan motorku. Ia langsung memeluk pinggangku. Aku mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi. Sedang asik-asiknya menyetir motorku, tiba-tiba…

‘KRIUUUUK’ Aish… perutku kenapa berbunyi? Keras sekali lagi. Di hadapan seorang perempuan pula.

“Jika kau mau tertawa, tertawa saja” kataku menahan malu. “A..aniyo” katanya. Sebenarnya aku tahu dia sudah menahan tawanya dengan menutup mulutnya. “Taemin-sshi, turunkan aku disini, aku tidk mau yang lain tahu aku diantar kau ke sekolah” ia memintaku untuk berhenti. “Gomawo” ia berlalu. Dan aku dapat melihatnya DIA TERTAWA SEPANJANG JALAN. Kalau sampai memberitahu orang lain, tamatlah riwayatmu di klub dance!

==

Hyunmi’s POV

Aku sudah memakai sepatuku. Aku berjalan keluar ruang makan lalu keluar rumah. Aku melihat Taemin yang duduk di kursi teras. Hey itu motor siapa? “Lee Taemin-sshi, kau naik motor?” tanyaku sambil menunjuk motor itu. Aku melihat jam sebentar. Omo! Aku hamper terlambat untuk jam tambahan! “Iya, soalnya..” aku memotong omongannya dan langsung berlari ke motornya. “Palli, aku ada kelas tambahan pagi!! Palli palli!” aku menyuruhnya cepat. Ia kelihatan bingung. “Ne, ne!”

“Pegangan, aku mau ngebut” aku lantas memeluk pinggangnya. Dan benar saja dia mengebut. Untung mataku tidak kelilipan. Tiba-tiba ada suara asing yang datangnya dari perut Taemin.

‘KRIUUUUK’ perutnya berbunyi keras sekali. Sampai aku bisa merasakan getarannya di tanganku. Sungguh bunyinya aneh sekali. Aku menahan tawaku. “Jika kau mau tertawa, tertawa saja” katanya seakan mengerti perasaanku. “A..aniyo” jawabku yang masih menahan tertawa.

Tunggu! Aku baru ingat sesuatu! Kalau ada yang melihataku di antar namja ini… aku bisa dikira berpacaran dengannya! “Taemin-sshi, turunkan aku disini, aku tidk mau yang lain tahu aku diantar kau ke sekolah” ia menghentikan motornya. “Gomawo” aku turun dan langsung berlari menuju sekolah. Tidak lupa aku melanjutkan ketawaku tadi :p

Aku sudah masuk gerbang sekolah. Taemin belum sampai rupanya. Sudahlah biarkan saja.

“DOOR!” seseorang mengagetkan aku dari belakang. “Aishh… Shin Sungrin! Tidak bosan kau mengagetkan aku tiap pagi?” aku pura-pura ngambek. “Mianhae.. lagi setiap hari kau bengong terus” ia terkekeh. “Betul, tiap hari kau kerjanya bengong terus tau!” ini lagi satu lagi sahabatku Kim Jonghyun, yang saat bernyanyi suaranya bagai malaikat tapi kalu sedang bicara, nadanya selalu fals. Aku hanya tersenyum, ternyata mereka memperhatikan aku ya?

“Eh iya tadi aku melihat kau naik motor dengan..aduh sakit Hyunmi-ah!” aku menginjak kaki Jonghyun yang sepertinya tau tadi aku ke sekolah dengan siapa. “Kau salah orang!” aku menariknya lalu berbisik padanya. “Ssst, diam! Kau lupa Sungrin suka dengan Taemin? Nanti dia cemburu!”

Aku tahu Sungrin melihat kami kebingungan. Mianhae Sungrin-ah…

-TBC-



Read more...

Rabu, 23 Juni 2010

Our Status : Engaged [part 1]

Hyunmi’s POV

 Aku berlari dari sekolah menuju rumahku. Kata umma aku harus cepat-cepat pulang. Entahlah ada apa. Aku menurut saja. Mungkin saja aku di ajak liburan ke Hawaii. Atau ke Jepang. Siapa tahu rencana Tuhan? Ya tidak?

Sampai di gerbang rumahku. Aku menghela nafas sebentar sebelum masuk rumah. Belum sempat aku membuka pintu, umma sudah membukanya. “Park Hyunmi! Kenapa lama sekali? Kita hampir terlambat! Kau tahu kan itu bukan kebiasaan keluarga kita?” umma langsung mengomel. Jebal, aku hanya terlambat 5 menit umma! “Aku tadi sudah berlari kok tadi umma, aku kan memang tidak pandai lari” aku mencari alasan. “Ah ya sudahlah, sekarang kau mandi lalu pakai dress yang kemarin ku belikan ya?” mwo? Pakai dress?

“Memang kita mau kemana?” tanyaku yang keheranan karena tidak biasanya umma menyuruhku pakai dress. “Sudah kau mandi saja dulu, nanti kau juga tahu, berdandan yang cantik ya!” umma pergi meninggalkanku. Sebenarnya ada apa sih?

Aku sudah selesai menuruti semua perkataan umma. Aku keluar kamarku dan semuanya sudah berpakaian sangat formal sekali. “Appa! Sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku pada Appa yang sedang membetulkan dasinya. “Mau bertemu teman SMA appa dan umma” jawabnya. Mwo? Hanya bertemu teman SMA masa berpakaian seperti ini? Masa appa dan umma berbohong? Hmm.

Kami menuju ke sebuah restoran. Yap memang restoran itu mempunyai peraturan harus menggunakan pakaian yang formal. Konyol sekali, ini kan cuma urusan mengisi perut! Aku lebih suka makan di kedai burger dari pada disini.

Seseorang datang menyambut kami. Sepertinya teman appa. “Akhirnya kalian datang juga! Kami sudah menunggu! Mari..” ia mengantarkan kami ke sebuah meja yang sudah penuh dengan makanan. Di meja itu ada seorang wanita. Mungkin istrinya ahjussi tadi.

 “Aigoo, akhirnya kalian datang, aku kira kalian tidak akan tepat janji” si wanita tadi bangun dari duduknya lalu mencium pipi umma. “Kami pasti datang untuk janji kita dulu” umma tersenyum. “Untung kau masih ingat” wanita itu tertawa lalu ia melihat ke arahku. “Ah ini si cantik dari keluarga Park? Hyunmi? Kau ingat aku tidak?” dan sekarang dia bertanya padaku. “Ehm, mianhamnida ahjumma, tapi aku tidak ingat” jawabku sambil terkekeh. “Tentu saja kau tidak ingat, sudah 16 tahun yang lalu terakhir aku melihatmu” ia tersenyum lagi, aku ikut tersenyum.

“Kemana dia?” kata appa sambil menyuruh kamu duduk. “Dia sedang ke toilet sebentar, sebentar lagi juga kembali, kita makan duluan saja, ayo” sekarang giliran ahjussi itu berbicara. Kami mulai makan. Aku hanya memperhatikan orang tuaku yang sedang reuni dengan teman SMA nya. B-O-S-A-N. Akhirnya aku mengacak-ngacak makananku.

“Ah itu dia datang, lama sekali sih dari kamar mandinya. Kami sudah menunggu” kata ahjumma itu sambil melihat ke arah belakangku. Umma dan appa menoleh ke belakang. “Aigoo ya, tampan sekali anakmu!” kata ummaku. Aku ikutan menoleh ke belakang. Hah, itu kan.. Lee Taemin?

==

Taemin’s POV

Aku sengaja berlama-lama di toilet. Oh Tuhan, aku belum siap untuk ini! Aku masih 17 tahun, umurku masih panjang! Lagian aku cukup tampan, untuk apa orang tuaku repot-repot menjodohkan aku dengan perempuan yang belum aku kenal?

“Andwae umma!”
“Tidak bisa, kami sudah berjanji dengan mereka, jauh sebelum kau lahir”
“Tapi itu kan janji kalian, mengapa harus aku yang menepatinya?”
“Tidak ada tapi-tapi an, ini takdirmu”
“Takdir apanya? Jebal, aku masih bisa cari pacar!
“Tidak bisa, selama kau masih sayang kami, kau harus ikut apa kata kami”

Dan inilah aku, Lee Taemin, yang berusia 17 tahun dan sebentar lagi akan bertunangan. Ah tidaaak! Aku masih terlalu kecil untuk perjodohan segala macamnya! Aish… apa kata teman-temanku nanti?

Ah, sudahlah aku terima saja. Kata orang –orang, biasanya orang tua tahu apa yang terbaik untuk kita. Tapi sungguh aku tidak yakin ini yang terbaik untukku.

Aku merapihkan setelan jas ku. Lalu aku keluar toilet dengan langkah gontai dan dengan kecepatan sangat lambat. Aku mempersiapkan diriku, apapun yang terjadi. Semoga saja perempuan yang di jodohkan denganku itu, beda tipis dengan Emma Watson. Jadi aku tidak menyesal di jodohkan dengannya :p

“Ah itu dia datang, lama sekali sih dari kamar mandinya. Kami sudah menunggu” umma melihatku. Aku melihat 2 orang lainnya yang sepertinya teman umma dan seorang perempuan lagi. Ah itu pasti dia. Ia menoleh ke arahku, omo, aku mengenalinya, ia… Park Hyunmi kan?

TBC~~~~

Read more...

2 weeks with 13 Adorable boys [part 7 (end)]

Hari ini hari terakhir aku terapi. Hari terakhir karena, jika aku menemukan alamatku hari ini, aku akan pulang hari ini. Apa aku bisa langsung berjalan hari ini? Hmm kita lihat saja.

“Sekarang coba langkahkan kakimu, sepertinya kakimu sudah lumayan kuat untuk berjalan” kata seorang terapis. Aku pun berdiri. Ah pokoknya hari ini aku harus bisa! Aku melihat keluar ruangan terapi ada semua oppaku disana. Mereka semua berkata “Fighting”. Melihatnya aku jadi tersenyum. Baiklah, ayo kita coba!

Satu langkah, berhasil.

Aku ambil langkah kedua, aku mulai kehilangan keseimbanganku.

Langkah ketiga, aku jatuh (T_T). aish!

“Kwaenchanayo? Mau coba lagi?” si terapis itu membangunkanku. “Ne kwaenchanha, aku mau coba lagi!” aku sudah berdiri lagi. Aku melihat keluar lagi. Raut muka oppadeul makin khawatir. Aigoo, aku hanya bisa tersenyum sekarang. Tenang oppadeul, aku bisa kok!

Aku mulai melangkah lagi. Satu, dua, tiga, langkah terlewati. Empat, lima, aku mulai tenang. Enam, tujuh, delapan, langkahku enteng sekali! Dan sembilan, sepuluh.. aku bisa! Aku meloncat kegirangan. Akhirnya! Berarti aku bisa membuang kursi roda yang merepotkan itu (n_n).

Aku melihat keluar lagi. Oppaku bersorak sekarang. Haha lucu sekali mereka. Aku menoleh pada Eunhyuk oppa. Ia menggerakan tangannya seperti gerakan dance Bonamana, lalu Sorry Sorry juga. Dan aku teringat janji kami minggu kemarin..

“Nanti kalo udah bisa jalan, kamu bikin janji ya ama oppa?”
“Janji apa?”
“Kalo kamu udah bisa jalan kamu harus bisa nari Sorry-Sorry”
“Heh?”


Berarti, hari ini aku harus menepati janjiku. Oke, siapa takut? Cuma dance di depan mereka kan? Lagipula sebenarnya aku jago dance kok :p

Sekarang aku BERJALAN keluar ruangan terapi. Semuanya memelukku, tidak semua sih, Kangin Hankyung dan Kibum oppa sedang ada schedule. Untunglah bisa tambah sesak nafas aku jika mereka ikutan memelukku seperti ini. Aigoo~

“Ya oppa! Sudah peluk-peluknya aku sesak nafas!” aku melepaskan diri dari pelukan oppadeul. “Mianhae! Aku terlalu senang melihat kamu bisa berjalan lagi!” Teuki oppa mengacak rambutku. “Nah mulai sekarang kalau jalan lihat-lihat, nanti kakimu shock lagi, nanti jalannya susah lagi!” Kyuhyun oppa malah meledek. “Ne ne arasseo! Tenang saja!” jawabku. Kyuhyun oppa tersenyum manis sekali. Aigooya, aku bisa pingsan kalau melihatnya seperti itu terus. Oppa!

“Hei! Ingat janjimu padaku tidak?” Eunhyuk oppa mencolek pundakku. “Ingat, ingat, nanti aku tepati kalau sudah samapi rumahku, oke?” jawabku santai. “Enak saja, lakukan disini, di depan pasien-pasien itu” katanya sambil menunjuk ke arah pasien yang sedang menunggu giliran. “Andwae! Jebal oppa jangan mengerjaiku di sini,” aku memohon dengan puppy eyes andalanku. “Lakukan sekarang atau kita tidak akan cari alamatmu” MWO? LEE HYUK JAE OPPA! Keterlaluan sekali dia! Sudah mengirim sms itu ke Minho oppa, dan sekarang menyuruhku dance di depan pasien lainnya? Awas ya!

Aku segera menuju pasien-pasien itu. Aku menengok ke belakang, sepertinya ia mau merekamku menari. Jangan sampai dia upload ke twitternya! Awas saja yaa!

“Sunghyo-ah!”
“Wae?”
“Perkenalkan dirimu di depan mereka yaa!”
“Ne!”
“Sunghyo-ah!”
“WAEYOO?”
“Bonamana dance!”
“Ne ARAJI!” aku benar-benar kesal sekarang. Aigoo umma T_T

‘Oke, aku ingin cepat pulang, cepat lakukan’ ucapku dalam hati. “Yorobun! Annyeonghaseyo! Ahn Sung Hyo imnida! Aku punya janji dengan Lee Hyuk Jae oppa jika aku sudah bisa berjalan aku harus dance. Aku harap kalian tidak terganggu dengan danceku ya!!”

Aku mulai dance. Hanya di bagian reff saja. Kalau dari awal aku pasti lebih malu lagi. Mukaku sudah semerah apa sekarang? Eunhyuk oppa kau.. aaargh! “Bounce to you bounce to you…”

“Bonamana bonamana bonamana na pakke obda..”

Akhirnya selesai juga. Fiuh sekarang aku bisa pulang. “Gamsahamnida, gamsahamnida” aku menutup ‘acara’ku lalu berlalu menuju oppadeul. “Sudahkan? Sekarang ayo antar aku pulang!” kataku masih terengah-engah.

“Kau tahu tidak Sunghyo? kau harusnya masuk trainee”

==

“Kita cari kemana ya alamatmu” Heechul oppa melihat-lihat jalan sekitar. “Molla” jawabku. “Kenapa kau lupa alamatmu sih?” tanya Sungmin oppa. “Soalnya aku baru pindah ke daerah sini, belum hapal namanya dan daerahnya! Aku juga bingung sekarang kita mau cari kemana” jawabku. “Kita cari kemana ya..”

“Sepertinya aku tahu kita harus kemana” mendengar Donghae oppa berkata seperti itu aku jadi tersenyum. “Kemana?” tanyaku. “Ke sekolahmu, kau tau nama sekolah mu kan?” .

Aku mengingat-ngingat nama sekolahku. Mm Chungdam? Sungdam? Choldam? Bukan bukan, sepertinya Cheongdam. Iya iya Cheongdam High School! “Mmm sepertinya nama sekolahku, Cheongdam High School” jawabku. “Ya sudah ayo kita ke sana, kaza!” Donghae langsung mengajak kami semua ke sekolah ku. “Donghae oppa! Mau ngapain ke sekolahku?” tanyaku. “Tanya alamat rumahmu, di sekolah pasti punya data siswa nya kan? Pasti sekolah punya alamatmu kan?”

Benar juga kata Donghae oppa! Kenapa tidak kepikiran ya? Kami langsung naik mobil menuju sekolahku. Setelah sampai di sekolahku.. “Ayo turun” Donghae oppa mengajakku turun. Kalau aku turun, semuanya pasti akan mentertawakan aku karena lupa alamat sendiri. Andwae! “Heh? Aku tidak usah turun ya? Oppa sama Teuki oppa saja ya? Atau sama yang lain?” aku menolak. “Ta-tapi banyak orang nanti..” Teuki oppa kelihatan ragu. “Kwaenchanha, sekali-sekali dekat dengan ELFs itu penting, jebal, aku mau pulang..”

“Arasseo, tunggu ya” akhirnya Teuki oppa mau! Tinggal menunggu mereka kembali, dan aku kembali pada keluargaku!

==

Author’s POV

Leeteuk dan Donghae memasuki sekolah Sunghyo. Dan seluruh mata tertuju pada mereka. Untungnya tidak sampai mengerubungi mereka. “Hyung, kantor kepala sekolahnya dimana ya?” Donghae bertanya pada hyung nya yang juga sedang menengok sana-sini. “Molla, ah tanya anak itu saja, itu yang sedang duduk, yang senyumnya manis” Leeteuk menunjuk seorang siswa. “Hyung! Kau ini jangan yang tidak-tidak, ingat umur!” kata Donghae. “Umur hanya bilangan Hae” jawab Leeteuk santai. “Sepertinya itu ruang kepala sekolahnya, kaza!”

“Permisi..”

“Ya, silahkan masuk” kepala sekolah mempersilahkan Leeteuk dan Donghae masuk. “Ada yang bisa saya bantu Leeteuk-sshi?” katanya. “Begini, ehm.. Kim seonsang-nim,” Leeteuk sedikit melihat papan namanya. “Aku ingin menanyakan alamat siswa di sini, namanya Ahn Sunghyo” jawab Leeteuk. “Ahn Sunghyo? siswi baru itu?” tanya Kim seonsang-nim. “Ne”

“Sebentar, Kyujong-sshi, tolong carikan alamat Ahn Sunghyo” Kim seonsang-nim menyuruh sekretarisnya mencari alamat Sunghyo. “Tapi untuk apa kalian menanyakan alamatnya? Kami hanya bisa memberikan alamatnya untuk keluarga saja”

“Ehm sebenarnya aku ini keponakan dari sepupu pamannya Sunghyo, seonsang-nim” jawab Leeteuk asal. “Benar seonsang-nim” Donghae meyakinkan. “Baiklah, ini alamatnya” Kim seonsang-nim memberikan alamatnya. “Beruntung sekali Sunghyo punya saudara jauh seperti Leeteuk-sshi” kata Kim seonsang-nim tanpa curiga. “Dia selalu berkata begitu, seonsang-nim. Hehe” Leeteuk mengantongi alamat yang di berikan Kim seonsang-nim. “Kami permisi dulu seonsang-nim, gamsahamnida”

Sesaat setelah keluar dari ruangan kepala sekolah, Donghae dan Leeteuk terkikik. “Apa itu, keponakan sepupu pamannya Sunghyo, kkkk~!” Donghae tertawa. “Sudahlah! Aku tidak pandai berbohong sepertimu! Untung tadi ia percaya, fiuh” kata Leeteuk. “Iya, ayo kita antar Sunghyo pulang!”

==

Sunghyo’s POV

“Mwo? Oppa membohongi kepala sekolahku? Sesange..” aku kaget mendengar cerita Donghae oppa saat mendapatkan alamatku. “Nanti kalau ketahuan berbohong bagaimana? Bisa di kejar-kejar wartawan nanti” kataku. “Tenang saja, tidak akan kok” jawab Donghae oppa.

“Sunghyo-ah, sudah mulai kenal daerah ini belum?” tanya Heechul oppa padaku. “Rasanya iya, sepertinya aku mengenal jalan ini, ah kalau tidak salah sehabis jalan ini belok kiri, lalu jalan sedikit dan sudah sampai rumahku!” aku kegirangan. “Rumahmu yang ini?”

Rumah dengan pagar warna coklat dan tembok kuning.. yap ini rumahku! “Ne oppa, ayo turun!” aku membuka pintu mobil dan keluar. Aku melihat unnie ku, Sungkyu unnie. “Sungkyu unnieee!!!” panggilku. Ia menoleh. “Omo, Sunghyo kau dari mana saja! Appa dan umma sudah mencarimu, sekarang mereka masih di kantor polisi!” unnie memelukku. “Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan!” kataku. “Kau pulang dengan siapa?” tanyanya lagi. “Itu dengan..”

“Do..do..do..Donghae?!” GUBRAK! Sungkyu unnie pingsan. Omo! Aku lupa Sungkyu unnie kan Donghae biased! Aish… “Donghae oppa, tanggung jawab dia pingsan karena oppa! Gendong dia ke dalam, palli wa!” kataku menyuruh Donghae oppa menggendong unnieku. “Mwo?” Donghae oppa tampak bingung. “Palli, kau tega melihat yeppeo yeoja pingsan?” Eunhyuk oppa mendorong Donghae oppa yang akhirnya membopong Sungkyu unnie ke kamar.

Aku segera menelpon appa dengan handphone Sungkyu unnie. “Yobeseyo, appa! Sungkyu unnie pingsan, ini aku Sunghyo! Ceritanya nanti saja, cepat pulang unnie pingsan!” aku menutup telepon. Sekarang semua orang di sini mengipas-ngipasi wajah unnie sambil mengamati wajahnya. “Dia mirip Sunghyo ya” kata Heechul oppa samba melihat wajahku dan unnie berganti-gantian. “Iyalah, kan dia naui unnie”

Tak lama appa dan umma pulang. Appa langsung memeriksa keadaan unnie karena kebetulan dia pernah jadi dokter selama 7 tahun, tapi sekarang beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha. Sementara umma, ia menjamu tamu special di rumahku, Super Junior.

“Aigooya, gamsahamnida Leeteuk-sshi dan yang lainnya sudah mengurus anak bandel ini, maaf dia merepotkan ya. Jeongmal gamsahamnida” kata appa setelah mendengar penjelasanku dan Super Junior oppa. “Kwaenchanha hyung, kami sudah menganggap Sunghyo sebagai dongsaeng kami sendiri” Teuki oppa tersenyum. “Sebagai tanda terima kasih kami, bagaimana kalau malam ini kalian makan malam di sini?” tawar umma. “Iya oppa, mau ya?” aku juga ikut menawarkan
“Tentu saja kami mau, terima kasih banyak noona!”

==

“Terima kasih ya sudah menjaga Sunghyo, lain kali datang kesini lagi ya!” appa ku mengucapkan salam perpisahan pada Super Junior oppa. “Terima kasih kembali hyung, pasti kami kesini lagi!” Teuki oppa berpelukkan dengan appa. “Kau juga, jangan lupakan kami ya” Teuki oppa mengacak rambutku. “Tidak akan! Harusnya aku yang berkata itu.” Aku tersenyum. “Aku tidak akan melupakan kalian terutama EUNHYUK, DONGHAE dan HEECHUL oppa, kalian memang oppaku yang paling BAIK sedunia!” aku menyindir mereka. “Ah, gomawo Sunghyo-ah” Heechul oppa sebenarnya tahu maksudku, tapi dia pura-pura tersenyum. “Kami permisi pulang, annyeonghi gyeseyo”

“Annyeong Sunghyo, mimpikan aku ya?” Kyuhyun oppa lagi-lagi tersenyum manis padaku sebelum pergi. “Oppa kau narsis sekali! Nanti malam aku sms ya? Annyeong!” kataku. “Ne, aku tunggu”

Aku melambaikan tangan pada mereka. Mereka membalasnya. Aih, beruntungnya aku 2 minggu tinggal dengan mereka. 2 minggu paling mengesankan dalam hidupku!

Aku masuk ke kamar dan mendapati Sungkyu unnie yang sudah sadar. “Mana Super Junior, mana Donghae oppa?” katanya. “Baru saja pulang, kau terlambat Ahn Sungkyu…” aku meledeknya. “Jinca? Aigoo kapan lagi Donghae oppa main ke rumah kita..” raut mukanya langsung sedih. “Lagi kenapa unnie harus pingsan? Tadi mereka makan malam di sini loh” aku makin membuatnya iri. “Jeongmalo? Ya kenapa kau tidak bangunkan akuuu! Dongsaeng jahat!” ia merengek. “Mana mungkin aku membangunkan orang pingsan? Tidak usah seperti itu, tadi Donghae oppa kok yang menggendongmu, senang tidak?”

“JEONGMAL? KYAAA DONGHAE OPPA!” ia berteriak kencang sekali. Dasar perempuan! (padahalkan aku juga perempuan -_-) “Ne, tadi aku yang menyuruhnya” kataku sambil merebahkan diri di kasurku. Sudah lama aku tidak bertemu guling kesayanganku. “Kyaaa, baiknya dirimu Ahn Sunghyo!” tadi bilang aku jahat, sekarang baik, dasar plin plan.

‘Ring ding dong ring ding dong’

Aku mengeluarkan handphone ku dari kantong celanaku. Lah, Kyuhyun oppa duluan mengirimiku sms. “Mana katanya kau mau sms? Tidak tepat janji >.<” katanya. Sabar oppa, aku pasti sms kok, kau saja yang tidak sabar!

“HP mu baru ya?” tanya Sungkyu unnie. Rupanya dia memperhatikan. “Ne, keren kan?” jawabku. “Pasti di belikan Super Junior oppa ya?” tanyanya lagi. “Ne” jawabku lagi.

“Buat aku ya?”
“Andwaee!”
“Pelit!”
“Aku tadi menyuruh Donghae oppa membopongmu loh, masih bilang aku pelit?”
“Inikan lain urusannya..”

“Tidak akan ku pinjamkan!” aku melanjutkan mengetik sms ku. “Ini aku sms! Ciye oppa kangen aku yaaa? Hehe ^^” balasku. “sms dari siapa?” Sungkyu unnie bertanya lagi. “Kyuhyun oppa, wae?”

 “KYUHYUN OPPA? Kau punya nomornya? Bagi!” lagi-lagi Sungkyu unnie merengek. “Andwae! Cari sendiri nomornya! Sudah jangan ganggu aku, aku mau tidur, besok sekolah, lalu les mata pelajaran. Chaljayo Sungkyu unnie!” kataku sambil menarik selimutku dan menyembunyikan handphoneku, takut nanti dia ambil lalu melihat-lihat kontaknya, hihi

==

 Sejak aku masuk sekolah lagi, semua orang termasuk guru-guruku selalu titip salam buat Leeteuk oppa dan dongsaeng-dongsaengnya, jadi karena kebohongan yang di buat olehnya aku jadi mendadak terkenal. Sungguh, ini menyebalkaaan!

Yang mencengangkan, kepala sekolahku, Kim seonsang-nim, dia juga titip salam untuk Leeteuk oppa! Dia sebertinya fans yang sudah hardcore. Hampir setiap hari dia datang ke kelasku lalu menanyakan kabar Leeteuk oppa (+_+)

 Sudah seminggu aku kembali ke rumah. Aku kangen juga dengan mereka, baiklah aku berangkat ke studio KBS, mau bertemu mereka! Eh tapi kalau di sana ada Minho oppa, mukaku mau di taruh dimana! Ah ini gara-gara Donghae oppa!

Aku menelpon Donghae oppa. “Yobeseyo, oppa!”

“Yobeseyo, ah kau Sunghyo, tumben telpon, oppa bogoshipoyo?”
“Ne! Tapi aku bukan mau ngomong kangen-kangenan!”
“Terus?”
“Aku mau ke studio, tapi takut ketemu Minho oppa”
“Wae?”
“Wae? Kira-kira kenapa? Arrgh oppa!”
“Ah, arasseo…”
“Oppa harus jelaskan ke dia pokoknya! Jebal jebal jebaaal!”
“Ne! jadi datang ke sini kan?”
“Ne, aku jalan sebentar lagi, jangan lupa jelaskan pada Minho oppa semuanya!”
“Arasseo, Sunghyo baweeel!”
“Gomawo, Donghae oppa ganteng!”
“Cheonmaneyo~ cepat datang!”
“Annyeong!” aku menutup telpon. Baiklah aku berangkat!

==

Sampai di studio KBS Music Bank, aku berhasil masuk backstage karena staffnya sudah mengenalku. Aku mencari Donghae oppa. Belum sempat aku menelponnya, dia sudah datang. Tapi kenapa sama.. Minho oppa? “Hai Sunghyo! Sudah lama ya datangnya?” Donghae oppa menyapaku. “Ah, ani, aku baru saja datang, annyeong haseyo Minho oppa” kataku. “Donghae oppa, sini!” aku menarik Donghae oppa. “Sebentar ya Minho oppa”. “Ne” jawabnya, bingung.

“Tadi oppa sudah bilang ke dia belum?”
“Sudah, sudah beres, tapi dia jadi sedih tuh”
“Wae?”
“Kan dia, ah masa kau tidak mengerti”
Aigoo, jangan bilang kalau…. Tidak mungkin!

“Super Junior Donghae, ayo stand by!” seorang staff memanggil Donghae oppa. “Ne! aku kesana dulu ya? Minho kau bisa temani dia kan?” kata Donghae oppa sebelum pergi. “Emm bi..bisa..hyung!” belum selesai Minho oppa bicara, Donghae oppa sudah kabur. “Gomawo!”

“Ehm.. oppa, maaf sms yang kemarin itu..” kataku membuka pembicaraan. “Oh yang itu, aku sudah tahu kok, kwaenchanha” jawabnya. Fiuh, aku jadi lega mendengarnya. “Padahal aku sudah senang dapat sms seperti itu, eh ternyata itu, kerjaan iseng Donghae hyung, hehe” dia tersenyum malu-malu. Mwo? Maksud dia apa? “Maksud oppa?” aku bertanya padanya. “Kau tidak menangkap maksudku? Aku bilang aku SENANG dapat sms itu. Masih tidak bisa menangkap?” kini dia tersenyum lebih manis.

Aku hanya terdiam, berarti…

“Masih belum bisa menangkap? Baiklah…” ia merunduk sedikit mendekati telingaku. “Sa-rang-hae-yo. Sudah jelas belum?”

Aku tersenyum dan bersorak dalam hati. Mungkinkah ini keberuntungan setelah tinggal 2 minggu di dorm Super Junior? Entahlah..

THE END


NB: AKHIRANNYA FAIL BANGET HAHA AKAN SAYA PERBAIKI DI MINHO’S SPECIAL POINT OF YOU SELANJUTNYA OKEEEE -_-

Read more...

Selasa, 22 Juni 2010

Say Thank You with Kiss

*Park Jungsoo POV*

“Hati-hati ya kau. Salam untuk Umma-Appa,” kataku kepada yeoja di depanku ini. Dia hanya mengangguk dan beranjak menaiki kereta menuju kota Busan.

”Heh, tunggu! Aku ingin memelukmu dulu, kesini kau,” lanjutku. Dia membalikkan badannya dan berjalan santai kearahku.

Aku pun memeluknya hangat. ”Hah, aku pasti akan rindu sekali padamu Ririn. Nanti siapa yang akan memukul panci di telingaku lagi kalau aku kesiangan? Siapa yang akan mengunci pintu aparteman kalau aku ketiduran, siapa yang akan menutup mulutku dengan lakban ketika aku main bola,” kataku kepadanya.

”Kau harus belajar bangun pagi Oppa, jangan lupa nyalakan alarmku kencang-kencang. Kalau sudah jam 8 kau harus mengunci pintu apartemen. Dan sekarang kau bebas teriak-teriak ketika nonton bola,” jawabnya santai. Aku sudah melepas pelukannya sekarang.

”Ne, yasudah kau cepat naik keretanya. Chalja! Jaga dirimu ya! Salam buat Appa dan Umma,” kataku sambil mengacak rambutnya pelan.

”Ne Oppa, chaljayo!” jawabnya sambil berlari menaiki kereta. Perlahan kereta itu melaju menjauh dari tempatku berdiri. Isssh, aku pasti akan rindu sekali pada dongsaengku satu-satunya itu. Dia harus pulang ke Busan karena harus melanjutkan sekolahnya disana sekaligus merawat Appa dan Ummaku yang sudah semakin tua. Ya, mungkin aku memang harus belajar mandiri tanpa diurusi olehnya.

Aku berjalan keluar dari stasiun itu menuju ke halte untuk segera pulang. Rumahku masih berantakan karena tadi Ririn belum sempat membersihkannya. Aku menatap langit gelap kota Seoul, ternyata malam ini banyak bintang, aku memutuskan untuk masuk kedalam sebuah gedung kosong di perempatan jalan dekat halte.

Aku memang selalu kesini jika aku kesepian, dan sekarang aku kesepian, seperti ada yang hilang dariku. Aku naik kelantai paling atas gedung agar bisa melihat bintang itu dari dekat. Lantai atas ini memang terbuka karena pembangunan yang belum selesai.

”HAH! Enak sekali berada disini,” gumamku sambil mengelilingi atap gedung.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekelililing. Ada orang juga ternyata di gedung ini? Aku kira aku saja yang suka datang ke gedung kosong ini. Kebanyakan orang kan takut kalau harus masuk kesini. Heh tunggu, kenapa dia berdirinya di pinggir sekali? Bagaimana kalau dia jatuh? Atau jangan-jangan? Aku menggelengkan kepalaku dan berlari kearah orang itu.

”Nona, apa yang sedang kau lakukan disitu?” kataku begitu melihat sosok wanita dengan rambut berantakan karena terkena angin malam. Kenapa dia diam saja? Menoleh saja tidak.

Aku berjalan mendekat kearahnya dengan hati-hati, sangat hati-hati. Sepertinya dugaanku benar. ”Nona, apa kau mendengarku? Aku bertanya apa yang kau lakukan disitu? Berdiri disitu bahaya Nona, apalagi angin malam ini kencang sekali,” kataku sekali lagi. Aduh dia ini mau melakukan apa sih?

”Kau peduli padaku?” dia membuka suaranya. Suaranya indah sekali walaupun terdengar sangat frustasi.

”Ya, aku peduli padamu Nona dan aku yakin semua orang peduli juga padamu,” jawabku meyakinkannya. ”Kau mau apa, Nona?” tanyaku lagi padanya. Pertanyaan bodoh sih sebenarnya, padahal jelas-jelas dia ingin mengakhiri hidupnya, tapi ya untuk memastikan. Mungkin saja ia ingin menikmati udara malam.

Aku menunggu dia mengeluarkan suaranya lagi tapi kenapa dia malah tidak bergeming sama sekali. ”Nona, mengapa kau diam lagi?” tanyaku frustasi, lama-lama aku yang akan frustasi dan mengakhiri hidupku kalo begini terus.

”Kau bilang kau peduli padaku? Kenapa dia tidak?” tanyanya menggantung dengan volume yang sangat kecil. Untung pendengaranku masih baik.

”Ya, aku peduli padamu Nona, kan aku sudah bilang tadi. Eh tapi dia itu siapa? Em siapapun dia aku yakin dia juga peduli padamu kok, cuman caranya saja yang berbeda,” jawabku menenangkannya. Aku rasa dia sedang patah hati.

”Ayo turun, Nona. Angin malam ini kencang sekali, aku akan mengantarmu pulang,” kataku mendekatinya dirinya.

”PERGI KAU! SEKALI LAGI KAU MELANGKAH AKU AKAN LONCAT,” katanya frustasi. Aku menghentikan langkahku. Aigoo, apa yang harus aku lakukan sekarang, aku harus menyelamatkannya tapi dia malah melarangku mendekat.

”Nona! Kau harus turun, buat apa kau melakukan itu semua Nona? Kau harusnya bersyukur karena Tuhan masih memberikanmu kesempatan untuk menikmati hidup, kenapa kau malah menyia-nyiakannya? Kau hanya akan mempersempit neraka Nona, masuk neraka itu tidak enak. Aku yakin kau orang baik, dan kau pantas masuk surga,” ucapku panjang lebar membujuknya untuk turun.

”BUAT APA AKU HIDUP LAGI? TIDAK ADA YANG PEDULI DENGAN PERASAANKU. KALAU TUHAN BAIK KENAPA DIA MEMBIARKAN HANGENG MENYAKITI HATIKU? KENAPA?” teriaknya frustasi.

”Tuhan itu baik Nona dia juga peduli padamu. Cuman cara pedulinya berbeda. Mungkin dia ingin menunjukan kalau Hangeng itu bukan orang yang tepat untukmu. Tuhan akan memberikan yang lebih baik dari lelaki itu Nona. Lagipula aku kan sudah bilang masih banyak orang yang peduli dan membutuhkanmu. Ayolah Nona kau turun, aku mohooon! Aku bisa ikutan frustasi Nona kalau kau tidak mau turun darisitu,” jawaku sambil mengatupkan kedua tanganku kepadanya walaupun aku yakin dia tidak melihatnya.

”Terimakasih kau sudah peduli padaku,” jawabnya sambil tersenyum kerahku. Hah aku lega sekarang dia sudah bisa tersenyum dan mungkin sebentar lagi dia akan menuruti perkataanku. ”Nona, sekarang kau haru, NOOOOOOOOOOOONA!” teriakku histeris sambil menarik tubuhnya yang hendak menjatuhkan dirinya. Nafasku tidak beraturan sekarang, kenapa aku bisa bertemu dengannya sih, Tuhan.

”LEPAAAAAAASKAN! AKU LEBIH BAIK MATI DARIPADA HATIKU SAKIT. LEPASKAAAAAN,” katanya histeris dan aku rasa dia mulai menangis sekarang. Aku memegang tangannya erat.

”NONA! Aku mohon dengarkan aku. Aku mohon, sekaliiiii saja Nona. kau diam dulu. Jebaaal Nona,” kataku dengan suara yang sangat lembut. Dulu Ririn bilang kalau kita ingin menenangkan seseorang harus dengan suara yang lembut. Waaa aku berhasil, dia diam dan menunduk pasrah.

”Baiklah, dengar ya Nona. Kau hampir saja melakukan perbuatan yang sangat dibenci Tuhan, kau tahu itu? Banyak orang yang ingin hidup lebih lama di dunia ini, tetapi kenapa kau malah mau mengakhiri hidupmu?” tanyaku kepadanya masih dengan suara yang lembut.

”Tapi dia,,,” katanya lirih.

”Kan sudah aku bilang. Tuhan melakukan itu karena dia ingin menunjukan bahwa lelaki itu tidak baik untukmu. Dan aku yakin Tuhan akan menunjukan lelaki yang lebih baik darimu. Lelaki yang bisa melindungimu, lelaki yang bisa menjagamu, dan lelaki yang tak akan membuatmu menangis seperti ini,” jawabku memotong ucapannya tadi.

”Huaaaaaaaaa, hiks hiks. Huaaaaaaa,” dia malah menangis histeris dan dalam.

”Aduh Nona, jangan menangis Nona” jawabku panik melihat dia menangis. ”Aigoo bagaimana ini? Nona aku mohon berhenti menangis. Maaf tadi aku sok tahu menasihatimu. Maaf tadi aku juga melarangmu untuk bunuh diri, tapi ini aku lakukan untuk kebaikanmu Nona, jangan menangis,” ucapku panik.

”HUAAAAAAA,” tangisnya makin meledak setelah mendengar ucapanku barusan. Ottokhe? Ririn tolong aku, batinku.

Dengan ragu-ragu aku menarik tubuhnya kepelukanku. Dulu saat Ririn menangis karena putus cinta dengan Jonghyun aku memeluknya dan dia berhenti menangis. Mungkin ini bisa menenangkan hatinya sedikit. Eh Jungsoo babo, Ririn itu kan adikmu, tentu dia nyaman dipeluk kakaknya sendiri. Tapi ini kan perempuan yang sejak sejam lalu membuatku frustasi. Tapi dia tidak menolak pelukanku, ya sudah anggap saja rejeki dari Tuhan *nimpuk Jungsoo*

”Kau boleh menangis sesukamu. Keluarkan saja semuanya. Kata adikku, kalau kita menangis itu membuat beban sedikit berkurang, menangislah. Aku akan menunggu sampai kau selesai menangis dan aku akan mengantarmu pulang,” kataku sambil mengelus rambutnya ringan. Rambut yoeja ini harum sekali.

Sudah berapa lama ya aku berdiri memeluknya seperti ini? Kurasa sudah 20 menit-an. Dia masih menangis sekarang, tapi tidak sehisteris tadi. Bahuku terasa hangat karena air matanya menembus sweater tipis yang aku pakai. Kakiku lumayan kram dibuatnya.

Dia menarik tubuhnya dari pelukanku. ”Hm, terimakasih. Maaf telah membuat sweatermu basah. Mianhae! Aku akan menggantinya dengan yang baru,” katanya sambil membungkukan badan 90 derajat dan mengusap air matanya kasar.

”Tak apa Nona. Untunglah kau sudah berhenti menangis. Park Jungsoo Imnida, kau bisa memanggilku Leeteuk, ” kataku sambil mengulurkan tangan kepadanya.

”Park Nichan Imnida. Maaf, aku rasa aku telah membuat kakimu kram. Mianhae,” jawabnya lagi sambil membalas uluran tanganku.

”Tak apa. Aku justru yang harus minta maaf karena aku lancang memelukmu,” jawabku sambil mengeluarkan senyum termanisku kepadanya.

”Hh, tak apa. Aku justru harus berterima kasih padamu karena kau telah meringankan bebanku barusan dan mengingatkanku kalau masih banyak yang peduli padaku,” jawabnya sambil sedikit tersenyum miris. Haaaah, kau ini cantik sekali kalau tersenyum.

”Hehe, aku jadi malu,” jawabku asal dan membuatnya tertawa singkat.

”Ayo aku antar pulang Noona,” ajakku.

”Memangnya aku setua itu ya? Aku masih 24 tahun Leeteuk-ssi. Kau berapa?” tanyanya sambil memandangku aneh.

”Mwoo? Mianhae. Mungkin karena kau habis menangis dan kantung matamu besar. Mianhae! Jeongmal mianhae kalau perkataanku barusan menyakiti hatimu,” jawabku sambil membungukan badanku.

”Hehe, kwaenchancha. Aku hanya bercanda,” jawabnya sambil tersenyum. Kali ini senyumnya lebih tulus dan membuat hatiku bergemuruh. Ah Jungsoo, benar kata Ririn kalau kau mudah sekali jatuh cinta.

”Ah untunglah. Ayo aku antar pulang,” kataku sambil mempersilahkan yeoja ini berjalan duluan. ”Kenapa diam lagi? Ayo aku antar pulang. Ini sudah malam Nichan-ssi, dan tidak baik kalau perempuan berjalan sendiri di tengah kota. Tenang saja aku tidak akan macam-macam padamu,” lanjutku setelah melihat dia tidak melangkahkan kakinya, jangan-jangan dia mau bunuh diri lagi.

”Em, sebenarnya aku tidak punya rumah,” jawabnya canggung sambil menggaruk kepalanya.

”Mwo? Kau tidak punya rumah? Jadi selama ini kau tinggal dimana?” tanyaku kaget setelah mendengar jawabannya.

”Aku sebenarnya tinggal di Busan dan selama aku berada di Seoul aku tinggal bersama pacar, eh maksudku mantan pacarku,” jawabnya sendu. Bagaimana ini? Tidak mungkin kan aku mengantarkannya ke rumah namja yang sudah membuatnya hampir mengakhiri hidupnya. ”Kau mau menemaniku mencari penginapan?” tanyanya kepadaku yang masih berfikir bagaimana caranya memecahkan masalah ini.

”Ayo aku antar,” jawabku. Dia yeoja yang pintar, kenapa tadi aku tidak berfikir sampai situ sih? Aku keluar dari gedung itu bersama yeoja manis di sebelahku. Kenapa tingginya hampir menyamaiku ya? Memang sih dia memakai boots hak tinggi tapi haknya tidak terlalu tinggi menurutku.

”Nichan-ssi, tinggimu berapa?” tanyaku mencairkan suasana, kerena daritadi tidak ada yang memulai pembicaraan.

”Hah? Tinggiku? Aku 171 cm. Waeyo?” tanyanya dengan pandangan aneh. Mungkin dia menganggapku aneh karena menanyakan tinggi badannya.

”Tak apa, kau tinggi sekali ya. Hampir menyamaiku,”jawabku canggung.

”Aku kan memakai heels Leeteuk-ssi,” jawabnya singkat. Aku hanya tersenyum mesem karena bingung mau menjawab apa.



Ini sudah penginapan kelima yang aku kunjungi sekarang dan hasilnya dari tadi NOL besar. Semua penginapan yang aku dan Nichan datangi penuh semua.

”Penuh lagi,” katanya putus asa ketika aku sudah keluar dari penginapan dipinggir jalan.

”YA! Nichan-ssi ini kan musim liburan, tentu saja penginapan penuh semua,” jawabku sambil menepuk dahiku. Aku memutar otak keras, ”Kau mau tinggal di apartemenku? Kau bisa tinggal untuk malam ini saja. Besok pagi aku akan mengantarmu mencari penginapan lagi. Ini sudah jam 10, sudah larut malam,” tawarku kepadanya. Hanya itu yang bisa aku lakukan, lagipula kamar Ririn kan kosong.

”Ehm, baiklah. Kamsahamnida,” jawabnya setelah berfikir lumayan lama.

Aku dan Nichan berjalan ke halte bis. Karena sudah malam, bis yang aku tumpangi sepi, hanya ada 5 penumpang didalamnya, 6 bersama supir. Aku terduduk lelah di samping yeoja ini, dia melamun. Mungkin memikirkan mantan kekasihnya itu, ih aku gemas sekali sama perempuan kenapa sudah tau disakiti masih saja dipikirkan. Laki-laki itu terkadang suka keterlaluan, eh aku kan laki-laki juga bagaimana sih. Perempuan juga suka...

DUG! ”AWWW,” erangku pelan. Kepala yeoja ini terbuat dari apasih? Kenapa keras sekali dan membuat bahuku ngilu? Cantik-cantik tapi kepalanya keras (?) Lamunanku yang tadi terhenti karena kepala yeoja ini mendarat tidak mulus di bahuku, dia tertidur. AIGOO NEOMU YEPPEO! Dia cantik sekali kalau sedang terlelap seperti itu?

“Nichan-ssi bangun!” kataku sambil menepuk pipinya. Dia bereaksi sebentar dan terlelap lagi. “Nichan, kita sudah sampai, ayo bangun,” kataku sekali lagi sambil melihat sekelilingku. Aku kira aku beruntung menaiki bis kosong ini, tapi sayangnya tidak lagi. Ahjumma dan Ahjussi yang berada di bus ini menatapku tajam karena kelamaan menunggu aku membangunkan Nichan.

Aiiiiish, tak ada pilihan lain. Aku membelakangi Nichan dan menggendongnya di pundakku. “Mianhae Ahjumma Ahjussi sudah membuat kalian menunggu,” kataku sambil tersenyum dan segera turun dari bus itu.

Ternyata dia lumayan berat ya padahal badannya kecil, ah aku baru ingat dia kan tinggi. Untung apartemenku tidak jauh dari halte bus. Jalan menuju apartemenku sudah sepi sekali yang terdengar hanya langkah kakiku.

“Hangeng aku sangat mencintaimu. Kenapa kau menyakitiku?” ucap suara indah ini tepat dikupingku. Aku menggelengkan kepalaku, masih bisa dia mengigau disaat aku keberatan menggendongnya.

“AWWWW, apa yang kau lakukan?” tanyaku begitu kepalan tangannya menyerang dadaku.

“Kau jahat Oppa! Kau jahaaaaat,” katanya lagi sambil terus memukul dadaku. Sakit sekali sebenarnya tapi apa boleh buat. Aku melanjutkan jalanku sampai masuk ke lift dan menuju lantai 30 tempat apartemenku berada.

Aku sekarang berada di depan pintu apartemenku. Tapi sekarang aku bingung, bagaimana caranya aku mengambil kunci yang berada di dalam saku kaosku dan membukanya. Aku tidak ingin membangunkannya jadi aku memutuskan untuk diam berdiri di depan pintu sambil menunggu keberuntungan dari Tuhan agar yeoja ini bisa bangun.

”YAAAAAAAAAA. GOOOOOOOOOOOOOOL! LEE JUNGSOOOO DAEBAK!”

”Ah, dimana aku? Suara apa itu? Menganggu tidurku saja,” ucap Nichan yang kaget mendengar penghuni apartemen sebelah yang berteriak karena Lee Jungsoo pemain timnas Korea Selatan yang berhasil mecetak gol. Aissh aku sampai lupa kalau hari ini ada Korea yang bermain.

”Kau di atas punggungku, itu suara tetanggaku yang berteriak karena pemain Korea berhasil membobol gawang lawannya,” jawabku datar.

”MWO?” katanya tersadar sambil turun perlahan dari punggungku. Aku mencoba menegakkan tubuku dan melakukan perenggangan sebentar. Rasanya pegal sekali.

”MIANHAE MIANHAE! Aku merepotkanmu lagi,” katanya sambil membungkukan badannya.

”Ne, kwaenchancha,” jawabku sambil membuka sweaterku.

”Kau mau apa? Tadi kau janji tidak akan macam-macam,” katanya histeris begitu aku membuka sweaterku.

”Aku mau,” jawabku dengan tatapan nakal.



*Park Nichan POV*

Kenapa namja di sebelahku ini bisa membuatku nyaman dan merasa berarti ya? Tadi dia menggagalkan aksi bunuh diriku, dia memberi alasan yang sangat kuat agar aku tidak bunuh diri. Dia memeluk menenangkanku dan rela berdiri selama itu sampai aku berhenti menangis dan aku merasa nyaman sekali saat ia memelukku. Pelukannya hangat dan bisa membuat perasaanku sedikit tenang.

ia membiarkan sweaternya basah karena air mataku. Setelah aku menyusahkannya sebanyak itu sekarang dia malah berbaik hati menawarkan aku untuk tinggal di apartemennya. Entah mengapa aku percaya pada lelaki ini, aku yakin dia baik dan tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakanku, pikirku selama berada di bus menuju apartemen namja yang sedang melamun juga. Ah aku mengantuk sekali.

”Nichan-ssi bangun!” aku mendengar suara halus itu dan merasakan sesuatu di pipiku. Aku hanya bereaksi sebentar dan tidak menghiraukannya.

”YAAAAAAAAAA. GOOOOOOOOOOOOOOL! LEE JUNGSOOOO DAEBAK!”

”Ah, dimana aku? Suara apa itu? Menganggu tidurku saja,” kataku setelah terganggu dengan suara bising itu.

”Kau di atas punggungku, itu suara tetanggaku yang berteriak karena pemain Korea berhasil membobol gawang lawannya,” jawabnya dengan nada yang datar. MWO? Apa dia bilang barusan? Aku di punggungnya? Aku membuka mataku dan YA! Dia menggendongku. Aku turun perlahan dari punggungnya itu.

”MIANHAE MIANHAE! Aku merepotkanmu lagi,” kataku sambil membungkukan badanku merasa bersalah padanya. Dia merenggangkan badannya sebentar, aduh apa aku berat ya? Bagaimana kalau di pegal-pegal besok.

”Ne, kwaenchancha,” jawabnya sambil membuka sweaternya sigap. Mau apa dia?

”Kau mau apa? Tadi kau janji tidak akan macam-macam,” tanyaku histeris setelah melihat kelakuannya.

”Aku mau,” jawabnya dengan tatapan nakal. Aiiiiish.

”Aku mau mengambil ini agar kita bisa masuk kedalam,” lanjutnya lagi sambil menunjukkan kunci apartemen dan membukanya perlahan. Hah, dia hampir saja membuatku ingin bunuh diri lagi.

”Ayo masuk, maaf apartemenku berantakan sekali,” katanya sambil berjalan menuju lemari di dekat televisi plasma miliknya. Aku memandangi apartemen ini keseluruhan. Apanya yang berantakan? Jelas-jelas ini rapi sekali dan wangi. Aku tak yakin dia namja sebersih ini, atau jangan-jangan....

”Nanti kau tidur di kamar adikku ya, disitu. Ini handuk untukmu. Di dalam kamar ada kamar mandinya kok. Kau bisa memakai baju adikku di lemarinya. Kau pilih saja sesuka hatimu,” katanya membuyarkan lamunanku sambil menunjuk pintu yang katanya itu kamar adikknya dan memberikan handuk yang tadi dia ambil dari lemari.

”Ne, kamsahamnida,” ucapku sambil berjalan ke arah kamar itu. Leeteuk berjalan menuju pintu apartemen dan menguncinya, lagu berjalan ke arah kamar di sebrang kamar adiknya ini. Aku memasuki kamar ini, bersih sekali. Benar-benar kamar perempuan, aku bisa melihat foto Leeteuk bersama adiknya di meja belajar dekat jendela. Aku rasa mereka berdua dekat sekali. Hm entahlah.

Aku memasuki kamar mandi dan mengguyur kepalaku dengan shower. Aku harap rasa sakit ini luntur ikut bersama air yang mengelus rambutku lembut. Aku harus bisa melupakan Hangeng, seperti kata Leeteuk dia lelaki yang tidak baik untukku, Tuhan akan memberikan lelaki yang lebih baik darinya, buat apa aku memikirkan lelaki yang sudah menyakiti hatiku? Buat apa aku masih berharap padanya? Dia sudah meninggalkanku dengan wanita pendek, pucat pasi, dan kurus kering itu.

Tapi apa aku salah kalau menangis lagi sekarang? Hh, aku menarik nafasku panjang dan berjanji itu adalah air mataku yang terakhir untuk lelaki tak tahu diuntung seperti Hangeng. YA! Kau harus melanjutkan hidupmu Nichan, lupakan Hangeng dan mulailah hidupmu dari awal. Aku menghapus air mataku kasar.



*Park Jungsoo POV*

Kenapa dia lama sekali ya mandinya? Ah wanita kan kalau mandi memang lama. Atau mungkin dia langsung tidur karena kecapekan? Ah entahlah lebih baik aku nonton bola saja. Aku beranjak mengambil remote dan mencari channel yang menayangkan pertandingan Korea Selatan vs Yunani. Ah aku ketinggalan jauh sekali. Permainan tinggal 20 menit lagi, tapi untunglah Korea memimpin 2-0. Taeguk Warriors daebak.

”Leeteuk-ssi, aku tak apa memakai baju ini?” ucap Nichan keluar dari kamar Ririn. Aku menenggak ludahku sendiri, aigoo lucu sekali yeoja ini. Kenapa dia keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Aku memperhatikannya dari bawah sampai atas, dia mengenakan kaus gombrong putih kesukaan Ririn dan celana tidur biru muda. Mianhae Ririn-ah kausmu dipakai orang lain, aku tau Ririn pasti akan marah kalau ada orang asing memakai baju kesayangannya itu. Aku menggelengkan kepalaku.

”Tak apa Nichan, kan aku tadi yang menyuruhmu untuk memilih baju sesukamu,” jawabku setelah tersadar dari lamunanku barusan. Dia bergerak kearahku dan duduk di sampingku.

”Adikkmu kemana?” tanyanya sambil menatapku. Bwah jantungku!

”Hah? Dia pulang ke Busan, hehe,” jawabku canggung. ”Kau lapar? Kalau kau lapar kau bisa makan, tapi hanya dengan mie instant, kwaenchancha?” tanyaku padanya. Aku kan tidak bisa masak, selama ini Ririn yang selalu membuatkanku makanan.

”Tidak, aku tidak lapar,” jawabnya singkat.

”Yasudah kau tidur saja, ini sudah malam,” jawabku sambil melihat kearahnya.

”Ne, aku juga sedikit mengantuk,” jawabnya sambil menunduk. ”Gomawo Leeteuk-ssi kau sudah banyak membantuku hari ini. Kalau kau tidak ada, mungkin aku sudah berada di neraka sekarang,” lanjutnya tenang sambil tersenyum tipis.

Aku mengalihkan pandanganku kedepan, ”Ne, cheonma,”

CUPS!

Aku melihatnya berlari kecil ke kamar Ririn dan tersenyum sebentar sebelum masuk kedalam kamarnya. Haaah ini mimpi atau tidak? Aku mengelus pipiku lembut. Aah aku tidak akan mencuci muka sampai besok. Tidaaaak! Tadi omonganku terputus karena secara tiba-tiba bibir kecil Nichan sukses mendarat di pipiku. Aaaaah aku bisa tidur dan mimpi indah sepertinya. Aku memilih untuk mematikan televisi dan beranjak ke kamar sambil terus mengelus pipiku.



”Waeyo Jagi?” tanya Nichan yang membuyarkan lamunanku.

”Ah kwaenchanha. Kau sudah siap?” tanyaku begitu melihatnya sudah rapi, aku kembali menatap lurus kedepan sambil memandangi pemandangan kota Seoul di sore hari.

”Sudah. Sebentar lagi ya berangkatnya. Aku mau disini dulu bersamamu,” jawabnya sambil merangkul pinggangku. Aduuh kenapa aku masih suka deg-degan seperti ini sih. Padahal dia sering melakukan ini. ”Kau tadi memikirkan apa? Mesum ya?” tanyanya jahil sambil menjambak rambutku penuh kasih sayang. Aku sendiri bingung menjambak dengan kasih sayang itu seperti apa.

”Bukan Jagi, aku hanya mengingat pertemuan kita waktu itu, haha,” jawabku. Tanganku kini sudah nyaman melingkar di bahu Nichan.

”AHHH, buat apa kau mengingat itu lagi sih? Itu memalukan tau. Dan itu hal terbodoh yang pernah aku lakukan,” responnya sebal sambil memanyunkan bibirnya.

”Tapi kejadian memalukan itu yang justru mempertemukan kita dan membuat kita menjadi sepasang kekasih kan?” jawabku sambil mendorong pelan bibirnya dengan jari telunjukku, ya aku sudah meresmikan hubunganku dengannya sekitar setahun yang lalu dan aku menyatakan cintaku itu di gedung tempat pertama kali aku dan Nichan bertemu.

”Iya sih. Tapi pasti kau paling mengingat saat aku mencium pipimu secara tiba-tiba kan?” tanyanya sambil menatapku jahil.

”Ya, siapapun orang yang secara tiba-tiba mendapatkan ciuman di pipinya pasti akan mengingat itu dengan jelas, haha. Lagipula kau belum menjelaskan kenapa kau menciumku waktu itu,” jawabku memainkan pusaran rambutnya.

”Kau ini suka sekali sih memainkan rambutku. Ahaha waktu itu hanya tanda ucapan terima kasih karena kau sudah membantuku hari itu,” ucapnya sambil memegang telunjukku yang sedang bermain di pusaran rambutnya.

”HEH! Jadi selama ini kalau kau mengucapkan terimakasih kau selalu mencium seseorang! Babo! Kau tak boleh melakukan itu ya, kau hanya boleh memberi tanda terima kasih berupa ciuman kepadaku. Tapi lain kali jangan pipi doang dong yang dicium,” jawabku iseng sambil tertawa. Aku bisa lihat pipinya bersemu merah sekarang.

”HEY, OPPA! GENIT!” jawabnya histeris masih dengan pipinya yang merah.

”Haha, aku bercanda jagiya. Eh waktu itu kenapa kau lebih memilih untuk tinggal bersamaku. Padahal kan aku sudah menawarkan untuk membantu mencari penginapan,” tanyaku lagi kepadanya.

”Karena aku tidak yakin kau akan kuat tinggal sendirian, pasti apartemenmu akan seperti kapal pecah, dan ususmu keriting karena setiap hari hanya memakan mie instant,” jawabnya sambil cekikikan.

”Maksudmu apa?” tanyaku. Dia tidak menjawab malah berlari meninggalkanku dan masuk ke kamar Ririn. Mau apa dia?

Dia menyerahkan selembar kertas kepadaku. Aku membukanya dan aku bisa melihat tulisan tangan Ririn disitu. ”MWO APA INI?” kataku kaget.

”Coba baca, KERAS KERAS. SEKARANG!” katanya berjinjit berteriak di telingaku.

”Oppa ku sayang. Baik-baik ya di Seoul, jangan lupa apartemenmu dibersihkan. Alarmnya jangan lupa dinyalakan juga. Jangan lupa kunci apartemenmu sebelum kau ketiduran. Kau jangan terus-terusan makan mie instant Oppa, sesekali belajarlah memasak, aku takut ususmu keriting nanti. Oiya satu lagi, sesekali kau harus menengok kamarku dan membersihkannya, aku tidak mau kamar itu menjadi sarang tikus nantinya. Dan kau harus menjemputku di stasiun jika aku sudah kembali ke Seoul, oke? Harus oke, chalja chuu :*” aku selesai membaca surat dari Ririn. Apa-apaan ini? Secara tidak langsung dia mempermalukanku di depan Nichan.

”Ini alasanku tinggal disini. Aku harus melaksanakan amanat Ririn itu, karena aku tidak yakin kau akan melakukan semua yang Ririn suruh. Hihi, surat ini seharusnya untukmu karena surat ini berada di tumpukan buku Ririn. Aku rasa dia lupa memberitahumu kalau dia meninggalkan surat,” jawabnya tenang sambil menatapku.

”Hm, gomawo Nichan-ah!” kataku senang sambil memeluknya erat.

”Hm, aku suka jika kau memelukku Oppa. Pelukanmu hangat dam membuatku nyaman seperti saat kau memelukku pertama kalinya di gedung kosong itu,” katanya jujur.

Dia menarik berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, kyaa mau apa yeoja ini. ”Gomawo Jagi,” Dia melekatkan bibirnya ke bibirku sekarang. Bibirnya hangat dan ini pertama kalinya selama aku setahun berpacaran kami berciuman, dan dia yang menciumku duluan. Dia melepas ciuman itu dan berlari menuju ruang tengah.

”Hei babo tunggu,” kataku menyusulnya.

”Apa?”

”Kenapa kau menciumku?”

”Sebagai tanda terimakasihku padamu,”

”Terima kasih untuk apa?”

”Karena kau sudah menjadi namja chinguku yang baik. Sudah menjadi orang yang menyelamatkan hidupku. Sudah menjadi seseorang yang dikirim Tuhan untuk melindungiku, menjagaku dan tidak akan pernah membuatku menangis,” jawabnya mantap.

Aku menundukkan kepalaku dan mencium bibirnya, kini aku yang menciumnya.

”Oppa, aissssh. Kenapa kau menciumku?”

”Sebagai tanda terima kasih padamu,”

”Terimakasih untuk apa?”

”Karena kau sudah menjadi yeoja chingku yang baik. Sudah menjadi seseorang yang merawatku di Seoul. Sudah menjadikan aku sebagai manusia yang dikirim Tuhan untuk melindungimu, menjagamu, dan seseorang yang selalu menjagamu agar kau tidak pernah menangis,” jawabku sambil meletakkan tangannya di dadaku.

”Kenapa kau malah menangis?” ucapku kaget ketika dia malah menitikkan air matanya.

”Aku menangis terharu tau. Aku tidak menyangkau kau bisa mengatakan itu semua,” jawabnya lirih sambil tersenyum.

”Haha sudahlah pakai sepatumu, ingat jangan pake high heels. Kau sudah cukup tinggi,” kataku sambil mengacak rambutnya pelan. Aku berjalan menuju pintu apartemenku.

”Anak baik,” ucapku ketika melihat dia memakai flat shoes-nya.

”Ayo jalan, kenapa kau malah diam? Aku takut Ririn lama menunggu,” katanya. Aku memang sengaja menatap matanya dalam. Aku mendekatkan bibirku sekali lagi padanya. Aku menciumnya singkat.

”OPPPPPPAAAA, KENAPA KAU MENCIUMKU LAGI?,” jawabnya setengah berteriak.

”Sebagai tanda terima kasihku,” jawabku sambil membuka pintu dan berjalan menuju lift sambil menggandeng tangan Nichan.

”Terimakasih untuk apa lagi Oppa?”

”Karena kau orang pertama yang berani menciumku. Dan kau mengambil first kiss ku,” jawabku ketika sudah sampai di lift.

”Mwo?Jinca?,” tanyanya tak percaya, aku hanya mengangguk mantap.

”Aigoo aku tidak menyangka tampang mesum sepertimu tidak pernah berciuman,” jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya. Aku berjalan menuju bus hendak ke stasiun kereta karena Ririn mau datang lagi ke Seoul dan tinggal bersamaku.

”Eh Oppa, kalau Ririn kesini aku tidur dengan siapa?” tanyanya polos.

”Denganku lah, dengan siapa lagi?” jawabku iseng.

”MESUUUUUUUUM,”



Nb: Mianhae Park Nichan ffnya jelek hehe, ini pengganti ff nc yang kemaren, gue gabisa dan bikin ff nc. Gemeteran bikinnya juga haha. Jangan bad mood lagi yeobo :*


Read more...

Rabu, 16 Juni 2010

2 Weeks with 13 Adorable Boys SPECIAL PART : MINHO'S POINT OF VIEW part 1

Hallo, aku SHINee’s Flaming Charisma Minho, yang baru-baru ini di kalahkan oleh seorang yeoja yang juga ber’flaming charisma’. Ahn Sunghyo. Seorang gadis yang datang dengan tiba-tiba dan langsung membuat aku gila! Kau itu jahat tahu!

Maaf sepertinya aku yang salah, iyalah, aku yang jatuh cinta padamu, masa aku menyalahkanmu? Babo! Aku juga jadi bodoh sekarang. Iya aku tidak bilang ini salahmu lagi. Ini salahku. 100% ini salahku. 100% juga kau yang membuatku menjadi bersalah. Argh!

Apa aku ceritakan saja ya semuanya pada Donghae hyung? Aku ajak ke gym sajalah, sudah lama tidak bertemu hyung kesayanganku itu. Aku menelpon Donghae hyung. “Yoboseyo, Donghae hyung!”

“Hoboheyo? Wah Minho! Wae?”
“Ini hyung, aku ingin mengajakmu ke gym, bisa tidak?”
“He hym?”
Sepertinya dia sedang makan ya? Tidak jelas gini bicaranya. “Hyung, kau sedang makan ya? Aku tidak jelas mendengarmu”
“Ooops, mianhae, ke gym? Mianhae aku sedang sibuk memasak”

“Mwo? Memasak? Masak apa hyung?” tidak biasanya, bukankah yang selalu masak itu Ryeowook hyung?

“Iya, masak bubur untuk Sunghyo, dia sedang sakit. Lain kali ya? Bye..”

“Bye” aku menutup telepon. Dan sekarang perasaanku menjadi khawatir mendengar Sunghyo sakit. Aigoo, sakit apa dia? Apa dia baik-baik saja? Hidupku jadi tidak tenang begini, aish! Lagi-lagi karena dia! Kenapa kau harus sakit segala sih?

“Tidak jadi ke gym hyung?” tanya Taemin yang memang dari tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Donghae hyung. “Iya, dia lagi masak bubur buat Sunghyo, katanya dia lagi sakit” jawabku mencoba tidak terlihat khawatir. “Mwo? Sakit apa dia hyung?” nada suara Taemin mulai berubah.

“MWO? Sakit apa dia?” Jonghyun hyung langsung melompat ke sofa yang kami duduki. Kenapa telinganya sensitive sekali jika mendengar nama Sunghyo? “Molla hyung, kita jenguk yuk hyung?” ajak Taemin pada Jonghyun hyung. “Ah, ide bagus! Tapi kapan ya? Minho kau mau ikut tidak?” ajak Jonghyun hyung.

Sungguh, aku sebenarnya mau ikut, tapi pasti yang ‘menguasai’ Sunghyo itu Jonghyun hyung. “Tidak ah” aku berjalan menuju balkon. Menghirup udara segar. Daripada aku harus mendengar khayalan-khayalan Jonghyun hyung tentang Sunghyo (yang pastinya membuatku iri, soalnya aku tidak bisa membayangkan yang seperti itu T.T) lebih baik aku disini.

Aku melihat malam ini cerah. Terbalik dengan keadaanku sekarang. Angin menyapa wajahku, mungkin membujukku untuk tersenyum, tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar mengkhawatirkan dia. Tiba-tiba terlintas dipikiranku: dia sudah punya pacar belum ya? Aigoo bisa tambah kacau otakku kalau ternyata dia punya pacar!

Tak terasa sudah jam 12 malam. Aku belum bisa tidur. Kalau aku menelpon Donghae hyung jam segini mengganggu tidak ya? Pasti mengganggu lah! Minho kau benar-benar babo sekarang. Babo namja!

“Ya! Minho kau belum tidur?” Onew hyung mengagetkanku. “Ah Onew hyung, aku tidak bisa tidur” jawabku. “Ah, pasti si Sunghyo. Arasseo arsseo, jatuh cinta memang susah ya Minho” kata Onew hyung. Ah dia mengerti perasaanku? “Ah, kau sudah tau ya?” kataku. Onew merangkul ku. “Ne, terlihat sekali dari raut mukamu saat di mobil setelah kami kerjai waktu itu. Sabar ya, banyak saingannya” jawabnya. “Ah iya hyung”

“Dulu aku juga susah sekali mendapatkan cinta Nichan. Dia sukai oleh Leeteuk dan Eunhyuk hyung, tapi akhirnya aku yang dapat kan?” Onew hyung berkata lagi. “Whoa, jinca?” aku memberikan applause padanya. “Intinya, coba saja dulu berusaha, mungkin saja dia juga suka sama kamu? Ya tidak? Jonghyun kalah ganteng kok sama kamu, pasti Sunghyo jatuh hatinya ama kamu deh! Aku bisa kok merasakan kalo Sunghyo itu sebenernya suka sama kamu”

“Jinca? Tau dari mana?”

“Dari… menebak!” aish.. jinca Onew hyung..

“Aish hyung, ku kira serius dari sumber terpercaya” aku sedikit kecewa. Aku sudah berfikir kalau dia punya ilmu mind reading. “Haha, mianhae, sekarang kau tidur saja, aku tidak bisa tidur kalau kau belum tidur” Onew hyung mengajakku tidur. “Baiklah” aku menuruti perkataanya, lagian aku kan susah bangun pagi. Bangun jam berapa aku kalau tidur lebih larut lagi?

==

Studio KBS Music Bank. Tepat seminggu aku melihat sepasang mata paling indah di dunia. Eh hari ini SuJu sunbae-nim membawa dia lagi tidak ya? Ah mana mungkin, dia kan sedang sakit. Tapi siapa tahu saja dia sudah sembuh? Nah itu dia mereka datang.

“Yesung hyung, Sunghyo tidak di ajak lagi ya?” tanya Jonghyun hyung seakan mewakili aku untuk bertanya. “Dia sedang sakit, Jjong, jadi tidak ikut. Haha kau mencarinya? Ciyee” Yesung hyung malah jadi menggoda Jjong. “Ah tidak hyung, hanya bertanya” jawab Jjong hyung lagi.

Ah, dia tidak datang. Aku jadi bad mood lagi. Aku hanya duduk di sofa dan tidak melakukan apa-apa. Menunggu sampai nanti waktunya kami tampil. Masih ada satu jam lagi. Hah! Bosan!

“Ah Minho! Mian aku tidak bisa ke gym kemarin, Sunghyo sakit” tiba-tiba Donghae hyung datang dan membuyarkan semua lamunanku. “Kwaenchanha, sakit apa dia?” tanyaku pada Donghae hyung. “Hanya sakit demam, tapi kepalanya katanya sakit sekali, sampai menangis dia, salahku aku mengajaknya hujan-hujanan” jawaban Donghae hyung membuatku makin khawatir. “Mwo? Sampai menangis? Ah hyung mengapa kau mengajaknya hujan-hujanan? Kasihan sekali dia.. penyakitnya yang satu belum sembuh, eh sudah sakit lagi. Kau ini bagaimana hyung!”
kataku tak sadar bahwa sebenarnya aku telah bersikap sangat khawatir pada Sunghyo.

“Heh? Mengapa kau jadi cerewet seperti itu?” Donghae hyung terkejut dengan perkataanku tadi. Mimik wajahku berubah seketika. “Ah…. Arasseo Minho-ah, arasseo!” dan Donghae hyung berhasil menangkap isi hatiku. “Rupanya kau jadi memikirkannya ya? Aku tidak menyangka.. mengapa kau tidak bilang padaku? Aku kan bisa membantumu!” katanya lagi. “Aku baru mau bilang pada hyung sekarang! Tadinya aku mau bilang kemarin saat aku mengajakmu ke gym itu” jawabku.

Pada akhirnya aku menceritakan semuanya pada Donghae hyung, aku jadi geli sendiri menceritakannya. Donghae hyung malah tertawa mendengar pengakuanku. Aish, hyung macam apa kau Lee Donghae? Malah mentertawakanku. “Minho-ya! Kau ini lucu sekali sih?” katanya sambil tertawa lagi.

“Ah Donghae hyung, sudahlah jangan tertawa lagi, kau pikir ini lucu? Aku serius hyung, aku suka dongsaengmu itu” aku menyuruhnya untuh berhenti tertawa. “Arasseo arasseo! Kau serius suka dia kan?” tiba tiba ia bertanya seperti itu. Bukankah sudah jelas hyung? “Ne, kan tadi aku sudah bilang” kataku. “Kau juga akan menjaganya kan jika dia jadi milikmu?” pertanyaanmu tidak penting hyung! “Iya!” aku menegaskannya lagi.

“Mana handphonemu?” ia malah melenceng dari pembicaraan begini. Tapi aku tetap meyerahkan handphoneku “Ini hyung”. Ia menulis sesuatu disana lalu memberikan handphoneku lagi. “Ini, jackpot untukmu, nomor handphone Sunghyo, coba saja hubungi dia, komunikasi” ah, jinca Donghae hyung! “Aku pergi dulu ya, fighting!” ia berlalu. “Gomawo hyung, jeongmal gomawoyo!” yes! Satu langkah lebih maju dari Jonghyun hyung dan Taemin! Kau memang hyung ku yang paling baik Lee Donghae!

Sekarang, apa yang aku perbuat dengan nomor ini. Telepon? Bagaimana kalau nanti aku jadi gugup? Lalu suara gugupku terdengar di telinganya, ah memalukan! Atau, sms saja? Iya sms saja, sepertinya lebih baik.

Tapi mulainya bagaimana?
‘Sunghyo, apa kabarmu? Aku harap kau..’ ah tidak, tidak, hapus. Terlalu formal.
‘Hai Sunghyo! kau baik-baik saja kan? Aku khawatir sekali mendengarmu sakit’ terlihat terlalu khawatir dan seperti bukan aku. Tapi ini sudah pas sekali untuk membuka percakapan agar lebih dekat. Tapi ini terlihat seperti bukan aku! Aha! Tulis saja ‘ini Jjong oppa ^^’. Dan semakin aneh. Sudahlah biarkan saja. Lagipula dia memang lebih dekat dengan Jjong hyung kan? Sedihnya aku menerima realita ini TT.TT

Yap, terkirim! Tinggal nunggu balasan saja! Aku pun tersenyum lega, setidaknya sudah ada satu usaha yang sudah kulakukan biar satu langkah lebih maju dari Jonghyun hyung dan Taemin. Yes! Aku tidak boleh kalah!

“SHINee ayo bersiap” kami sudah di suruh bersiap. Baiklah semoga habis kami tampil, dia sudah membalas sms ku. Ya bukan sms dari aku sih sebenarnya, dari ‘Jjong oppa’ T.T

==

Hah, lelah sekali, setelah tampil di Mubank tadi kami harus menghadiri fan signing dulu. Cukup melelahkan. Aku merebahkan tubuhku di sofa. Ah iya! Aku lupa mengecek handphoneku, sudah di balas rupanya. Yeah!

“Annyeong oppa! Mianhae, aku lama membalasnya, tadi aku diajak bercanda terus oleh suju oppa (~.~) aku baik baik saja oppa, kemarin aku memang sakit, sekarang sudah sembuh kok ^^ apa kabar oppa? Kok pake HP-nya Minho oppa?”

Aku melihat waktu sms itu di terima. 6 pm KST. Mwo? Sekarang sudah 9 pm KST, jadi aku sudah membuatnya menunggu 3 jam. Mianhae! Aku buru-buru membalas smsnya. “Mianhae! Aku baru saja pulang dari fan sign, maaf aku baru balas :( ah syukurlah kalau kau baik baik saja, aku juga baik :D oh, aku pake HP Minho karena…” aku bingung, apa alasannya? Tuhan bantu aku… aha! "dia yang menyuruhku menghabiskan pulsanya ^^”

Message sent! Ayoo balas cepaaaaat! Dan tidak ada 10 menit, dia sudah membalas lagi. “Mwo? Minho oppa itu tipe pemurah atau bagaimana sih? Aneeh (+_+)” iya, iya aku memang aneh telah berpikiran seperti itu. Hello, SHINee Minho tidak sekaya itu ya, aku hanya mencari alasan lho, kan katanya aku harus berjuang, inilah perjuanganku :P.

Aku membalasnya dengan “Dia memang aneh, sebenarnya di balik sifatnya yang sok cool itu aslinya dia seperti yang tadi kau bilang, aneh! Kau belum tidur jam segini?”. Dan sudah terkirim lagi!

Dia membalas lagi “Whoa, jinca? Aku tidak menyangka (-_-) aku belum bisa tidur, temani aku ya oppa? Jebal.. tapi kalau sudah mengantuk, tidak usah..”. Sepertinya ini saatnya Jonghyun berubah jadi Minho, oke! Pergi sana kau Jonghyun hyung!

“Jeongmal mianhae Sunghyo-ah, aku ngantuk sekali, bagaimana kalau di temani Minho? Katanya dia bosan sedang menunggu waktu untuk pertandingan sepak bola malam ini, bagaimana?” dan terkirim! Jebal, kau mau ya? Jebaaaaal!

Dan HP-ku bergetar lagi! “Hmm, oke lah, tidak apa-apa, aku benar-benar butuh teman ngobrol sekarang, chaljayo, Jjong oppa! ^o^ kembalikan HPnya kepada pemiliknya, palli!” waktunya kembali menjadi Minho. Tadaa. “Annyeong, Sunghyo-ah, aku dengar kau sakit ya? Kenapa jam segini belum tidur?” ayo cepat balas lagi!

Di balas lagi. “Annyeong, ini Minho oppa kan? Iya aku sakit, tapi sudah sembuh ^^ aku belum bisa tidur, ada yang mengacau pikiranku (+_+)” ada apa dengannya?

“Ne, ini Minho oppa :) ah syukurlah, jika kau sudah sembuh. Apa yang mengacau pikiranmu? Ceritakan saja padaku..” aku menawarkan diri sebagai tempat mengeluarkan semua unek-uneknya. Kan nanti jika aku jadi miliknya, aku harus siap mendengar semua ceritanya, anggap saja ini latihan. Hehe (Author: si Minho ke geeran bener deh si Sunghyo mau jadi pacar dia. Reader: kan lo yang bikin dia jadi ke geeran gitu! Babo!)

“Yang mengacau pikiranku itu… kau Minho oppa, jeongmal saranghamnida..” MWO? APA INI? OH JINCA! Aku melompat dari sofa dan langsung berseru seperti saat tim sepak bola kesayanganku mencetak gol. “Yeaaaah!”

“Ya Minho! Kwaenchanhayo? Pertandingannya saja belum mulai tapi kau sudah berseru seperti itu! Ada apa?” Onew hyung bingung melihatku yang berseru kegirangan. Aku menariknya ke balkon dan memperlihatkan sms dari Sunghyo tadi tanpa bicara dan hanya tersenyum lebar. Setelah membacanya dia reflex memelukku. “YA MINHO! CHUKKAE! Chukkahamnida, chukkahamnida~” kami lalu menari-nari mengelilingi balkon lalu masuk ke ruang tv lagi.

“Ya Minho, chukkae chukkae! Aku tidak menyangka akan secepat ini!” Onew hyung memberikanku selamat sementara aku masih speechless dan masih tersenyum lebar. “Ah, hyung, aku tidak menyangka… AH HYUNG AKU TIDAK PERCAYA! Ini bukan mimpi kan hyung?” akhirnya aku dapat mengembalikan suaraku lagi. “Aniyo, ini nyata Minho, ah.. chukkae..” Onew hyung menepuk-nepuk pundakku.

“Ya! Berisik sekali kalian berdua, aku tidak bisa tidur, ada apa sih?” Jonghyun hyung keluar dari kamar. Mungkin kami terlalu berisik tadi. “Ah ani.. sudah kau tidur saja lagi hyung.. aku juga mau tidur..” aku menyuruhya untuk tidur lagi. “Lalu pertandingannya?” Onew hyung menengok ke arahku. “Tidak jadi nonton, aku mau tidur, mau bermimpi indah” jawabku. Onew hyung mengerti perasaanku “arasseo, kalau begitu aku tidur juga”.

Ah, terima kasih Donghae hyung, kalau kau tidak memberiku nomor HP nya, aku pasti masih gundah sampai sekarang. Terima kasih Onew hyung, dan terima kasih juga Jonghyun hyung, tadi aku pinjam namamu. Sepertinya smsnya tidak usah ku jawab. Aku juga bingung mau jawab apa saking senangnya. Aigoo, nado saranghae!

note: ini bakal bersambung ntar pas cerita utamanya udah tamat. ntar part terakhir bakal lebih panjang jadi keluarnya agak lama, nanti keluar ff baru lagi kok, tunggu yo ^_^

Read more...

From Jakarta with Love

“KIKUKIKUK”

“KRIIIIIINGKRIIIIIING”

“KUKURUYUUUUUUK”

“AAAAAAH,” teriakku frustasi dengan selimut masih diatas kepala. Aku bangkit untuk mematikan semua alarm. Mulai dari alarm handphone, jam beker ataupun alarm jam tangan. Dan tidak berapa lama mataku terpejam lagi.

Drrrrt, drrrrrt

“AAAAH, apalagi sekarang?” kataku geram dan mengambil handphoneku yang tak mau berenti bergetar.

“Halo,”

“Hei, dimana kau? Sudah sampai bandara?” mataku membesar begitu mendengar suara berat Bos Juki di seberang telfon. Aku menepuk jidatku keras.

“Hah, sebentar lagi jalan Bos, tinggal nunggu taksi,” kataku berbohong, jelas-jelas aku masih menggunakan piyama tidur lengkap dengan iler di dekat bibirku.

“Bagus, jangan sampai terlambat ya. Jam 9 kau sudah harus sampai sana. Kalau tidak kau dipecat!” katanya langsung menutup sambungan telfon.

“Mampus gue! Jam berapa sekarang? OMAYGAT, JAM 8? AAAAAAH,” aku loncat dari tempat tidur setelah melihat jam di handphoneku dan melarikan diri ke kamar mandi.

Hanya butuh waktu 3 menit di kamar mandi. Aku rasa aku cukup cantik jadi tidak perlu berlama-lama di kamar mandi. Aku memakai sepatuku kasar dan menuruni tangga.

”Kak, gue pergi dulu,” kataku ketika melihat kakakku yang sedang anteng menonton televisi.

”Sarapan dulu woy,” teriak kakakku.

”Alah, gak cukup waktunya, udah ya. Jaga rumah!” jawabku asal sambil menutup pintu.

Aku memasuki taksi yang kemarin sudah ku pesan, sepertinya taksi ini sudah menunggu lama. Tapi untunglah supirnya sabar menungguiku. Aku harus cepat-cepat sampai di bandara jam sembilan karena kalau tidak aku bisa dipecat oleh Bos Juki. Ngomong-ngomong soal Bosku itu, semua orang yang pertama kali mendengar namanya akan berfikiran kalau dia itu ndeso tapi kalau udah liat orangnya, beuuuuh ganteng ciiiin.

Oke stop ngomongin bosku itu, aku ini kerja sama Bos Juki udah hampir 5 bulan, aku kerja sebagai tour guide di perusahaannya. Aku harus bekerja karena kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku hanya tinggal berdua selain itu aku juga harus bisa membayar uang kuliahku sendiri, karena kakakku sudah terlalu pusing mengurusi semua kebutuhanku. Pekerjaan ini lumayan menyenangkan buatku, karena kerjaannya hanya berjalan-jalan menemani bule yang kadang ganteng haha. Hari ini aku harus menjadi tour guide untuk seorang bule Korea.

”Tunggu sebentar ya Pak,” kataku kepada supir taksi ketika aku sampai di Bandara.

Aku sampai jam 9 lewat 15 di bandara dan segera berlari ke tampat kedatangan internasional. Aku membawa karton dengan tulisan korea, aku tidak mengerti apa artinya, yang aku tahu ini nama bule korea itu. Nah tuh dia mba-mba bandaranya udah ngasih pengumuman kalau pesawat dari Korea sudah mendarat, sekarang tinggal nunggu dia nunjukin batang hidungnya.

Aku melihat banyak mata-mata sipit yang satu-persatu keluar, tapi kok belum aja yang berjalan kearahku ya? Waah ada cowo ganteng menghampiriku.

”Dari Juki’s Tour and Travel?” tanyanya kepadaku dengan bahasa Inggris yang lancar. Lucu sekali saat dia mengucapka kata Juki. Alhamdulilah dia ngomong pake bahasa Inggris rasanya aku ingin sujud syukur, karena daritadi hal yang paling aku takutkan adalah kalau dia menggunakan bahasa Korea.

”Iya, anda Tuan?” tanyaku menggantung.

”Jang Geun Seok,” katanya dingin sambil menyerahkan koper-koper besar kepadaku dan berjalan lurus tanpa memperdulikanku. Astagfirullah, cobaan apa lagi ini?

Aku berlari mengejarnya sambil membawa koper-kopernya. Dia bawa apa saja sih sampai ada 3 koper besar? Apa dia memasukkan bantal guling nya juga disini?

“Kau itu jalannya lama sekali sih. Cepat aku ingin berjalan-jalan di sekitar kota Jakarta,” katanya lagi.

“Iya Tuan. Ayo kita ke taksi disitu,” kataku sambil menunjuk taksi yang tadi aku tumpangi. Aku memasukkan 3 kopernya itu ke bagasi sambil dibantu oleh supir taksi. Sedangkan bule sombong itu sudah enak-enakan duduk di dalam taksi.

Aku memasuki taksi itu, ”Hari ini mau langsung jalan-jalan Tuan?” tanyaku canggung kepadanya.

”Iyalah. Tujuanku ke Jakarta kan ingin jalan-jalan. Dan kau harus membawaku ke tempat yang menarik ke Jakarta,” jawabnya ketus. Haaah, baru sekali aku menemukan klien yang menyebalkan dan sombong seperti ini. Kuatkanlah hambamu ini. ”Siapa namamu?” tanyanya sambil menatap kagum ke luar jendela.

”Azumah Tuan, tapi tuan bisa memanggilku Jume,” jawabku sambil tersenyum. Akhirnya dia menanyakan namaku juga.

”Zume?”

”Jume, Ju, Jume,” jawabku sambil memonyongkan bibirku ketika mengatakan Jume.

”Jzume, ya Zume,” jawabnya lagi sambil sedikit tersenyum.

”Ya, terserah kau sama tuan mau memanggilku apa,” jawabku frustasi. Dasar bule, ngomong Ju aja susah amet. Hiiih.

”Aku lapar, kau harus mengajakku ke tempat makanan yang khas Jakarta,” pintanya lagi. Banyak sekali sih permintaannya.

AHA! ”Bagaimana kalau kita ke Pekan Raya Jakarta Tuan?” tawarku padanya. Dan dia hanya mengangguk pelan. Sip, supir taksi itu mengarahkan mobilnya ke Pekan Raya Jakarta.

”Tuan bangun Tuan, kita sudah sampai,” kataku membangunkan tuan muda ini. Tadi dia tidur maniiiiiiis sekali dan aku sempat memotretnya lewat handphoneku haha.

”Kita sudah sampai, Zume?” tanyanya setelah mengucek matanya pelan, awawaw mukanya seperti bayi kalau habis bangun tidur. Dan aku senang dia memanggilku Zume, setidaknya dia lebih ramah sekarang. Aku hanya mengangguk dan keluar untuk membukakan pintunya.

”WAW, acara apa ini? Ramai sekali,” katanya senang ketika melihat keramaian di PRJ. Dan dia tersenyum lebaaar, kau lebih tampan kalau tersenyum Tuan.

”Ini acara yang diadakan Jakarta setahun sekali Tuan, acara ini dilakukan dalam rangka menyambut ulang tahun Jakarta,” kataku menjawab pertanyaannya sambil berjalan mengelilingi kawasan PRJ. Dia mengambil kameranya dan memotret beberapa objek foto.

”Hei, Zume. Katanya kau mau mengajakku makan makanan khas Jakarta,” katanya sambil menatapku. MasyaAllah matanya.

”Oiya Tuan. Tuan juga keasyikkan foto-foto sih. Ayo ikut!” jawabku.

”Hei, kau harus menarik tanganku Zume,” teriaknya. Aku bingung atas permintaannya itu. Tapi aku nggak menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung menarik tangannya sampai ke abang-abang yang sedang dikerumunin banyak orang.

”Ini kerak telur Tuan. Makanan khas Jakarta, makanan ini selalu ada di setiap Pekan Raya Jakarta diselenggarakan. Kau mau?” kataku. Dia hanya mengangguk dan memotret abang-abang kerak telur itu. Abang-abangnya banci kamera pula, langsung senyum pepsodent ketika kamera Jang Geun Seok mengarah ke arahnya.

”Bang kerak telor 2 ya, gapake lama. Bule noh bang mau nyobain kerak telor. Mantep kan saya bisa ngajak tuh bule makan kerak telor. Ganteng ya bang bulenya? Sayangnya agak sombong bang,” kataku kepada abang kerak telur itu dan duduk disampingnya. Kok aku malah curhat sih?

“Iya neng ganteng, cocok sama eneng. Eneng juga cantik kok, cocok neng. Pacaran aja gih sana,” jawab abang kerak telur itu sambil senyum meses-mesem. Aku ikut meses-mesem mendengar komentarnya abruzan.

“Kau bicara apa dengan orang itu? Aku tidak mengerti bahasamu,” komentarnya sambil duduk disampingku. Abang kerak telur itu menoleh ke arahku dan kembali senyum meses-mesem. Abang, jangan mesem-mesem seperti itu, nanti aku ikutan meses-mesem (?)

“Aku hanya memesan 2 kerak telur padanya,” jawabku. “Tuan boleh aku mengatakan sesuatu padamu?” tanyaku kepadanya yang sedang sibuk melihat-lihat hasil jepretannya.

“Apa?” jawabnya singkat.

“Kau terlihat lebih tampan kalau tersenyum Tuan, jadi sebaiknya kau lebih banyak tersenyum,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Aku sebenarnya takut apa reaksinya. Tapi ternyata dia malah tersenyum MANIIIIIIIS MANISSSSS MANIIIIIS bangeeet, sampe gula aja kalah manisnya.

“Neng, jangan senyum-senyuman kayak gitu atuh. Abang jadi kangen istri nih neng,” kata abang kerak telur sambil menyerahkan 2 kerak telurnya yang sudah matang. Aku menyerahkan kerak telur itu pada bule manis disebelahku.

“Ah si abang mah ganggu aja nih,” jawabku asal kepada abang kerak telur itu. Bodo amet lah, si bule nggak ngerti ini aku ngomong apa.

“Makan saja Tuan. Ini enak kok, dijamin,” kataku setelah melihat keraguan di raut wajah Jang Geun Seok sambil mengacungkan jempolku.

Walaupun awalnya dia ragu, tapi akhirnya dia memakan kerak telur itu dengan lahap. Akupun ikut menghabiskan kerak telur punyaku.

“Aku ingin lagi,” katanya sambil memohon kepadaku. Aku mengangguk dan memesankan satu lagi untuknya. Dan hanya beberapa menit kerak telur keduanya habis tidak tersisa.

“Bagaimana? Enak kan Tuan?” tanyaku padanya.

“Enak sekali Zume. Oiya tolong fotoin aku berdua dengan ’abhang’ ini,” pintanya sambil menyerahkan kameranya kepadaku. Aku baru pertama kali menemukan bule yang minta foto sama abang-abang kerak telur, dan aku pertama kali mendengar bule mengatakan kata abang.

“Kita lanjut Tuan?” tanyaku padanya. Dia mengangguk dan menundukkan badannya kepada abang tadi. Si abang malah senyum mesem lagi, dan megacungkan jempolnya kepadaku. Apa maksudnya?

Aku dan Jang Geun Seok melihat-lihat berbagai barang yang dijual disana. “Apa itu, Zume?” tanyanya padaku ketika melihat ondel-ondel. Dia mendekat ke arah ondel-ondel itu.

“Itu ondel-ondel Tuan. Itu ikon dari kota Jakarta,” jawabku sambil berjalan mengikutinya.

”Kau berdiri di sebelah ’Ondhel-ondhel itu. Aku akan memotretmu,” katanya sambil mendorongku pelan. Aku sempat kaget, namun aku mengikutinya lagi, aduuh aku tak bisa menolak permintaannya. Kapan kau memintaku menjadi kekasihmu Tuan?

Dia tersenyum setelah selesai memotretku. Dan tiba-tiba dia meminta seseorang untuk membantunya memotretnya. Jang Geun Seok berlari ke arahku. Dia merangkul pundakku dan tersenyum, aku pun ikut tersenyum ketika melihat blitz kamera. Yaampun dia merangkulku. Dia mengucapkan terima kasih kepada orang yang memotret kami.

”Ayo pulang Tuan, sudah sore. Kau harus beristirahat karena besok kita masih harus berjalan-jalan lagi,” ajakku.

”Kau lupa ya? Kau harus menarik tanganku, Zume,” katanya. Akupun menarik tangannya sampai ke taksi yang menunggu kami. Aku sempat melihat dia tersenyum tipis saat aku menarik tangannya.

Wah sepertinya supir taksi itu sedang pedekate sama mbo-mbo jamu yang berjualan tidak jauh dari kawasan PRJ. Maafkan saya Pak Supir, saya harus membatalkan pedekate anda, kalau tidak bule ini akan mencak-mencak.

Drrrrrt Drrrrt

Aku mengambil handphoneku yang berada di kantung celana.

”Ya, bos ada apa? APAAAAA? Kau yakin? Memang hotelnya kenapa? Oh oke baiklah Bos. Iya iya tenang saja,” tutupku pasrah. Perkataan Bos Juki barusan membuatku shock setengah edan.

“Kau akan tinggal dirumahku Tuan?” tanyaku pada Jang Geun Seok yang tenang melihat pemandangan kota Jakarta di sore hari.

Dia menoleh kearahku dan mengangguk. “Kenapa? Kan di hotel lebih enak Tuan. Lagian rumahku kecil dan jelek Tuan,” tanyaku bingung. Tadi bos Juki menelpon untuk mengatakan bahwa Tuan muda ini ingin tinggal dirumahku selama dia berada di Jakarta.

“Kenapa memangnya kalau aku lebih memilih tinggal bersamamu? Kau keberatan? Rumahku di Korea juga kecil dan jelek. Jadi sama saja kan?” jawabnya.

“Tidak, aku tidak keberatan Tuan. Kau boleh tinggal dirumahku kok,” jawabku. Sebenarnya aku sangat senang kalau dia bisa tinggal di rumahku tapi tetap saja aku merasa aneh. Aku memutuskan menelfon kakakku.

“Woy, bang. Loe siapin kamar tamu ya. Masa bule-nya mau tinggal dirumah. Gatau tuh kenapa, dia demen kali ya sama gue? Haha. Yaudah gausah bawel, loe siapin aja kamar tamu. Makanannya gampang ntar gue yang masak. Loe belajar bahasa Inggris ya, ntar lu kagak ngerti lagi tuh bule ngomong apaan. Jangan lupa pake baju yang bagus biar gak malu-maluin. Yaudah sebentar lagi gue nyampe, yo dah,” tutupku.

Jang Geun Seok lagi-lagi memandangku aneh, mungkin dia bingung aku berkata apa barusan haha, aku suka sekali pandangan anehnya itu. Minta dicium banget sih mukanya (?)

“Sudah sampai Tuan. Ayo turun,” kataku setelah taksi berhenti tepat di depan rumahku. Aku turun menuju bagasi hendak menurunkan koper beratnya itu.

”Biar aku saja, Zume. Koper ini terlalu berat untuk wanita sekecil dirimu. Kau pegang kameraku saja,” katanya sambil menyerahkan kameranya kepadaku.

”Aku bisa kok Tuan,” sanggahku. Kenapa dia cepat sekali berubahnya.

”Diam!” katanya sambil membawa kopernya kedepan pintu rumahku. Akhirnya aku hanya menunggu di depan pintu rumahku. Aku mengetok pintu rumahku. Dan kakakku membukanya dengan senyuman yang mengambang.

Aku tertawa melihat penampilan kakakku sekarang. Dia memakai kemeja, jas dan celana bahan. Jang Geun Seok tersenyum dan membungkukan badannya. Aku membantunya membawa koper dan menuntunnya ke kamar tamu. Jago juga kakakku, kamar ini jadi bersih banget dan wangii.

”Mau kemana, Bang? Haha. Kayak mau ketemu Obama aja,” kataku setelah keluar dari kamar tamu dan menghampiri kakakku.

”Kan kata loe gue harus pake baju bagus gimana sih?” jawab kakakku.

”Ya tapi gausah gitu juga kali Bang. Haha yaudah ah terserah lu, gue mau mandi dulu abis itu masak,” ucapku sambil meninggalkan kakakku sendirian.

Aku mandi dan membersihkan badanku kemudian aku turun ke dapur dan membuatkan makan malam untuk Jang Geun Seok dan kakakku. Aku memutuskan membuat omelet dan sayur sop daging.

“Silahkan dimakan Tuan. Maaf kalau masakanku tidak enak,” kataku ketika makan malam. Jang Geun Seok tampan sekali menggunakan kaus oblong putih dan celana tidur.

”Enak kok, sangat sangat enak. Hm kalau boleh ku tahu. Kemana orang tuamu? Aku tidak melihatnya daritadi,” tanyanya sambil mengunyah makanannya.

”Hm orang tuaku sudah meninggal Tuan tiga tahun yang lalu. Aku hanya tinggal berdua dengan kakakku,” jawabku lirih.

”Oh, maaf aku menanyakan itu padamu,” jawabnya canggung.

”Tak apa Tuan. Kau lanjutkan saja makanmu,” ucapku sambil tersenyum. Dia mengangguk pelan dan ikut tersenyum. Aaaah Mama Papa anakmu ini sedang jatuh cinta sama bule ganteng hihi.

Setelah makan malam kakakku naik ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang terhenti, mencari lowongan pekerjaan. Kasihan sekali dia 2 bulan lalu dipecat oleh bosnya karena dia naksir sama anak bosnya itu. Aku juga baru tahu ada pegawai yang dipecat karena naksir sama anak bos.

Aku merapikan piring-piring kotor dan tanpa disangka Jang Geun Seok membantuku, haaah kalau saja aku orang kaya aku pasti sudah menjatuhkan piring kotor yang kupegang untuk mengecek apakah ini mimpi atau beneran. Aku mencuci piring kotor, kukira Jang Geun Seok akan masuk kekamarnya untuk beristirahat, tapi dia malah duduk di kursi dan menungguiku.

”Kau tidak tidur, Tuan? Ini sudah malam, kau pasti capek berjalan-jalan seharian daritadi. Apa kasurnya kurang empuk, atau ruangannya pengap?,” tanyaku sambil tetap mencuci piring.

”Aku akan tidur setelah kau selesai mencuci piringmu. Aku mau membantumu tapi aku takut yang ada malah piringmu pecah semua,” katanya sambil bertopang dagu memperhatikanku.

”Kau tak perlu menungguku Tuan. Eh tapi tak apa deh hehe. Oiya kau berapa hari di Jakarta?” tanyaku mengajaknya ngobrol. Doi enak juga diajak ngobrol.

”Lusa aku akan kembali ke Korea. Jadi aku akan menikmati sisa hariku di Jakarta di rumah ini bersamamu,” jawabnya manis sekali. Aku menengok ke arahnya dan tersenyum tak percaya? Apa yang dikatakannya barusan? Dia ingin menikmati sisa harinya bersamaku? Yaampun apa yang terjadi padaku? Aku benar-benar dibuatnya tergila-gila.

”Kau ini kenapa Tuan?” tanyaku. Tiba-tiba ada peri bertanduk merah muncul di sebelah kiriku ”Kau tidak boleh jatuh cinta padanya Azumah. Dia hanya bule yang ingin memanfaatkanku, nanti kalau dia sudah kembali ke Korea dia juga melupakanmu,” ucap peri merah itu sambil mengipas-ngipaskan tangannya.

”Kau jangan mendengar peri merah itu Azumah, bule itu tulus terhadapmu. Aku bisa melihat itu dari cara dia memandangmu, kau jangan berfikiran buruk tentangnya dulu,” peri putih dengan sayap dipundaknya kini muncul di sebelah kananku.

”Peri putih, mengapa kau suka sekali mengangguku? Aku sedang menghasutnya,”

”Hei peri merah aku tahu niat jahatmu. Orang bule itu tulus kepada Azumah kenapa kau malah bilang dia hanya memanfaatkan Azumah? Bilang saja kau naksir kan sama bule itu. Ngaku aja peri merah”

”Yang naksir itu aku atau kau peri putih. Memang sih dia tampan dan semua wanita dari dunia manapun akan naksir sama dia,”

Kok mereka malah berantem sih? Lagian darimana datangnya mereka berdua? Tiba-tiba muncul. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan akhirnya bayangan peri gak jelas itu menghilang dari pandanganku. Huh untunglah.

”Aku sudah selesai Tuan,” kataku sambil membalikkan badanku kearah Jang Geun Seok duduk. Dia ketiduran rupanya.

”Tuan, bangun. Ayo tuan tidur di kasur,” dia hanya menggumam. Aku membopongnya ke dalam kamarnya dan menidurkannya di kasurnya. Aku yang hendak keluar tiba-tiba tanganku ditahan olehnya.

”Saranghae, Zume. Saranghae!” dia mengigau rupanya. Aku menarik selimutnya hingga dada, dan keluar dari kamarnya. Eh ngomong-ngomong saranghae itu apa ya? Bahasa korea mungkin, atau saranghae itu nama kekasihnya di Korea. Kalau itu benar nama kekasih, terbanglah semua harapanku hah. Entahlah aku tidak peduli. Selamat malam Tuan Jang Geun Seok yang ganteng nan elok (?)



µµµ



”Kau sudah bangun Tuan?” sapaku pada Jang Geun Seok yang baru keluar dari kamarnya. Lagi-lagi dia menunjukkan mukanya yang seperti bayi kalau baru bangun tidur.

”Iya. Selamat pagi Zume. Oiya mana kakakmu?” tanyanya sambil menarik kursi meja makan menunggu aku selesai memasak nasi goreng untuk sarapan paginya.

”Dia sudah pergi karena ada panggilan kerja. Kau sudah lapar ya Tuan? Tunggu sebentar ya,” jawabku sambil menyiapkan piring saji dan menempatkan nasi goreng panas disitu.

Jang Geun Seok langsung menempatan nasi goreng yang masih panas itu di piringnya dan memakannya perlahan. Akupun melakukan hal yang sama dengannya.

”Hm, Tuan. Saranghae itu apa ya? Semalam ketika aku membawa kau ke kamar, kau menahan tanganku dan mengucapkan Saranghae Zume,” jawabku karena masih penasaran dengan arti dari saranghae itu.

”Hah? Uhuk, aku mengucapkan hal itu padamu?” tanyanya kaget sampai tersedak. Aku memberikan air putih padanya.

”Aduh Tuan hati-hati. Kalau makan nafas Tuan, jangan seperti itu. Iya, kemarin malam kau mengucapkan kata-kata itu,” jawabku.

”Oh, engg itu artinya selamat malam. Ya saranghae itu bahasa korea artinya selamat malam. Iya, kau harus percaya padaku, aku kan orang korea asli,” katanya gugup.

”Iya Tuan aku percaya padamu,” jawabku sambil melanjutkan sarapanku. Hanya ucapan selamat malam ternyata. Yasudahlah.

Setelah aku mencuci piringku aku bersiap-siap mandi karena hari ini aku akan mengajak Jang Geun Seok menaiki busway menuju monas lalu ke bundaran HI. Hari ini hari terakhirnya di Jakarta karena besok dia akan kembali ke Korea.

Aku dan Jang Geun Seok menaiki taksi sampai ke halte busway. Sontak kami menjadi pusat perhatian warga Jakarta yang sedang berada di halte busway (tepatnya Jang Geun Seok yang menjadi pusat perhatian). Aku melihat dia malah tersenyum tebar pesona dan itu membuatku hampir mengeluarkan api dari telingaku.

Tak berapa lama busway yang kutunggu datang dan sialnya aku dan Jang Geun Seok harus berdiri karena tidak dapat tempat duduk. Jang Geun Seok berdiri tepat dibelakangku, dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus di leherku, geli-geli cepoi-cepoi gimana gitu (?)

”Maaf ya Tuan membuatmu harus berdiri seperti ini,” kataku pada bule dibelakangku ini.

”Tak apa, aku suka kok. Ngomong-ngomong ini transportasi apa, Zume?” tanyanya. Sepertinya aku salah mengajak ngobrolnya, karena nafasnya makin membuatku ingin kabur.

”Ini Busway Tuan, sama seperti bis lainnya. Cuman bahan bakarnya menggunakan gas, dan busway mempunyai jalur khusus,” jawabku singkat. ”Nah Tuan sebentar lagi kita akan turun di halte Monumen Nasinal, tapi kita harus berjalan sedikit untuk kesana,” lanjutku.

Setelah sampai di halte Monas aku dan bule tampan ini berjalan beberapa kilometer. Dan lagi-lagi dia sibuk dengan kameranya.

”Nah Tuan, kita naik kesana ya agar kau bisa melihat kota Jakarta di siang hari. Setelah itu kita baru makan siang,” kataku sambil menunjuk ujung Monas.

”Iya, eh tunggu dulu. Aku ingin mengabadikan momen ini. Tunggu sebentar ya,” katanya. Dia menghampiri sesama bule, tapi ini bule istrinya pakle yang sedang berada di kawasan Monas untuk memotretku dan Jang Geun Seok di depan tangga Monas. Aku bergaya lagi di depan blitz kamera dan bule tampan ini lagi-lagi merangkul pundakku, aku panas dingin sekarang hh.

Bule Korea itu berterimakasih kepada bule istrinya pakle dan kami langsung membeli tiket dan naik lift agar sampai di lantai atas.

”Haah, indah sekali disini! Kota Jakarta sangat padat di siang hari,” komentarnya ketika sampai di atas Monas dan kembali ke perkerjaannya memotret Kota Jakarta dari atas. Aku hanya bisa mengamatinya.



”Hah, enak sekali makanan ini Zume,” katanya setelah menghabiskan satu porsi nasi timbel di salah satu restoran sunda dekat Monas.

”Ini makanan Sunda Tuan. Kau suka kan?” tanyaku padanya. Dia hanya mengangguk. ”Baiklah sekarang kita harus cepat-cepat ke Bundaran HI sebelum hujan, ayo Tuan tampan,” kataku sambil menarik tangannya. Kemajuaan, akhirnya aku berani bilang dia tuan tampan, ayo kita selametan (?)

”Ini transportasi apa Zume? Berisik sekali!” kini dia berbicara agak keras karena kami sedang berada di

JENG JENG

BAJAAAAAJ

“Ini bajaj Tuan. Ini juga kendaraan khas di Jakarta. Kau belum bisa dikatakan sudah ke Jakarta kalau belum menaiki bajaj,” jawabku bahagia melihat wajahnya yang keberisikan dengan mesin bajaj itu.

”Bazai? Namanya aneh,” jawabnya. Setelah Jume jadi Zume, sekarang Bajaj dari Bazai.

”Sebenarnya tidak aneh Tuan, kau saja yang menyebutnya aneh haha,” jawabku. Sepertinya dia tidak mendengar perkataanku barusan kerena suaraku kalah dengan mesin bajaj ini.

Setelah beberapa menit kami sampai juga di bundaran HI. Aku bingung kenapa dia mau sekali kesini.

”Kau bergaya disitu Zume,” katanya sambil mendorongku pelan ke dekat air mancur. Aku bergaya lagi untuk kesekian kalinya, sepertinya aku berbakat menjadi model, kenapa dia tidak mendaftarkanku saja ke agen model kali aja aku bisa menjadi model terkenal. Dan kini aku yang harus bergantian memotretnya.

”Kau senang Tuan? Maaf kalau pelayananku selama di Jakarta kurang berkenan,” kataku sambil duduk di tepi bundaran HI. Romantis gak sih duduk di tengah-tengah bundarah HI ditemani angin sore trus diliatin banyak orang? Hah bukan romantis sih kayaknya, malu iya.

”Aku senaaang sekali Zume, aku bisa kau ajak ke apa tuh yang kemarin? Pi Ar Jey (re: PRJ)? Ya itu. Aku senang bisa kau ajak makan krak tlor, aku senang bisa makan masakanmu, aku senang bisa melihat kota Jakarta dari ketinggian, aku senang bisa naik busway, aku senang bisa naik bazai, dan aku senang bisa duduk di tengah-tengah bundharan HA-HI (re: HI),” jawabnya panjang lebar. Aku senang mendengar jawabannya.

”Dan aku lebih senang karena selama di Jakarta kau yang mengajakku berkeliling, aku senang bisa mengenal wanita sepertimu Zume,” lanjutnya.

”Aku juga senang Tuan, bisa berkenalan dengan Tuan yang baik dan tammpan hihi. Tuan sepertinya mau hujan, ayo kita cepat mencari taksi dan pulang. Lagipula ini sudah mau gelap,” Aku menarik tangannya dan aku menyetop taksi yang lewat. Ternyata benar hujan turun dengan lebat.



”Kau istirahat saja Tuan, saranghae,” kataku sambil tersenyum ketika aku selesai mencuci piring bekas makan malam, dan hari ini dia menungguiku lagi. Keren juga aku bisa bahasa Korea sekarang.

”Hah? Saranghae? Baiklah, saranghanda Zume,” jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Aku bingung, mungkin artinya itu ’selamat malam juga Zume’ ya ya haha.

Aku menaiki tangga dan masuk ke kamar. Ah sudah lama aku tidak internetan, sekalian belajar bahasa Korea deh. Aku menyalakan laptopku.

”Belajar bahasa Korea,” gumamku sambil mengetik kata kunci di google.

HAP! AKU SESAK NAPAS!



µµµ



Aku berada di taksi bersama Jang Geun Seok, hari ini dia kembali ke Korea, yaah aku ingin menanyakan hal itu cuman malu bok, ntar aja deh.

”Pesawat jam berapa Tuan?” tanyaku ketika berjalan sambil membantu mengeluarkan kopernya. Dia hanya dua hari di Jakarta tapi bawaannya kayak sebulan tinggal di Jakarta.

”Jam sebelas,” jawabnya sambil melihat ke tiket pesawatnya.

”Lah, sekarang masih jam 9 Tuan, kenapa buru-buru sekali?” tanyaku heran. Kami berjalan ke tempat duduk yang dekat dengan restoran cepat saji.

”Tak apa,” katanya singkat sambil tersenyum dan menjatuhkan pantatnya di tempat duduk yang tadi kamu tuju.

Aku bingung mau bicara apa lagi. Hm apa aku menanyakan hal itu sekarang saja ya? Ayolah Jume bukannya urat malumu sudah putus? Kenapa begini saja takut.

”Tuan, aku mau bertanya sesuatu padamu. Tapi kau jawab yang jujur ya?” tanyaku malu-malu padanya. Tuan muda itu hanya mengangguk.

”Hm, kemarin malam aku mencari arti saranghae di internet dan artinya itu hm hm artinya aku cinta kamu bukan selamat malam,” kataku dengan muka polos. Aku melihat mukanya kaget, ”Hm, apa kau mencintaiku, Tuan?” tanyaku ragu-ragu. Aku sesak nafaaaaas.

Dia menggelengkan kepalanya cepat, ”Hm, tidak aku tidak menyukaimu,” katanya lantang.

”Oh, aku yang terlalu pede sepertinya haha, aku jadi malu Tuan,” kataku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aduh Jume, kenapa bisa bodoh banget sih nanya kayak gitu.

”Em. Saranghae Zume,” katanya pelan sambil menatapku dalam.

”Tuan, ini masih pagi, kenapa mau mengucapkan selamat malam,” jawabku pura-pura bloon padahal rasanya hatiku ini mau keluar.

”Aku berbohong, kau benar saranghae itu artinya aku cinta kamu. Aku berbohong, kau benar kalau aku benar-benar mencintaimu Zume,” jawabnya sambil memandang ke arahku.

”Apa Tuan? Kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku meyakinkan pertanyaannya. Aku harus menahan jantungku agar tidak berdetak lebih kencang.

”Iya, aku suka padamu. Aku suka saat kau pertama kali memperkenalkanku pada Jakarta. Aku suka dua hari kemarin saat aku mengelilingi Jakarta bersamamu. Kau mau kan menungguku sampai aku kembali lagi ke Jakarta?” tanyanya.

”Kau akan kembali ke Jakarta Tuan?” tanyaku bengong.

”Ya, sebenarnya aku ditugaskan memimpin perusahaan Ayahku di Jakarta dan Bos Juki itu om-ku, jadi aku sengaja meminta Om Juki agar selama aku di Jakarta ada guide yang membimbingku, dan ternyata Om Juki memilihmu,” jawabnya dengan tatapan hangat. Agak aneh sebenarnya seorang Jang Geun Seok memanggil Bos Juki dengan sebutan Om.

”Kapan kau kembali ke Jakarta?” tanyaku padanya.

”Seminggu lagi. Aku harus mengurus perusahaan ayahku yang di Korea dulu. Em ini, kau boleh pegang kameraku sebagai jaminan kalau aku kan kembali ke Jakarta. Bagaimana?” tanyanya lagi.

”Baiklah aku akan menunggumu dengan senang hati,” jawabku sambil nyengir kuda dan menerima kameranya.

”Hah? Beneran? Jadi sekarang kita pacaran?” tanyanya lagi dengan senyum yang mengambang di bibirnya. Aku mengangguk pelan, pipiku panas seperti pantat sekarang.

”Waaaah, aku boleh meluk?” tanyanya. Aku mengangguk semangat, oh Tuhan aku ditimpa durian runtuh sekarang.

”Sudah setengah 11 Tuan, kau harus segera boarding,” kataku sambil membantunya mendorong kopernya.

”Kau hati-hati ya di Jakarta. Jangan lupa menungguku seminggu lagi,” ucapnya dengan bahasa Indonesia yang jelas.

”KAU BISA BAHASA INDONESIA TUAN?” tanyaku geram.

”Sedikit sebenarnya aku mengerti ketika kau berbicara dengan penjual kerak telur kemarin,” jawabnya sambil tersenyum dan mengacak rambutku ringan.

Rasanya aku ingin memukul kepalanya dengan wedges yang sedang kupakai sekarang, tapi aku kasian padanya.

”Jangan marah ya. Aku berangkat ke Korea sekarang, kau harus jaga dirimu baik-baik, jaga kameraku juga, dan kau harus menjadi guru privatku belajar bahasa Indonesia. Oke?” katanya setelah sampai di pintu boarding.

”Iya Tuan Muda tampan. Hati-hati ya, dadah. Saranghae,” tutupku.

”Saranghanda,”

Aku berjalan senang menuju ke taksi yang menungguku.

”Azumah kan aku sudah bilang dia hanya memanfaatkanmu. Kau harus mendengar perkataanku Azumah,” Peri bertanduk itu muncul lagi di sebelah kiriku ketika aku sudah duduk di taksi.

”Peri merah kau itu tidak pernah berubah ya? Bule tampan itu tulus mencintai Azumah, kalau kau iri kau tak perlu menghasut Azumah seperti itu,” balas peri putih di sebelah kananku.

”Kau itu selalu saja menganggu pekerjaanku, kau sirik ya?”

”Dengar ya aku tidak sirik padamu, aku....,”

“HAAAAAAH BERISIK,” aku menggerakkan wedgesku ke arah kiri dan kananku untuk memukul dua peri genit itu.

“Kenapa Neng? Kok teriak? Siapa yang berisik? Kenapa sepatunya lepas?” tanya supir taksi borongan kayak di blok M. kini dia menghentikan taksinya itu dipinggir jalan.

“Gapapa pak, jalan aja hehe,” jawabku malu sekali. Ini semua gara-gara 2 peri aneh itu.

Aah aku tidak peduli dengan peri aneh itu, yang pasti aku harus menyibukkan diriku untuk belajar bahasa korea dan menunggu seminggu lagi ketika Jang Geun Seok datang.



THE END

note: sekali-sekali kdrama actor gapapa kan ya? huehe
note from Tiara: ff ini buat temanku tersayang jumbul, mian ya sayang kalo ffnya rada gila hihi

Read more...