Laman

Senin, 06 September 2010

He's Back - Part 1

ANNYEONG HASEYOOOOO!

YANG KANGEN TIARA YANG KANGEN TIARA, SEKARANG ORANGNYA BALIK NIH!

ENJOY HER BRAND NEW FF! ^O^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku mau kau berjanji satu hal,”

”Apa?”

”Kau tunggu aku sampai aku kembali ke sisimu,”

”Apa kau akan kembali?”

”......



SIAL!! Aku terbangun dari mimpiku. Kenapa aku selalu terbangun saat dia belum menjawab pertanyaan itu. Ini sudah keempat kalinya aku mendapatkan mimpi seperti itu dan sudah empat kali juga aku tebangun dengan pertanyaan yang belum sempat terjawab. Di mimpi itu aku bisa melihat sesosok lelaki yang amat sangat kucintai. Sudah 4 tahun dia menghilang tanpa kabar, dan 4 tahun juga aku masih mencintainya. Dia meninggalkanku, meninggalkan perasaan cintanya di hatiku yang paling dalam. Aku masih menunggu, dan terus menunggu. Aku pun tak tahu sampai kapan aku akan menunggunya.......



*****



Aku menuruni tangga rumahku dengan membawa beberapa tumpuk buku sebagai bahan skripsiku yang tinggal 4 minggu lagi.

”Pagi Ririn,” sapa Ummaku ketika aku menarik kursi meja makan.

”Pagi Umma. Appa sudah berangkat ya?” tanyaku sambil meminum susu putih yang sudah tersedia di depanku. Umma hanya mengangguk sambil duduk di hadapanku. Appaku sudah pensiun beberapa bulan yang lalu dan sekarang kerjaannya hanya mengantarkan adikku ke sekolah atau terkadang menjaga toko bunga punyanya.

“Ririn, kau sudah punya jawaban?” tanya Umma serius.

“Umma.... aku mohon jangan bahas itu sekarang. Aku tidak bisa menjawabnya. Sekarang aku hanya ingin fokus pada skripsiku dulu,” jawabku enggan.

“Umma tahu Ririn. Tapi, Appa dan Umma sudah semakin tua. Kami hanya ingin melihatmu bahagia dan...... kami ingin menimang cucu sebelum ajal menjemput kami,” ucap Umma lirih.

”Umma, tolong jangan berbicara seperti itu. Semua ada waktunya Umma,” jawabku. Aku sebal jika Umma sudah membicarakan hal ini dan selalu menghubungkannya dengan kematian.

”Sanpai kapan Ririn? Kau sudah terlalu lama menutup hatimu untuk lelaki lain! 4 tahun Ririn! Bukalah matamu! Buka hatimu! Kalu begini terus sama saja kau menyiksa dirimu sendiri,” Umma menatapku dalam. Sudah berulang kali Umma mengutarakan hal ini kepadaku, tetapi tetap saja hatiku sedih mendengarnya.

Umma benar, mungkin sudah saatnya aku membuka hatimu. Tapi, hatiku sendiri masih meyakini bahwa dia akan kembali. Orang yang meninggalkanku 4 tahun yang lalu akan kembali. Aku harap hatiku benar kali ini..

”Baiklah Umma, aku akan mencoba, tapi mungkin belum bisa dalam waktu dekat ini. Aku janji Umma, aku akan berusaha sebisaku untuk menerima Donghae. Aku berangkat ya, Umma hati-hati dirumah,” kataku akhirnya. Ya, Donghae. Lee Donghae adalah namja yang hendak dijodohkan Umma denganku.



*****



”RIRIN-AH! Jeongmal bogoshipoyo. Apa kabarmuuu?” tanya Nichan girang sambil memelukku setelah aku memasuki kelas.

”Nichaaaaaaaan! Aku baik, baik sekali. Kau apa kabar?” jawabku balas memeluknya.

”Aku baik Ririn! Mengapa lama sekali datangnya? Aku kira kau tak akan masuk kuliah hari ini,” ucapnya.

”Aaaah tadi busnya penuh, jadi aku harus menunggu bus selanjutnya. Tidak mungkin aku tidak masuk Nichan, 4 minggu lagi kita kan skripsi haha. Asik tidak liburanmu? Kulitmu menghitam, padahal cuma 2 minggu liburan di Bali,” tanyaku sambil menuntunnya duduk dan aku duduk disebelahnya. Nichan memang mengambil cuti kuliah selama 2 minggu dan dia memutuskan untuk liburan di Bali. Aku bingung kenapa dia masih berpikiran untuk liburan padahal skripsi sudah didepan mata.

”Di Bali? Sangat sangat menyenangkan. Kapan-kapan kau harus kesana ya, bersamaku tentunya hahaha,” jawabnya cekikian. ”Heeem, bagaimana hubunganmu dengan Donghae?” lanjutnya.

”Donghae? Aku tidak tahu kabarnya. Tapi hubunganku dengannya masih sama saja seperti dulu, tidak ada sedikit pun yang berubah,” jawabku sesantai mungkin. Kenapa semua orang menanyakan tentang hubunganku dengan Donghae? Tadi pagi Umma, sekarang Nichan. Siapa lagi nanti?

”Sejak aku di Bali, Donghae selalu menanyakan kabarmu. Aku tidak bisa menjawab bagaimana kabarmu. Karena aku pun tidak tahu. Dia bilang kau selalu tidak ada dirumah ketika dia menelfon rumahmu, trus kau selalu tidak ada dirumah setiap dia mengunjungi rumahmu. Kau beli handphone lah Ririn, aku juga jadi bingung jika mau menghubungi dirimu,” jawab Nichan panjang.

”Ne, aku juga maunya begitu. Tapi, selalu tidak ada waktu. Sekarang fikiranku hanya terfokus pada skripsi. Aku mau kuliahku cepat selesai dan mendapatkan hasil yang terbaik. Lalu aku mrndapatkan pekerjaan yang aku inginkan dan membantu kedua orangtuaku,“ kataku sambil tersenyum tipis kepada sahabat baikku.

”Baiklah. Aku ke kelasku ya! Dosenku sudah mau masuk sepertinya. Sampai ketemu nanti Ririn,” kata Nichan menutup pembicaraan kami.



Aku mengikuti mata pelajaran di kampus dengan baik walalupun tadi sempat diserang rasa kantuk, dan aku bersyukur kegiatan belajar mengajarku hari ini selesai. Aku duduk dibawah pohon rindang di samping taman yang berada di dekat kelas Nichan. Aku menunggunya karena dia janji akan ke toko buku bersamaku untuk mencari beberapa bahan skripsi sekalian menemaniku membeli handphone.

Aku memakai headset dan memutar beberapa lagu yang dapat menenangkan hatiku. Aku menatap ke langit yang cerah hari ini, aku mengirup udara segar dalam-dalam. Ya aku sangat suasana disini. Tenang, damai.

”Hai,” aku mendengar suara samar-samar dari samping kananku. Aku mengalihkan pandangan ke arah samping kananku.

”Oppa,” ucapku kaget sambil melepas headset sebelah kananku. ”Sedang apa kau disini?” tanyaku ketika melihat sosok Donghae sudah duduk disampingku.

”Aku sedang memperhatikanmu, hehe. Kau menunggu Nichan ya?” tanyanya sambil menyunggingkan senyuman termanisnya. Sudah lama aku tidak melihat senyumannya itu.

Kedua sisi bibirku tertarik dan ikut tersenyum. ”Iya Oppa. Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau apa kabar?” tanyaku.

”Kabarku baik dan menjadi lebih baik lagi setelah melihatmu hari ini,” jawabnya tulus.

Aku kembali menatap langit luas di hadapanku.

”Ririiiiin,” Nichan berlari tergopoh gopoh menghampiriku. ”Haaah haah. Oppa, sedang apa kau disini?” tanya Nichan kepada Donghae dengan nafas yang masih tidak beraturan.

”Mengunjungi Ririn lah Nichan,” jawab Donghae santai.

Nichan hanya mengangguk sesaat ”Ririn, mianhae. Jeongmal mianhae! Aku tidak bisa menemanimu membeli handphone. Umma menyuruhku pulang cepat. Mianheeee,” katanya dengan raut muka menyesal.

”Hm tak apa Nichan. Tapi bagaimana dengan bahan skripsimu?” tanyaku kepadanya.

”Nanti saja aku meminta Oppaku untuk membelikannya. Baiklah aku pulang duluan ya Ririn, kau hati-hati. Dadaaaaaah, daaah Oppa,” tutup Nichan sambil pergi meninggalkanku dan Donghae.

”Hati-hati Nichan,” jawab Donghae sambil melambai-lambaikan tangannya.

”Kau mau membeli handphone? Ayo aku temani?” ucap Donghae sambil menatapku.

”Apa tidak merepotkanmu, Oppa?” jawabku canggung.

”Tentu tidak. Ayo!” jawabnya sambil menarik tanganku menuju mobilnya.



*****



”Makan dulu yuk, aku lapar,” ajak Donghae sambil memegang perutnya dengan tampang memohon. Aku tertawa melihatnya dan mengangguk. Aku sudah mendapatkan handphone yang aku butuhkan, setidaknya aku bisa lebih mudah berkomunikasi sekarang.

Aku dan Donghae memasuki restoran cepat saji dan memesan makanan.

”Mana handphonemu?” tanya Donghae sambil menengadahkan tangannya.

Aku menyerahkan handphoneku ketangannya. Terlihat dia menekan keypad handphoneku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut di restoran ini. Tanpa sengaja aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenal. Aku menutup mataku kemudian membukanya lagi. Sudah tidak ada! Aku mengedarkan pandanganku sekali lagi, benar-benar tidak ada. Apakah itu hanya khayalanku semata? Ya aku hanya terlalu merindukannya! Yang tadi itu hanya khayalanku. Tapi... kenapa aku merasa pandanganku tak salah, aku merasa dia ada di dekatku.

”Rin.. Ririn, ini handphonemu. Gomawo,” kata Donghae membuyarkan semua lamunanku.

”Ya! Kau apakan handphoneku Oppa?” tanyaku sambil mengatur perasaanku yang mulai labil. Aku harus melupakan hal tadi.

”Tenang Ririn-ah, aku hanya menyimpan nomerku haha,” jawabnya senang. Aku hanya mengangguk dan menatap layar handphoneku. Donghae oppa >.<. Aku tersenyum melihat nama yang tertera untuk nomor Donghae Oppa. Tidak beberapa lama, makanan pesanan kami datang. Kulihat Donghae lahap menghabiskan makanannya, ternyata dia benar-benar lapar.

”Haaaah, kenyang!” ucap Donghae setelah piring dihadapannya bersih tanpa sisa.

”Ayo pulang Oppa, ini sudah malam. Aku harus melanjutkan skripsiku,” kataku setelah menyeruput habis minuman bersoda yang aku pesan.

”Ayo! Aku antar Puteri ke Istananya ya,” katanya sambil mengandeng tanganku.



*****



”Gomawo ya Oppa sudah menemaniku membeli handphone dan mentraktirku makan. Aku senaaaang sekali hari ini,” kataku sebelum turun dari mobilnya.

”Aku yang harusnya berterima kasih Ririn. Kau sudah memberikan kesempatan untuk menemanimu hari ini. Aku harap kau memberi kesempatan lagi untukku lain waktu,” jawabnya sambil menggenggam tanganku. ”Aku sangat senang hari ini melebihi rasa senangmu,” katanya lagi sambil tersenyum.

”Tunggu,” ujar Donghae ketika aku hendak membuka pintu mobil. Dia keluar dan membukakan pintuku.

”Silahkan Tuan Putri,” katanya sambil membungkukan setengah badannya.

”Kamsahamnida,” jawabku kaget dengan perlakuannya kepadaku.

”Sekali lagi terima kasih untuk hari ini Ririn-ah,” katanya sambil mengecup keningku singkat. ”Selamat malam, tidur yang nyenyak ya,” katanya lagi sambil mengacak rambutku.

”Nado Oppa,” jawabku dengan senyum setulus mungkin. Mobil Donghae menjauh dari pandanganku.

Kemudian pandanganku beralih ke 20 meter disebelah kiriku. Aku memicingkan mataku dan melihat motor sport dengan seseorang yang menaikinya. Aku tidak melihat jelas siapa orang itu karena gelap dan dia memakai helm. Tapi kurasa dia sudah menunggu disitu cukup lama. Tiba-tiba motor itu melaju melewatiku dengan cepat. Entah kenapa aku jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Aku menaikkan bahuku dan memutuskan untuk tidak memikirkan siapa yang mengendarai motor itu. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berfikir sebentar. Mungkin memang sudah saatnya aku membuka hatiku untuk lelaki lain.......



*****



Aku melihat jam tanganku, sudah lebih dari 30 menit aku menunggu disini. Aku memilih untuk menunggu 20 meter dari rumahnya karena aku juga masih harus mengumpulkan keberanianku untuk menemuinya. Sudah hampir seminggu aku di Korea dan baru hari ini aku merasa keberanianku cukup untuk menemuinya.

Aku masih merasa bersalah karena sudah 4 tahun meninggalkannya tanpa sebab dan tanpa memberi kabar sedikitpun. Aku sudah menyiapkan diriku kalau nanti dia marah dan tidak mau menerimaku lagi, aku pantas mendapatkan itu. Aku hanya ingin menjelaskan kenapa aku pergi meninggalkannya tanpa sebab. Aku hanya ingin dia tahu kalau selama 4 tahun aku menyimpan hatiku baik-baik hanya untuknya.

Tidak beberapa lama ada mobil yang menepi di depan rumahnya. Cukup lama terparkir disitu tapi tidak ada orang yang keluar. Sedang apa mereka didalam? Mungkinkah yeoja yang aku tunggu berada didalam? Terlalu banyak pertanyaan di benakku sekarang.

Setelah beberapa saat ada namja yang keluar dan membukakan pintu penumpang disebelahnya. Aku membuka penutup helmku sedikit saat seorang yeoja keluar. Aku bisa melihatnya jelas walaupun dengan penerangan yang sangat minim. Hatiku terlonjak melihat yeoja itu. Ya itu Ririn, Park Ririn. Aku rindu sekali padanya.

Dia tersenyum kemudian namja di depannya mencium keningnya singkat, lalu mengacak rambutnya yang tergerai. Dia pun tersenyum lagi setelah mobil namja itu menjauhinya. Tak berapa lama Ririn menatapku lama. Aku pun tersadar sesuatu. Aku sudah tidak mungkin lagi bisa kembali padanya.

Ketakutanku yang terbesar benar-benar terjadi. Kekasih yang dulu aku tinggalkan tanpa sebab sudah melupakanku dan membuka lembaran baru hidupnya. Mataku terasa panas, aku menarik nafas panjang dan melajukan motorku dengan cepat melewati dirinya yang masih mengamatiku.



*****



Sudah seminggu berlalu. Hari ini aku janjian dengan Donghae di sebuah kafe dekat kampusku. Dia mau membantuku menyelesaikan skripsiku yang sudah hampir selesai setengahnya. Aku mengangkat tema Perkembangan Musik di Korea Selatan dan Pengaruhnya untuk Kalangan Remaja. Haha awalnya aku bingung mau mengangkat tema apa, tapi karena belakangan ini di Korea banyak bermunculan boy band dan girl band baru serta antusias remaja yang mulai naik jadinya aku memutuskan untuk mengangkat tema itu.

Aku berjalan sendirian menuju kafe itu. Heem tempat ini kembali mengingatkanku pada lelaki yang entah sekarang berada dimana. Hari ini, aku merasa membuka kembali kenangan saat bersamanya. Padahal sudah seminggu belakangan ini aku berusaha sangat kuat untuk menutup kenangan itu.

Aku menunggu Donghae di pojok kafe. Sebenarnya waktu janjian yang ditentukan kemarin masih setengah jam lagi, tapi aku sengaja datang lebih awal. Entah mengapa aku ingin datang lebih awal. Aku ingin menikmati kedamaian kafe ini sendirian.

Hubunganku dengan Donghae lebih dekat sekarang. Aku juga sering menghabiskan waktuku dengannya. Hanya satu yang belum berubah. Status. Aku memang sedang dalam proses membuka hatiku untuknya, tapi tidak mudah untukku berubah secepat itu. Aku butuh proses. 3 hari yang lalu Donghae menyatakan perasaannya padaku, dengan halus aku menolaknya.

Aku hanya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, aku tidak mau menyakiti Donghae karena hanya menjadikannya sebagai pelampiasan. Donghae orang baik, dia tulus. Aku merasa sangat jahat jika menyakiti hatinya.

Tak berapa lama pintu kafe ini terbuka dan aku bisa melihat Donghae masuk.

”Ririn, kau sudah sampai? Sudah lama ya? Ini kan masih 15 menit lagi dari jadwal janjian kita?” pertanyaannya keluar lancar setelah melihatku duduk termenung di pojok kafe. Dia membuka kacamata hitamnya dan duduk dihadapanku. Aku tidak menyangka dia datang secepat ini.

”Ne, Oppa. Aku juga baru datang kok. Kau juga kenapa sudah datang jam segini?” tanyaku kepadanya.

”Ah anni, aku hanya tidak ingin membuatmu menunggu saja. Ternyata kau datang lebih dulu dan menungguku. Mianhae Ririn-ah,” jawabnya merasa bersalah. Aku tertegun mendengar jawabannya.

”Haha buat apa minta maaf Oppa. Kau tidak salah, aku memang sengaja datang lebih awal karena tidak ada kerjaan di kampus,” jawabku sambil tersenyum.

”Kau belum memesan? Mau pesan apa?” tanyanya sambil membuka-buka buku menu.

”Aku ikut Oppa saja. Tapi jangan pesan daging babi ya Oppa,” jawabku singkat.

”Hm baiklah aku tau kau tidak suka daging babi. Kita makan dulu ya, nanti baru aku bantu mengerjakan skripsimu. Ahjussi,” katanya seraya memanggil pelayan kafe ini. Ahjussi yang dipanggil Donghae menghampiri meja kami.

”Ya tuan mau pesan apa?” tanya ahjussi itu.

”Hem, 2 ramyun dan 2 air mineral dingin ya Ahjussi,” jawab Donghae sambil tersenyum kepada Ahjussi. Ahjussi itupun berjalan memberikan pesanan kami kepada koki kafe ini.





Tak beberapa lama pesanan kami datang. Kami melahapnya singkat karena mungkin sama-sama lapar. Setelah itu dia membantuku melanjutkan skripsiku. Dia hanya memberikan usul dalam bentuk garis besarnya saja untuk bab-bab berikutnya nanti biar aku yang melanjutkan sendiri. Begitulah katanya. Sudah sekitar 5 jam aku dan Donghae berada di kafe ini. Aku melihat jam tanganku, sudah jam setengah 7 rupanya.

”Oppa, kurasa cukup. Kau sudah membantuku banyak hari ini. Kita pulang yuk, kasian Ummaku sendirian,” kataku akhirnya. Aku juga sudah menguap berulang kali daritadi.

”Dongsaeng dan Appamu kemana?” jawabnya sambil mengangguk dan membereskan kertas-kertas yang berantakan diatas meja.

”Appa masih menjaga toko bunga. Biasanya beliau pulang pukul 8, sedangkan dongsaengku sedang menginap di sekolahnya,” jawabku ikut membereskan meja dari kertas dan botol air mineral yang berantakan.

”Baiklah. Kau keluar duluan ya. Aku membayar dulu,” katanya setelah meja sudah kembali bersih. Aku mengangguk singkat dan melangkah menuju pintu keluar. Aku menarik nafas lega dan memandang langit yang mulai gelap. Kulihat ada beberapa bintang yang muncul. Tanpa sadar aku berjalan maju menuju ke arah jalan.

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!!!!!

Reflek aku loncat kebelakang ketika sadar ada suara motor yang tiba-tiba ngerem mendadak. Haaash hampir saja aku tertabrak oleh motor. Pengendara motor itu melihat kearahku. Aku mengamatinya cermat. Seperti pernah melihat sebelumnya. Aku berusaha menggali ingatanku. Ah aku ingat, ini motor sport yang kemarin aku lihat di dekat rumahku. Aku merasa mengenal dekat pengendara motor ini. Ah mungkin hanya perasaanku saja.

Pengendara motor menggerak-gerakkan kepalanya seolah tersadar dari sesuatu. Dia memalingkan mukanya kearah jalan. ”Mianhae Nona,” katanya singkat tanpa melihat kearahku dan kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

Suara itu! Memang terdenger lebih berat karena dia memakai helm, tapi aku mengenali suara itu. Apa mungkin...? Ah tidak mungkin, batinku.

”Ririn, kau kenapa? Mukamu pucat? Siapa lelaki tadi? Dia melukaimu?” tanya Donghae sambil merangkul bahuku panik.

”Kwaenchanha Oppa. Dia tidak melukaiku. Aku... akupun tidak tahu siapa dia...,” jawabku setengah tidak yakin.

”Baiklah ayo pulang,” katanya sambil menuntunku menuju mobilnya.



*****



Aku melajukan motorku cepat. Aku ingin cepat sampai sekolahnya Sang Wan. Untung jalan tidak terlalu ramai, jadi aku bisa ngebut sesuka hatiku. Tidak sabar rasanya ingin bertemu Sang Wan.

CIIIIIIIIIIIIIIIIT

Nafasku memburu. Aku hampir menabrak seorang yeoja. Dari kejauhan aku sudah melihat yeoja ini, tapi tiba-tiba dia melangkahkan kakinya seperti mau menyebrang jalan. Aku reflek menge-rem motorku. Untungnya reflek yeoja itu juga bagus karena dia langsung loncat menjauhi motorku yang hampir menabraknya.

Aku menoleh ke arahnya. Ririn! Yeoja yang hampir aku tabrak adalah Ririn. Astaga aku akan amat sangat merasa bersalah jika tadi aku benar-benar menabraknya. Membayangkannya saja aku tidak bisa. Aku menatapnya lama. Tidak ada yang berubah, masih cantik seperti 4 tahun yang lalu, lebih cantik malah.

Mukanya pucat. Mungkin masih shock dengan kejadian tadi, rasanya aku ingin turun dari motorku dan bergerak memeluknya. Tapi sayang, aku melihat namja yang memakai kacamata hitam bergerak menghampiri Ririn. Aku tersadar dari lamunanku dan mengalihkan pandanganku darinya. Aku menarik nafasku dalam, ”Mianhae Nona,” kataku singkat lalu kembali melajukan motorku cepat. Sempat aku melihat dari spion, namja yang tadi merangkul Ririn menuju mobil yang sama yang pernah aku liat seminggu yang lalu di depan rumah Ririn.



*****



Akhirnya aku sampai juga di sekolah Sang Wan. Aku turun dari motor dan membuka helmku. Aku mengeluarkan handphone dari kantung celanaku dan mencari sebuah nama.

”Ya, kau dimana Sang Wan?” ucapku ketika sambungan telfonku tersambung.

”Aku dibelakangmu Hyung,”

Dengan cepat aku menekan tombol merah dan berbalik ke arah belakang.

”Sang Wan,” aku memeluk dongsaengku ini. ”Kau apa kabar hah? Sudah besar kau sekarang, haha,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan. Namanya Park Sang Wan. Adik kandung Ririn, dulu saat pertama kali Ririn mengenalkanku pada Sang Wan aku langsung tertarik padanya. Pendekatan dengan Sang Wan tidak terlalu susah karena waktu itu Sang Wan masih berumur 13 tahun.

”Hyung, aku sudah memang sudah besar hahaha. Aku baik Hyung. Kau bagaimana?” tanyanya balik. ”Kita duduk disitu saja yuk Hyung,” ajaknya sambil berjalan menuju bangku di dekat lampu taman sekolah.

”Aku baik, apalagi setelah bertemu dengan Noona-mu,” jawabku asal sambil duduk disebelah Sang Wan.

”Kau sudah bertemu dengan Noona, Hyung? Lalu buat apa kau meminta bantuanku?” tanyanya tidak sabar. ”Noonaku tambah cantik kan, Hyung?” canda Sang Wan membuatku tersenyum.

”Noonamu cantik bawaan lahir Sang Wan. Hm satu minggu yang lalu aku melihat Ririn diantar seorang namja sampai kedepan rumah. Tadinya aku ingin menjelaskan semuanya, tapi... ya kau tahu lah perasaanku,” ujarku mulai bercerita.

”Jadi, kau baru sekali bertemu dengan Noona? Itupun kau hanya memperhatikannya dari jauh?” tanya Sang Wan penasaran.

”Hari ini aku bertemu dengannya lagi. Tepat sebelum aku kesini. Dan kau tahu? Dia bersama namja yang waktu itu mengantar Ririn pulang kerumah. Kau tahu dia siapa?” tanyaku penasaran. Sang Wan mengrenyitkan dahinya, berfikir sebentar.

”Kurasa dia Donghae Hyung. Ya! Setelah kau pergi dengan urusanmu, aku sudah tidak bisa lagi mengusik kehidupan Noona, Noona menjadi sangat tertutup, Hyung. Noona juga tidak keliatan dekat dengan siapapun. Tapi, yang aku tahu Umma ingin menjodohkan Noona dengan Donghae Hyung,” jawab Sang Wan yakin.

“Mereka mau menikah dalam waktu dekat ini?” tanyaku hati-hati. Sebenarnya aku takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Sang Wan.

”Kemarin Noona cerita, Donghae Hyung memang menyatakan perasaannya kepada Noona, tapi Noona masih belum bisa menerima, karena ia tidak ingin menjadikan Donghae Hyung sebagai pelampiasan. Kurasa Noona belum bisa melupakanmu, Hyung,” jawab Sang Wan.

”Tapi, minggu lalu kulihat Noonamu itu sangat bahagia,” ucapku putus asa. Entah mengapa aku belum yakin, padahal ucapan Sang Wan barusan harusnya membuatku sedikit bernafas lega.

”Kau lupa, Hyung? Ririn Noona itu pintar menyembunyikan perasaannya. Lagipula aku lebih setuju kalau Noona menikah denganmu dibanding Donghae Hyung. Donghae Hyung baik sih, cuman dia tidak pernah mengajakku bermain sepertimu,” jawab Sang Wan cekikikan. Aku mengangguk setuju dan sempat tersenyum tipis. Kami terdiam lama.

”Urusanmu sudah selesai, Hyung?” tanya Sang Wan memecahkan keheningan malam.

”Sudah. Eh kamu tidak memberi tahu Noonamu kan kalau aku sudah di Korea?” selidikku kepada Sang Wan.

”Ooops kemarin aku keceplosan Hyung,” aku memelototinya. ”Haha tidaklah Hyung, kau bisa mempercayaiku 100%. Semuanya aman kalau ditanganku,” lanjutnya lagi.

”Oiya Hyung, Noona 2 minggu lagi skripsi loh. Kau datang ya ke acara wisudanya. Nanti aku akan memberitahukan tentang hasil sidangnya itu. Trus nanti aku beritahu juga kapan, dimana, jam berapa acaranya berlangsung,” lanjut Sang Wan sambil memperhatikanku.

“Hyung, mau sampai kapan kau begini terus? Aku tahu kau rindu pada Noona dan aku yakin Noona pun rindu padamu Hyung. Tunjukkanlah dirimu, jelaskanlah semuanya. Noona pasti akan mendengarkan dan mengerti, Hyung. Kalau aku jadi Hyung, aku juga pasti akan melakukan itu,” jelas Sang Wan setelah melihat ekspresi keraguan dari wajahku.

”Gomawoyo, dongsaeng. Kau benar, aku rindu sekali pada Noonamu! Baiklah, jangan lupa memberitahuku dimana dan kapan acara wisudanya ya. Aku pulang dulu,” kataku sambil berjalan menuju motor dan memakai helmku.

”Sip Hyung, ingat! Semuanya beres ditanganku,” jawabnya asal.

Aku menaiki motorku dan mulai menyalakan mesinnya. Dan mulai melajukan motorku pelan.

”HYUNG!!!” Aku menghentikan motorku karena mendengar Sang Wan memanggilku. Sang Wan setengah berlari menghampiriku. ”Satu hal yang aku tahu tentang kalian berdua sampai sekarang. Kalian masih saling membutuhkan dan mencintai. Kejar Noonaku ya, Hyung,“ ujar Sang Wan sambil menepuk pundakku ringan dan tersenyum.



*****



”Jangan turun, Oppa,” ucapku saat Donghae Oppa hendak membuka pintu mobilnya.

”Waeyo?” tanyanya bingung.

”Hhhh... Oppa, terima kasih sudah membantuku tadi. Terima kasih atas semua perhatian yang kau sudah curahkan kepadaku. Aku butuh waktu Oppa, biarkan aku memikirkan semua ini. Sendirian!” jawabku sambil menatap matanya.

”Tapi.........”

”Aku tidak ingin kau menemuiku sampai 2 minggu kedepan. Kita bertemu setelah aku selesai sidang ya, Oppa. Aku mohoon,” ucapku lagi. Aku tak memberikan celah sedikitpun untuk Donghae berbicara.

”Baiklah, tapi kau juga harus memberikan jawabanmu setelah sidang ya,” jawab Donghae akhirnya.

”2 hari setelah acara wisudaku. Bagaimana?” tawarku. Kurasa aku belum siap jika secepat itu.

”Baiklah. Turunlah, sudah malam. Tidur yang nyenyak ya,” ucap Donghae sambil tersenyum. Aku bisa melihat kekecewaan yang tersirat dari wajahnya.



Aku melangkahkan kakiku gontai menuju kedalam rumah. Aku langsung menaiki tangga kelantai dua dan memasuki kamarku. Kurogoh handphoneku dari dalam tas.



To: Park Sang Wan :D

Kau kapan pulang? Aku mau cerita sesuatu.



Setelah beberapa menit, aku belum juga mendapatkan balasan darinya. Mungkin dia sedang sibuk ya di sekolahnya? Aku memutuskan untuk mandi sambil berharap Sang Wan membalas smsku.

Setelah keluar dari kamar mandi aku mengecek handphoneku. Aissssh kenapa belum dibalas juga sih? Aku terduduk lunglai di samping tempat tidurku. Aku memeluk lututku sendiri. Entah ada energi apa yang membuatku tiba-tiba berjalan menuju lemari bajuku dan mengambil kotak coklat muda yang berada dibagian bawah.

Aku menarik nafas panjang sebelum memutuskan untuk membuka kotak kusam yang kusimpan sejak 4 tahun yang lalu itu. Kubuka kotak itu perlahan, mataku langsung panas. Air mata pertamaku menetes ketika aku meraih beberapa tiket nonton film ataupun nonton konser. Kemudian ada beberapa partitur yang waktu itu ketinggalan dirumahku. Ada beberapa foto kami berdua, ada surat-surat yang waktu itu pernah diberikannya kepadaku. Ada... banyak kenangan kami berdua disitu.

Tangisku semakin deras ketika aku mendapatkan plastisin berbentuk bintang yang sudah lengket dan melekat di dasar kotak itu. Aku berusaha mengambilnya dan berusaha tidak merusak bentuknya. Aku masih bisa membaca tulisan yang diukir diatas plastisin bintang itu.... ”Happy 1st year anniversary Ririn-ah ©© Jeongmal Saranghaeyo. Yours-Henry Lau”



Drrrrrrt. Drrrrrrt. Drrrrrt.



Aku merangkak menuju kasur karena sudah tidak sanggup untuk berdiri tegak. Aku terlalu lelah. Dahiku berkerut melihat nomor yang tertera di layar handphoneku Unknown Number.

”Yeoboseyo.....”

Tuuut.....tuuuutttt.........tuuuuuut..........



-TBC-

you also can see this post on fangirlnation.wordpress.com

Read more...

Sabtu, 07 Agustus 2010

Our Status : Engaged [part 5]

Hyunmi’s POV

“Dimsum?”
“Iya, memang kenapa?”
“Itu bukannya resep spesial keluarga umma?”
“Iya, sebentar lagi kan dia juga jadi keluarga umma, tidak ada salahnya kan?”
“Tapi.. aku saja belum pernah makan itu..”
“Ya nanti kau minta saja sama dia, sudah cepat nanti terlambat”
“Hah? Tidak mau.. ya aku berangkat”

Yap! Setelah bertunangan sekarang tugasku bertambah satu, memberikan bekal pada Taemin. Tentu saja ini bukan kemauanku. Tapi umma. Dan puncaknya pada hari ini. Umma membuat dimsum dari resep spesial keluargnya yang bahkan aku yang anak kandungnya saja belum pernah memakannya! Sepertinya umma lebih menyayangi Taemin dari pada aku (T_T).

Hari ini aku tidak diantar Taemin. Katanya harus membantu orang tuanya sebentar. Ya sudahlah aku juga tidak peduli. Lebih menyenangkan naik bis seperti ini.

Ah, sampai sekolah. Dan langsung di sambut tepukan di bahuku oleh Jonghyun. “Annyeong!”. “Ya! Mengagetkan saja..” aku ikutan menepuk bahunya. “Mianhae! Itu apa?” Jonghyun menunjuk ke kotak bekal yang ku bawa. “Biasa.. untuk si itu” jawabku. “Bukan! Maksudku isinya apa hari ini? Bibimbap? Soondae?”

“Aniyo, ini dimsum” jawabku lagi. “Oh..” ia mengangguk. “Eh cincinmu tidak di lepas?”
“Eh iya, tolong pegang ini sebentar” ah.. hampir saja lupa. Aku tidak ingin yang lain tahu tentang ini. Jadi lebih baik di sekolah cincinnya ku lepas, saat pulang ke rumah ku pakai lagi. Memang merepotkan tapi mau bagaimana lagi (-,-).

Tapi.. kok susah sekali di lepas ya cincin ini (>o<).

“Wae?” Jonghyun kebingungan melihatku yang menggerutu sendiri. “Hah! Tidak bisa dilepas..” aku mulai panik. “Coba nanti pakai sabun, biasanya sih berhasil” usulnya. Ah.. benar pakai sabun. Terkadang sahabatku yang aneh ini pintar juga.

Sampai di kelas aku buru-buru meletakkan tas ku dan bergegas ke kamar mandi. Mencoba melepaskan cincin itu dengan bantuan sabun. “Aish.. kenapa tidak mau lepas?” aku menggerutu lagi. Padahal sabunnya sudah cukup banyak! Akhirnya aku menyerah dan kembali ke kelas.

“Bisa lepas?” Jonghyun bertanya padaku. “Aniyo.. huaa aku harus bagaimana?!” jawabku sambil menarik-narik baju seragam Jonghyun. “Tenang saja, pasti Taemin melepas cincinnya kan? Tenang tenang!” Jonghyun menenangkanku. Ah benar juga, pasti dia melepasnya kan? Aku sedikit lega tapi entah mengapa perasaanku tidak enak (._.)

==

Taemin’s POV

Aku menatap jari manisku yang memerah. Dan juga menatap sebal ke sebuah benda sial yang seharusnya bisa lepas dari jari mansiku. “Aish kau membuatku malu tahu tidak?” aku bicara pada benda sial yang bernama cincin itu. Daritadi semua orang di kelasku sudah memperhatikan aku yang gagal melepas benda sekecil ini dari tanganku. Untungnya mereka tidak bertanya ini cincin apa. Tentu saja aneh untuk seorang namja memakai cincin, emas putih pula.

“Kau kenapa?” Minho yang baru datang. “Tolong aku carikan plester, jariku berdarah” jawabku asal. “Coba ku lihat?” ia mencoba melihat jariku. “Jangan! Kalau kau lihat nanti jadi infeksi” kataku bercanda. “Ya! Mataku ini memancarkan cahaya tahu bukan kuman! Sebentar aku ke UKS dulu”

Sebenarnya jariku hanya merah-merah saja tidak sampai berdarah. Aku sengaja meminta plester untuk menutup cincin itu.

“Ini” Minho menyerahkan plester itu. “Gomawo Minho-ya” aku membuka plester itu dan memakainya di jariku. Beres. Walaupun jika dilihat dari dekat kelihatannya luka ini aneh. Sudahlah.

“Taemin-sshi!” Key memanggilku. Tidak biasanya. Kami memang sekelas tapi tidak dekat. Anak itu terlalu pintar untuk jadi teman dekatku.

“Ini dari Hyunmi” Key menyerahkan barang itu. Pasti kotak makanan. Sudah kuduga..

==

Hyunmi’s POV

Aku masih memikirkan cincin yang tidak mau lepas ini. Bagaimana kalau tidak bisa lepas seumur hidup? Lalu jari manisku nanti jadi mengecil, ah ini dia alasanku tidak suka pakai cincin!
“Hyunmi-ah! Jangan bengong!”

“eh.. Sungrin!” rupanya dia sudah datang. “Aku tidak bengong kok!” kataku sambil masih menatap cincin itu. “Kau.. pake cincin? Bukannya aku tidak suka pakai cincin?” tanya Sungrin heran.

Mati aku! “Ah.. aku sedang mencoba pakai cincin.. umma yang menyuruhku..”

“Oh.. baguslah! Nanti kapan-kapan kita buat cincin persahabatan ya?” kata Sungrin. “Ah.. pasti..” kataku setengah hati.

Ah iya! Dimsum nya! “Sungrin-ah, aku keluar sebentar ya!” aku bangun dari kursiku lalu membawa kotak makanan itu. “Mau kemana?”

“Memberikan bekal untuk..” ups! Untuk siapa? Kalau aku bilang untuk Taemin pasti persahabatanku hancur saat ini juga.

“Untuk Key! Iya kan Hyunmi?” tiba-tiba Jonghyun datang. Ah kau penyelamatku Jjong!! “Ne, kau tau saja Jjong.. sudah ya nanti keburu bel masuk!” aku buru-buru keluar kelas dan menuju kelas Taemin. Mianhae Sungrin, aku membohongimu lagi..

==

Sungrin POV

“Sungrin-ah, aku keluar sebentar ya!” Hyunmi beranjak dari tempatnya sambil membawa kotak bekal. Dia membawa bekal untuk siapa? “Mau kemana?” tanyaku

“Memberikan bekal untuk..” jawabannya menggantung. Aku menunggu terus jawabannya.
“Untuk Key! Iya kan Hyunmi?” Jonghyun datang menghampiri kami.

“Ne, kau tau saja Jjong.. sudah ya nanti keburu bel masuk!” ia berlari lalu tersenyum. Untuk Key ya? Mereka sudah jadian?

“Jjong-ah! Hyunmi dan Key sudah jadian?” tanyaku pada Jjong yang duduk di depanku. “Hmm.. iya sudah, hari Sabtu..” jawab Jjong.

“Wah..” aku tersenyum. “Kita ikuti Hyunmi yuk!” aku menarik lengan Jjong dan mengajaknya keluar kelas.

“Tadi dia ke arah sini atau ke arah sana Jjong?” aku melihat ke kanan dan kiri, siapa tahu Hyunmi masih terlihat. “Ya! Kau tahu tidak mengintip orang pacaran itu tidak sopan!” Jjong melepaskan lengannya dari genggamanku. “Arasseo, tapi sekali ini saja ya? Temani aku ayo..”

“Itu dia!”

Hyunmi sedang menyerahkan bekalnya pada Key. Key tersenyum. Lalu Hyunmi pergi. Tapi Key mengejarnya. Lalu Hyunmi menunjukkan sebuah kalung pada Key. Sepertinya mereka sudah lama ya pacarannya? Tapi tidak mungkin, harusnya Hyunmi bilang padaku dulu kan?

“Sudah lihat kan? Ayo kembali ke kelas! Nanti ketahuan!” Jjong mulai tidak sabar. Kenapa dia cerewetnya melebihi aku sih? “Ya sudah kau duluan saja, aku mau ketemu Key dulu, oke?”

“Mworago? Ah ya sudahlah terserah kau saja” ia berlari meninggalkanku sementara aku berjalan ke dekat Key. “Key-sshi!”

“Ne?” ia menoleh ke arah ku.

==

Hyunmi’s POV

“Dimana kelasnya…” aku menggumam sambil mencari kelas Taemin. Dia kelas C kan? Hah aku lupa.

“Hyunmi-ah!” panggil seseorang di belakangku. Aku menoleh. “Ah, Kibum!”
“Sudah hampir bel masuk kau masih berkeliaran disini, ada apa?” tanya Key padaku. “Hmm, aniyo aku mau ke kelas XI C..” jawabku.

“Itu kan kelasku, kau mau bertemu siapa?” tanya Key lagi. “Oh kau satu kelas dengan Taemin?” tanyaku balik. “Ne, waeyo?”

Aku titipkan saja kotak bekal ini padanya, mumpung dia sekelas dengan Taemin. “Hmm.. bisa kau berikan ini pada Taemin? Ini dari ibuku untuk dia” ujarku sambil menyerahkan kotak bekal itu pada Key. “Untuk Taemin? Kau dekat dengannya?” Key bertanya lagi, namun dengan nada yang lain.

“Aniyo.. bukan aku.. tapi ibuku dan ibunya sahabat dari SMA” aku terkekeh. “Tolong titip ya? Gomawo Kibum..” aku bergegas menuju kelas tapi..

“Jakkaman!”
“Wae?”
Ia mendekatiku. “Kau.. pakai kalung itu tidak?”

Ah kalung itu.. “Ini” aku menunjukkan kalung kunci yang terpasang di leherku. “aku pakai kan?”
“ah iya.. aku pikir kau tidak suka kalung itu”
“Mwoya? Aku suka kok, sudah ya aku ke kelas dulu, pulang sekolah kita bertemu lagi”
“Dahh..”

Aku berlari menuju kelas. Untunglah belum bel dan belum ada guru. Tapi, dimana Sungrin? (._.)a

“Jonghyunnie.. mana Sungrin?” aku bertanya pada Jonghyun yang sedang asik mendengarkan musik. Pasti dia tidak dengar. “Jonghyun-ah!” aku sedikit berteriak. Masih juga tidak mendengar. Aku membuka earphone nya dan berteriak di telinganya “KIM JONGHYUUUN!!!!”

“Waeyo? Tidak usah berteriak di telingaku dong Hyunmi-ah!” katanya seperti tidak sadar sudah membuat orang jengkel. “Salah sendiri di panggil tidak dengar! Mana Sungrin?”

“Molla, ke toilet mungkin” jawabnya. “oh..”

Ah itu dia! Tapi aneh, raut wajahnya berubah. “Sungrin-ah! Waeyo?” tanyaku setelah ia duduk di kursinya. “Aniyo.. memangnya ada apa?” dia malah balik bertanya. Ia seperti menyembunyikan sesuatu. Dan sepertinya dia sedikit shock. Baiklah kalu begitu aku tidak akan mengganggunya.

“Park seonsang-nim datang!”

”Selamat pagi anak-anak, hari ini ada dua pengumuman dan dua-duanya berita gembira untuk kalian. Yang pertama adalah hari ini dan besok kalian belajar di rumah masing-masing..”

Dan seluruh murid langsung bersorak. Aku juga. Kalau begitu hari ini aku cuma latihan dance saja kan? Yes!

“Tenang dulu semuanya! Pengumuman yang kedua adalah sekolah akan memberikan hadiah untuk siswa-siswi kelas XI yang di saat pembagian rapor nanti mendapat peringkat 10 besar di rangking satu angkatan akan mendapatkan liburan ke sebuah tempat yang masih di rahasiakan. Jadi yang ingin mendapatkan hadiah itu, harus rajin belajar mulai dari sekarang. Sekarang kalian boleh pulang! Annyeonghi gyeseyo yorobun”

Liburan ya? Baiklah aku akan belajar giat!

“Hyunmi-ah, kau mau pulang tidak? Sudah lama kita tidak pulang bersama” ajak Sungrin. “Iya kau terlalu sibuk sekarang” tambah Jonghyun. “Sungguh aku mau pulang dengan kalian, tapi akhir semester nanti aku ada pertunjukkan dance di sekolah lain, aku harus latihan..”

“Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu ya! Fighting!” Jonghyun berlalu sambil melambaikan tangan. “Annyeong Hyunmi-ah.. jangan kecewakan aku ya?”

Aku menangkap sesuatu yang lain dari perkataan Sungrin. Entahlah. “Tidak akan. Annyeong!” aku juga mengambil tas ku dan pergi menuju ruang latihan.

==

Sungrin’s POV

“Kau kenpa? Tumben diam?” kata Jonghyun. “Ah aniyo.. eh, aku mau bertanya sesuatu”
“wae?”

“Kau… berbohong ya padaku? Key dan Hyunmi… tidak pacaran kan?” tanyaku langsung to the point.

“Tentu saja aku bohong, kenapa baru sadar sekarang kalau aku membohongimu?” ia tersenyum jahil. “Huh dasar!” aku berhenti berjalan. “Kau marah ya? Mianhae” katanya lembut. Tidak biasanya.

“Kwaenchanha, hmm tapi aku sudah sadar dari tadi sebenarnya” jawabku.

~
“Key-sshi!”

“Ne?” ia menoleh ke arahku. “Sedang apa tadi kau dengan Hyunmi? Mesranya.. sudah berapa lama pacaran?” tanyaku padanya.

“Mwoya?” ia tampak kaget. “kau.. mengira aku dan Hyunmi pacaran? Kami cuma sahabat, tidak lebih”

“Jinca? Kalau begitu mengapa Hyunmi memberimu bekal?” selidikku lagi. Aku masih belum yakin akan perkataanya.

“Bekal ini? Ini bukan untukku” jawabnya lagi. “Lalu untuk siapa?” aku jadi bingung. Kalau bukan untuk Key untuk siapa? “Ini untuk Lee Taemin. Kau kenal dia kan?”

Taemin? Untuk apa Hyunmi memberikan bekal untuk Taemin? “Oh iya aku kenal dia. Tapi mengapa dia memberikan bekal untuk Taemin?”

“Molla. Ah mianhae Sungrin-sshi aku harus kembali ke kelas, annyeong haseyo” katanya terburu-buru. “Annyeong haseyo..”
~

“Oh begitu” nada bicara Jonghyun mulai agak cemas. “Wae?” tanyaku. “Ani..”

“Aku penasaran ada apa antara Hyunmi dan Taemin..” ujarku

“Hmm.. aku juga” ujar Jonghyun, kali ini dengan nada bicara yang makin aneh.

“Hyunmi.. dia.. tidak akan menyakiti perasaanku kan? Iya kan Jjong?”

Jonghyun berhenti berjalan lalu memutar tubuhku ke hadapannya “Pastinya! Kau tenang saja! Kau tidak yakin pada sahabatmu sendiri?”

Ah tentu saja! Mana mungkin sahabatku mengkhianatiku? “Aku yakin padanya, dan aku juga yakin padamu, kita sahabat dan tidak akan saling menyakiti, iya kan?” aku lantas memeluk Jonghyun.

“Terima kasih telah percaya pada kami Sungrin-ah..”

==

Hyunmi’s POV

“Yap harap kalian berkumpul dulu sebentar” ujar pelatih kami sebelum mulai latihan. “Ada apa pak?”

“Ini.. ternyata konsep kita sudah dipakai sekolah lain, terpaksa kita harus ganti konsep”

“Ganti ke konsep apa?” tanya Taemin. Aku juga penasaran.

“Aku sudah memikirkannya, karena kebetulan sekali jumlah anggota laki-laki dan perempuan sama jumlahnya, kita akan dansa berpasangan ala Eropa klasik yang digabungkan dengan unsur-unsur modern. Pasangannya boleh memilih sendiri”

Ku lihat beberapa temanku sudah mendapat pasangan. Sementara aku? Hanya menunggu. Aku bingung mau dengan siapa.

“Park Hyunmi! Sudah dapat pasangan?” tanya pelatih padaku. Aku menggeleng. “Kalau begitu pas sekali, dancing queen dan dancing king kita bersatu”

Mworago?

“Uri Leader Taemin akan berpasangan denganmu. Yorobun! Setuju tidak kalau Hyunmi dan Taemin berpasangan?”

“SETUJU!!!” dan semua orang bertepuk tangan. Aku mengehela nafas dan melirik ke arah Taemin. Dari pandangannya ia mengatakan ia sudah pasrah.

“Kalau begitu latihannya bisa dimulai sekarang kan?”

==

“Taemin! Hyunmi! Jarak kalian kurang dekat! Taemin! Pegang tangan Hyunmi dengan kuat! Ayo kita mulai lagi, tap tap tap!”

‘Kurang dekat apanya!’ ucapku dalam hati. Jarak kami sudah sangat dekat! Pandangan mata kami sudah bertemu berkali-kali. Dan entah mengapa itu cukup membuatku gugup. Dan setelah dilihat-lihat, dia.. tampan juga. Hey Hyunmi sadarlah!

“Baiklah! Cukup latihannya untuk hari ini, besok kita latihan lagi. Silahkan ganti baju dan pulang!” pelatih menyudahi latihan hari ini. Ah akhirnya…

Aku segara mengganti bajuku dan keluar ruang latihan. Menunggu Taemin mengembalikan kotak bekalku lalu pulang.

Aku duduk di bangku taman sekolah untuk menunggunya keluar dari ruang latihan. Ah itu dia. “Taemin-ah!”

Ia menengok ke arahku dan menghampiriku. “Wae?”

“Itu, kotak bekalku, kembalikan”

“Oh ini” ia malah duduk di sampingku. “Aku belum memakannya, aku makan dulu ya” ia membuka kotaknya. “Oh dim sum ya” ia mulai memakannya.

Aku hanya melihat ke arah dim sum itu. Jujur aku penasaran dengan rasanya. Resep spesial keluarga ibu…

“Kenapa melihat ke sini terus?” Taemin membuyarkan lamunanku. “Ani” jawabku.

Tiba-tiba aku menangkap sesuatu di jari manisnya. “jarimu itu.. kenapa?”

“Ah ini” ia malah membuka plesternya. “kau lihat? Cincin sial ini menempel terus, tidak mau lepas, tuh” ia mencoba melepaskan cincin itu. “coba kau yang lepaskan”

“Hah? Kau pikir aku bisa melepas cincin yang kau pakai? Punyaku saja aku tidak bisa!”

“Maksudmu?”

“Lihat!” aku menunjukkan jari-jariku juga. “Punyaku juga tidak bisa lepas! Ottohkeyo?”
“Ada apa dengan cincin ini? Mengapa mereka tidak mau lepas!!”

“Jangan-jangan memang sudah takdir..”

“Mworago?”

“ANDWAE!”

-TBC-


Read more...

Senin, 02 Agustus 2010

Our Status : Engaged [part 4]

Key’s POV
“Terima kasih ya untuk hari ini, tugasku sudah selesai semua sekarang, ah kau memang sahabatku yang paling pintar!” aku tersenyum mendengarnya. “Ah sama-sama, berkat bantuanmu tugasku juga sudah selesai juga” jawabku.

“Apa? Aku tidak membantu apa-apa Kibum, kau yang membantuku, terima kasih sekali lagi!” Hyunmi lagi-lagi tersenyum. ‘Ah kau membantuku tahu! Membantuku mencerahkan hari ini, membuatku semangat belajar hari ini!’ gumamku dalam hati. “Cheonmaneyo Hyunmi-ah! Sudah beres semua?”

“Ne, ayo pulang, kaza!” ajaknya. Kami keluar dari perpustakaan dan berjalan pulang. Kebetulan rumah kami searah, jadi bisa bersama. Sepanjang jalan ia menceritakan kehidupannya seminggu ini, seperti biasa, selalu ceria. Dan aku senang mendengarnya.

“Aku sampai duluan! Annyeong Kibum-ah!” ia membuka pagar rumahnya. “Annyeong..” aku juga mengucapkan selamat tinggal. Tapi tunggu dulu! Sepertinya ada yang terlupa..

“Ah, Hyunmi-ah!” panggilku sebelum Hyunmi masuk ke rumahnya
“Waeyo?”
“Jakkaman!” aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebuah kotak. “Ini!”
Ia menghampiriku, keluar pagar lagi. “Ige mwoya?”. “Untukmu, hadiah dari ku, yang mungkin sudah kau tunggu sejak dulu” aku membuatnya penasaran. “Bukanya di dalam saja ya? I hope you like it. Bye!”
“Arasseo, thanks Key!”

==

Hyunmi’s POV

“Aku pulang” aku masuk ke dalam rumah. Sepi. Kemana orang-orang? “Ahjumma!”

“Ne?” Kim ahjumma mendatangiku. “Umma appa dimana?” tanyaku. “Sedang pergi bersama keluarga Lee, dengar-dengar katanya ke toko perhiasan, lalu..”

“Ah! Algaesseumnida Kim ahjumma, aku naik ke kamar dulu” aku sengaja memotong pembicaraannya, pasti umma appa dan mereka sedang mengurusi untuk acara besok. Menyebalkan. Rencana Taemin harus berhasil, dia harus kabur!

Aku merebahkan tubuhku di kasur dan meletakkan hadiah dari Keybum di perutku. “Mwoya ige?” aku bangun dan membuka kotaknya. Ah! Ini… buku. Buku yang memang sudah aku tunggu sejak lama! “Akhirnya kau menerbitkannya ya, tidak beritahu padaku dulu” aku tersenyum kecil dan mengeluarkan buku itu dari kotaknya dan mulai membacanya.

Ada tulisan tangannya di halaman pertama buku itu,

“Annyeong haseyo Hyunmi-sshi!” mwoya? Formal sekali anak ini (-_-)
“Mianhamnida tidak memberitahumu tentang buku ini,” ya! Tidak akan aku maafkan Key!
“Tapi kau pasti akan memaafkanku jika kau tahu, buku ini buku yang paling pertama yang harusnya diberikan kepada penulisnya, tapi karena kau sudah menantikannya, jadi aku berikan saja padamu. Kau beruntung sudah dapat buku ini duluan! Yang lain harus menunggu seminggu lagi untuk mendapatkannya! This is special for you. Kekekeke”

“Semoga kau suka ya, selamat membaca Park Hyunmi!”

Anak ini.. narsis sekali sih (=.=)

 “aku akan membaca bukumu nanti arachi?” aku bicara pada buku itu dan hendak memasukkannya lagi ke dalam kotak. Tapi aku menemukan sesuatu di dalam kotak itu : kalung berbentuk kunci. Bentuknya seperti kunci antik, lucu sekali. 

‘Loverholic robotronic loverholic robotronic’

Aku membuka flip LG Lollipop Cyon milikku. Keybum ternyata.

From : Kim Keybum
Sudah buka hadiahku? Kekeke ^.^
~
To : Kim Keybum
Sudah! Jeongmal kamsahamnida Kibum-sshi~..
~
From : Kim Keybum
Formal sekali sih? Waeyo?
~
To : Kim Keybum
Kau duluan yang formal! Kekeke~ aku suka kalung kunci nya ^^
~

From : Kim Keybum
Ah catatanku ya? Kekeke~ syukurlah kau suka kalung itu, biar ingat padaku terus, oke?
~
To : Kim Keybum
Ne! Mwoya? Narsisnya sahabat kunci ku (+_+)
~
From : Kim Keybum
Kekeke~ bukunya jangan lupa di baca ya?
~

Pasti kubaca, dasar cerewet! Tapi nanti ya habis aku tidur siang? Aku sudah mengantuk nih tiduran di ruangan AC begini. Hihihi.

==

Taemin’s POV

Apa ini? Maksudku, apa-apaan ini? Hari ini aku benar-benar jengkel. Dari jam 10 sampai sekarang jam 3 sore para ahjumma dan ahjussi ini mengajakku berkeliling mal. Dan kalian tahu mereka mengajakku kemana saja? Ke toko perhiasan dan ke butik! Hanya 2 tempat itu saja!! Pasti ini untuk acara besok. Tenang saja, aku bakal kabur kok jadi kaian tidak usah repot mengurusi acara itu!

Aku lapar. Benar-benar melewati jam makan siangku. Aish..

“Taemin! Sini coba dulu jas nya!” umma menyuruhku mencoba jas-jas itu lagi. Begitulah dari tadi kerjaanku mondar mandir mencoba jas ini, celana itu, kemeja ini dan dasi itu.. melelahkan kau tahu? Kenapa tidak langsung pilih saja sih?

“Palli ya! Jangan lambat begitu! Kau kenapa sih? Lapar?” tanya appa. Tentu saja lah aku lapar! Aku menangguk kecil. “Baiklah setelah kau mencoba yang ini kau boleh makan, tapi sendirian, dan jangan kabur! Nanti kembali lagi kesini, cari sepatu. Arasseo?” kali ini umma sangat-sangat cerewet. “Algasseumnida”

Dan.. selesai! Hah aku ingin makan ayam sepertinya. Ah itu dia. Aku menuju ke restoran dengan papan nama “Mexicana” *reader: woo promosi mulu lo!*

Aku langsung memesan satu porsi ayam goreng dan kimchi. Aigoo ya, mashita! Aku makan banyak sekali. Tak apalah, wajar aku masih dalam masa pertumbuhan kan? Haha.

‘We gonna rocka rocka rocka rocka rocka rocka so fantastic’

Aish.. sms mengganggu saja! Aku buru buru melihat HP ku dan membaca sms nya. Minho rupanya.

”Ya! Besok jadi tidak? Kalau jadi aku menculikmu jam berapa?”

Baboya! Kenapa pakai kata menculik sih?

To : Minho
Jadi, jam 7 pagi saja, jangan terlambat, ara? Tapi kenapa pakai kata menculik sih? (-_-)

Dia tidak membalasnya lagi, baiklah lanjutkan makannya! Masih ada beberapa potong ayam di hadapanku. Dengan cepat aku memakannya, sebelum aku di panggil lagi untuk mencoba sepatu-sepatu itu (-_-)

Dan.. benar saja..

“Taeminnie!” umma masuk ke restoran ini. “Kenapa hanya makan tapi lama sekali?”

MWOYA?? Aku kan baru saja makan! “Mwo? aku baru sebentar umma, aku habiskan dulu ya? Aku masih lapar..”

“Andwae, ayo keluar dari sini, palli, urusan kita disini belum selesai sayang” umma menarik tanganku dan membawaku keluar dari restoran. Bahkan aku belum cuci tangan! Jinca... (--“)

==

Hyunmi’s POV

‘Juliette..Oh~’

“Nuguyaaa~” haah telpon yang mengganggu tidurku saja. Aku melihat display name nya. ‘Bling-Bling Jonghyun’. Tidak di sekolah, tidak di rumah, selalu saja membangunkanku saat tidur (-.-).

“Mwoyaa?” aku menjawab telponnya
“Hmm.. aniyo” mwoya? Dasar golongan darah AB (-_-).
“Kalau begitu aku tutup ya telponnya, daaah..”
“Jangaaan!”
“Aish.. kenapa menelponku? Tahu tidak kau mengganggu tidur siang seorang putri cantik?”
“Aigooya.. mianhamnida tuan putri.. itu aku ingin bertanya..”
“Tanya apa?”
“Besok kau jadi..”
“Jadi, kenapa kau mau datang?” (-_-)
“Ah tidak.. chukkae ya!”
“Tapi Taemin sudah berencana kabur kok, kemungkinan acaranya batal”
“Jeongmal? Chukkae!”
“Mwo? dasar kau bling bling jonghyun aneh!”
“Biar aneh tapi ganteng kan?”
“Iya lah terserah kau saja! Eh jangan beritahu ini pada siapa-siapa ya? Apalagi ke Sungrin..”
“Tenang saja lah, sahabat bling-bling mu bisa di andalkan!”
“Oke gomawo Jonghyun-ah, annyeong!
“Annyeong!”

Ah.. dasar sahabat aneh. Tapi biarpun aneh dia adalah namja paling baik padaku yang pernah aku kenal (setelah appaku tentunya, kkkk). Sudahlah aku mau melanjutkan tidur. Semoga besok semuanya berjalan seperti yang ku inginkan (^_^).

==

Taemin’s POV

Minggu, pukul 7 pagi waktu Korea bagian kamar Lee Taemin *reader: apadah saa -_-*

“Dimana Choi Minho? Aish..” aku berdiri di balkon kamarku sambil melihat ke arah jalan, mencari si ‘penculikku’ atau lebih tepatnya penyelamatku. Iya kalau dia berhasil membawaku kabur. Kalau tidak?

“Lee Taemin! Sst!”

 “Ah akhirnya kau datang” aku menengok ke arah datangnya suara. “Jakkaman aku turun dulu”. Ah untung aku dulu anggota pramuka, aku masih punya tangga dari tali, bisa turun dengan aman, asal tidak berisik pasti aku bisa kabur. Fighting.

Yap! Aku mulai turun dan sedikit lagi berhasil! Tapi..

‘BRUKKK’ sial! Aku harus kabur sekarang! Terdengar suara ibuku. “Mwoya igeee?”

“Palli ya!” Minho menyuruhku lebih cepat. “Arasseo!” aku buru-buru membuka pagar dan meloncat (?) ke motor Minho. “Palli!!”

Ah.. leganya, sudah kabur dari acara itu. Dan Minho mengebut! Aku semakin lega. “Minho ya, gomawo!” aku menepuk pundaknya sambil sedikit tersenyum karena lega. “Cheonmaneyo Taeminnie, tapi aku rasa kau harus menarik kata-kata gomawo mu” kata Minho sedikit cemas. “Waeyo?” aku melihat ke depan.

“A...a..appa?”

==

Hyunmi’s POV

“Dimana mereka?” umma nampak panik karena keluarga Lee belom datang juga. ‘Sepertinya Taemin berhasil, yes!’ aku bersorak dalam hati. Aku kan memang tidak di takdirkan bersama dia umma, sudahlah lupakan saja acara ini..

“Iya, dimana ya mereka? Hyunmi sudah cantik begini..” appa juga ikutan panik. Aku makin senang. Sepertinya Taemin benar-benar berhasil kabur. “Mereka tidak jadi datang ya? Baiklah aku ganti baju saja ya..”

“Enak saja! Mereka pasti datang!”

“Nah itu mereka!” appa berseru. Mwoya?

==

“Kenapa kau datang hah?” aku menyikut lengan Taemin sesaat setelah acara selesai. “Karena aku gagal! Begitu saja harus ku jelaskan!” dia kelihatan kesal. “Kenapa kau gagal! Aku kan jadi mendrita sekarang! Aish..” aku juga ikutan kesal. “Kau menyalahkanku? Kenapa tidak kau saja yang kabur? Aku juga sudah berusaha tahu tidak?”

“Ah kau menyebalkan!”

“Kau yang menyebalkan! Dasar wanita..”

-TBC-

p.s. : maaf keluarnya lama.. lagi bener-bener hiatus.. abis itu laptop yang biasa di pake buat nulis udah lenyap.. jadinya agak lama deh keluarnya.. hoho happy reading ya :D

Read more...

Sabtu, 31 Juli 2010

GA JADI PINDAAAAAH ^____^

YOROBUN! KITA GA JADI PINDAH....

SOALNYA... SETELAH DILIHAT-LIHAT, FANGIRLNATION UDAH GAMPANG DI CARI DI GOOGLE.. TERUS YA, BLOG YANG DI WORDPRESS ITU BELOM JADI.. MAKANYA KITA BALIK LAGI KESINI!

eh iya katanya Tiara dia mau cari author baru... yang berminat ngomong di cbox ya... okeh?


Read more...

Sabtu, 17 Juli 2010

Yes, It's Autumn!

Aku melihat kearah jendela kamarku dan menatap ke arah langit cerah di sore hari ini. Banyak masyarakat Korea yang berjalan santai di pinggir jalan besar dengan rambut yang tertiup angin. Aku reflek tersenyum melihatnya, sudah musim gugur ternyata.

Kebanyakan orang Korea menyukai musim gugur, termasuk aku. Aku suka musim gugur, cuacanya cerah, tidak panas dan juga tidak begitu dingin, taman-taman kota, terlebih lagi daerah pegunungan menawarkan pemandangan yang sangat indah. Belum lagi warna daun yang akan berwarna-warni kalau musim gugur tiba.

Aku mengambil jaket di balik pintu apartemenku dan berjalan keluar. Ketika selesai mengunci pintu aku melihat seorang yeoja yang berlari kencang kearahku, ya! Sangat kencang!

“YA! STOOOOOOOOOOOP!”

BRUUUUUUG!

Aduh! Pantatku panas sekarang, sakit sekali rasanya Tuhan. Yeoja ceroboh ini sukses menubrukku dan sekarang badannya menindihku. Pantatku sakit ditambah nafasku habis harus menahan badannya.

“Mianhae Tuan. Saya tidak sengaja,” ucapnya panik sambil beranjak dari tubuhku. Dia mengulurkan tangannya menawarkan bantuan agar aku bisa bangun. Aku meraih tangannya, tangannya halus sekali.

“Mianhae Tuan. Maaf sekali lagi, maaf,” katanya lagi ketika aku sudah bangun dan sedikit merapihkan baju dan jaket tebalku yang sedikit berantakan. Aku menatapnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. MWO? Dia memakai sepatu roda?

“Ne, kwaenchanayo. Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Eh kenapa kau memakai sepatu roda di kawasan apartemen ini? Bahaya! Pantas saja kau jatuh tadi, dan sialnya kau menubrukku,” jawabku aneh. Aneh sekali orang ini, kenapa memakai sepatu roda di tempat yang salah.

Dia tersenyum kagok, “He, ini punya temanku. Aku meminjamnya dan akan mengembalikannya hari ini. Karena hari ini hari terakhir aku memakainya jadi aku memutuskan untuk memakainya, hehe,” jawabnya girang. Lucu sekali yeoja ini, periang.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya. “Aku duluaan ya! Mianhae sekali lagi, tapi aku sangat beruntung bertemu namja yang baik hati sepertimu, hehe. Chaljaaa. Semoga kita bisa bertemu lagi,” sambungnya lagi sambil beranjak pelan dariku.

Aku menaikkan bahuku sedikit dan berjalan menuju lift untuk turun ke lantai paling bawah dan menuju tempat yang paling kusuka ketika musim gugur.

Aku berjalan sendirian menyusuri jalan Kota Seoul. Untung disini ramai dan tempat yang kutuju tidak terlalu jauh. Aku berjalan agak santai agar bisa menikmati angin segar yang menerpa wajahku di hari pertama musim gugur ini.

Akhirnya aku sampai di taman yang tak begitu jauh dari jalan raya. Setiap musim gugur tiba aku selalu menyempatkan waktuku untuk datang kesini. Aah indah sekali, aku bisa melihat daun-daun kecoklatan yang berguguran. Disini banyak sekali orang, yah lebih tepatnya sepasang kekasih yang sedang menikmati keromantisan di musim gugur ini.

Aku berjalan ke arah pohon yang lumayan besar dan sepi. Aku sengaja memilih tempat yang agak tenang agar aku bisa menikmati indahnya musim gugur tahun ini. Aku duduk dibawah pohon dan memilih untuk memejamkan mata.

“HUAAAA HUAAAAAA HIKS!” suara sesenggukan itu membuat mataku melek. Siapa yang menangis di musim seindah ini sih? Mengganggu ketenanganku saja, batinku.

“HUAAAAA, SROOOOOT,” suara tangisan itu terdengar lebih parah dari sebelumnya. Sepertinya suara itu tidak jauh. Aku berdiri dan berjalan pelan kearah belakang pohon itu.

“Kau...,” ucapku kaget ketika melihat sosok yeoja periang yang tadi menabrakku sedang menangis sambil memegang tissue.

“Kau namja tadi ya? Hiks, sini temani aku duduk,” katanya sambil menepuk tanah disebelahnya agar aku bisa duduk. Ragu-ragu aku duduk disampingnya. Sekarang dia sudah tidak memakai sepatu roda lagi, syukurlah.

“Sedang apa kau disini? Mengapa menangis? Kau sedih tidak bisa memakai sepatu roda lagi?” tanyaku beruntun.

Dia menatapku sejenak, “Tidak, bukan karena sepatu roda itu. Aku menangis karena aku suka sekali musim gugur, dan aku bersyukur karena hari ini aku masih bisa melihat musim gugur datang, huaaaaa,”

Aku menatapnya aneh, dia yeoja unik. “Hei, jangan menangis seperti itu. Musim gugur pasti akan datang setiap tahun Nona. Sekarang hapus air matamu itu,” jawabku sambil tersenyum. Dia mengikuti perintahku.

“Senyummu manis juga, hehe. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi secepat ini,” jawabannya barusan membuat pipiku panas. Baru kali ini seorang yeoja yang memujiku duluan.

“Cepat atau lambat kita juga pasti akan bertemu lagi karena kita kan satu apartemen Nona. Kenalkan, Kim Jong Woon Imnida, kau bisa memanggilku Yesung,” kataku sambil mengulurkan tanganku kearahnya.

“Park Ri Young Imnida. Kau bisa memanggilku Ri Young hehe. Kenapa kau dipanggil Yesung? Boleh aku memanggilmu Jong Woon?” tanyanya sambil membalas uluran tanganku.

“Boleh, terserah kau mau memanggilku apa. Tadi aku meminta kau memanggilku Yesung karena biasanya teman-temanku memanggilku Yesung,” jawabku sambil menatap lurus kearah depan.

“Baiklah kau lebih tua dariku kan? Kalau begitu Jong Woon Oppa saja! Tidak keberatan kan?” tanyanya lagi sambil mengarahkan kepalanya kerahku. Aku menggeleng dan lagi-lagi tersenyum melihat kelakuannya barusan.

“Kau masih sekolah ya?” tanyaku memberanikan diri karena aku penasaran berapa umur yeoja ini, sifatnya seperti anak-anak.

“ANDWAEEEEE! Lagi-lagi orang mengiraku masih sekolah. Aku sudah kuliah Oppa, umurku 21 tahun sekarang. Aku bukan anak-anak lagi!” jawabnya sambil merengut sebal.

“Aigoo, mianhae. Aku kira kau masih sekolah, wajah dan perilakumu memang terlihat seperti anak-anak. Mian sekali lagi,” jawabku merasa bersalah.

“HAHA kwaenchancha. Aku sudah terbiasa menanggapi pertanyaan seperti tadi. Eh Oppa, kau suka musim gugur ya?” katanya riang. Kenapa yeoja ini gampang berubah ya perasaannya.

“Ne, aku suka sekali musim gugur. Dan aku merasa nyaman kalau musim gugur, tapi aku tidak pernah menangis kalau musim gugur datang,” jawabku santai sambil menahan tawa.

“Aiiish Oppa, kau menyindirku ya? Huhu aku malu tau. Aku tidak tahu kalau ada orang yang mendengarku menangis,” jawabnya sambil menyenggolku ringan. Pipinya merah, lucu sekali (>.<)

“Hehe, kau juga suka musim gugur kan? Lalu kenapa kau malah menangis tadi?” tanyaku sambil menatap matanya.

“Hm, ya aku suka sekali musim gugur. Sama sepertimu, aku merasa nyaman kalau musim gugur tiba. Dan tadi aku menangis karena 2 tahun yang lalu sodara kembarku meninggal di musim gugur, dan ya aku hanya merasa bersyukur karena aku masih bisa menikmati musim gugur. Karena kalau aku bisa menikmati musim gugur, sodara kembarku di surga juga pasti akan bisa menikmatinya. Karena dia juga menyukai musim gugur,” dia menjelaskan panjang dengan serius. Aku tersentuh, manis sekali yeoja ini.

“Mianhae, aku tidak tahu kalau....,”

“Tak apa, Oppa,” jawabnya lagi sambil tersenyum tegar. “Eh Oppa, aku suka matamu. Apalagi kalau kau sedang memandang seseorang, tajam dan ada auranya,” lanjutnya sambil menatap mataku dalam. “Ditambah lagi kalau kau menatap seseorang dengan matamu sambil tersenyum. Aaah pasti lucu,”

Aku menatapnya dan tersenyum. “OPPA!”

“Waeyo?” tanyaku bingung.

“Jangan melihat dan tersenyum seperti itu kepadaku,” jawabnya, garis-garis merah perlahan muncul di kedua pipinya.

“Waeyo? Tadi kau bilang kau menyukai mata dan senyumku. Kenapa sekarang malah melarangku melakukan itu?” ucapku jahil. Err, sepertinya pipiku ikut merah.

“Ya, aku memang suka. Tapi aku tetap saja tidak bisa melihat itu, aku deg-degan Oppa,” jawabnya malu-malu.

“Kau ini jujur sekali sih orangnya,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan dan kembali memandang lurus ke arah depan. Dia mengikutiku arah pandanganku. Aku dan Ri Young terlarut dalam pikiran masing-masing dan tidak ada pembicaraan antara kami

“Oppa, kau sudah mempunyai yeojachingu?” tanyanya memulai pembicaraan baru lagi. Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“Belum, waeyo? Kau sendiri?” jawabku, aku memutuskan untuk bertanya balik tentang statusnya karena aku juga penasaran^^

“Kwaenchanha Oppa, hanya bertanya saja. Aku juga belum punya namjachingu, aku masih mencari pangeran musim gugurku. Haha,” jawabnya sambil tertawa lepas. “Mungkin kau bisa menjadi pangeran itu,” katanya polos sambil menatapku kemudian tertawa lagi.

“Isssh, kau ini memang kekanak-kanakkan sekali sih,” kataku gemas. Perkataannya barusan suskes membuatku malu dan rasanya terbang ke langit ke 7.

“Oppa, boleh aku minta nomer telfonmu. Kau kan Oppaku sekarang, ya? Boleh ya?” ucapnya sambil menyodorkan handphonenya kepadaku.

“Dengan senang hati Putri Musim Gugur,” kataku sambil tersenyum dan menerima handphonenya.

“OPPA, KUBILANG JANGAN TERSENYUM SEPERTI ITU!” teriaknya histeris memekakkan telingaku. Aku hanya tersenyum singkat dan mulai mengetik nomerku di handphonenya.

“Nih, kasih nama yang bagus ya. Jangan lupa nanti kau meng-smsku. Pulang yuk, sudah terlalu sore sepertinya. Nanti orang tuamu mencari putrinya,” kataku sambil berdiri. Aku menepuk celanaku ringan dan mengulurkan tangan kearahnya untuk membantunya bangun. Dia tersenyum dan meraih tanganku.

 

HHH

 

SEMINGGU KEMUDIAN

Drrrrt, Drrrrt, Drrrrt

“Aiiiiiish,” getaran itu mengganggu tidurku. Aku bergeser sedikit ke arah meja di samping kanan tempat tidur dan berusaha menggapai handphoneku yang tidak berhenti bergetar.

“YA!” reflekku kaget ketika aku merasakan sesuatu yang lembek, ternyata aku salah arah. Aku malah memegang kepala Ddangkoma, kura-kura kesayanganku. Aku harusnya bergeser ke arah kiri. Aku memutuskan bangkit dan mengambil handphoneku.

Aku kaget melihat nama yang tertera di handphoneku. Park Ri Young *_*.  Buat apa anak ini menelfonku pagi-pagi buta? Aku menekan tombol hijau,

“Yobo....,”

“OPPA BANGUUUUN! BUKA PINTU APARTEMENMU SEKARAAAAANG!” aku menjauhkan handphone itu dari telingaku sebelum telingaku rusak. Aku berjalan lemas menuju pintu depan, masih lengkap dengan kaus oblong abu-abu dan celana tidur.

“Ya! Kenapa kau menggangu tidurku? Ini masih jam 6 pagi Park Ri Young. Semalam aku tidur jam 12 karena harus mendengarkan curhatanmu itu, kau membuat kupingku panas dan batere handphoneku cepat habis. Kau tau itu? Dan sekarang kamu membangunkanku di saat orang-orang lain masih tertidur pulas, seharusnya kau membiarkanku tidur lebih lama Ri Young. Aku ngantuk sekali. Lagipula ini hari Minggu,” kataku panjang lebar, ya disaat seperti ini kebiasaanku keluar, berbicara panjang lebar.

“Sudah selesai?” responnya sambil tersenyum manis kepadaku. “Kau tidak membiarkanku masuk? Tidak baik loh Oppa, membiarkan Putri Musim Gugur berdiri di depan pintu seperti ini,” lanjutnya sambil mendorong tubuhku yang menghalangi pintu masuk dan beranjak masuk ke apartemenku, bahkan akupun belum memberikan izin kepadanya.

“Aku belum mengizinkan kau untuk masuk Ri Young,” ucapku setelah menutup pintu dan menghampirinya. Apa yang dia lakukan di dapurku?

“Aku yakin, seorang pangeran pasti akan mengizinkan seorang putri masuk. Ya kan Pangeran?” jawabnya senang sambil menyiapkan dua mangkuk di depannya.

“Ya! Ini masih pagi Ri Young, belum saatnya kau berbicara seperti itu. Kau mau membuat pipiku merah lagi?” jawabku sambil menarik salah satu kursi makan.

“Haha, itu baru permulaan Oppa. Ayo kau harus temani aku makan bubur ini,” katanya sambil menyerahkan mangkuk yang sudah terisi oleh bubur. Aku menerimanya dan mulai makan perlahan.

“Orang tuamu tidak marah kalau kau datang ke apartemenku sepagi ini? Apa kata orang tuamu nanti?” tanyaku setelah menelan makananku.

“Tenang Oppa, tidak akan. Mereka pasti akan merasa senang melihat aku mempunyai teman sarapan,” jawabnya riang.

“Lah? Lalu kau meninggalkan mereka berdua di apartemen? Mereka lebih membutuhkanmu Ri Young,” ucapku kaget, kenapa dia lebih memilih sarapan bersamaku daripada sarapan bersama orang tuanya.

“Aku belum cerita ya? Aku tidak pernah sarapan dengan mereka lagi sejak saudara kembarku meninggal. Orang Tuaku ikut menghadap Tuhan di hari yang sama dengan saudara kembarku. Mereka kecelakaan saat mau ke pemakaman saudaraku,” jawabnya tenang.

Aigoo, kau bodoh sekali Yesung. Sudah dua kali kau membuka kesedihan hatinya, di pertemuan pertama saudara kembarnya sekarang orang tuanya. Aiish. Tapi mengapa sudah seminggu aku kenal dia, dia baru menceritakannya sekarang?

“Ri Young,” kataku sambil berjalan menghampirinya. Aku memutuskan untuk berlutut di depannya. “Mianhae. Aku bodoh sekali bertanya tentang hal ini,” lanjutku. Kini dia duduk kearahku yang berlutut.

“Kawaenchanha Oppa, kau juga tidak tahu kejadiannya kan? Aku tak apa kok, hehe,” jawabnya mencoba kuat, padahal aku bisa melihat matanya sudah berkaca-kaca dan sekarang satu tetes air matanya sudah menetes dan membasahi pelupuk matanya.

Aku menariknya kedalam pelukanku. “Ri Young, menangislah. Kau tak bisa berusaha tegar terus-terusan seperti itu, aku tahu kau bersedih. Dan setiap orang pasti pernah bersedih dan menangis, kau tak perlu menyembunyikannya seperti itu,” kataku menenangkannya. Tangisnya kini memecah, aku bisa mendengar nafasnya yang berat dan tersenggal-senggal.

“2 tahun belakangan ini aku selalu membuat diriku tegar di depan semua orang Oppa. Aku tidak ingin mereka ikut bersedih karena aku bersedih. Lagipula untuk apa menangis kalau orang tua dan saudara kembarku tidak akan pernah kembali ke sampingku,” ucapnya sambil terus menangis. Aku rasa dia menahan semuanya selama 2 tahun.

“Kau salah. Kau boleh menangis dan sedih, itu hal wajar. Tapi kau tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan itu Ri Young. Kau harus bangkit dan kembali menjalankan hidupmu, kau harus membuat orang tua dan saudara kembarmu di surga bahagia,” jawabku.

“HAAAH, kenapa aku bisa menangis di depanmu sih? Aku malu jadinya Oppa,” katanya sambil memukul punggungku ringan.

“Tak perlu malu, aku sudah terbiasa melihat kejelekkanmu. Dan ingat, kau sudah dua kali menangis dihadapanku,” jawabku jahil. Aku melepaskan pelukanku, “Sudah cukup menangisnya. Masih pagi kau sudah membuat bajuku basah, lagian kau jelek sekali kalau menangis. Putri Musim Gugur harus tersenyuuum,” lanjutku sambil mengapus air matanya dan menarik bibirnya agar membentuk senyum dengan jariku.

“Kamsahamnida, Oppa tampan,” ucapnya sambil mengacak rambutku.

“Choenmaneyo Putri cantik. Hari ini kau mau kemana?” tanyaku sambil merapihkan mangkuk buburku yang masih sisa setengah ke tempat cuci piring, sedangkan Ri Young masih melanjutkan sarapannya. Entah kenapa aku jadi kenyang.

“Hm, sepertinya aku mau mengunjungi makam orangtuaku dan makam saudara kembarku. Sudah lama aku tidak mengunjunginya,” jawabnya setenang mungkin.

“Aku antar ya? Aku mau melakukan sesuatu disana,” kataku sambil mencuci mangkuk buburku.

“Mwo? Kau mau apa disana? Tak usah, aku bisa sendiri,” jawabnya tegas.

“Aaah, Ri Young-ah aku mohon. Aku juga ingin mendoakan mereka,” sergahku cepat sambil memasang tampang memohon dan mengeluarkan senyuman dan pandangan mautku.

“Isssh. Kau tahu kelemahanku Oppa. Baiklah, tapi kau mandi dulu sana. Oiya satu lagi! Kau harus mengizinkanku memberi makan ddangkoma, kalau tidak, aku tidak akan mengajakmu bersamaku. Bagaimana?” tanyanya menantang.

Aku menggaruk kepalaku, “Ya baiklah. Tapi ngasih makannya yang benar ya, jangan kebanyakan seperti kemarin. Dia kura-kura kesayanganku Ri Young,” jawabku akhirnya. Kemarin dia hampir saja membuat ddangkoma mati karena memberi makanan terlalu banyak, aku stress dibuatnya.

“Ne Oppa. Kau mandi sana,” katanya sambil mendorongku pelan ke kamar mandi.

 

Aku dan Ri Young berjalan menuju halte bis tetap menggenggam tangannya yang kecil dan dingin. Aku bisa merasakan angin menerpa wajahku di musim gugur ini. Setelah menunggu beberapa saat bis yang kami tunggu datang juga, dan syukurlah kami mendapatkan tempat duduk.

Setelah 15 duduk di bis, aku dan Ri Young sampai juga di depan gerbang pemakaman umum di pinggir kota.

“Kau masuk duluan ya Ri Young, nanti aku menyusul. Ada sesuatu yang ingin aku beli,” kataku kepadanya. Dia hanya mengangguk ringan dan berjalan memasuki pemakaman umum tersebut.

Aku berlari ke toko di sebrang jalan dan membeli sesuatu disitu. Setelah mendapatkan yang aku inginkan aku memasuki wilayah pemakaman umum tersebut. Pemakaman ini bersih dan terawat. Aku mencari sosok Ri Young di area pemakaman ini. Ya dia berada di balik pohon besar sedang jongkok bertumpu pada lututnya di samping makam, kurasa itu makam saudara kembarnya.

Aku berjalan pelan menghampirinya dan ikut bertumpu di sebelahnya.

“Park Ni Young, apa kabarmu disurga? Kau pasti baik kan disana? Aku yakin Tuhan menjagamu dengan baik disana. Dan Tuhan juga menjagaku dengan baik disini, aku senang karena aku bisa melewati musim gugur tahun ini. Kau bisa merasakannya juga kan Ni Young?” ucap Ri Young sambil menatap nisan bertuliskan nama Park Ni Young. Aku bisa melihat dia menahan air matanya.

“Aku kesini tidak sendiri loh Ni Young. Aku bersama Pangeran Musim Gugur. Kim Jong Woon Oppa namanya, dia tampan dan aku suka sekali dengan tatapan dan senyumnya. Sudah seminggu ini dia yang selalu menjagaku,” lanjutnya lagi sambil menatapku sambil tersenyum. Aku pun balas tersenyum.

“Hai Ni Young, Kim Jong Woon imnida. Kau tenang saja ya Ni Young, aku akan menjaga Putri Musim Gugur yang cengeng ini. Aku juga meminta izinmu agar aku bisa menjaganya,” kataku sambil menatap ke nisan Ni Young lalu ke Ri Young. Ri Young tersenyum tipis dan menutup matanya untuk mendoakan Ni Young. Aku pun ikut memejamkan mataku.

“Ni Young sudah dulu ya. Aku mau ke makam Appa dan Umma dulu, kapan-kapan aku akan mengunjungimu lagi,” kata Ri Young sambil berdiri dan menarikku tanganku untuk mengikutinya.

Aku dan Ri Young berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam Appa dan Ummanya Ri Young. Tidak terlalu jauh dari jarak makam Ni Young. Ternyata makam Appa dan Ummanya Ri Young tidak ada sekatnya seperti makam-makam lain. Makam mereka tepat bersebelahan jadinya ukurannya agak lebih besar dari makam lain.

“Appa, Umma apa kabar? Mian aku baru sempat berkunjung kesini lagi. Aku yakin Appa Umma pasti baik-baik kan? Kalian juga bertemu Ni Young kan di surga? Tadi aku baru saja berkunjung ke makam Ni Young. Aku rindu sekali pada kalian Appa, Umma. Tapi kalian tidak perlu khawatir denganku, karena aku yakin kalian juga pasti menjagaku kan dari Surga? Aku bisa merasakan itu,” kata Ri Young sambil bertumpu lagi di samping makam.

“Appa Umma, kalau biasanya aku kesini sendiri, sekarang aku membawa temanku. Dia Pangeran Musim Gugur,” lanjutnya lagi. Sekarang dia benar-benar membuat sungai di kedua pipinya walaupun memang belum terlalu deras.

“Annyeong Appa, Umma. Tak apa ya kalau aku ikut memanggil kalian Appa Umma? Aku Kim Jong Woon, teman sekaligus Pangeran Musim Gugur untuk putri kalian. Em, sekarang sih memang masih teman, tapi sebentar lagi aku akan meminta putri kalian untuk menjadi yeojachinguku. Kalian setuju tidak?” kataku. Ri Young memandangku bingung sambil menhapus air matanya yang menetes.

“Tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Sebisa mungkin aku akan menjadi Appa, Umma, saudara, namjachingu, dan pangeran musim gugur untuknya. Aku sangat mencintai putri kalian, aku benar-benar ingin menjadi pangeran musim gugurnya. Walaupun putri kalian itu yeoja yang aneh, suka menangis tiba-tiba, suka membangunkanku pagi-pagi buta, suka membuat kura-kuraku lebih cepat mati....,”

“YA! Kenapa kau menceritakan semua kejelekanku di depan orang tuaku Jong Woon Babo?” ucapnya sambil memukul kepalaku ringan.

“Tuh kan Appa, Umma. Dia suka kasar kepadaku seperti tadi hehe, walaupun dia begitu, tapi aku tetap mencintai putri kalian yang cantik ini. Dia yeoja yang selalu berusaha tersenyum walaupun hatinya menangis. Dia yeoja yang selalu berusaha membuat orang di sekitarnya bahagia. Dia yeoja yang bisa membuatku jatuh cinta pada sikap uniknya. Dia yeoja yang jujur dan polos, bahkan dia blak-blakan menyukai senyuman dan tatapanku,” lanjutku tersenyum menatap gundukkan tanah di depanku ini.

“Huaaaaa!”

“Hei, kau kenapa menangis?” tanyaku panik ketika melihat Ri Young dengan pipi yang sudah basah. “Sudah kubilang kau jelek kalau menangis. Jangan menangis sssuuuut. Malu sama Appa-Umma mu dong Ri Young,” kataku sambil membelai rambutnya.

“Oppaaaaaaaaaaaa,” tangisnya makin meledak. Ssh aku bingung, kenapa dia menangis sekarang?

“Suuut sudah. Ayo kita berdoa untuk Appa-Umma mu. Lalu kita ke taman tempat pertama kali kita bertemu ya!” Aku dan Ri Young memejamkan mata dan mendoakan Appa-Umma nya Ri Young.

 

“Duduk sini sebentar,” kataku kepada Ri Young. Aku dan Ri Young sekarang duduk di balik pohon besar tempat pertama kali kami bertemu.

Aku menatapnya sekilas, “Bagaimana? Aku boleh tidak menjadi Pangeran Musim Gugurmu sekarang?” tanyaku mantap.

“Mwo? Kau kan sudah menjadi Pangeran Musim Gugurku, Oppa,” jawabnya sambil menundukkan kepalaku.

“Kau harusnya mengecilkan volume detak jantungmu itu Ri Young, hehe. Kemana Ri Young yang blak-blakkan? Kemana Ri Young yang selalu lancar kalau sedang berbicara? Tadi kan aku sudah minta izin kepada Appa-Ummamu, apa jawabanmu sekarang? Aku memintanya sekarang!” kataku tersenyum saat melihat pipi Ri Young kemerahan.

“Hm, gimana ya? Susah Oppa,” jawabnya sambil menatapku.

“Susah apanya?” tanyaku heran, sssh kalau ditolak bagaimana?

“Ya susah, aku susah menolah namja yang mempunyai senyum dan tatapan maut sepertimu,” jawabnya tersenyum jahil. Bibir dan hatiku tersenyum mendengar jawabannya, dan sekarang aku yang harus mati-matian menjaga volume jantungku.

“Hm, aku yakin kau tidak akan bisa menolakku. Ya kan? Eh coba kau ke belakang pohon ini. ada sesuatu yang harus kau ambil disana,” kataku sambil memeluk kakiku yang dilipat.

“Ha? Ada apa, namjachinguku?” jawabnya sambil bergegas menuju ke belakang pohon tempat aku dan Ri Young duduk.

“Oppa, kamsahamnida,” katanya setelah kembali berjongkok di sebelahku dan memegang sejenis bola kaca kecil yang didalamnya terdapat pohon kecil dengan daun yang berwarna kecoklatan seperti daun musim gugur. Di bawah bola tersebut juga ada beberapa daun yang berguguran.

“Cheonmaneyo jagii~~ Kau suka?” tanyaku kepadanya. Dia hanya mengangguk manis. “Coba kau tekan tombol bawahnya,” kataku. Dia menuruti perkataanku dan menekan tombol yang berada di bawah bola itu.

“WAAAAH, KEREEEEN! Aku suka, gomawo Oppa,” katanya setelah melihat daun-daun yang dibawah berterbangan seperti di terpa angin musim gugur.

“Terimakasih sudah mau menjadi Putri Musim Gugurku,” kataku sambil mendekatkan wajahku kepadanya.

“Hehe, terimakasih sudah mau menjagaku dan sudah memintaku untuk menjadi Putri Musim Gugurmu,” jawabnya senang. “Saranghae~~”

“Nado Saranghae,” jawabku sambil merangkul pundaknya dan menatap daun yang berguguran di hadapanku.


Read more...

Senin, 05 Juli 2010

In Jakarta With Love (sekuel From Jakarta With Love)

“Hoammmmmm!” aku merenggangkan tanganku perlahan. Jam setengah 6. Waw rekor baru telah tercatat. Aku bangun 30 menit lebih awal dari alarm jam bekerku dan rebana kakakku. Aku membuka tirai kamarku dan sudah mendapati beberapa orang yang sedang berjogging ria, ya wajarlah hari ini hari Sabtu.

Aduh, kenapa perutku tiba-tiba sakit sih? Yak! Morning sick! Aku menyambar handuk dan segera berlari kekamar mandi karena sudah tidak tahan >.<

”WOOOOOOOY, BANGUUUUUUUN! DUNG DUNG DUNG!”

Wot? Suara apaan tuh? Wahahah, itu pasti Kakakku lengkap dengan suara cempreng dan rebana kesayangannya, batinku ketika aku menatap kaca dan bercermin setelah aku selesai mandi. 2 minggu yang lalu Kakakku itu membeli rebana, katanya dia sengaja membeli barang itu agar bisa membangunkanku di pagi hari.

”Loh? Kok?” kata Kakakku bengong ketika melihatku sudah rapi keluar dari kamar mandi. Benerkan dia lagi megang rebana.

”Kenapa Kakakku sayang? Kaget ya adikmu yang cantik ini udah bangun trus udah mandi? Iya kan? Iya dong? Iya aja udah! Untuk pagi ini rebana loe gak mempan buat gue! Keluar sana gue mau dandan!” jawabku sambil mendorong tubuhnya keluar dari kamarku. Ekspresinya belom berubah, masih kayak sapi bengong.

”YAAH, NGAPAIN GUE MAHAL-MAHAL BELI REBANA? LOE GAK TAU SIH PERJUANGAN GUE BELI REBANA INI. GUE SAMPE NGEMIS-NGEMIS SAMA IBU PENGAJIAN KOMPLEK BIAR GUE BISA DAPET SATU REBANA. KAN HARUSNYA GUE BELI SEPAKET TUH,” teriak Kakakku dari luar kamarku. Aku hanya cekikikan mendengar perkataannya. Lagian siapa suruh beli rebana segala, orang mah beli drum gitu biar kerenan dikit, ini beli rebana.

Aku berdandan seadanya dan mematut diriku di depan kaca. “Seperti biasa, loe udah cantik Jume,” kataku pada diriku sendiri sambil tersenyum *yaks*. Aku mengambil tasku dan menuruni tangga rumahku.

“Bang, gue berangkat ya!” kataku kepada Kakakku yang sibuk menonton berita tentang Ariel dan Luna Maya. Ih aku bingung, kenapa dia seperti ibu-ibu PKK yang kalau pagi kerjaannya nonton gosip sih.

“Gak sarapan?” tanyanya tanpa melihat kearahku. ”Gila, mirip banget ya!” katanya lagi sambil melotot ke arah tivi. Ah ngelebihin ibu-ibu PKK ini mah sampe ngomentarin segala.

“Nggak, gue buru-buru. Daah!” kataku menutup pintu depan rumahku.

Naik apa ya kesana? Batinku ketika sampai membuka pagar rumahku.

”Neng, mau naik ojek?” kata tukang ojek bak pahlawan yang tiba-tiba sudah ada di depanku sambil menaik-turunkan alisnya kepadaku. Aku berfikir sejenak, sepertinya boleh juga nih abang ojek.

”Berapa Bang? Goceng ya? Cuma ke depan komplek doang kok trus belok kanan, luruuuus, belok kiri, luruuuus, trus nyampe deh,” kataku akhirnya sambil menjelaskan alur jalan yang akan aku tuju.

”Goceng Neng? Buset dah, anak istri abang mau dikasih makan apaan kalo cuman goceng?” jawab si abang kaget.

”Ehm, ntar saya kasih bonus deh Bang buat makan anak istri Abang, lagian deket kok bang cuman lurus belok kanan belok kiri doang Bang. Lagian jarang loh Bang, cewe secantik saya mau naik ojek,” kataku asal meyakinkan abang ojek ini sambil mengerlingkan mata.

”Yeh si Eneng. Dimana-mana jalanan mah emang cuman lurus belok kanan belok kiri doang Neng, gak ada yang melengkung. Tapi yaudah lah, naik deh Neng, tapi ntar beneran kasih bonus ya,” kata Si Abang luluh. Aku mengembangkan senyum termanisku dan duduk di belakang abangnya.

”Kemooooon Neng,” kata si Abang sambil meng-gas motornya, nih abang rada-rada kayaknya.



”Makasih ya Bang, Abang emang the best deh,” kataku sambil menepuk-nepuk pundak si Abang lalu merogoh tasku mencari duit lima ribuan.

”Lah, si Eneng gimana sih? Katanya deket, ini mah jauh banget buset. Lurus belok kanan belok kiri sih iye, cuman jauh bener, Masyaaloh,” jawab si Abang sambil menyeka peluh-peluh keringat.

”Haha, yang penting kan saya gak boong. Cuman lurus belok kanan, lurus belok kiri deh. Yakan bang? Nih bang saya tambahin goceng deh ongkosnya. Trus ini ada 4 roti buat makan anak istri abang. Makasih ya Bang,” jawabku sambil menyerahkan dua lembar lima ribuan dan 4 bungkus roti.

”Waw, makasih Neng,” jawab si Abang sambil tersenyum dan segera mengendarakan motornya menjauh dariku.

Aku berjalan mendekati rumah mewah di depanku. Aku membuka gerbangnya perlahan dan berjalan menuju ke depan pintu masuk.

TING TONG

”Wah, Non Jume. Masuk Non,” sapa seseorang berseragam pelayan dengan bahasa Indonesia ketika membukakan pintu untukku. Namanya Seka kalau nggak salah.

”Yaampun. Gausah manggil Non gitu ah. Kita kan seumuran. Panggil Jume aja,” jawabku kepada pelayan itu. Aku memperhatikan pelayan ini dari atas sampai bawah, dia lumayan cantik untuk ukuran seorang pelayan. Awas saja kalo pacarku bermain mata dengannya.

”Ah gaenak Non. Nyari Tuan ya? Tuan masih di kamarnya, non keatas aja. Silahkan masuk Non,” jawabnya sopan sambil mempersilahkan aku masuk. Aku masuk kedalam rumah besar ini, ini kedua kalinya aku menginjakkan kakiku di rumah ini.

Setelah tersenyum sekali lagi kepada Seka, aku beranjak menaiki tangga menuju kamar si Tuan yang disebutkan tadi. Aku mengetuk pintu kamarnya dua kali.

”Masuk saja, tidak dikunci,” terdengar suara seseorang dari dalam. Dia sudah bangun ternyata. Aku membuka pintu kamarnya pelan dan mendapatkan sesosok pria tegap sedang memandang ke arah jendela.

”Annyeong, Oppa,” sapaku kepada pria itu. Hening, lah kok dia gak jawab sih? Masa baru sehari gak ketemu dia langsung bisu?

”Oppa, annyeong! Kenapa kau tidak menjawabku? Kau tidak rindu padaku?” tanyaku sekali lagi setelah menutup pintu kamarnya dan menghampirinya.

”Kau tadi kesini sama siapa?” responnya dingin dengan bahasa Inggris.

“HAHAHAHAHA, Oppa! Aduh perutku sakit, sumpah!” jawabku sambil memegangi perutku yang sakit karena tertawa terlalu kencang. Aku mulai mengerti kenapa dia bersikap dingin seperti itu. Dia cemburu sama abang Ojek?

”Heh, kenapa kau ini malah tertawa? Aku kan bertanya kau kesini sama siapa? Kau tidak memikirkan perasaanku ya? Kau kesini, ke rumah pacarmu bersama lelaki tua kurus hitam itu. Aku kan pacarmu Zume, aku lebih tampan dan lebih muda darinya,” jawabnya panjang lebar sambil sedikit mengeluarkan kuah saking semangatnya. Ya kan benar tebakanku.

”HAHAHAHA. Oppa! yang tadi itu ojek namanya. Itu transportasi di Jakarta juga Oppa! Itu transportasi tercepat, aku harus menaiki itu kalau mau cepat sampai sini. Kemarin kan kau yang memintaku untuk datang pagi kerumahmu,” jawabku masih memegangi perutku yang masih sakit.

”Ozek? Ya mianhae. Aku kan baru dua hari berada di Jakarta, aku tidak tahu kalau ada transportasi seperti itu,” jawabnya sambil menatapku. ”Kau sakit perut ya?” tanyanya lagi sambil menatapku khawatir.

”Haha, tak apa Oppa,” jawabku sambil membalas tatapannya. Uuugh, aku bisa melihat ketulusan dari tatapan matanya.

”Aku rindu padamu,” katanya lagi sambil menarik tubuhku kepelukannya. Aku membalas pelukannya, bukannya aku nggak tau kalo aku belum muhrim dengan lelaki yang memelukku ini, tapi mau bagaimana lagi? Aku juga rindu padanya. Aku rindu padamu Jang Geun Seok dan sepertinya pelukannya itu mengandung magnet ^^ Lagian kapan lagi dipeluk bule Korea hahaha.

”Kemarin aku belum sempat memelukmu,” katanya lagi. Kini suaranya terdengar jelas di telinga kananku. Awawaw suaranya membuat bulu kudukku merinding.

”Tuan, makanannya......,” ucap seseorang sambil membuka pintu secara tiba-tiba. Aku dan Jang Geun Seok refleks melepaskan pelukan kami yang lagi seru-serunya. Ah siapa sih ganggu aja deh -___-

”HEI, KENAPA TIDAK MENGETUK PINTU DULU?” ucap Jang Geun Seok geram sambil menatap tajam wanita paruh baya yang ternyata Ibu Hana, pelayan pribadi Jang Geun Seok. Aku memegang lengannya, mulai deh keluar emosiannya.

”Maaf, Tuan. Maaf, saya tidak tahu kalau Tuan sedang...,” ucapnya terpotong. Aku hanya bisa menahan tawa, akupun kalau jadi dia mungkin bingung mau berbicara apa. ”Mmm, saya hanya ingin mengatakan sarapannya sudah siap, saya keluar Tuan. Maaf sekali lagi,” ucapnya panik sambil keluar dan menutup pintu rapat.

”Sudahlah Oppa. Kau tak perlu emosi seperti itu. Hanya masalah kecil kan?” kataku sambil menepuk pundaknya.

”Tapi dia mengganggu Zume, aisssh,” jawabnya sambil mengacak-acak rambutnya. Oh No! No! Pipiku panas.

”Menggangu? Mengganggu apa?” tanyaku jahil kepadanya. Yeah BINGO! Kali ini aku bisa melihat semburat garis-garis merah di pipinya.

”Ya, mengganggu! Ya pokoknya ganggu lah,” jawabnya terbata-bata.

”HAHAHA, PIPIMU MERAH OPPA. Kau belum mandi ya? Bau! Mandi sana. Aku tunggu dibawah ya, kita sarapan bareng,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan.

Dia memandangku dengan pandangan memohon dan menunjukan muka ter-imutnya, ”Hm, nanti peluk lagi ya. Ya? Ya?,” katanya sambil memainkan jariku dan mengerlingkan matanya.

Aku tersenyum melihat tingkahnya, ”YA! Gampang diatur itu. Tapi yang jelas aku tidak akan pernah memeluk orang bau sepertimu. Mandi, cepaaat!” jawabku sambil berjalan keluar dari kamarnya.

Aku menuruni tangga satu-satu dan beranjak ke ruang makan. Dan aku duduk disalah satu kursinya. Hm, aku belom cerita ya? Kemarin Geun Seok menepati janjinya untuk datang lagi Indonesia dan menemuiku. Kemarin juga aku sudah kesini mengantarkan Geun Seok ke rumahnya di Jakarta.

Selama seminggu kemarin aku sedikit-sedikit belajar bahasa Korea. Malu-maluin kan kalo punya pacar orang Korea cuman gabisa bahasa Korea haha. Dan Geun Seok juga yang menyuruhku memanggilnya Oppa, awalnya aku bingung cuman yasudahlah.

”Nona, maaf tadi saya sudah....,” kata Bu Hana tiba-tiba menghampiriku.

”Nggak apa-apa bu. Cuman masalah kecil kok, hehe saya yang harusnya malu,” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak sebenarnya gatal.

”Tapi kayaknya Tuan marah banget, Non,” katanya lagi sambil menundukkan kepalanya.

”Dia emang gitu bu. Suka emosian tiba-tiba,” jawabku meyakinkan. Apalagi kalo kesenangannya diganggu, tambahku dalam hati hahaha.

”Bu, maaf saya tadi sudah keterlaluan membentak Ibu,” kata Jang Geun Seok tiba-tiba sudah muncul dan duduk di kursi sebelahku. Aku menatapnya bangga, aku tidak menyangka Tuan besar ini memiliki hati yang besar juga.

”Saya yang seharusnya minta maaf, Tuan. Saya janji lain kali akan mengetuk pintu,” jawab Ibu Hana sambil tersenyum. Geun Seok hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ibu Hana pun pergi meninggalkan ruang makan.

”Kenapa kau memandangku seperti itu?” tanyaku ketika Geun Seok memandangku aneh dan mencondongkan mukanya ke arahku.

”Kapan kau akan memelukku? Aku sudah wangi sekarang,” tanyanya sambil tersenyum nakal.

”Issssh, makan dulu sarapanmu, nanti kapan-kapan kau boleh memelukku lagi,” kataku sambil membalikkan piring yang telungkup di depannya kemudian menaruh nasi dan lauk dipiringnya,



HHH



”PRJ sudah tidak ada lagi ya, Zume?” tanya Geun Seok ketika kami dalam perjalanan menuju supermarket untuk membeli segala keperluan untuknya selama di Jakarta.

”WAAAH, kau sudah bisa mengucapkan kata PRJ dengan baik. Kenapa kau tetap memanggilku Zume? Eh iya, baru dua hari yang lalu penutupan acaranya,” jawabku sambil melihat kearahnya. Lagi-lagi dia menatap keadaan Jakarta, kenapa dia suka sekali sih melihat keadaan Jakarta.

”Anggap saja panggilan sayang dariku ya,” jawabnya sambil menengok kearahku dan tersenyum. KYAAA~ pipiku memerah.

”Kau mulai masuk kantor Senin besok ya, Oppa?” tanyaku masih dengan pipi yang merah.

”Ya. Kenapa?” jawabnya dan malah bertanya balik kepadaku.

”Kwaenchanha, yeobo. Sukses yaa!” ucapku sambil mengacak rambutnya, lebih tepatnya merusak tatanan rambutnya.

”Waw! Kau banyak mengetahui Bahasa Korea sekarang? Belajar ya? Kau juga harus mengajarkanku bahasa Indonesia ya, Zume,” katanya antusias setelah mendengar aku berbicara bahasa Korea tadi.

”Cobalah belajar sendiri. Aku juga kan belajar sendiri, wee,” jawabku sambil memalingkan wajahku. Dia hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya tidak jelas.

Setelah sekitar 20 menit, kami sampai di depan supermarket besar. Dan seperti biasa, kami, hm lebih tepatnya Geun Seok menjadi pusat perhatian. Banyak gadis-gadis remaja yang berbisik bahkan terang-terangan senyum semanis-manisnya ketika melihat Geun Seok. Ya! Sayangnya aku sedang tidak memakai wedges sekarang, tapi sneakers boleh juga kayaknya buat nimpuk orang.

”Hei, kenapa mereka melihat aku seperti itu, Zume?” tanyanya risih menjadi pusat perhatian seperti itu.

”Kau tampan, Oppa. Ya pastilah kau menjadi pusat perhatian,” jawabku pura-pura ketus kepadanya. Apa ya ekspresinya?

Dia hanya tersenyum dan melihat kearahku sekilas kemudian meraih tanganku sambil tetap berjalan menuju troli belanjaan. KYAAAAA! Reaksi yang aku harapkan.

”Lepaskan tanganku. Kau yang mendorong dan aku yang akan menuntunmu mencari keperluanmu ya?” ucapku sambil melepaskan tangannya kemudian menyodorkan troli belanjaan kepadanya. Dia hanya pasrah dan mengikutiku.

”Kau mau sabun yang mana, Oppa? Yang ini wanginya enak. Mau?” tanyaku sambil menyodorkan sekotak sabun agar dia bisa mencium harumnya ketika aku sampai di rak perlengkapan mandi.

”Kau gila ya? Ini sabun perempuan. Mana mungkin aku memakai sabun berwarna pink ini!” katanya geram sambil menjitak kepalaku.

”HAHAHA, aku bercanda. Ayo kau pilih sendiri. Sekalian shamponya juga ya. Aku kesana dulu,” jawabku sambil berjalan ketempat pasta gigi dan sikat gigi. Aku mengambil 2 pasta gigi, 3 bungkus sikat gigi. Setelah semuanya lengkap aku menghampirinya.

“Anak baik. Ayo dorong lagi! Kita lanjut mencari gula, kopi, teh, dan makanan ringan untukmu,” kataku sambil berjalan mendahuluinya.

“Hei kenapa kau meninggalkanku sih? Kau tidak lihat itu banyak perempuan yang mengikutiku,” katanya begitu dia sudah berhasil menyusulku. Aku melihat kearah belakang dan ya aku mendapati banyak gadis yang masih tersenyum-senyum sok manis ke arah Geun Seok. Haha, otak setanku mulai beraksi sepertinya. Dengan sigap aku meraih lengan tangan Geun Seok dan aku bisa mendengat teriakkan, cacian, makian, dan kata-kata penyesalan dari arah belakangku.

“Belinya sekalian banyak aja ya?” tanyaku kepadanya sambil melihat-lihat gula yang akan aku beli.

“Iya, eh kopi ini enak tidak?” tanyanya sambil menunjukkan kardus balok berisi kopi instan kepadaku.

“Enak kok, kakakku juga minum kopi ini. Kau mau? Tapi milihnya yang masih bagus ya kardusnya, liat tanggal kadaluarsanya juga,” ucapku kepadanya. Dia mengangguk dan memilih kardus kopi yang masih bagus dan melihat tanggal kadaluarsanya, haha nurut banget sih.

“Gulanya tiga sama teh 2 bungkus cukup nggak?” tanyaku sambil menunjukkan gula dan teh di tanganku.

“Cukup kok, sini,” katanya sambil mengambil gula dan teh dari tanganku dan menaruhnya di troli.

“Cari makanan sama mie instan yuk, Oppa,” ucapku sambil menghampirinya. “Kau sedang apa?” tanyaku aneh ketika melihatnya sedang menyusun barang belanjaan di dalam troli. Rapiiiii bangeeet, disusun dari yang paling gede sampe kecil.

“Lagi merapikan belanjaan lah. Kau tidak liat? Dulu saat aku di Korea, aku selalu merapikannya agar terlihat rapi dan enak diliat. Sejauh aku melihat semua barang di dalam trole disini berantakan,” katanya masih tetap menyusun belanjaannya.

“Ini kan Indonesia, Oppa. Yasudahlah terserah kau saja. Ayo cari makanan sama mie instan!” ucapku sambil menarik-narik tangannya seperti anak kecil.

”KYAAAA! TIDAAAAAAAK!” terdengar suara seorang gadis yang histeris dibelakangku. Aisssh apa lagi sekarang? Aku dan Geun Seok menoleh kebelakang dan ya! sekarang lebih banyak gadis yang berada di belakangku. Aaaah

Aku menarik lengan Geun Seok cepat menuju tempat makanan dan mie instan. Aku sudah tidak tahan, hidupku sudah tidak aman lagi sekarang. Kalau begini terus lama-lama aku akan menyewa bodyguard, oke itu bukan ide yang bagus sepertinya.

“Beli mie nya yang banyak ya, Zume,” Geun Seok memasang tampang termanisnya saat mengatakan itu padaku.

“Ne, tapi jangan terlalu sering makan mie ya. Seminggu sekali saja nanti usus buntu. Kau harus banyak makan sayur-sayuran hijau,” kataku panjang menceramahinya wakakak bodo ah panas-panas deh kupingnya.

”Kau cari snack gih sana,” lanjutku kepada Geun Seok yang masih menungguiku memilih mie instan. ”Kenapa belom bergerak? Cepat cari snack,” kataku lagi mengulangi perkataanku.

Dia hanya menoleh sedikit ke arah tempat snack, aku ikut menoleh dan ternyata fans bule Korea ini sudah menunggu disitu. Astagfirullah, mau mereka semua apa sih? Mereka bukannya mau belanja ya? Kenapa malah ngikutin daritadi?

”Baiklah nanti saja ke tempat snacknya bersamaku,” kataku lagi sambil memasukkan beberapa bungkus mie instan. ”Minyak goreng dirumahmu ada kan?” tanyaku kepadanya.

”Masih, lagipula tadi Bu Hana hanya menyuruh membeli ini kan? Tinggal snack untukku saja yang belum,” jawabnya santai sambil memperhatikan gerak-gerikku. Jantungku bergemuruh sekarang.

”Kenapa kau suka memperhatikanku seperti itu sih?” tanyaku sambil menantang tatapan matanya.

”Mau tau aja. Ayo cepat ke tempat snack, aku mau cepat-cepat pergi dari supermarket ini,” katanya sambil menarik tanganku menuju tempat snack. Dengan sigap dia mengambil beberapa makanan ringan secara asal.

”Hey! Liat tanggal kadaluarsanya dulu, Oppa,” kataku kepadanya. Aku heran, kan dia belum tentu suka sama snacknya tapi kenapa dia malah asal memasukkan snacknya ke troli.

”Oiya, lupa,” katanya singkat lalu menuju ke troli belanjaannya dan melihat tanggal kadaluarsanya.

”Kenapa kau mengambil asal snack itu? Kau yakin akan menyukai semuanya? Lidahmu kan lidah Korea Oppa,” protesku melihat kelakuannya.

”Kalau aku tidak suka kan seenggaknya ada kamu yang akan menghabiskannya,” jawabnya jahil. ”Ayo ke kasir, aku ingin cepat pergi dari tempat ini,” lanjutnya sambil mendorong troli sambil mengait tanganku menuju kasir.

”Mba, kok diem aja? Ini tolong dihitung belanjaannya. Atau saya yang ngitung sendiri?” ucapku ketus kepada mba-mba kasir genit-ganjen-gatel yang daritadi malah bengong pas aku dan Geun Seok sampai di kasir.

”MBA! MASYAALLAH MBA! SAYA FRUSTASI NIH!” teriakku frustasi. Emang sih niatku untuk menyadarkan mba-mba ini berhasil, sekarang dia emang lagi ngitung belanjaannya tapi tetep aja matanya gak berhenti kedip-kedip kayak orang ayan T.T

Geun Seok menatapku iba dan tersenyum maniiiiis. Ya, dia tau cara menaikkan moodku yeaaah \m/.

Akhirnya sekarang aku berada di parkiran mobil, tepatnya di belakang mobil Geun Seok hendak memasukkan belanjaan yang kami beli hari ini. Dan akhirnya kami pulang ke rumah Geun Seok.



HHH



”HAAAH SAMPE JUGA!” ucapku lega sambil menjatuhkan tubuhku di sofa empuk yang terletak di ruang keluarga rumah Geun Seok.

”Mwo? Ngomong apa barusan? Kenapa pake bahasa Indonesia? Aku kan nggak ngerti,” samber Geun Seok sambil ikutan duduk disampingku. Aku lupa kalo tadi aku ngomong pake bahasa Indonesia.

”Bukannya kau bisa bahasa Indonesia?” tanyaku aneh. Dulu di bilang dia bisa Bahasa Indonesia.

“Dulu kan aku hanya bilang sedikit mengerti, kalo kata-katamu tadi aku tidak mengerti,” jawabnya sambil menggaruk kepalanya. Aku hanya mengangguk sedikit dan mengutak-atik handphoneku. “Bu Hana, Seka kesini sebentar,” panggil Geun Seok tiba-tiba.

Yang dipanggil datang dengan tenaga turbo, “Ya Tuan, ada apa?” tanya Bu Hana sopan.

“Itu belanjaan di mobil ambil trus beresin ya,” ucap Geun Seok. Manja banget sih, minta digetok banget. Bu Hana dan Seka hanya mengangguk dan berlari menuju mobil.

”IH! Kau manja sekali sih Tuan Besar. Mereka kan capek seharian membersihkan rumah mewahmu ini! Sssh,” hardikku kesal kepadanya.

”Ya! Aku juga capek habis belanja seharian di supermarket. Lagipula itu juga tugas mereka kan?” jawabnya santai.

”Trus kalau kau membeli celana dalam harus mereka juga yang merapihkannya? Kau tidak malu?” tanyaku kesal.

”Ya, ya aku tidak mau ribut denganmu sekarang. Aku capek. Baiklah lain kali aku akan merapihkan barang-barangku sendiri. Mengerti Nona manis? Mianhaeeee e e e,” jawabnya sambil merebahkan kepala dipundakku. Aisssh aku harus pake tenaga dalam untuk mengubah Tuan Besar manja ini sepertinya.

”Mianhae. Maafin yaaa Yeobo. Dimaafin kan?” tanyanya lagi sambil memijat-mijat jariku. Ngapain sih mijet jari? Mijet tuh di pundak kalo nggak kaki gitu, jariku kan gak pegal *-*

”Iya, iya. Mandi sana! Sudah sore. Nanti kau harus mengantarku pulang ya, Oppa,” kataku mengelus rambutnya ringan. Dia langsung berlari ke kamarnya, kenapa sekarang cepat sekali disuruh mandi? Aneh.

5 menit kemudian aku memutuskan untuk naik ke kamar Geun Seok.

”Oppa, sudah belum mandinya?” ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya.

”Sudah, masuk saja!”

Jreng jreng aw aw aw. Rambutnya basah, wajahnya keliatan sangat segar habis mandi. Dan kamar ini jadi harum karena bau sabun dan kamar mandi yang masih terbuka. Kalo di dunia khayalan, mungkin mataku sudah berubah bentuk jadi love +-+

”Wangi sekali Oppa,” komentarku sambil menutup pintu kamarnya.

”PAK, TOLONG SIAPKAN MOBIL!” teriak Geun Seok dari balkon kepada supirnya.

”AIIIIH! KENAPA KAU SERING SEKALI BERTERIAK? TIDAK SOPAAAN! Walaupun kau ini tuan besar, kau harus tetap bersikap sopan kepada pelayan-pelayanmu. Karena mereka juga yang membantumu,“ ucapku gemas kepadanya.

”HEHE, Mianhae. ini yang terakhir,” jawabnya tersenyum sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.

”Eh, aku wangi kan?” tanyanya.

”Hm, wangi wangi. Lumayanlah daripada tadi,” ucapku setelah pura-pura mengendus badannya.

”Berarti kau harus menepati janjimu,” katanya sambil tersenyum jahil.

”Janji? Janji apa?” tanyaku penasaran. Memangnya aku pernah membuat janji apa? Penyakit lupaku kambuh.

Dia berjalan mendekatiku. ”Kalau aku sudah wangi, aku kan boleh memelukmu,” jawabnya senang sambil langsung memelukku tanpa meminta izin terlebih dulu. Dan lagi-lagi walaupun aku tahu dia bukan muhrimku tapi tetap saja aku tidak bisa menolaknya. Maafkan hambamu ini Ya Allah.

”Zume,” dia memanggilku halus.

”Hm,”

”Terimakasih,”

”Untuk apa?”

”Karena hari ini kau sudah menemaniku berbelanja. Kau sudah mengajarkanku banyak hal hari ini. Mulai dari harus teliti dalam membeli barang dan harus menghormati semua orang. Aku janji aku akan merubah sikap burukku, kau bantu aku ya! Ingatkan aku kalau aku salah,” ucapnya sambil mengelus rambutku pelan. Aku mau pingsan ini. Bagaimana?

”Iya. Aku akan membantumu berubah. Kita kan harus saling melengkapi,” jawabku setenang mungkin menyembunyikan perasaan gugupku.

”Satu lagi. Terimakasih kau menepati janjimu,” ucapnya lagi.

Pipiku memerah sekarang olalala.

BRAAAAK!

”Tuan besar, mobilnyaaa .....,”

Aku dan Geun Seok reflek melepas pelukan kami.

”Ada apa? Mobilnya sudah siap?” tanya Geun Seok tenang walaupun aku bisa melihat kalau dirinya menahan emosi.

”Eh, anu iya Tuan, mobilnya sudah siap, permisi,” jawabnya takut-takut.

Jang Geun Seok menatapku lalu tersenyum sambil mengelus-elus dadanya sendiri. Aku mengacungkan jempol dan tertawa terbahak-bahak.

”SSSSH, jangan ketawa mulu. Ayo aku antar kau pulang,” katanya sambil menarik tanganku keluar kamarnya.

”Kau harus mengingatkanku ya! Aku harus memasang ’KALAU MAU MASUK, HARUS KETOK DULU’ disini,” katanya sambil menunjuk pintu kamarnya.

”HAHAHAHA,......”



-THE END-

Read more...