Laman

Sabtu, 31 Juli 2010

GA JADI PINDAAAAAH ^____^

YOROBUN! KITA GA JADI PINDAH....

SOALNYA... SETELAH DILIHAT-LIHAT, FANGIRLNATION UDAH GAMPANG DI CARI DI GOOGLE.. TERUS YA, BLOG YANG DI WORDPRESS ITU BELOM JADI.. MAKANYA KITA BALIK LAGI KESINI!

eh iya katanya Tiara dia mau cari author baru... yang berminat ngomong di cbox ya... okeh?


Read more...

Sabtu, 17 Juli 2010

Yes, It's Autumn!

Aku melihat kearah jendela kamarku dan menatap ke arah langit cerah di sore hari ini. Banyak masyarakat Korea yang berjalan santai di pinggir jalan besar dengan rambut yang tertiup angin. Aku reflek tersenyum melihatnya, sudah musim gugur ternyata.

Kebanyakan orang Korea menyukai musim gugur, termasuk aku. Aku suka musim gugur, cuacanya cerah, tidak panas dan juga tidak begitu dingin, taman-taman kota, terlebih lagi daerah pegunungan menawarkan pemandangan yang sangat indah. Belum lagi warna daun yang akan berwarna-warni kalau musim gugur tiba.

Aku mengambil jaket di balik pintu apartemenku dan berjalan keluar. Ketika selesai mengunci pintu aku melihat seorang yeoja yang berlari kencang kearahku, ya! Sangat kencang!

“YA! STOOOOOOOOOOOP!”

BRUUUUUUG!

Aduh! Pantatku panas sekarang, sakit sekali rasanya Tuhan. Yeoja ceroboh ini sukses menubrukku dan sekarang badannya menindihku. Pantatku sakit ditambah nafasku habis harus menahan badannya.

“Mianhae Tuan. Saya tidak sengaja,” ucapnya panik sambil beranjak dari tubuhku. Dia mengulurkan tangannya menawarkan bantuan agar aku bisa bangun. Aku meraih tangannya, tangannya halus sekali.

“Mianhae Tuan. Maaf sekali lagi, maaf,” katanya lagi ketika aku sudah bangun dan sedikit merapihkan baju dan jaket tebalku yang sedikit berantakan. Aku menatapnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. MWO? Dia memakai sepatu roda?

“Ne, kwaenchanayo. Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Eh kenapa kau memakai sepatu roda di kawasan apartemen ini? Bahaya! Pantas saja kau jatuh tadi, dan sialnya kau menubrukku,” jawabku aneh. Aneh sekali orang ini, kenapa memakai sepatu roda di tempat yang salah.

Dia tersenyum kagok, “He, ini punya temanku. Aku meminjamnya dan akan mengembalikannya hari ini. Karena hari ini hari terakhir aku memakainya jadi aku memutuskan untuk memakainya, hehe,” jawabnya girang. Lucu sekali yeoja ini, periang.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya. “Aku duluaan ya! Mianhae sekali lagi, tapi aku sangat beruntung bertemu namja yang baik hati sepertimu, hehe. Chaljaaa. Semoga kita bisa bertemu lagi,” sambungnya lagi sambil beranjak pelan dariku.

Aku menaikkan bahuku sedikit dan berjalan menuju lift untuk turun ke lantai paling bawah dan menuju tempat yang paling kusuka ketika musim gugur.

Aku berjalan sendirian menyusuri jalan Kota Seoul. Untung disini ramai dan tempat yang kutuju tidak terlalu jauh. Aku berjalan agak santai agar bisa menikmati angin segar yang menerpa wajahku di hari pertama musim gugur ini.

Akhirnya aku sampai di taman yang tak begitu jauh dari jalan raya. Setiap musim gugur tiba aku selalu menyempatkan waktuku untuk datang kesini. Aah indah sekali, aku bisa melihat daun-daun kecoklatan yang berguguran. Disini banyak sekali orang, yah lebih tepatnya sepasang kekasih yang sedang menikmati keromantisan di musim gugur ini.

Aku berjalan ke arah pohon yang lumayan besar dan sepi. Aku sengaja memilih tempat yang agak tenang agar aku bisa menikmati indahnya musim gugur tahun ini. Aku duduk dibawah pohon dan memilih untuk memejamkan mata.

“HUAAAA HUAAAAAA HIKS!” suara sesenggukan itu membuat mataku melek. Siapa yang menangis di musim seindah ini sih? Mengganggu ketenanganku saja, batinku.

“HUAAAAA, SROOOOOT,” suara tangisan itu terdengar lebih parah dari sebelumnya. Sepertinya suara itu tidak jauh. Aku berdiri dan berjalan pelan kearah belakang pohon itu.

“Kau...,” ucapku kaget ketika melihat sosok yeoja periang yang tadi menabrakku sedang menangis sambil memegang tissue.

“Kau namja tadi ya? Hiks, sini temani aku duduk,” katanya sambil menepuk tanah disebelahnya agar aku bisa duduk. Ragu-ragu aku duduk disampingnya. Sekarang dia sudah tidak memakai sepatu roda lagi, syukurlah.

“Sedang apa kau disini? Mengapa menangis? Kau sedih tidak bisa memakai sepatu roda lagi?” tanyaku beruntun.

Dia menatapku sejenak, “Tidak, bukan karena sepatu roda itu. Aku menangis karena aku suka sekali musim gugur, dan aku bersyukur karena hari ini aku masih bisa melihat musim gugur datang, huaaaaa,”

Aku menatapnya aneh, dia yeoja unik. “Hei, jangan menangis seperti itu. Musim gugur pasti akan datang setiap tahun Nona. Sekarang hapus air matamu itu,” jawabku sambil tersenyum. Dia mengikuti perintahku.

“Senyummu manis juga, hehe. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi secepat ini,” jawabannya barusan membuat pipiku panas. Baru kali ini seorang yeoja yang memujiku duluan.

“Cepat atau lambat kita juga pasti akan bertemu lagi karena kita kan satu apartemen Nona. Kenalkan, Kim Jong Woon Imnida, kau bisa memanggilku Yesung,” kataku sambil mengulurkan tanganku kearahnya.

“Park Ri Young Imnida. Kau bisa memanggilku Ri Young hehe. Kenapa kau dipanggil Yesung? Boleh aku memanggilmu Jong Woon?” tanyanya sambil membalas uluran tanganku.

“Boleh, terserah kau mau memanggilku apa. Tadi aku meminta kau memanggilku Yesung karena biasanya teman-temanku memanggilku Yesung,” jawabku sambil menatap lurus kearah depan.

“Baiklah kau lebih tua dariku kan? Kalau begitu Jong Woon Oppa saja! Tidak keberatan kan?” tanyanya lagi sambil mengarahkan kepalanya kerahku. Aku menggeleng dan lagi-lagi tersenyum melihat kelakuannya barusan.

“Kau masih sekolah ya?” tanyaku memberanikan diri karena aku penasaran berapa umur yeoja ini, sifatnya seperti anak-anak.

“ANDWAEEEEE! Lagi-lagi orang mengiraku masih sekolah. Aku sudah kuliah Oppa, umurku 21 tahun sekarang. Aku bukan anak-anak lagi!” jawabnya sambil merengut sebal.

“Aigoo, mianhae. Aku kira kau masih sekolah, wajah dan perilakumu memang terlihat seperti anak-anak. Mian sekali lagi,” jawabku merasa bersalah.

“HAHA kwaenchancha. Aku sudah terbiasa menanggapi pertanyaan seperti tadi. Eh Oppa, kau suka musim gugur ya?” katanya riang. Kenapa yeoja ini gampang berubah ya perasaannya.

“Ne, aku suka sekali musim gugur. Dan aku merasa nyaman kalau musim gugur, tapi aku tidak pernah menangis kalau musim gugur datang,” jawabku santai sambil menahan tawa.

“Aiiish Oppa, kau menyindirku ya? Huhu aku malu tau. Aku tidak tahu kalau ada orang yang mendengarku menangis,” jawabnya sambil menyenggolku ringan. Pipinya merah, lucu sekali (>.<)

“Hehe, kau juga suka musim gugur kan? Lalu kenapa kau malah menangis tadi?” tanyaku sambil menatap matanya.

“Hm, ya aku suka sekali musim gugur. Sama sepertimu, aku merasa nyaman kalau musim gugur tiba. Dan tadi aku menangis karena 2 tahun yang lalu sodara kembarku meninggal di musim gugur, dan ya aku hanya merasa bersyukur karena aku masih bisa menikmati musim gugur. Karena kalau aku bisa menikmati musim gugur, sodara kembarku di surga juga pasti akan bisa menikmatinya. Karena dia juga menyukai musim gugur,” dia menjelaskan panjang dengan serius. Aku tersentuh, manis sekali yeoja ini.

“Mianhae, aku tidak tahu kalau....,”

“Tak apa, Oppa,” jawabnya lagi sambil tersenyum tegar. “Eh Oppa, aku suka matamu. Apalagi kalau kau sedang memandang seseorang, tajam dan ada auranya,” lanjutnya sambil menatap mataku dalam. “Ditambah lagi kalau kau menatap seseorang dengan matamu sambil tersenyum. Aaah pasti lucu,”

Aku menatapnya dan tersenyum. “OPPA!”

“Waeyo?” tanyaku bingung.

“Jangan melihat dan tersenyum seperti itu kepadaku,” jawabnya, garis-garis merah perlahan muncul di kedua pipinya.

“Waeyo? Tadi kau bilang kau menyukai mata dan senyumku. Kenapa sekarang malah melarangku melakukan itu?” ucapku jahil. Err, sepertinya pipiku ikut merah.

“Ya, aku memang suka. Tapi aku tetap saja tidak bisa melihat itu, aku deg-degan Oppa,” jawabnya malu-malu.

“Kau ini jujur sekali sih orangnya,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan dan kembali memandang lurus ke arah depan. Dia mengikutiku arah pandanganku. Aku dan Ri Young terlarut dalam pikiran masing-masing dan tidak ada pembicaraan antara kami

“Oppa, kau sudah mempunyai yeojachingu?” tanyanya memulai pembicaraan baru lagi. Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“Belum, waeyo? Kau sendiri?” jawabku, aku memutuskan untuk bertanya balik tentang statusnya karena aku juga penasaran^^

“Kwaenchanha Oppa, hanya bertanya saja. Aku juga belum punya namjachingu, aku masih mencari pangeran musim gugurku. Haha,” jawabnya sambil tertawa lepas. “Mungkin kau bisa menjadi pangeran itu,” katanya polos sambil menatapku kemudian tertawa lagi.

“Isssh, kau ini memang kekanak-kanakkan sekali sih,” kataku gemas. Perkataannya barusan suskes membuatku malu dan rasanya terbang ke langit ke 7.

“Oppa, boleh aku minta nomer telfonmu. Kau kan Oppaku sekarang, ya? Boleh ya?” ucapnya sambil menyodorkan handphonenya kepadaku.

“Dengan senang hati Putri Musim Gugur,” kataku sambil tersenyum dan menerima handphonenya.

“OPPA, KUBILANG JANGAN TERSENYUM SEPERTI ITU!” teriaknya histeris memekakkan telingaku. Aku hanya tersenyum singkat dan mulai mengetik nomerku di handphonenya.

“Nih, kasih nama yang bagus ya. Jangan lupa nanti kau meng-smsku. Pulang yuk, sudah terlalu sore sepertinya. Nanti orang tuamu mencari putrinya,” kataku sambil berdiri. Aku menepuk celanaku ringan dan mengulurkan tangan kearahnya untuk membantunya bangun. Dia tersenyum dan meraih tanganku.

 

HHH

 

SEMINGGU KEMUDIAN

Drrrrt, Drrrrt, Drrrrt

“Aiiiiiish,” getaran itu mengganggu tidurku. Aku bergeser sedikit ke arah meja di samping kanan tempat tidur dan berusaha menggapai handphoneku yang tidak berhenti bergetar.

“YA!” reflekku kaget ketika aku merasakan sesuatu yang lembek, ternyata aku salah arah. Aku malah memegang kepala Ddangkoma, kura-kura kesayanganku. Aku harusnya bergeser ke arah kiri. Aku memutuskan bangkit dan mengambil handphoneku.

Aku kaget melihat nama yang tertera di handphoneku. Park Ri Young *_*.  Buat apa anak ini menelfonku pagi-pagi buta? Aku menekan tombol hijau,

“Yobo....,”

“OPPA BANGUUUUN! BUKA PINTU APARTEMENMU SEKARAAAAANG!” aku menjauhkan handphone itu dari telingaku sebelum telingaku rusak. Aku berjalan lemas menuju pintu depan, masih lengkap dengan kaus oblong abu-abu dan celana tidur.

“Ya! Kenapa kau menggangu tidurku? Ini masih jam 6 pagi Park Ri Young. Semalam aku tidur jam 12 karena harus mendengarkan curhatanmu itu, kau membuat kupingku panas dan batere handphoneku cepat habis. Kau tau itu? Dan sekarang kamu membangunkanku di saat orang-orang lain masih tertidur pulas, seharusnya kau membiarkanku tidur lebih lama Ri Young. Aku ngantuk sekali. Lagipula ini hari Minggu,” kataku panjang lebar, ya disaat seperti ini kebiasaanku keluar, berbicara panjang lebar.

“Sudah selesai?” responnya sambil tersenyum manis kepadaku. “Kau tidak membiarkanku masuk? Tidak baik loh Oppa, membiarkan Putri Musim Gugur berdiri di depan pintu seperti ini,” lanjutnya sambil mendorong tubuhku yang menghalangi pintu masuk dan beranjak masuk ke apartemenku, bahkan akupun belum memberikan izin kepadanya.

“Aku belum mengizinkan kau untuk masuk Ri Young,” ucapku setelah menutup pintu dan menghampirinya. Apa yang dia lakukan di dapurku?

“Aku yakin, seorang pangeran pasti akan mengizinkan seorang putri masuk. Ya kan Pangeran?” jawabnya senang sambil menyiapkan dua mangkuk di depannya.

“Ya! Ini masih pagi Ri Young, belum saatnya kau berbicara seperti itu. Kau mau membuat pipiku merah lagi?” jawabku sambil menarik salah satu kursi makan.

“Haha, itu baru permulaan Oppa. Ayo kau harus temani aku makan bubur ini,” katanya sambil menyerahkan mangkuk yang sudah terisi oleh bubur. Aku menerimanya dan mulai makan perlahan.

“Orang tuamu tidak marah kalau kau datang ke apartemenku sepagi ini? Apa kata orang tuamu nanti?” tanyaku setelah menelan makananku.

“Tenang Oppa, tidak akan. Mereka pasti akan merasa senang melihat aku mempunyai teman sarapan,” jawabnya riang.

“Lah? Lalu kau meninggalkan mereka berdua di apartemen? Mereka lebih membutuhkanmu Ri Young,” ucapku kaget, kenapa dia lebih memilih sarapan bersamaku daripada sarapan bersama orang tuanya.

“Aku belum cerita ya? Aku tidak pernah sarapan dengan mereka lagi sejak saudara kembarku meninggal. Orang Tuaku ikut menghadap Tuhan di hari yang sama dengan saudara kembarku. Mereka kecelakaan saat mau ke pemakaman saudaraku,” jawabnya tenang.

Aigoo, kau bodoh sekali Yesung. Sudah dua kali kau membuka kesedihan hatinya, di pertemuan pertama saudara kembarnya sekarang orang tuanya. Aiish. Tapi mengapa sudah seminggu aku kenal dia, dia baru menceritakannya sekarang?

“Ri Young,” kataku sambil berjalan menghampirinya. Aku memutuskan untuk berlutut di depannya. “Mianhae. Aku bodoh sekali bertanya tentang hal ini,” lanjutku. Kini dia duduk kearahku yang berlutut.

“Kawaenchanha Oppa, kau juga tidak tahu kejadiannya kan? Aku tak apa kok, hehe,” jawabnya mencoba kuat, padahal aku bisa melihat matanya sudah berkaca-kaca dan sekarang satu tetes air matanya sudah menetes dan membasahi pelupuk matanya.

Aku menariknya kedalam pelukanku. “Ri Young, menangislah. Kau tak bisa berusaha tegar terus-terusan seperti itu, aku tahu kau bersedih. Dan setiap orang pasti pernah bersedih dan menangis, kau tak perlu menyembunyikannya seperti itu,” kataku menenangkannya. Tangisnya kini memecah, aku bisa mendengar nafasnya yang berat dan tersenggal-senggal.

“2 tahun belakangan ini aku selalu membuat diriku tegar di depan semua orang Oppa. Aku tidak ingin mereka ikut bersedih karena aku bersedih. Lagipula untuk apa menangis kalau orang tua dan saudara kembarku tidak akan pernah kembali ke sampingku,” ucapnya sambil terus menangis. Aku rasa dia menahan semuanya selama 2 tahun.

“Kau salah. Kau boleh menangis dan sedih, itu hal wajar. Tapi kau tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan itu Ri Young. Kau harus bangkit dan kembali menjalankan hidupmu, kau harus membuat orang tua dan saudara kembarmu di surga bahagia,” jawabku.

“HAAAH, kenapa aku bisa menangis di depanmu sih? Aku malu jadinya Oppa,” katanya sambil memukul punggungku ringan.

“Tak perlu malu, aku sudah terbiasa melihat kejelekkanmu. Dan ingat, kau sudah dua kali menangis dihadapanku,” jawabku jahil. Aku melepaskan pelukanku, “Sudah cukup menangisnya. Masih pagi kau sudah membuat bajuku basah, lagian kau jelek sekali kalau menangis. Putri Musim Gugur harus tersenyuuum,” lanjutku sambil mengapus air matanya dan menarik bibirnya agar membentuk senyum dengan jariku.

“Kamsahamnida, Oppa tampan,” ucapnya sambil mengacak rambutku.

“Choenmaneyo Putri cantik. Hari ini kau mau kemana?” tanyaku sambil merapihkan mangkuk buburku yang masih sisa setengah ke tempat cuci piring, sedangkan Ri Young masih melanjutkan sarapannya. Entah kenapa aku jadi kenyang.

“Hm, sepertinya aku mau mengunjungi makam orangtuaku dan makam saudara kembarku. Sudah lama aku tidak mengunjunginya,” jawabnya setenang mungkin.

“Aku antar ya? Aku mau melakukan sesuatu disana,” kataku sambil mencuci mangkuk buburku.

“Mwo? Kau mau apa disana? Tak usah, aku bisa sendiri,” jawabnya tegas.

“Aaah, Ri Young-ah aku mohon. Aku juga ingin mendoakan mereka,” sergahku cepat sambil memasang tampang memohon dan mengeluarkan senyuman dan pandangan mautku.

“Isssh. Kau tahu kelemahanku Oppa. Baiklah, tapi kau mandi dulu sana. Oiya satu lagi! Kau harus mengizinkanku memberi makan ddangkoma, kalau tidak, aku tidak akan mengajakmu bersamaku. Bagaimana?” tanyanya menantang.

Aku menggaruk kepalaku, “Ya baiklah. Tapi ngasih makannya yang benar ya, jangan kebanyakan seperti kemarin. Dia kura-kura kesayanganku Ri Young,” jawabku akhirnya. Kemarin dia hampir saja membuat ddangkoma mati karena memberi makanan terlalu banyak, aku stress dibuatnya.

“Ne Oppa. Kau mandi sana,” katanya sambil mendorongku pelan ke kamar mandi.

 

Aku dan Ri Young berjalan menuju halte bis tetap menggenggam tangannya yang kecil dan dingin. Aku bisa merasakan angin menerpa wajahku di musim gugur ini. Setelah menunggu beberapa saat bis yang kami tunggu datang juga, dan syukurlah kami mendapatkan tempat duduk.

Setelah 15 duduk di bis, aku dan Ri Young sampai juga di depan gerbang pemakaman umum di pinggir kota.

“Kau masuk duluan ya Ri Young, nanti aku menyusul. Ada sesuatu yang ingin aku beli,” kataku kepadanya. Dia hanya mengangguk ringan dan berjalan memasuki pemakaman umum tersebut.

Aku berlari ke toko di sebrang jalan dan membeli sesuatu disitu. Setelah mendapatkan yang aku inginkan aku memasuki wilayah pemakaman umum tersebut. Pemakaman ini bersih dan terawat. Aku mencari sosok Ri Young di area pemakaman ini. Ya dia berada di balik pohon besar sedang jongkok bertumpu pada lututnya di samping makam, kurasa itu makam saudara kembarnya.

Aku berjalan pelan menghampirinya dan ikut bertumpu di sebelahnya.

“Park Ni Young, apa kabarmu disurga? Kau pasti baik kan disana? Aku yakin Tuhan menjagamu dengan baik disana. Dan Tuhan juga menjagaku dengan baik disini, aku senang karena aku bisa melewati musim gugur tahun ini. Kau bisa merasakannya juga kan Ni Young?” ucap Ri Young sambil menatap nisan bertuliskan nama Park Ni Young. Aku bisa melihat dia menahan air matanya.

“Aku kesini tidak sendiri loh Ni Young. Aku bersama Pangeran Musim Gugur. Kim Jong Woon Oppa namanya, dia tampan dan aku suka sekali dengan tatapan dan senyumnya. Sudah seminggu ini dia yang selalu menjagaku,” lanjutnya lagi sambil menatapku sambil tersenyum. Aku pun balas tersenyum.

“Hai Ni Young, Kim Jong Woon imnida. Kau tenang saja ya Ni Young, aku akan menjaga Putri Musim Gugur yang cengeng ini. Aku juga meminta izinmu agar aku bisa menjaganya,” kataku sambil menatap ke nisan Ni Young lalu ke Ri Young. Ri Young tersenyum tipis dan menutup matanya untuk mendoakan Ni Young. Aku pun ikut memejamkan mataku.

“Ni Young sudah dulu ya. Aku mau ke makam Appa dan Umma dulu, kapan-kapan aku akan mengunjungimu lagi,” kata Ri Young sambil berdiri dan menarikku tanganku untuk mengikutinya.

Aku dan Ri Young berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam Appa dan Ummanya Ri Young. Tidak terlalu jauh dari jarak makam Ni Young. Ternyata makam Appa dan Ummanya Ri Young tidak ada sekatnya seperti makam-makam lain. Makam mereka tepat bersebelahan jadinya ukurannya agak lebih besar dari makam lain.

“Appa, Umma apa kabar? Mian aku baru sempat berkunjung kesini lagi. Aku yakin Appa Umma pasti baik-baik kan? Kalian juga bertemu Ni Young kan di surga? Tadi aku baru saja berkunjung ke makam Ni Young. Aku rindu sekali pada kalian Appa, Umma. Tapi kalian tidak perlu khawatir denganku, karena aku yakin kalian juga pasti menjagaku kan dari Surga? Aku bisa merasakan itu,” kata Ri Young sambil bertumpu lagi di samping makam.

“Appa Umma, kalau biasanya aku kesini sendiri, sekarang aku membawa temanku. Dia Pangeran Musim Gugur,” lanjutnya lagi. Sekarang dia benar-benar membuat sungai di kedua pipinya walaupun memang belum terlalu deras.

“Annyeong Appa, Umma. Tak apa ya kalau aku ikut memanggil kalian Appa Umma? Aku Kim Jong Woon, teman sekaligus Pangeran Musim Gugur untuk putri kalian. Em, sekarang sih memang masih teman, tapi sebentar lagi aku akan meminta putri kalian untuk menjadi yeojachinguku. Kalian setuju tidak?” kataku. Ri Young memandangku bingung sambil menhapus air matanya yang menetes.

“Tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Sebisa mungkin aku akan menjadi Appa, Umma, saudara, namjachingu, dan pangeran musim gugur untuknya. Aku sangat mencintai putri kalian, aku benar-benar ingin menjadi pangeran musim gugurnya. Walaupun putri kalian itu yeoja yang aneh, suka menangis tiba-tiba, suka membangunkanku pagi-pagi buta, suka membuat kura-kuraku lebih cepat mati....,”

“YA! Kenapa kau menceritakan semua kejelekanku di depan orang tuaku Jong Woon Babo?” ucapnya sambil memukul kepalaku ringan.

“Tuh kan Appa, Umma. Dia suka kasar kepadaku seperti tadi hehe, walaupun dia begitu, tapi aku tetap mencintai putri kalian yang cantik ini. Dia yeoja yang selalu berusaha tersenyum walaupun hatinya menangis. Dia yeoja yang selalu berusaha membuat orang di sekitarnya bahagia. Dia yeoja yang bisa membuatku jatuh cinta pada sikap uniknya. Dia yeoja yang jujur dan polos, bahkan dia blak-blakan menyukai senyuman dan tatapanku,” lanjutku tersenyum menatap gundukkan tanah di depanku ini.

“Huaaaaa!”

“Hei, kau kenapa menangis?” tanyaku panik ketika melihat Ri Young dengan pipi yang sudah basah. “Sudah kubilang kau jelek kalau menangis. Jangan menangis sssuuuut. Malu sama Appa-Umma mu dong Ri Young,” kataku sambil membelai rambutnya.

“Oppaaaaaaaaaaaa,” tangisnya makin meledak. Ssh aku bingung, kenapa dia menangis sekarang?

“Suuut sudah. Ayo kita berdoa untuk Appa-Umma mu. Lalu kita ke taman tempat pertama kali kita bertemu ya!” Aku dan Ri Young memejamkan mata dan mendoakan Appa-Umma nya Ri Young.

 

“Duduk sini sebentar,” kataku kepada Ri Young. Aku dan Ri Young sekarang duduk di balik pohon besar tempat pertama kali kami bertemu.

Aku menatapnya sekilas, “Bagaimana? Aku boleh tidak menjadi Pangeran Musim Gugurmu sekarang?” tanyaku mantap.

“Mwo? Kau kan sudah menjadi Pangeran Musim Gugurku, Oppa,” jawabnya sambil menundukkan kepalaku.

“Kau harusnya mengecilkan volume detak jantungmu itu Ri Young, hehe. Kemana Ri Young yang blak-blakkan? Kemana Ri Young yang selalu lancar kalau sedang berbicara? Tadi kan aku sudah minta izin kepada Appa-Ummamu, apa jawabanmu sekarang? Aku memintanya sekarang!” kataku tersenyum saat melihat pipi Ri Young kemerahan.

“Hm, gimana ya? Susah Oppa,” jawabnya sambil menatapku.

“Susah apanya?” tanyaku heran, sssh kalau ditolak bagaimana?

“Ya susah, aku susah menolah namja yang mempunyai senyum dan tatapan maut sepertimu,” jawabnya tersenyum jahil. Bibir dan hatiku tersenyum mendengar jawabannya, dan sekarang aku yang harus mati-matian menjaga volume jantungku.

“Hm, aku yakin kau tidak akan bisa menolakku. Ya kan? Eh coba kau ke belakang pohon ini. ada sesuatu yang harus kau ambil disana,” kataku sambil memeluk kakiku yang dilipat.

“Ha? Ada apa, namjachinguku?” jawabnya sambil bergegas menuju ke belakang pohon tempat aku dan Ri Young duduk.

“Oppa, kamsahamnida,” katanya setelah kembali berjongkok di sebelahku dan memegang sejenis bola kaca kecil yang didalamnya terdapat pohon kecil dengan daun yang berwarna kecoklatan seperti daun musim gugur. Di bawah bola tersebut juga ada beberapa daun yang berguguran.

“Cheonmaneyo jagii~~ Kau suka?” tanyaku kepadanya. Dia hanya mengangguk manis. “Coba kau tekan tombol bawahnya,” kataku. Dia menuruti perkataanku dan menekan tombol yang berada di bawah bola itu.

“WAAAAH, KEREEEEN! Aku suka, gomawo Oppa,” katanya setelah melihat daun-daun yang dibawah berterbangan seperti di terpa angin musim gugur.

“Terimakasih sudah mau menjadi Putri Musim Gugurku,” kataku sambil mendekatkan wajahku kepadanya.

“Hehe, terimakasih sudah mau menjagaku dan sudah memintaku untuk menjadi Putri Musim Gugurmu,” jawabnya senang. “Saranghae~~”

“Nado Saranghae,” jawabku sambil merangkul pundaknya dan menatap daun yang berguguran di hadapanku.


Read more...

Senin, 05 Juli 2010

In Jakarta With Love (sekuel From Jakarta With Love)

“Hoammmmmm!” aku merenggangkan tanganku perlahan. Jam setengah 6. Waw rekor baru telah tercatat. Aku bangun 30 menit lebih awal dari alarm jam bekerku dan rebana kakakku. Aku membuka tirai kamarku dan sudah mendapati beberapa orang yang sedang berjogging ria, ya wajarlah hari ini hari Sabtu.

Aduh, kenapa perutku tiba-tiba sakit sih? Yak! Morning sick! Aku menyambar handuk dan segera berlari kekamar mandi karena sudah tidak tahan >.<

”WOOOOOOOY, BANGUUUUUUUN! DUNG DUNG DUNG!”

Wot? Suara apaan tuh? Wahahah, itu pasti Kakakku lengkap dengan suara cempreng dan rebana kesayangannya, batinku ketika aku menatap kaca dan bercermin setelah aku selesai mandi. 2 minggu yang lalu Kakakku itu membeli rebana, katanya dia sengaja membeli barang itu agar bisa membangunkanku di pagi hari.

”Loh? Kok?” kata Kakakku bengong ketika melihatku sudah rapi keluar dari kamar mandi. Benerkan dia lagi megang rebana.

”Kenapa Kakakku sayang? Kaget ya adikmu yang cantik ini udah bangun trus udah mandi? Iya kan? Iya dong? Iya aja udah! Untuk pagi ini rebana loe gak mempan buat gue! Keluar sana gue mau dandan!” jawabku sambil mendorong tubuhnya keluar dari kamarku. Ekspresinya belom berubah, masih kayak sapi bengong.

”YAAH, NGAPAIN GUE MAHAL-MAHAL BELI REBANA? LOE GAK TAU SIH PERJUANGAN GUE BELI REBANA INI. GUE SAMPE NGEMIS-NGEMIS SAMA IBU PENGAJIAN KOMPLEK BIAR GUE BISA DAPET SATU REBANA. KAN HARUSNYA GUE BELI SEPAKET TUH,” teriak Kakakku dari luar kamarku. Aku hanya cekikikan mendengar perkataannya. Lagian siapa suruh beli rebana segala, orang mah beli drum gitu biar kerenan dikit, ini beli rebana.

Aku berdandan seadanya dan mematut diriku di depan kaca. “Seperti biasa, loe udah cantik Jume,” kataku pada diriku sendiri sambil tersenyum *yaks*. Aku mengambil tasku dan menuruni tangga rumahku.

“Bang, gue berangkat ya!” kataku kepada Kakakku yang sibuk menonton berita tentang Ariel dan Luna Maya. Ih aku bingung, kenapa dia seperti ibu-ibu PKK yang kalau pagi kerjaannya nonton gosip sih.

“Gak sarapan?” tanyanya tanpa melihat kearahku. ”Gila, mirip banget ya!” katanya lagi sambil melotot ke arah tivi. Ah ngelebihin ibu-ibu PKK ini mah sampe ngomentarin segala.

“Nggak, gue buru-buru. Daah!” kataku menutup pintu depan rumahku.

Naik apa ya kesana? Batinku ketika sampai membuka pagar rumahku.

”Neng, mau naik ojek?” kata tukang ojek bak pahlawan yang tiba-tiba sudah ada di depanku sambil menaik-turunkan alisnya kepadaku. Aku berfikir sejenak, sepertinya boleh juga nih abang ojek.

”Berapa Bang? Goceng ya? Cuma ke depan komplek doang kok trus belok kanan, luruuuus, belok kiri, luruuuus, trus nyampe deh,” kataku akhirnya sambil menjelaskan alur jalan yang akan aku tuju.

”Goceng Neng? Buset dah, anak istri abang mau dikasih makan apaan kalo cuman goceng?” jawab si abang kaget.

”Ehm, ntar saya kasih bonus deh Bang buat makan anak istri Abang, lagian deket kok bang cuman lurus belok kanan belok kiri doang Bang. Lagian jarang loh Bang, cewe secantik saya mau naik ojek,” kataku asal meyakinkan abang ojek ini sambil mengerlingkan mata.

”Yeh si Eneng. Dimana-mana jalanan mah emang cuman lurus belok kanan belok kiri doang Neng, gak ada yang melengkung. Tapi yaudah lah, naik deh Neng, tapi ntar beneran kasih bonus ya,” kata Si Abang luluh. Aku mengembangkan senyum termanisku dan duduk di belakang abangnya.

”Kemooooon Neng,” kata si Abang sambil meng-gas motornya, nih abang rada-rada kayaknya.



”Makasih ya Bang, Abang emang the best deh,” kataku sambil menepuk-nepuk pundak si Abang lalu merogoh tasku mencari duit lima ribuan.

”Lah, si Eneng gimana sih? Katanya deket, ini mah jauh banget buset. Lurus belok kanan belok kiri sih iye, cuman jauh bener, Masyaaloh,” jawab si Abang sambil menyeka peluh-peluh keringat.

”Haha, yang penting kan saya gak boong. Cuman lurus belok kanan, lurus belok kiri deh. Yakan bang? Nih bang saya tambahin goceng deh ongkosnya. Trus ini ada 4 roti buat makan anak istri abang. Makasih ya Bang,” jawabku sambil menyerahkan dua lembar lima ribuan dan 4 bungkus roti.

”Waw, makasih Neng,” jawab si Abang sambil tersenyum dan segera mengendarakan motornya menjauh dariku.

Aku berjalan mendekati rumah mewah di depanku. Aku membuka gerbangnya perlahan dan berjalan menuju ke depan pintu masuk.

TING TONG

”Wah, Non Jume. Masuk Non,” sapa seseorang berseragam pelayan dengan bahasa Indonesia ketika membukakan pintu untukku. Namanya Seka kalau nggak salah.

”Yaampun. Gausah manggil Non gitu ah. Kita kan seumuran. Panggil Jume aja,” jawabku kepada pelayan itu. Aku memperhatikan pelayan ini dari atas sampai bawah, dia lumayan cantik untuk ukuran seorang pelayan. Awas saja kalo pacarku bermain mata dengannya.

”Ah gaenak Non. Nyari Tuan ya? Tuan masih di kamarnya, non keatas aja. Silahkan masuk Non,” jawabnya sopan sambil mempersilahkan aku masuk. Aku masuk kedalam rumah besar ini, ini kedua kalinya aku menginjakkan kakiku di rumah ini.

Setelah tersenyum sekali lagi kepada Seka, aku beranjak menaiki tangga menuju kamar si Tuan yang disebutkan tadi. Aku mengetuk pintu kamarnya dua kali.

”Masuk saja, tidak dikunci,” terdengar suara seseorang dari dalam. Dia sudah bangun ternyata. Aku membuka pintu kamarnya pelan dan mendapatkan sesosok pria tegap sedang memandang ke arah jendela.

”Annyeong, Oppa,” sapaku kepada pria itu. Hening, lah kok dia gak jawab sih? Masa baru sehari gak ketemu dia langsung bisu?

”Oppa, annyeong! Kenapa kau tidak menjawabku? Kau tidak rindu padaku?” tanyaku sekali lagi setelah menutup pintu kamarnya dan menghampirinya.

”Kau tadi kesini sama siapa?” responnya dingin dengan bahasa Inggris.

“HAHAHAHAHA, Oppa! Aduh perutku sakit, sumpah!” jawabku sambil memegangi perutku yang sakit karena tertawa terlalu kencang. Aku mulai mengerti kenapa dia bersikap dingin seperti itu. Dia cemburu sama abang Ojek?

”Heh, kenapa kau ini malah tertawa? Aku kan bertanya kau kesini sama siapa? Kau tidak memikirkan perasaanku ya? Kau kesini, ke rumah pacarmu bersama lelaki tua kurus hitam itu. Aku kan pacarmu Zume, aku lebih tampan dan lebih muda darinya,” jawabnya panjang lebar sambil sedikit mengeluarkan kuah saking semangatnya. Ya kan benar tebakanku.

”HAHAHAHA. Oppa! yang tadi itu ojek namanya. Itu transportasi di Jakarta juga Oppa! Itu transportasi tercepat, aku harus menaiki itu kalau mau cepat sampai sini. Kemarin kan kau yang memintaku untuk datang pagi kerumahmu,” jawabku masih memegangi perutku yang masih sakit.

”Ozek? Ya mianhae. Aku kan baru dua hari berada di Jakarta, aku tidak tahu kalau ada transportasi seperti itu,” jawabnya sambil menatapku. ”Kau sakit perut ya?” tanyanya lagi sambil menatapku khawatir.

”Haha, tak apa Oppa,” jawabku sambil membalas tatapannya. Uuugh, aku bisa melihat ketulusan dari tatapan matanya.

”Aku rindu padamu,” katanya lagi sambil menarik tubuhku kepelukannya. Aku membalas pelukannya, bukannya aku nggak tau kalo aku belum muhrim dengan lelaki yang memelukku ini, tapi mau bagaimana lagi? Aku juga rindu padanya. Aku rindu padamu Jang Geun Seok dan sepertinya pelukannya itu mengandung magnet ^^ Lagian kapan lagi dipeluk bule Korea hahaha.

”Kemarin aku belum sempat memelukmu,” katanya lagi. Kini suaranya terdengar jelas di telinga kananku. Awawaw suaranya membuat bulu kudukku merinding.

”Tuan, makanannya......,” ucap seseorang sambil membuka pintu secara tiba-tiba. Aku dan Jang Geun Seok refleks melepaskan pelukan kami yang lagi seru-serunya. Ah siapa sih ganggu aja deh -___-

”HEI, KENAPA TIDAK MENGETUK PINTU DULU?” ucap Jang Geun Seok geram sambil menatap tajam wanita paruh baya yang ternyata Ibu Hana, pelayan pribadi Jang Geun Seok. Aku memegang lengannya, mulai deh keluar emosiannya.

”Maaf, Tuan. Maaf, saya tidak tahu kalau Tuan sedang...,” ucapnya terpotong. Aku hanya bisa menahan tawa, akupun kalau jadi dia mungkin bingung mau berbicara apa. ”Mmm, saya hanya ingin mengatakan sarapannya sudah siap, saya keluar Tuan. Maaf sekali lagi,” ucapnya panik sambil keluar dan menutup pintu rapat.

”Sudahlah Oppa. Kau tak perlu emosi seperti itu. Hanya masalah kecil kan?” kataku sambil menepuk pundaknya.

”Tapi dia mengganggu Zume, aisssh,” jawabnya sambil mengacak-acak rambutnya. Oh No! No! Pipiku panas.

”Menggangu? Mengganggu apa?” tanyaku jahil kepadanya. Yeah BINGO! Kali ini aku bisa melihat semburat garis-garis merah di pipinya.

”Ya, mengganggu! Ya pokoknya ganggu lah,” jawabnya terbata-bata.

”HAHAHA, PIPIMU MERAH OPPA. Kau belum mandi ya? Bau! Mandi sana. Aku tunggu dibawah ya, kita sarapan bareng,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan.

Dia memandangku dengan pandangan memohon dan menunjukan muka ter-imutnya, ”Hm, nanti peluk lagi ya. Ya? Ya?,” katanya sambil memainkan jariku dan mengerlingkan matanya.

Aku tersenyum melihat tingkahnya, ”YA! Gampang diatur itu. Tapi yang jelas aku tidak akan pernah memeluk orang bau sepertimu. Mandi, cepaaat!” jawabku sambil berjalan keluar dari kamarnya.

Aku menuruni tangga satu-satu dan beranjak ke ruang makan. Dan aku duduk disalah satu kursinya. Hm, aku belom cerita ya? Kemarin Geun Seok menepati janjinya untuk datang lagi Indonesia dan menemuiku. Kemarin juga aku sudah kesini mengantarkan Geun Seok ke rumahnya di Jakarta.

Selama seminggu kemarin aku sedikit-sedikit belajar bahasa Korea. Malu-maluin kan kalo punya pacar orang Korea cuman gabisa bahasa Korea haha. Dan Geun Seok juga yang menyuruhku memanggilnya Oppa, awalnya aku bingung cuman yasudahlah.

”Nona, maaf tadi saya sudah....,” kata Bu Hana tiba-tiba menghampiriku.

”Nggak apa-apa bu. Cuman masalah kecil kok, hehe saya yang harusnya malu,” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak sebenarnya gatal.

”Tapi kayaknya Tuan marah banget, Non,” katanya lagi sambil menundukkan kepalanya.

”Dia emang gitu bu. Suka emosian tiba-tiba,” jawabku meyakinkan. Apalagi kalo kesenangannya diganggu, tambahku dalam hati hahaha.

”Bu, maaf saya tadi sudah keterlaluan membentak Ibu,” kata Jang Geun Seok tiba-tiba sudah muncul dan duduk di kursi sebelahku. Aku menatapnya bangga, aku tidak menyangka Tuan besar ini memiliki hati yang besar juga.

”Saya yang seharusnya minta maaf, Tuan. Saya janji lain kali akan mengetuk pintu,” jawab Ibu Hana sambil tersenyum. Geun Seok hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ibu Hana pun pergi meninggalkan ruang makan.

”Kenapa kau memandangku seperti itu?” tanyaku ketika Geun Seok memandangku aneh dan mencondongkan mukanya ke arahku.

”Kapan kau akan memelukku? Aku sudah wangi sekarang,” tanyanya sambil tersenyum nakal.

”Issssh, makan dulu sarapanmu, nanti kapan-kapan kau boleh memelukku lagi,” kataku sambil membalikkan piring yang telungkup di depannya kemudian menaruh nasi dan lauk dipiringnya,



HHH



”PRJ sudah tidak ada lagi ya, Zume?” tanya Geun Seok ketika kami dalam perjalanan menuju supermarket untuk membeli segala keperluan untuknya selama di Jakarta.

”WAAAH, kau sudah bisa mengucapkan kata PRJ dengan baik. Kenapa kau tetap memanggilku Zume? Eh iya, baru dua hari yang lalu penutupan acaranya,” jawabku sambil melihat kearahnya. Lagi-lagi dia menatap keadaan Jakarta, kenapa dia suka sekali sih melihat keadaan Jakarta.

”Anggap saja panggilan sayang dariku ya,” jawabnya sambil menengok kearahku dan tersenyum. KYAAA~ pipiku memerah.

”Kau mulai masuk kantor Senin besok ya, Oppa?” tanyaku masih dengan pipi yang merah.

”Ya. Kenapa?” jawabnya dan malah bertanya balik kepadaku.

”Kwaenchanha, yeobo. Sukses yaa!” ucapku sambil mengacak rambutnya, lebih tepatnya merusak tatanan rambutnya.

”Waw! Kau banyak mengetahui Bahasa Korea sekarang? Belajar ya? Kau juga harus mengajarkanku bahasa Indonesia ya, Zume,” katanya antusias setelah mendengar aku berbicara bahasa Korea tadi.

”Cobalah belajar sendiri. Aku juga kan belajar sendiri, wee,” jawabku sambil memalingkan wajahku. Dia hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya tidak jelas.

Setelah sekitar 20 menit, kami sampai di depan supermarket besar. Dan seperti biasa, kami, hm lebih tepatnya Geun Seok menjadi pusat perhatian. Banyak gadis-gadis remaja yang berbisik bahkan terang-terangan senyum semanis-manisnya ketika melihat Geun Seok. Ya! Sayangnya aku sedang tidak memakai wedges sekarang, tapi sneakers boleh juga kayaknya buat nimpuk orang.

”Hei, kenapa mereka melihat aku seperti itu, Zume?” tanyanya risih menjadi pusat perhatian seperti itu.

”Kau tampan, Oppa. Ya pastilah kau menjadi pusat perhatian,” jawabku pura-pura ketus kepadanya. Apa ya ekspresinya?

Dia hanya tersenyum dan melihat kearahku sekilas kemudian meraih tanganku sambil tetap berjalan menuju troli belanjaan. KYAAAAA! Reaksi yang aku harapkan.

”Lepaskan tanganku. Kau yang mendorong dan aku yang akan menuntunmu mencari keperluanmu ya?” ucapku sambil melepaskan tangannya kemudian menyodorkan troli belanjaan kepadanya. Dia hanya pasrah dan mengikutiku.

”Kau mau sabun yang mana, Oppa? Yang ini wanginya enak. Mau?” tanyaku sambil menyodorkan sekotak sabun agar dia bisa mencium harumnya ketika aku sampai di rak perlengkapan mandi.

”Kau gila ya? Ini sabun perempuan. Mana mungkin aku memakai sabun berwarna pink ini!” katanya geram sambil menjitak kepalaku.

”HAHAHA, aku bercanda. Ayo kau pilih sendiri. Sekalian shamponya juga ya. Aku kesana dulu,” jawabku sambil berjalan ketempat pasta gigi dan sikat gigi. Aku mengambil 2 pasta gigi, 3 bungkus sikat gigi. Setelah semuanya lengkap aku menghampirinya.

“Anak baik. Ayo dorong lagi! Kita lanjut mencari gula, kopi, teh, dan makanan ringan untukmu,” kataku sambil berjalan mendahuluinya.

“Hei kenapa kau meninggalkanku sih? Kau tidak lihat itu banyak perempuan yang mengikutiku,” katanya begitu dia sudah berhasil menyusulku. Aku melihat kearah belakang dan ya aku mendapati banyak gadis yang masih tersenyum-senyum sok manis ke arah Geun Seok. Haha, otak setanku mulai beraksi sepertinya. Dengan sigap aku meraih lengan tangan Geun Seok dan aku bisa mendengat teriakkan, cacian, makian, dan kata-kata penyesalan dari arah belakangku.

“Belinya sekalian banyak aja ya?” tanyaku kepadanya sambil melihat-lihat gula yang akan aku beli.

“Iya, eh kopi ini enak tidak?” tanyanya sambil menunjukkan kardus balok berisi kopi instan kepadaku.

“Enak kok, kakakku juga minum kopi ini. Kau mau? Tapi milihnya yang masih bagus ya kardusnya, liat tanggal kadaluarsanya juga,” ucapku kepadanya. Dia mengangguk dan memilih kardus kopi yang masih bagus dan melihat tanggal kadaluarsanya, haha nurut banget sih.

“Gulanya tiga sama teh 2 bungkus cukup nggak?” tanyaku sambil menunjukkan gula dan teh di tanganku.

“Cukup kok, sini,” katanya sambil mengambil gula dan teh dari tanganku dan menaruhnya di troli.

“Cari makanan sama mie instan yuk, Oppa,” ucapku sambil menghampirinya. “Kau sedang apa?” tanyaku aneh ketika melihatnya sedang menyusun barang belanjaan di dalam troli. Rapiiiii bangeeet, disusun dari yang paling gede sampe kecil.

“Lagi merapikan belanjaan lah. Kau tidak liat? Dulu saat aku di Korea, aku selalu merapikannya agar terlihat rapi dan enak diliat. Sejauh aku melihat semua barang di dalam trole disini berantakan,” katanya masih tetap menyusun belanjaannya.

“Ini kan Indonesia, Oppa. Yasudahlah terserah kau saja. Ayo cari makanan sama mie instan!” ucapku sambil menarik-narik tangannya seperti anak kecil.

”KYAAAA! TIDAAAAAAAK!” terdengar suara seorang gadis yang histeris dibelakangku. Aisssh apa lagi sekarang? Aku dan Geun Seok menoleh kebelakang dan ya! sekarang lebih banyak gadis yang berada di belakangku. Aaaah

Aku menarik lengan Geun Seok cepat menuju tempat makanan dan mie instan. Aku sudah tidak tahan, hidupku sudah tidak aman lagi sekarang. Kalau begini terus lama-lama aku akan menyewa bodyguard, oke itu bukan ide yang bagus sepertinya.

“Beli mie nya yang banyak ya, Zume,” Geun Seok memasang tampang termanisnya saat mengatakan itu padaku.

“Ne, tapi jangan terlalu sering makan mie ya. Seminggu sekali saja nanti usus buntu. Kau harus banyak makan sayur-sayuran hijau,” kataku panjang menceramahinya wakakak bodo ah panas-panas deh kupingnya.

”Kau cari snack gih sana,” lanjutku kepada Geun Seok yang masih menungguiku memilih mie instan. ”Kenapa belom bergerak? Cepat cari snack,” kataku lagi mengulangi perkataanku.

Dia hanya menoleh sedikit ke arah tempat snack, aku ikut menoleh dan ternyata fans bule Korea ini sudah menunggu disitu. Astagfirullah, mau mereka semua apa sih? Mereka bukannya mau belanja ya? Kenapa malah ngikutin daritadi?

”Baiklah nanti saja ke tempat snacknya bersamaku,” kataku lagi sambil memasukkan beberapa bungkus mie instan. ”Minyak goreng dirumahmu ada kan?” tanyaku kepadanya.

”Masih, lagipula tadi Bu Hana hanya menyuruh membeli ini kan? Tinggal snack untukku saja yang belum,” jawabnya santai sambil memperhatikan gerak-gerikku. Jantungku bergemuruh sekarang.

”Kenapa kau suka memperhatikanku seperti itu sih?” tanyaku sambil menantang tatapan matanya.

”Mau tau aja. Ayo cepat ke tempat snack, aku mau cepat-cepat pergi dari supermarket ini,” katanya sambil menarik tanganku menuju tempat snack. Dengan sigap dia mengambil beberapa makanan ringan secara asal.

”Hey! Liat tanggal kadaluarsanya dulu, Oppa,” kataku kepadanya. Aku heran, kan dia belum tentu suka sama snacknya tapi kenapa dia malah asal memasukkan snacknya ke troli.

”Oiya, lupa,” katanya singkat lalu menuju ke troli belanjaannya dan melihat tanggal kadaluarsanya.

”Kenapa kau mengambil asal snack itu? Kau yakin akan menyukai semuanya? Lidahmu kan lidah Korea Oppa,” protesku melihat kelakuannya.

”Kalau aku tidak suka kan seenggaknya ada kamu yang akan menghabiskannya,” jawabnya jahil. ”Ayo ke kasir, aku ingin cepat pergi dari tempat ini,” lanjutnya sambil mendorong troli sambil mengait tanganku menuju kasir.

”Mba, kok diem aja? Ini tolong dihitung belanjaannya. Atau saya yang ngitung sendiri?” ucapku ketus kepada mba-mba kasir genit-ganjen-gatel yang daritadi malah bengong pas aku dan Geun Seok sampai di kasir.

”MBA! MASYAALLAH MBA! SAYA FRUSTASI NIH!” teriakku frustasi. Emang sih niatku untuk menyadarkan mba-mba ini berhasil, sekarang dia emang lagi ngitung belanjaannya tapi tetep aja matanya gak berhenti kedip-kedip kayak orang ayan T.T

Geun Seok menatapku iba dan tersenyum maniiiiis. Ya, dia tau cara menaikkan moodku yeaaah \m/.

Akhirnya sekarang aku berada di parkiran mobil, tepatnya di belakang mobil Geun Seok hendak memasukkan belanjaan yang kami beli hari ini. Dan akhirnya kami pulang ke rumah Geun Seok.



HHH



”HAAAH SAMPE JUGA!” ucapku lega sambil menjatuhkan tubuhku di sofa empuk yang terletak di ruang keluarga rumah Geun Seok.

”Mwo? Ngomong apa barusan? Kenapa pake bahasa Indonesia? Aku kan nggak ngerti,” samber Geun Seok sambil ikutan duduk disampingku. Aku lupa kalo tadi aku ngomong pake bahasa Indonesia.

”Bukannya kau bisa bahasa Indonesia?” tanyaku aneh. Dulu di bilang dia bisa Bahasa Indonesia.

“Dulu kan aku hanya bilang sedikit mengerti, kalo kata-katamu tadi aku tidak mengerti,” jawabnya sambil menggaruk kepalanya. Aku hanya mengangguk sedikit dan mengutak-atik handphoneku. “Bu Hana, Seka kesini sebentar,” panggil Geun Seok tiba-tiba.

Yang dipanggil datang dengan tenaga turbo, “Ya Tuan, ada apa?” tanya Bu Hana sopan.

“Itu belanjaan di mobil ambil trus beresin ya,” ucap Geun Seok. Manja banget sih, minta digetok banget. Bu Hana dan Seka hanya mengangguk dan berlari menuju mobil.

”IH! Kau manja sekali sih Tuan Besar. Mereka kan capek seharian membersihkan rumah mewahmu ini! Sssh,” hardikku kesal kepadanya.

”Ya! Aku juga capek habis belanja seharian di supermarket. Lagipula itu juga tugas mereka kan?” jawabnya santai.

”Trus kalau kau membeli celana dalam harus mereka juga yang merapihkannya? Kau tidak malu?” tanyaku kesal.

”Ya, ya aku tidak mau ribut denganmu sekarang. Aku capek. Baiklah lain kali aku akan merapihkan barang-barangku sendiri. Mengerti Nona manis? Mianhaeeee e e e,” jawabnya sambil merebahkan kepala dipundakku. Aisssh aku harus pake tenaga dalam untuk mengubah Tuan Besar manja ini sepertinya.

”Mianhae. Maafin yaaa Yeobo. Dimaafin kan?” tanyanya lagi sambil memijat-mijat jariku. Ngapain sih mijet jari? Mijet tuh di pundak kalo nggak kaki gitu, jariku kan gak pegal *-*

”Iya, iya. Mandi sana! Sudah sore. Nanti kau harus mengantarku pulang ya, Oppa,” kataku mengelus rambutnya ringan. Dia langsung berlari ke kamarnya, kenapa sekarang cepat sekali disuruh mandi? Aneh.

5 menit kemudian aku memutuskan untuk naik ke kamar Geun Seok.

”Oppa, sudah belum mandinya?” ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya.

”Sudah, masuk saja!”

Jreng jreng aw aw aw. Rambutnya basah, wajahnya keliatan sangat segar habis mandi. Dan kamar ini jadi harum karena bau sabun dan kamar mandi yang masih terbuka. Kalo di dunia khayalan, mungkin mataku sudah berubah bentuk jadi love +-+

”Wangi sekali Oppa,” komentarku sambil menutup pintu kamarnya.

”PAK, TOLONG SIAPKAN MOBIL!” teriak Geun Seok dari balkon kepada supirnya.

”AIIIIH! KENAPA KAU SERING SEKALI BERTERIAK? TIDAK SOPAAAN! Walaupun kau ini tuan besar, kau harus tetap bersikap sopan kepada pelayan-pelayanmu. Karena mereka juga yang membantumu,“ ucapku gemas kepadanya.

”HEHE, Mianhae. ini yang terakhir,” jawabnya tersenyum sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.

”Eh, aku wangi kan?” tanyanya.

”Hm, wangi wangi. Lumayanlah daripada tadi,” ucapku setelah pura-pura mengendus badannya.

”Berarti kau harus menepati janjimu,” katanya sambil tersenyum jahil.

”Janji? Janji apa?” tanyaku penasaran. Memangnya aku pernah membuat janji apa? Penyakit lupaku kambuh.

Dia berjalan mendekatiku. ”Kalau aku sudah wangi, aku kan boleh memelukmu,” jawabnya senang sambil langsung memelukku tanpa meminta izin terlebih dulu. Dan lagi-lagi walaupun aku tahu dia bukan muhrimku tapi tetap saja aku tidak bisa menolaknya. Maafkan hambamu ini Ya Allah.

”Zume,” dia memanggilku halus.

”Hm,”

”Terimakasih,”

”Untuk apa?”

”Karena hari ini kau sudah menemaniku berbelanja. Kau sudah mengajarkanku banyak hal hari ini. Mulai dari harus teliti dalam membeli barang dan harus menghormati semua orang. Aku janji aku akan merubah sikap burukku, kau bantu aku ya! Ingatkan aku kalau aku salah,” ucapnya sambil mengelus rambutku pelan. Aku mau pingsan ini. Bagaimana?

”Iya. Aku akan membantumu berubah. Kita kan harus saling melengkapi,” jawabku setenang mungkin menyembunyikan perasaan gugupku.

”Satu lagi. Terimakasih kau menepati janjimu,” ucapnya lagi.

Pipiku memerah sekarang olalala.

BRAAAAK!

”Tuan besar, mobilnyaaa .....,”

Aku dan Geun Seok reflek melepas pelukan kami.

”Ada apa? Mobilnya sudah siap?” tanya Geun Seok tenang walaupun aku bisa melihat kalau dirinya menahan emosi.

”Eh, anu iya Tuan, mobilnya sudah siap, permisi,” jawabnya takut-takut.

Jang Geun Seok menatapku lalu tersenyum sambil mengelus-elus dadanya sendiri. Aku mengacungkan jempol dan tertawa terbahak-bahak.

”SSSSH, jangan ketawa mulu. Ayo aku antar kau pulang,” katanya sambil menarik tanganku keluar kamarnya.

”Kau harus mengingatkanku ya! Aku harus memasang ’KALAU MAU MASUK, HARUS KETOK DULU’ disini,” katanya sambil menunjuk pintu kamarnya.

”HAHAHAHA,......”



-THE END-

Read more...