Aku melihat kearah jendela kamarku dan menatap ke arah langit cerah di sore hari ini. Banyak masyarakat Korea yang berjalan santai di pinggir jalan besar dengan rambut yang tertiup angin. Aku reflek tersenyum melihatnya, sudah musim gugur ternyata.
Kebanyakan orang Korea menyukai musim gugur, termasuk aku. Aku suka musim gugur, cuacanya cerah, tidak panas dan juga tidak begitu dingin, taman-taman kota, terlebih lagi daerah pegunungan menawarkan pemandangan yang sangat indah. Belum lagi warna daun yang akan berwarna-warni kalau musim gugur tiba.
Aku mengambil jaket di balik pintu apartemenku dan berjalan keluar. Ketika selesai mengunci pintu aku melihat seorang yeoja yang berlari kencang kearahku, ya! Sangat kencang!
“YA! STOOOOOOOOOOOP!”
BRUUUUUUG!
Aduh! Pantatku panas sekarang, sakit sekali rasanya Tuhan. Yeoja ceroboh ini sukses menubrukku dan sekarang badannya menindihku. Pantatku sakit ditambah nafasku habis harus menahan badannya.
“Mianhae Tuan. Saya tidak sengaja,” ucapnya panik sambil beranjak dari tubuhku. Dia mengulurkan tangannya menawarkan bantuan agar aku bisa bangun. Aku meraih tangannya, tangannya halus sekali.
“Mianhae Tuan. Maaf sekali lagi, maaf,” katanya lagi ketika aku sudah bangun dan sedikit merapihkan baju dan jaket tebalku yang sedikit berantakan. Aku menatapnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. MWO? Dia memakai sepatu roda?
“Ne, kwaenchanayo. Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Eh kenapa kau memakai sepatu roda di kawasan apartemen ini? Bahaya! Pantas saja kau jatuh tadi, dan sialnya kau menubrukku,” jawabku aneh. Aneh sekali orang ini, kenapa memakai sepatu roda di tempat yang salah.
Dia tersenyum kagok, “He, ini punya temanku. Aku meminjamnya dan akan mengembalikannya hari ini. Karena hari ini hari terakhir aku memakainya jadi aku memutuskan untuk memakainya, hehe,” jawabnya girang. Lucu sekali yeoja ini, periang.
Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya. “Aku duluaan ya! Mianhae sekali lagi, tapi aku sangat beruntung bertemu namja yang baik hati sepertimu, hehe. Chaljaaa. Semoga kita bisa bertemu lagi,” sambungnya lagi sambil beranjak pelan dariku.
Aku menaikkan bahuku sedikit dan berjalan menuju lift untuk turun ke lantai paling bawah dan menuju tempat yang paling kusuka ketika musim gugur.
Aku berjalan sendirian menyusuri jalan Kota Seoul. Untung disini ramai dan tempat yang kutuju tidak terlalu jauh. Aku berjalan agak santai agar bisa menikmati angin segar yang menerpa wajahku di hari pertama musim gugur ini.
Akhirnya aku sampai di taman yang tak begitu jauh dari jalan raya. Setiap musim gugur tiba aku selalu menyempatkan waktuku untuk datang kesini. Aah indah sekali, aku bisa melihat daun-daun kecoklatan yang berguguran. Disini banyak sekali orang, yah lebih tepatnya sepasang kekasih yang sedang menikmati keromantisan di musim gugur ini.
Aku berjalan ke arah pohon yang lumayan besar dan sepi. Aku sengaja memilih tempat yang agak tenang agar aku bisa menikmati indahnya musim gugur tahun ini. Aku duduk dibawah pohon dan memilih untuk memejamkan mata.
“HUAAAA HUAAAAAA HIKS!” suara sesenggukan itu membuat mataku melek. Siapa yang menangis di musim seindah ini sih? Mengganggu ketenanganku saja, batinku.
“HUAAAAA, SROOOOOT,” suara tangisan itu terdengar lebih parah dari sebelumnya. Sepertinya suara itu tidak jauh. Aku berdiri dan berjalan pelan kearah belakang pohon itu.
“Kau...,” ucapku kaget ketika melihat sosok yeoja periang yang tadi menabrakku sedang menangis sambil memegang tissue.
“Kau namja tadi ya? Hiks, sini temani aku duduk,” katanya sambil menepuk tanah disebelahnya agar aku bisa duduk. Ragu-ragu aku duduk disampingnya. Sekarang dia sudah tidak memakai sepatu roda lagi, syukurlah.
“Sedang apa kau disini? Mengapa menangis? Kau sedih tidak bisa memakai sepatu roda lagi?” tanyaku beruntun.
Dia menatapku sejenak, “Tidak, bukan karena sepatu roda itu. Aku menangis karena aku suka sekali musim gugur, dan aku bersyukur karena hari ini aku masih bisa melihat musim gugur datang, huaaaaa,”
Aku menatapnya aneh, dia yeoja unik. “Hei, jangan menangis seperti itu. Musim gugur pasti akan datang setiap tahun Nona. Sekarang hapus air matamu itu,” jawabku sambil tersenyum. Dia mengikuti perintahku.
“Senyummu manis juga, hehe. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi secepat ini,” jawabannya barusan membuat pipiku panas. Baru kali ini seorang yeoja yang memujiku duluan.
“Cepat atau lambat kita juga pasti akan bertemu lagi karena kita kan satu apartemen Nona. Kenalkan, Kim Jong Woon Imnida, kau bisa memanggilku Yesung,” kataku sambil mengulurkan tanganku kearahnya.
“Park Ri Young Imnida. Kau bisa memanggilku Ri Young hehe. Kenapa kau dipanggil Yesung? Boleh aku memanggilmu Jong Woon?” tanyanya sambil membalas uluran tanganku.
“Boleh, terserah kau mau memanggilku apa. Tadi aku meminta kau memanggilku Yesung karena biasanya teman-temanku memanggilku Yesung,” jawabku sambil menatap lurus kearah depan.
“Baiklah kau lebih tua dariku kan? Kalau begitu Jong Woon Oppa saja! Tidak keberatan kan?” tanyanya lagi sambil mengarahkan kepalanya kerahku. Aku menggeleng dan lagi-lagi tersenyum melihat kelakuannya barusan.
“Kau masih sekolah ya?” tanyaku memberanikan diri karena aku penasaran berapa umur yeoja ini, sifatnya seperti anak-anak.
“ANDWAEEEEE! Lagi-lagi orang mengiraku masih sekolah. Aku sudah kuliah Oppa, umurku 21 tahun sekarang. Aku bukan anak-anak lagi!” jawabnya sambil merengut sebal.
“Aigoo, mianhae. Aku kira kau masih sekolah, wajah dan perilakumu memang terlihat seperti anak-anak. Mian sekali lagi,” jawabku merasa bersalah.
“HAHA kwaenchancha. Aku sudah terbiasa menanggapi pertanyaan seperti tadi. Eh Oppa, kau suka musim gugur ya?” katanya riang. Kenapa yeoja ini gampang berubah ya perasaannya.
“Ne, aku suka sekali musim gugur. Dan aku merasa nyaman kalau musim gugur, tapi aku tidak pernah menangis kalau musim gugur datang,” jawabku santai sambil menahan tawa.
“Aiiish Oppa, kau menyindirku ya? Huhu aku malu tau. Aku tidak tahu kalau ada orang yang mendengarku menangis,” jawabnya sambil menyenggolku ringan. Pipinya merah, lucu sekali (>.<)
“Hehe, kau juga suka musim gugur kan? Lalu kenapa kau malah menangis tadi?” tanyaku sambil menatap matanya.
“Hm, ya aku suka sekali musim gugur. Sama sepertimu, aku merasa nyaman kalau musim gugur tiba. Dan tadi aku menangis karena 2 tahun yang lalu sodara kembarku meninggal di musim gugur, dan ya aku hanya merasa bersyukur karena aku masih bisa menikmati musim gugur. Karena kalau aku bisa menikmati musim gugur, sodara kembarku di surga juga pasti akan bisa menikmatinya. Karena dia juga menyukai musim gugur,” dia menjelaskan panjang dengan serius. Aku tersentuh, manis sekali yeoja ini.
“Mianhae, aku tidak tahu kalau....,”
“Tak apa, Oppa,” jawabnya lagi sambil tersenyum tegar. “Eh Oppa, aku suka matamu. Apalagi kalau kau sedang memandang seseorang, tajam dan ada auranya,” lanjutnya sambil menatap mataku dalam. “Ditambah lagi kalau kau menatap seseorang dengan matamu sambil tersenyum. Aaah pasti lucu,”
Aku menatapnya dan tersenyum. “OPPA!”
“Waeyo?” tanyaku bingung.
“Jangan melihat dan tersenyum seperti itu kepadaku,” jawabnya, garis-garis merah perlahan muncul di kedua pipinya.
“Waeyo? Tadi kau bilang kau menyukai mata dan senyumku. Kenapa sekarang malah melarangku melakukan itu?” ucapku jahil. Err, sepertinya pipiku ikut merah.
“Ya, aku memang suka. Tapi aku tetap saja tidak bisa melihat itu, aku deg-degan Oppa,” jawabnya malu-malu.
“Kau ini jujur sekali sih orangnya,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan dan kembali memandang lurus ke arah depan. Dia mengikutiku arah pandanganku. Aku dan Ri Young terlarut dalam pikiran masing-masing dan tidak ada pembicaraan antara kami
“Oppa, kau sudah mempunyai yeojachingu?” tanyanya memulai pembicaraan baru lagi. Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
“Belum, waeyo? Kau sendiri?” jawabku, aku memutuskan untuk bertanya balik tentang statusnya karena aku juga penasaran^^
“Kwaenchanha Oppa, hanya bertanya saja. Aku juga belum punya namjachingu, aku masih mencari pangeran musim gugurku. Haha,” jawabnya sambil tertawa lepas. “Mungkin kau bisa menjadi pangeran itu,” katanya polos sambil menatapku kemudian tertawa lagi.
“Isssh, kau ini memang kekanak-kanakkan sekali sih,” kataku gemas. Perkataannya barusan suskes membuatku malu dan rasanya terbang ke langit ke 7.
“Oppa, boleh aku minta nomer telfonmu. Kau kan Oppaku sekarang, ya? Boleh ya?” ucapnya sambil menyodorkan handphonenya kepadaku.
“Dengan senang hati Putri Musim Gugur,” kataku sambil tersenyum dan menerima handphonenya.
“OPPA, KUBILANG JANGAN TERSENYUM SEPERTI ITU!” teriaknya histeris memekakkan telingaku. Aku hanya tersenyum singkat dan mulai mengetik nomerku di handphonenya.
“Nih, kasih nama yang bagus ya. Jangan lupa nanti kau meng-smsku. Pulang yuk, sudah terlalu sore sepertinya. Nanti orang tuamu mencari putrinya,” kataku sambil berdiri. Aku menepuk celanaku ringan dan mengulurkan tangan kearahnya untuk membantunya bangun. Dia tersenyum dan meraih tanganku.
HHH
SEMINGGU KEMUDIAN
Drrrrt, Drrrrt, Drrrrt
“Aiiiiiish,” getaran itu mengganggu tidurku. Aku bergeser sedikit ke arah meja di samping kanan tempat tidur dan berusaha menggapai handphoneku yang tidak berhenti bergetar.
“YA!” reflekku kaget ketika aku merasakan sesuatu yang lembek, ternyata aku salah arah. Aku malah memegang kepala Ddangkoma, kura-kura kesayanganku. Aku harusnya bergeser ke arah kiri. Aku memutuskan bangkit dan mengambil handphoneku.
Aku kaget melihat nama yang tertera di handphoneku. Park Ri Young *_*. Buat apa anak ini menelfonku pagi-pagi buta? Aku menekan tombol hijau,
“Yobo....,”
“OPPA BANGUUUUN! BUKA PINTU APARTEMENMU SEKARAAAAANG!” aku menjauhkan handphone itu dari telingaku sebelum telingaku rusak. Aku berjalan lemas menuju pintu depan, masih lengkap dengan kaus oblong abu-abu dan celana tidur.
“Ya! Kenapa kau menggangu tidurku? Ini masih jam 6 pagi Park Ri Young. Semalam aku tidur jam 12 karena harus mendengarkan curhatanmu itu, kau membuat kupingku panas dan batere handphoneku cepat habis. Kau tau itu? Dan sekarang kamu membangunkanku di saat orang-orang lain masih tertidur pulas, seharusnya kau membiarkanku tidur lebih lama Ri Young. Aku ngantuk sekali. Lagipula ini hari Minggu,” kataku panjang lebar, ya disaat seperti ini kebiasaanku keluar, berbicara panjang lebar.
“Sudah selesai?” responnya sambil tersenyum manis kepadaku. “Kau tidak membiarkanku masuk? Tidak baik loh Oppa, membiarkan Putri Musim Gugur berdiri di depan pintu seperti ini,” lanjutnya sambil mendorong tubuhku yang menghalangi pintu masuk dan beranjak masuk ke apartemenku, bahkan akupun belum memberikan izin kepadanya.
“Aku belum mengizinkan kau untuk masuk Ri Young,” ucapku setelah menutup pintu dan menghampirinya. Apa yang dia lakukan di dapurku?
“Aku yakin, seorang pangeran pasti akan mengizinkan seorang putri masuk. Ya kan Pangeran?” jawabnya senang sambil menyiapkan dua mangkuk di depannya.
“Ya! Ini masih pagi Ri Young, belum saatnya kau berbicara seperti itu. Kau mau membuat pipiku merah lagi?” jawabku sambil menarik salah satu kursi makan.
“Haha, itu baru permulaan Oppa. Ayo kau harus temani aku makan bubur ini,” katanya sambil menyerahkan mangkuk yang sudah terisi oleh bubur. Aku menerimanya dan mulai makan perlahan.
“Orang tuamu tidak marah kalau kau datang ke apartemenku sepagi ini? Apa kata orang tuamu nanti?” tanyaku setelah menelan makananku.
“Tenang Oppa, tidak akan. Mereka pasti akan merasa senang melihat aku mempunyai teman sarapan,” jawabnya riang.
“Lah? Lalu kau meninggalkan mereka berdua di apartemen? Mereka lebih membutuhkanmu Ri Young,” ucapku kaget, kenapa dia lebih memilih sarapan bersamaku daripada sarapan bersama orang tuanya.
“Aku belum cerita ya? Aku tidak pernah sarapan dengan mereka lagi sejak saudara kembarku meninggal. Orang Tuaku ikut menghadap Tuhan di hari yang sama dengan saudara kembarku. Mereka kecelakaan saat mau ke pemakaman saudaraku,” jawabnya tenang.
Aigoo, kau bodoh sekali Yesung. Sudah dua kali kau membuka kesedihan hatinya, di pertemuan pertama saudara kembarnya sekarang orang tuanya. Aiish. Tapi mengapa sudah seminggu aku kenal dia, dia baru menceritakannya sekarang?
“Ri Young,” kataku sambil berjalan menghampirinya. Aku memutuskan untuk berlutut di depannya. “Mianhae. Aku bodoh sekali bertanya tentang hal ini,” lanjutku. Kini dia duduk kearahku yang berlutut.
“Kawaenchanha Oppa, kau juga tidak tahu kejadiannya kan? Aku tak apa kok, hehe,” jawabnya mencoba kuat, padahal aku bisa melihat matanya sudah berkaca-kaca dan sekarang satu tetes air matanya sudah menetes dan membasahi pelupuk matanya.
Aku menariknya kedalam pelukanku. “Ri Young, menangislah. Kau tak bisa berusaha tegar terus-terusan seperti itu, aku tahu kau bersedih. Dan setiap orang pasti pernah bersedih dan menangis, kau tak perlu menyembunyikannya seperti itu,” kataku menenangkannya. Tangisnya kini memecah, aku bisa mendengar nafasnya yang berat dan tersenggal-senggal.
“2 tahun belakangan ini aku selalu membuat diriku tegar di depan semua orang Oppa. Aku tidak ingin mereka ikut bersedih karena aku bersedih. Lagipula untuk apa menangis kalau orang tua dan saudara kembarku tidak akan pernah kembali ke sampingku,” ucapnya sambil terus menangis. Aku rasa dia menahan semuanya selama 2 tahun.
“Kau salah. Kau boleh menangis dan sedih, itu hal wajar. Tapi kau tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan itu Ri Young. Kau harus bangkit dan kembali menjalankan hidupmu, kau harus membuat orang tua dan saudara kembarmu di surga bahagia,” jawabku.
“HAAAH, kenapa aku bisa menangis di depanmu sih? Aku malu jadinya Oppa,” katanya sambil memukul punggungku ringan.
“Tak perlu malu, aku sudah terbiasa melihat kejelekkanmu. Dan ingat, kau sudah dua kali menangis dihadapanku,” jawabku jahil. Aku melepaskan pelukanku, “Sudah cukup menangisnya. Masih pagi kau sudah membuat bajuku basah, lagian kau jelek sekali kalau menangis. Putri Musim Gugur harus tersenyuuum,” lanjutku sambil mengapus air matanya dan menarik bibirnya agar membentuk senyum dengan jariku.
“Kamsahamnida, Oppa tampan,” ucapnya sambil mengacak rambutku.
“Choenmaneyo Putri cantik. Hari ini kau mau kemana?” tanyaku sambil merapihkan mangkuk buburku yang masih sisa setengah ke tempat cuci piring, sedangkan Ri Young masih melanjutkan sarapannya. Entah kenapa aku jadi kenyang.
“Hm, sepertinya aku mau mengunjungi makam orangtuaku dan makam saudara kembarku. Sudah lama aku tidak mengunjunginya,” jawabnya setenang mungkin.
“Aku antar ya? Aku mau melakukan sesuatu disana,” kataku sambil mencuci mangkuk buburku.
“Mwo? Kau mau apa disana? Tak usah, aku bisa sendiri,” jawabnya tegas.
“Aaah, Ri Young-ah aku mohon. Aku juga ingin mendoakan mereka,” sergahku cepat sambil memasang tampang memohon dan mengeluarkan senyuman dan pandangan mautku.
“Isssh. Kau tahu kelemahanku Oppa. Baiklah, tapi kau mandi dulu sana. Oiya satu lagi! Kau harus mengizinkanku memberi makan ddangkoma, kalau tidak, aku tidak akan mengajakmu bersamaku. Bagaimana?” tanyanya menantang.
Aku menggaruk kepalaku, “Ya baiklah. Tapi ngasih makannya yang benar ya, jangan kebanyakan seperti kemarin. Dia kura-kura kesayanganku Ri Young,” jawabku akhirnya. Kemarin dia hampir saja membuat ddangkoma mati karena memberi makanan terlalu banyak, aku stress dibuatnya.
“Ne Oppa. Kau mandi sana,” katanya sambil mendorongku pelan ke kamar mandi.
Aku dan Ri Young berjalan menuju halte bis tetap menggenggam tangannya yang kecil dan dingin. Aku bisa merasakan angin menerpa wajahku di musim gugur ini. Setelah menunggu beberapa saat bis yang kami tunggu datang juga, dan syukurlah kami mendapatkan tempat duduk.
Setelah 15 duduk di bis, aku dan Ri Young sampai juga di depan gerbang pemakaman umum di pinggir kota.
“Kau masuk duluan ya Ri Young, nanti aku menyusul. Ada sesuatu yang ingin aku beli,” kataku kepadanya. Dia hanya mengangguk ringan dan berjalan memasuki pemakaman umum tersebut.
Aku berlari ke toko di sebrang jalan dan membeli sesuatu disitu. Setelah mendapatkan yang aku inginkan aku memasuki wilayah pemakaman umum tersebut. Pemakaman ini bersih dan terawat. Aku mencari sosok Ri Young di area pemakaman ini. Ya dia berada di balik pohon besar sedang jongkok bertumpu pada lututnya di samping makam, kurasa itu makam saudara kembarnya.
Aku berjalan pelan menghampirinya dan ikut bertumpu di sebelahnya.
“Park Ni Young, apa kabarmu disurga? Kau pasti baik kan disana? Aku yakin Tuhan menjagamu dengan baik disana. Dan Tuhan juga menjagaku dengan baik disini, aku senang karena aku bisa melewati musim gugur tahun ini. Kau bisa merasakannya juga kan Ni Young?” ucap Ri Young sambil menatap nisan bertuliskan nama Park Ni Young. Aku bisa melihat dia menahan air matanya.
“Aku kesini tidak sendiri loh Ni Young. Aku bersama Pangeran Musim Gugur. Kim Jong Woon Oppa namanya, dia tampan dan aku suka sekali dengan tatapan dan senyumnya. Sudah seminggu ini dia yang selalu menjagaku,” lanjutnya lagi sambil menatapku sambil tersenyum. Aku pun balas tersenyum.
“Hai Ni Young, Kim Jong Woon imnida. Kau tenang saja ya Ni Young, aku akan menjaga Putri Musim Gugur yang cengeng ini. Aku juga meminta izinmu agar aku bisa menjaganya,” kataku sambil menatap ke nisan Ni Young lalu ke Ri Young. Ri Young tersenyum tipis dan menutup matanya untuk mendoakan Ni Young. Aku pun ikut memejamkan mataku.
“Ni Young sudah dulu ya. Aku mau ke makam Appa dan Umma dulu, kapan-kapan aku akan mengunjungimu lagi,” kata Ri Young sambil berdiri dan menarikku tanganku untuk mengikutinya.
Aku dan Ri Young berjalan menyusuri jalan setapak menuju makam Appa dan Ummanya Ri Young. Tidak terlalu jauh dari jarak makam Ni Young. Ternyata makam Appa dan Ummanya Ri Young tidak ada sekatnya seperti makam-makam lain. Makam mereka tepat bersebelahan jadinya ukurannya agak lebih besar dari makam lain.
“Appa, Umma apa kabar? Mian aku baru sempat berkunjung kesini lagi. Aku yakin Appa Umma pasti baik-baik kan? Kalian juga bertemu Ni Young kan di surga? Tadi aku baru saja berkunjung ke makam Ni Young. Aku rindu sekali pada kalian Appa, Umma. Tapi kalian tidak perlu khawatir denganku, karena aku yakin kalian juga pasti menjagaku kan dari Surga? Aku bisa merasakan itu,” kata Ri Young sambil bertumpu lagi di samping makam.
“Appa Umma, kalau biasanya aku kesini sendiri, sekarang aku membawa temanku. Dia Pangeran Musim Gugur,” lanjutnya lagi. Sekarang dia benar-benar membuat sungai di kedua pipinya walaupun memang belum terlalu deras.
“Annyeong Appa, Umma. Tak apa ya kalau aku ikut memanggil kalian Appa Umma? Aku Kim Jong Woon, teman sekaligus Pangeran Musim Gugur untuk putri kalian. Em, sekarang sih memang masih teman, tapi sebentar lagi aku akan meminta putri kalian untuk menjadi yeojachinguku. Kalian setuju tidak?” kataku. Ri Young memandangku bingung sambil menhapus air matanya yang menetes.
“Tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Sebisa mungkin aku akan menjadi Appa, Umma, saudara, namjachingu, dan pangeran musim gugur untuknya. Aku sangat mencintai putri kalian, aku benar-benar ingin menjadi pangeran musim gugurnya. Walaupun putri kalian itu yeoja yang aneh, suka menangis tiba-tiba, suka membangunkanku pagi-pagi buta, suka membuat kura-kuraku lebih cepat mati....,”
“YA! Kenapa kau menceritakan semua kejelekanku di depan orang tuaku Jong Woon Babo?” ucapnya sambil memukul kepalaku ringan.
“Tuh kan Appa, Umma. Dia suka kasar kepadaku seperti tadi hehe, walaupun dia begitu, tapi aku tetap mencintai putri kalian yang cantik ini. Dia yeoja yang selalu berusaha tersenyum walaupun hatinya menangis. Dia yeoja yang selalu berusaha membuat orang di sekitarnya bahagia. Dia yeoja yang bisa membuatku jatuh cinta pada sikap uniknya. Dia yeoja yang jujur dan polos, bahkan dia blak-blakan menyukai senyuman dan tatapanku,” lanjutku tersenyum menatap gundukkan tanah di depanku ini.
“Huaaaaa!”
“Hei, kau kenapa menangis?” tanyaku panik ketika melihat Ri Young dengan pipi yang sudah basah. “Sudah kubilang kau jelek kalau menangis. Jangan menangis sssuuuut. Malu sama Appa-Umma mu dong Ri Young,” kataku sambil membelai rambutnya.
“Oppaaaaaaaaaaaa,” tangisnya makin meledak. Ssh aku bingung, kenapa dia menangis sekarang?
“Suuut sudah. Ayo kita berdoa untuk Appa-Umma mu. Lalu kita ke taman tempat pertama kali kita bertemu ya!” Aku dan Ri Young memejamkan mata dan mendoakan Appa-Umma nya Ri Young.
“Duduk sini sebentar,” kataku kepada Ri Young. Aku dan Ri Young sekarang duduk di balik pohon besar tempat pertama kali kami bertemu.
Aku menatapnya sekilas, “Bagaimana? Aku boleh tidak menjadi Pangeran Musim Gugurmu sekarang?” tanyaku mantap.
“Mwo? Kau kan sudah menjadi Pangeran Musim Gugurku, Oppa,” jawabnya sambil menundukkan kepalaku.
“Kau harusnya mengecilkan volume detak jantungmu itu Ri Young, hehe. Kemana Ri Young yang blak-blakkan? Kemana Ri Young yang selalu lancar kalau sedang berbicara? Tadi kan aku sudah minta izin kepada Appa-Ummamu, apa jawabanmu sekarang? Aku memintanya sekarang!” kataku tersenyum saat melihat pipi Ri Young kemerahan.
“Hm, gimana ya? Susah Oppa,” jawabnya sambil menatapku.
“Susah apanya?” tanyaku heran, sssh kalau ditolak bagaimana?
“Ya susah, aku susah menolah namja yang mempunyai senyum dan tatapan maut sepertimu,” jawabnya tersenyum jahil. Bibir dan hatiku tersenyum mendengar jawabannya, dan sekarang aku yang harus mati-matian menjaga volume jantungku.
“Hm, aku yakin kau tidak akan bisa menolakku. Ya kan? Eh coba kau ke belakang pohon ini. ada sesuatu yang harus kau ambil disana,” kataku sambil memeluk kakiku yang dilipat.
“Ha? Ada apa, namjachinguku?” jawabnya sambil bergegas menuju ke belakang pohon tempat aku dan Ri Young duduk.
“Oppa, kamsahamnida,” katanya setelah kembali berjongkok di sebelahku dan memegang sejenis bola kaca kecil yang didalamnya terdapat pohon kecil dengan daun yang berwarna kecoklatan seperti daun musim gugur. Di bawah bola tersebut juga ada beberapa daun yang berguguran.
“Cheonmaneyo jagii~~ Kau suka?” tanyaku kepadanya. Dia hanya mengangguk manis. “Coba kau tekan tombol bawahnya,” kataku. Dia menuruti perkataanku dan menekan tombol yang berada di bawah bola itu.
“WAAAAH, KEREEEEN! Aku suka, gomawo Oppa,” katanya setelah melihat daun-daun yang dibawah berterbangan seperti di terpa angin musim gugur.
“Terimakasih sudah mau menjadi Putri Musim Gugurku,” kataku sambil mendekatkan wajahku kepadanya.
“Hehe, terimakasih sudah mau menjagaku dan sudah memintaku untuk menjadi Putri Musim Gugurmu,” jawabnya senang. “Saranghae~~”
“Nado Saranghae,” jawabku sambil merangkul pundaknya dan menatap daun yang berguguran di hadapanku.
Read more...