Laman

Senin, 06 September 2010

He's Back - Part 1

ANNYEONG HASEYOOOOO!

YANG KANGEN TIARA YANG KANGEN TIARA, SEKARANG ORANGNYA BALIK NIH!

ENJOY HER BRAND NEW FF! ^O^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku mau kau berjanji satu hal,”

”Apa?”

”Kau tunggu aku sampai aku kembali ke sisimu,”

”Apa kau akan kembali?”

”......



SIAL!! Aku terbangun dari mimpiku. Kenapa aku selalu terbangun saat dia belum menjawab pertanyaan itu. Ini sudah keempat kalinya aku mendapatkan mimpi seperti itu dan sudah empat kali juga aku tebangun dengan pertanyaan yang belum sempat terjawab. Di mimpi itu aku bisa melihat sesosok lelaki yang amat sangat kucintai. Sudah 4 tahun dia menghilang tanpa kabar, dan 4 tahun juga aku masih mencintainya. Dia meninggalkanku, meninggalkan perasaan cintanya di hatiku yang paling dalam. Aku masih menunggu, dan terus menunggu. Aku pun tak tahu sampai kapan aku akan menunggunya.......



*****



Aku menuruni tangga rumahku dengan membawa beberapa tumpuk buku sebagai bahan skripsiku yang tinggal 4 minggu lagi.

”Pagi Ririn,” sapa Ummaku ketika aku menarik kursi meja makan.

”Pagi Umma. Appa sudah berangkat ya?” tanyaku sambil meminum susu putih yang sudah tersedia di depanku. Umma hanya mengangguk sambil duduk di hadapanku. Appaku sudah pensiun beberapa bulan yang lalu dan sekarang kerjaannya hanya mengantarkan adikku ke sekolah atau terkadang menjaga toko bunga punyanya.

“Ririn, kau sudah punya jawaban?” tanya Umma serius.

“Umma.... aku mohon jangan bahas itu sekarang. Aku tidak bisa menjawabnya. Sekarang aku hanya ingin fokus pada skripsiku dulu,” jawabku enggan.

“Umma tahu Ririn. Tapi, Appa dan Umma sudah semakin tua. Kami hanya ingin melihatmu bahagia dan...... kami ingin menimang cucu sebelum ajal menjemput kami,” ucap Umma lirih.

”Umma, tolong jangan berbicara seperti itu. Semua ada waktunya Umma,” jawabku. Aku sebal jika Umma sudah membicarakan hal ini dan selalu menghubungkannya dengan kematian.

”Sanpai kapan Ririn? Kau sudah terlalu lama menutup hatimu untuk lelaki lain! 4 tahun Ririn! Bukalah matamu! Buka hatimu! Kalu begini terus sama saja kau menyiksa dirimu sendiri,” Umma menatapku dalam. Sudah berulang kali Umma mengutarakan hal ini kepadaku, tetapi tetap saja hatiku sedih mendengarnya.

Umma benar, mungkin sudah saatnya aku membuka hatimu. Tapi, hatiku sendiri masih meyakini bahwa dia akan kembali. Orang yang meninggalkanku 4 tahun yang lalu akan kembali. Aku harap hatiku benar kali ini..

”Baiklah Umma, aku akan mencoba, tapi mungkin belum bisa dalam waktu dekat ini. Aku janji Umma, aku akan berusaha sebisaku untuk menerima Donghae. Aku berangkat ya, Umma hati-hati dirumah,” kataku akhirnya. Ya, Donghae. Lee Donghae adalah namja yang hendak dijodohkan Umma denganku.



*****



”RIRIN-AH! Jeongmal bogoshipoyo. Apa kabarmuuu?” tanya Nichan girang sambil memelukku setelah aku memasuki kelas.

”Nichaaaaaaaan! Aku baik, baik sekali. Kau apa kabar?” jawabku balas memeluknya.

”Aku baik Ririn! Mengapa lama sekali datangnya? Aku kira kau tak akan masuk kuliah hari ini,” ucapnya.

”Aaaah tadi busnya penuh, jadi aku harus menunggu bus selanjutnya. Tidak mungkin aku tidak masuk Nichan, 4 minggu lagi kita kan skripsi haha. Asik tidak liburanmu? Kulitmu menghitam, padahal cuma 2 minggu liburan di Bali,” tanyaku sambil menuntunnya duduk dan aku duduk disebelahnya. Nichan memang mengambil cuti kuliah selama 2 minggu dan dia memutuskan untuk liburan di Bali. Aku bingung kenapa dia masih berpikiran untuk liburan padahal skripsi sudah didepan mata.

”Di Bali? Sangat sangat menyenangkan. Kapan-kapan kau harus kesana ya, bersamaku tentunya hahaha,” jawabnya cekikian. ”Heeem, bagaimana hubunganmu dengan Donghae?” lanjutnya.

”Donghae? Aku tidak tahu kabarnya. Tapi hubunganku dengannya masih sama saja seperti dulu, tidak ada sedikit pun yang berubah,” jawabku sesantai mungkin. Kenapa semua orang menanyakan tentang hubunganku dengan Donghae? Tadi pagi Umma, sekarang Nichan. Siapa lagi nanti?

”Sejak aku di Bali, Donghae selalu menanyakan kabarmu. Aku tidak bisa menjawab bagaimana kabarmu. Karena aku pun tidak tahu. Dia bilang kau selalu tidak ada dirumah ketika dia menelfon rumahmu, trus kau selalu tidak ada dirumah setiap dia mengunjungi rumahmu. Kau beli handphone lah Ririn, aku juga jadi bingung jika mau menghubungi dirimu,” jawab Nichan panjang.

”Ne, aku juga maunya begitu. Tapi, selalu tidak ada waktu. Sekarang fikiranku hanya terfokus pada skripsi. Aku mau kuliahku cepat selesai dan mendapatkan hasil yang terbaik. Lalu aku mrndapatkan pekerjaan yang aku inginkan dan membantu kedua orangtuaku,“ kataku sambil tersenyum tipis kepada sahabat baikku.

”Baiklah. Aku ke kelasku ya! Dosenku sudah mau masuk sepertinya. Sampai ketemu nanti Ririn,” kata Nichan menutup pembicaraan kami.



Aku mengikuti mata pelajaran di kampus dengan baik walalupun tadi sempat diserang rasa kantuk, dan aku bersyukur kegiatan belajar mengajarku hari ini selesai. Aku duduk dibawah pohon rindang di samping taman yang berada di dekat kelas Nichan. Aku menunggunya karena dia janji akan ke toko buku bersamaku untuk mencari beberapa bahan skripsi sekalian menemaniku membeli handphone.

Aku memakai headset dan memutar beberapa lagu yang dapat menenangkan hatiku. Aku menatap ke langit yang cerah hari ini, aku mengirup udara segar dalam-dalam. Ya aku sangat suasana disini. Tenang, damai.

”Hai,” aku mendengar suara samar-samar dari samping kananku. Aku mengalihkan pandangan ke arah samping kananku.

”Oppa,” ucapku kaget sambil melepas headset sebelah kananku. ”Sedang apa kau disini?” tanyaku ketika melihat sosok Donghae sudah duduk disampingku.

”Aku sedang memperhatikanmu, hehe. Kau menunggu Nichan ya?” tanyanya sambil menyunggingkan senyuman termanisnya. Sudah lama aku tidak melihat senyumannya itu.

Kedua sisi bibirku tertarik dan ikut tersenyum. ”Iya Oppa. Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau apa kabar?” tanyaku.

”Kabarku baik dan menjadi lebih baik lagi setelah melihatmu hari ini,” jawabnya tulus.

Aku kembali menatap langit luas di hadapanku.

”Ririiiiin,” Nichan berlari tergopoh gopoh menghampiriku. ”Haaah haah. Oppa, sedang apa kau disini?” tanya Nichan kepada Donghae dengan nafas yang masih tidak beraturan.

”Mengunjungi Ririn lah Nichan,” jawab Donghae santai.

Nichan hanya mengangguk sesaat ”Ririn, mianhae. Jeongmal mianhae! Aku tidak bisa menemanimu membeli handphone. Umma menyuruhku pulang cepat. Mianheeee,” katanya dengan raut muka menyesal.

”Hm tak apa Nichan. Tapi bagaimana dengan bahan skripsimu?” tanyaku kepadanya.

”Nanti saja aku meminta Oppaku untuk membelikannya. Baiklah aku pulang duluan ya Ririn, kau hati-hati. Dadaaaaaah, daaah Oppa,” tutup Nichan sambil pergi meninggalkanku dan Donghae.

”Hati-hati Nichan,” jawab Donghae sambil melambai-lambaikan tangannya.

”Kau mau membeli handphone? Ayo aku temani?” ucap Donghae sambil menatapku.

”Apa tidak merepotkanmu, Oppa?” jawabku canggung.

”Tentu tidak. Ayo!” jawabnya sambil menarik tanganku menuju mobilnya.



*****



”Makan dulu yuk, aku lapar,” ajak Donghae sambil memegang perutnya dengan tampang memohon. Aku tertawa melihatnya dan mengangguk. Aku sudah mendapatkan handphone yang aku butuhkan, setidaknya aku bisa lebih mudah berkomunikasi sekarang.

Aku dan Donghae memasuki restoran cepat saji dan memesan makanan.

”Mana handphonemu?” tanya Donghae sambil menengadahkan tangannya.

Aku menyerahkan handphoneku ketangannya. Terlihat dia menekan keypad handphoneku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut di restoran ini. Tanpa sengaja aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenal. Aku menutup mataku kemudian membukanya lagi. Sudah tidak ada! Aku mengedarkan pandanganku sekali lagi, benar-benar tidak ada. Apakah itu hanya khayalanku semata? Ya aku hanya terlalu merindukannya! Yang tadi itu hanya khayalanku. Tapi... kenapa aku merasa pandanganku tak salah, aku merasa dia ada di dekatku.

”Rin.. Ririn, ini handphonemu. Gomawo,” kata Donghae membuyarkan semua lamunanku.

”Ya! Kau apakan handphoneku Oppa?” tanyaku sambil mengatur perasaanku yang mulai labil. Aku harus melupakan hal tadi.

”Tenang Ririn-ah, aku hanya menyimpan nomerku haha,” jawabnya senang. Aku hanya mengangguk dan menatap layar handphoneku. Donghae oppa >.<. Aku tersenyum melihat nama yang tertera untuk nomor Donghae Oppa. Tidak beberapa lama, makanan pesanan kami datang. Kulihat Donghae lahap menghabiskan makanannya, ternyata dia benar-benar lapar.

”Haaaah, kenyang!” ucap Donghae setelah piring dihadapannya bersih tanpa sisa.

”Ayo pulang Oppa, ini sudah malam. Aku harus melanjutkan skripsiku,” kataku setelah menyeruput habis minuman bersoda yang aku pesan.

”Ayo! Aku antar Puteri ke Istananya ya,” katanya sambil mengandeng tanganku.



*****



”Gomawo ya Oppa sudah menemaniku membeli handphone dan mentraktirku makan. Aku senaaaang sekali hari ini,” kataku sebelum turun dari mobilnya.

”Aku yang harusnya berterima kasih Ririn. Kau sudah memberikan kesempatan untuk menemanimu hari ini. Aku harap kau memberi kesempatan lagi untukku lain waktu,” jawabnya sambil menggenggam tanganku. ”Aku sangat senang hari ini melebihi rasa senangmu,” katanya lagi sambil tersenyum.

”Tunggu,” ujar Donghae ketika aku hendak membuka pintu mobil. Dia keluar dan membukakan pintuku.

”Silahkan Tuan Putri,” katanya sambil membungkukan setengah badannya.

”Kamsahamnida,” jawabku kaget dengan perlakuannya kepadaku.

”Sekali lagi terima kasih untuk hari ini Ririn-ah,” katanya sambil mengecup keningku singkat. ”Selamat malam, tidur yang nyenyak ya,” katanya lagi sambil mengacak rambutku.

”Nado Oppa,” jawabku dengan senyum setulus mungkin. Mobil Donghae menjauh dari pandanganku.

Kemudian pandanganku beralih ke 20 meter disebelah kiriku. Aku memicingkan mataku dan melihat motor sport dengan seseorang yang menaikinya. Aku tidak melihat jelas siapa orang itu karena gelap dan dia memakai helm. Tapi kurasa dia sudah menunggu disitu cukup lama. Tiba-tiba motor itu melaju melewatiku dengan cepat. Entah kenapa aku jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Aku menaikkan bahuku dan memutuskan untuk tidak memikirkan siapa yang mengendarai motor itu. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berfikir sebentar. Mungkin memang sudah saatnya aku membuka hatiku untuk lelaki lain.......



*****



Aku melihat jam tanganku, sudah lebih dari 30 menit aku menunggu disini. Aku memilih untuk menunggu 20 meter dari rumahnya karena aku juga masih harus mengumpulkan keberanianku untuk menemuinya. Sudah hampir seminggu aku di Korea dan baru hari ini aku merasa keberanianku cukup untuk menemuinya.

Aku masih merasa bersalah karena sudah 4 tahun meninggalkannya tanpa sebab dan tanpa memberi kabar sedikitpun. Aku sudah menyiapkan diriku kalau nanti dia marah dan tidak mau menerimaku lagi, aku pantas mendapatkan itu. Aku hanya ingin menjelaskan kenapa aku pergi meninggalkannya tanpa sebab. Aku hanya ingin dia tahu kalau selama 4 tahun aku menyimpan hatiku baik-baik hanya untuknya.

Tidak beberapa lama ada mobil yang menepi di depan rumahnya. Cukup lama terparkir disitu tapi tidak ada orang yang keluar. Sedang apa mereka didalam? Mungkinkah yeoja yang aku tunggu berada didalam? Terlalu banyak pertanyaan di benakku sekarang.

Setelah beberapa saat ada namja yang keluar dan membukakan pintu penumpang disebelahnya. Aku membuka penutup helmku sedikit saat seorang yeoja keluar. Aku bisa melihatnya jelas walaupun dengan penerangan yang sangat minim. Hatiku terlonjak melihat yeoja itu. Ya itu Ririn, Park Ririn. Aku rindu sekali padanya.

Dia tersenyum kemudian namja di depannya mencium keningnya singkat, lalu mengacak rambutnya yang tergerai. Dia pun tersenyum lagi setelah mobil namja itu menjauhinya. Tak berapa lama Ririn menatapku lama. Aku pun tersadar sesuatu. Aku sudah tidak mungkin lagi bisa kembali padanya.

Ketakutanku yang terbesar benar-benar terjadi. Kekasih yang dulu aku tinggalkan tanpa sebab sudah melupakanku dan membuka lembaran baru hidupnya. Mataku terasa panas, aku menarik nafas panjang dan melajukan motorku dengan cepat melewati dirinya yang masih mengamatiku.



*****



Sudah seminggu berlalu. Hari ini aku janjian dengan Donghae di sebuah kafe dekat kampusku. Dia mau membantuku menyelesaikan skripsiku yang sudah hampir selesai setengahnya. Aku mengangkat tema Perkembangan Musik di Korea Selatan dan Pengaruhnya untuk Kalangan Remaja. Haha awalnya aku bingung mau mengangkat tema apa, tapi karena belakangan ini di Korea banyak bermunculan boy band dan girl band baru serta antusias remaja yang mulai naik jadinya aku memutuskan untuk mengangkat tema itu.

Aku berjalan sendirian menuju kafe itu. Heem tempat ini kembali mengingatkanku pada lelaki yang entah sekarang berada dimana. Hari ini, aku merasa membuka kembali kenangan saat bersamanya. Padahal sudah seminggu belakangan ini aku berusaha sangat kuat untuk menutup kenangan itu.

Aku menunggu Donghae di pojok kafe. Sebenarnya waktu janjian yang ditentukan kemarin masih setengah jam lagi, tapi aku sengaja datang lebih awal. Entah mengapa aku ingin datang lebih awal. Aku ingin menikmati kedamaian kafe ini sendirian.

Hubunganku dengan Donghae lebih dekat sekarang. Aku juga sering menghabiskan waktuku dengannya. Hanya satu yang belum berubah. Status. Aku memang sedang dalam proses membuka hatiku untuknya, tapi tidak mudah untukku berubah secepat itu. Aku butuh proses. 3 hari yang lalu Donghae menyatakan perasaannya padaku, dengan halus aku menolaknya.

Aku hanya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, aku tidak mau menyakiti Donghae karena hanya menjadikannya sebagai pelampiasan. Donghae orang baik, dia tulus. Aku merasa sangat jahat jika menyakiti hatinya.

Tak berapa lama pintu kafe ini terbuka dan aku bisa melihat Donghae masuk.

”Ririn, kau sudah sampai? Sudah lama ya? Ini kan masih 15 menit lagi dari jadwal janjian kita?” pertanyaannya keluar lancar setelah melihatku duduk termenung di pojok kafe. Dia membuka kacamata hitamnya dan duduk dihadapanku. Aku tidak menyangka dia datang secepat ini.

”Ne, Oppa. Aku juga baru datang kok. Kau juga kenapa sudah datang jam segini?” tanyaku kepadanya.

”Ah anni, aku hanya tidak ingin membuatmu menunggu saja. Ternyata kau datang lebih dulu dan menungguku. Mianhae Ririn-ah,” jawabnya merasa bersalah. Aku tertegun mendengar jawabannya.

”Haha buat apa minta maaf Oppa. Kau tidak salah, aku memang sengaja datang lebih awal karena tidak ada kerjaan di kampus,” jawabku sambil tersenyum.

”Kau belum memesan? Mau pesan apa?” tanyanya sambil membuka-buka buku menu.

”Aku ikut Oppa saja. Tapi jangan pesan daging babi ya Oppa,” jawabku singkat.

”Hm baiklah aku tau kau tidak suka daging babi. Kita makan dulu ya, nanti baru aku bantu mengerjakan skripsimu. Ahjussi,” katanya seraya memanggil pelayan kafe ini. Ahjussi yang dipanggil Donghae menghampiri meja kami.

”Ya tuan mau pesan apa?” tanya ahjussi itu.

”Hem, 2 ramyun dan 2 air mineral dingin ya Ahjussi,” jawab Donghae sambil tersenyum kepada Ahjussi. Ahjussi itupun berjalan memberikan pesanan kami kepada koki kafe ini.





Tak beberapa lama pesanan kami datang. Kami melahapnya singkat karena mungkin sama-sama lapar. Setelah itu dia membantuku melanjutkan skripsiku. Dia hanya memberikan usul dalam bentuk garis besarnya saja untuk bab-bab berikutnya nanti biar aku yang melanjutkan sendiri. Begitulah katanya. Sudah sekitar 5 jam aku dan Donghae berada di kafe ini. Aku melihat jam tanganku, sudah jam setengah 7 rupanya.

”Oppa, kurasa cukup. Kau sudah membantuku banyak hari ini. Kita pulang yuk, kasian Ummaku sendirian,” kataku akhirnya. Aku juga sudah menguap berulang kali daritadi.

”Dongsaeng dan Appamu kemana?” jawabnya sambil mengangguk dan membereskan kertas-kertas yang berantakan diatas meja.

”Appa masih menjaga toko bunga. Biasanya beliau pulang pukul 8, sedangkan dongsaengku sedang menginap di sekolahnya,” jawabku ikut membereskan meja dari kertas dan botol air mineral yang berantakan.

”Baiklah. Kau keluar duluan ya. Aku membayar dulu,” katanya setelah meja sudah kembali bersih. Aku mengangguk singkat dan melangkah menuju pintu keluar. Aku menarik nafas lega dan memandang langit yang mulai gelap. Kulihat ada beberapa bintang yang muncul. Tanpa sadar aku berjalan maju menuju ke arah jalan.

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!!!!!

Reflek aku loncat kebelakang ketika sadar ada suara motor yang tiba-tiba ngerem mendadak. Haaash hampir saja aku tertabrak oleh motor. Pengendara motor itu melihat kearahku. Aku mengamatinya cermat. Seperti pernah melihat sebelumnya. Aku berusaha menggali ingatanku. Ah aku ingat, ini motor sport yang kemarin aku lihat di dekat rumahku. Aku merasa mengenal dekat pengendara motor ini. Ah mungkin hanya perasaanku saja.

Pengendara motor menggerak-gerakkan kepalanya seolah tersadar dari sesuatu. Dia memalingkan mukanya kearah jalan. ”Mianhae Nona,” katanya singkat tanpa melihat kearahku dan kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

Suara itu! Memang terdenger lebih berat karena dia memakai helm, tapi aku mengenali suara itu. Apa mungkin...? Ah tidak mungkin, batinku.

”Ririn, kau kenapa? Mukamu pucat? Siapa lelaki tadi? Dia melukaimu?” tanya Donghae sambil merangkul bahuku panik.

”Kwaenchanha Oppa. Dia tidak melukaiku. Aku... akupun tidak tahu siapa dia...,” jawabku setengah tidak yakin.

”Baiklah ayo pulang,” katanya sambil menuntunku menuju mobilnya.



*****



Aku melajukan motorku cepat. Aku ingin cepat sampai sekolahnya Sang Wan. Untung jalan tidak terlalu ramai, jadi aku bisa ngebut sesuka hatiku. Tidak sabar rasanya ingin bertemu Sang Wan.

CIIIIIIIIIIIIIIIIT

Nafasku memburu. Aku hampir menabrak seorang yeoja. Dari kejauhan aku sudah melihat yeoja ini, tapi tiba-tiba dia melangkahkan kakinya seperti mau menyebrang jalan. Aku reflek menge-rem motorku. Untungnya reflek yeoja itu juga bagus karena dia langsung loncat menjauhi motorku yang hampir menabraknya.

Aku menoleh ke arahnya. Ririn! Yeoja yang hampir aku tabrak adalah Ririn. Astaga aku akan amat sangat merasa bersalah jika tadi aku benar-benar menabraknya. Membayangkannya saja aku tidak bisa. Aku menatapnya lama. Tidak ada yang berubah, masih cantik seperti 4 tahun yang lalu, lebih cantik malah.

Mukanya pucat. Mungkin masih shock dengan kejadian tadi, rasanya aku ingin turun dari motorku dan bergerak memeluknya. Tapi sayang, aku melihat namja yang memakai kacamata hitam bergerak menghampiri Ririn. Aku tersadar dari lamunanku dan mengalihkan pandanganku darinya. Aku menarik nafasku dalam, ”Mianhae Nona,” kataku singkat lalu kembali melajukan motorku cepat. Sempat aku melihat dari spion, namja yang tadi merangkul Ririn menuju mobil yang sama yang pernah aku liat seminggu yang lalu di depan rumah Ririn.



*****



Akhirnya aku sampai juga di sekolah Sang Wan. Aku turun dari motor dan membuka helmku. Aku mengeluarkan handphone dari kantung celanaku dan mencari sebuah nama.

”Ya, kau dimana Sang Wan?” ucapku ketika sambungan telfonku tersambung.

”Aku dibelakangmu Hyung,”

Dengan cepat aku menekan tombol merah dan berbalik ke arah belakang.

”Sang Wan,” aku memeluk dongsaengku ini. ”Kau apa kabar hah? Sudah besar kau sekarang, haha,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan. Namanya Park Sang Wan. Adik kandung Ririn, dulu saat pertama kali Ririn mengenalkanku pada Sang Wan aku langsung tertarik padanya. Pendekatan dengan Sang Wan tidak terlalu susah karena waktu itu Sang Wan masih berumur 13 tahun.

”Hyung, aku sudah memang sudah besar hahaha. Aku baik Hyung. Kau bagaimana?” tanyanya balik. ”Kita duduk disitu saja yuk Hyung,” ajaknya sambil berjalan menuju bangku di dekat lampu taman sekolah.

”Aku baik, apalagi setelah bertemu dengan Noona-mu,” jawabku asal sambil duduk disebelah Sang Wan.

”Kau sudah bertemu dengan Noona, Hyung? Lalu buat apa kau meminta bantuanku?” tanyanya tidak sabar. ”Noonaku tambah cantik kan, Hyung?” canda Sang Wan membuatku tersenyum.

”Noonamu cantik bawaan lahir Sang Wan. Hm satu minggu yang lalu aku melihat Ririn diantar seorang namja sampai kedepan rumah. Tadinya aku ingin menjelaskan semuanya, tapi... ya kau tahu lah perasaanku,” ujarku mulai bercerita.

”Jadi, kau baru sekali bertemu dengan Noona? Itupun kau hanya memperhatikannya dari jauh?” tanya Sang Wan penasaran.

”Hari ini aku bertemu dengannya lagi. Tepat sebelum aku kesini. Dan kau tahu? Dia bersama namja yang waktu itu mengantar Ririn pulang kerumah. Kau tahu dia siapa?” tanyaku penasaran. Sang Wan mengrenyitkan dahinya, berfikir sebentar.

”Kurasa dia Donghae Hyung. Ya! Setelah kau pergi dengan urusanmu, aku sudah tidak bisa lagi mengusik kehidupan Noona, Noona menjadi sangat tertutup, Hyung. Noona juga tidak keliatan dekat dengan siapapun. Tapi, yang aku tahu Umma ingin menjodohkan Noona dengan Donghae Hyung,” jawab Sang Wan yakin.

“Mereka mau menikah dalam waktu dekat ini?” tanyaku hati-hati. Sebenarnya aku takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Sang Wan.

”Kemarin Noona cerita, Donghae Hyung memang menyatakan perasaannya kepada Noona, tapi Noona masih belum bisa menerima, karena ia tidak ingin menjadikan Donghae Hyung sebagai pelampiasan. Kurasa Noona belum bisa melupakanmu, Hyung,” jawab Sang Wan.

”Tapi, minggu lalu kulihat Noonamu itu sangat bahagia,” ucapku putus asa. Entah mengapa aku belum yakin, padahal ucapan Sang Wan barusan harusnya membuatku sedikit bernafas lega.

”Kau lupa, Hyung? Ririn Noona itu pintar menyembunyikan perasaannya. Lagipula aku lebih setuju kalau Noona menikah denganmu dibanding Donghae Hyung. Donghae Hyung baik sih, cuman dia tidak pernah mengajakku bermain sepertimu,” jawab Sang Wan cekikikan. Aku mengangguk setuju dan sempat tersenyum tipis. Kami terdiam lama.

”Urusanmu sudah selesai, Hyung?” tanya Sang Wan memecahkan keheningan malam.

”Sudah. Eh kamu tidak memberi tahu Noonamu kan kalau aku sudah di Korea?” selidikku kepada Sang Wan.

”Ooops kemarin aku keceplosan Hyung,” aku memelototinya. ”Haha tidaklah Hyung, kau bisa mempercayaiku 100%. Semuanya aman kalau ditanganku,” lanjutnya lagi.

”Oiya Hyung, Noona 2 minggu lagi skripsi loh. Kau datang ya ke acara wisudanya. Nanti aku akan memberitahukan tentang hasil sidangnya itu. Trus nanti aku beritahu juga kapan, dimana, jam berapa acaranya berlangsung,” lanjut Sang Wan sambil memperhatikanku.

“Hyung, mau sampai kapan kau begini terus? Aku tahu kau rindu pada Noona dan aku yakin Noona pun rindu padamu Hyung. Tunjukkanlah dirimu, jelaskanlah semuanya. Noona pasti akan mendengarkan dan mengerti, Hyung. Kalau aku jadi Hyung, aku juga pasti akan melakukan itu,” jelas Sang Wan setelah melihat ekspresi keraguan dari wajahku.

”Gomawoyo, dongsaeng. Kau benar, aku rindu sekali pada Noonamu! Baiklah, jangan lupa memberitahuku dimana dan kapan acara wisudanya ya. Aku pulang dulu,” kataku sambil berjalan menuju motor dan memakai helmku.

”Sip Hyung, ingat! Semuanya beres ditanganku,” jawabnya asal.

Aku menaiki motorku dan mulai menyalakan mesinnya. Dan mulai melajukan motorku pelan.

”HYUNG!!!” Aku menghentikan motorku karena mendengar Sang Wan memanggilku. Sang Wan setengah berlari menghampiriku. ”Satu hal yang aku tahu tentang kalian berdua sampai sekarang. Kalian masih saling membutuhkan dan mencintai. Kejar Noonaku ya, Hyung,“ ujar Sang Wan sambil menepuk pundakku ringan dan tersenyum.



*****



”Jangan turun, Oppa,” ucapku saat Donghae Oppa hendak membuka pintu mobilnya.

”Waeyo?” tanyanya bingung.

”Hhhh... Oppa, terima kasih sudah membantuku tadi. Terima kasih atas semua perhatian yang kau sudah curahkan kepadaku. Aku butuh waktu Oppa, biarkan aku memikirkan semua ini. Sendirian!” jawabku sambil menatap matanya.

”Tapi.........”

”Aku tidak ingin kau menemuiku sampai 2 minggu kedepan. Kita bertemu setelah aku selesai sidang ya, Oppa. Aku mohoon,” ucapku lagi. Aku tak memberikan celah sedikitpun untuk Donghae berbicara.

”Baiklah, tapi kau juga harus memberikan jawabanmu setelah sidang ya,” jawab Donghae akhirnya.

”2 hari setelah acara wisudaku. Bagaimana?” tawarku. Kurasa aku belum siap jika secepat itu.

”Baiklah. Turunlah, sudah malam. Tidur yang nyenyak ya,” ucap Donghae sambil tersenyum. Aku bisa melihat kekecewaan yang tersirat dari wajahnya.



Aku melangkahkan kakiku gontai menuju kedalam rumah. Aku langsung menaiki tangga kelantai dua dan memasuki kamarku. Kurogoh handphoneku dari dalam tas.



To: Park Sang Wan :D

Kau kapan pulang? Aku mau cerita sesuatu.



Setelah beberapa menit, aku belum juga mendapatkan balasan darinya. Mungkin dia sedang sibuk ya di sekolahnya? Aku memutuskan untuk mandi sambil berharap Sang Wan membalas smsku.

Setelah keluar dari kamar mandi aku mengecek handphoneku. Aissssh kenapa belum dibalas juga sih? Aku terduduk lunglai di samping tempat tidurku. Aku memeluk lututku sendiri. Entah ada energi apa yang membuatku tiba-tiba berjalan menuju lemari bajuku dan mengambil kotak coklat muda yang berada dibagian bawah.

Aku menarik nafas panjang sebelum memutuskan untuk membuka kotak kusam yang kusimpan sejak 4 tahun yang lalu itu. Kubuka kotak itu perlahan, mataku langsung panas. Air mata pertamaku menetes ketika aku meraih beberapa tiket nonton film ataupun nonton konser. Kemudian ada beberapa partitur yang waktu itu ketinggalan dirumahku. Ada beberapa foto kami berdua, ada surat-surat yang waktu itu pernah diberikannya kepadaku. Ada... banyak kenangan kami berdua disitu.

Tangisku semakin deras ketika aku mendapatkan plastisin berbentuk bintang yang sudah lengket dan melekat di dasar kotak itu. Aku berusaha mengambilnya dan berusaha tidak merusak bentuknya. Aku masih bisa membaca tulisan yang diukir diatas plastisin bintang itu.... ”Happy 1st year anniversary Ririn-ah ©© Jeongmal Saranghaeyo. Yours-Henry Lau”



Drrrrrrt. Drrrrrrt. Drrrrrt.



Aku merangkak menuju kasur karena sudah tidak sanggup untuk berdiri tegak. Aku terlalu lelah. Dahiku berkerut melihat nomor yang tertera di layar handphoneku Unknown Number.

”Yeoboseyo.....”

Tuuut.....tuuuutttt.........tuuuuuut..........



-TBC-

you also can see this post on fangirlnation.wordpress.com

Read more...

Sabtu, 07 Agustus 2010

Our Status : Engaged [part 5]

Hyunmi’s POV

“Dimsum?”
“Iya, memang kenapa?”
“Itu bukannya resep spesial keluarga umma?”
“Iya, sebentar lagi kan dia juga jadi keluarga umma, tidak ada salahnya kan?”
“Tapi.. aku saja belum pernah makan itu..”
“Ya nanti kau minta saja sama dia, sudah cepat nanti terlambat”
“Hah? Tidak mau.. ya aku berangkat”

Yap! Setelah bertunangan sekarang tugasku bertambah satu, memberikan bekal pada Taemin. Tentu saja ini bukan kemauanku. Tapi umma. Dan puncaknya pada hari ini. Umma membuat dimsum dari resep spesial keluargnya yang bahkan aku yang anak kandungnya saja belum pernah memakannya! Sepertinya umma lebih menyayangi Taemin dari pada aku (T_T).

Hari ini aku tidak diantar Taemin. Katanya harus membantu orang tuanya sebentar. Ya sudahlah aku juga tidak peduli. Lebih menyenangkan naik bis seperti ini.

Ah, sampai sekolah. Dan langsung di sambut tepukan di bahuku oleh Jonghyun. “Annyeong!”. “Ya! Mengagetkan saja..” aku ikutan menepuk bahunya. “Mianhae! Itu apa?” Jonghyun menunjuk ke kotak bekal yang ku bawa. “Biasa.. untuk si itu” jawabku. “Bukan! Maksudku isinya apa hari ini? Bibimbap? Soondae?”

“Aniyo, ini dimsum” jawabku lagi. “Oh..” ia mengangguk. “Eh cincinmu tidak di lepas?”
“Eh iya, tolong pegang ini sebentar” ah.. hampir saja lupa. Aku tidak ingin yang lain tahu tentang ini. Jadi lebih baik di sekolah cincinnya ku lepas, saat pulang ke rumah ku pakai lagi. Memang merepotkan tapi mau bagaimana lagi (-,-).

Tapi.. kok susah sekali di lepas ya cincin ini (>o<).

“Wae?” Jonghyun kebingungan melihatku yang menggerutu sendiri. “Hah! Tidak bisa dilepas..” aku mulai panik. “Coba nanti pakai sabun, biasanya sih berhasil” usulnya. Ah.. benar pakai sabun. Terkadang sahabatku yang aneh ini pintar juga.

Sampai di kelas aku buru-buru meletakkan tas ku dan bergegas ke kamar mandi. Mencoba melepaskan cincin itu dengan bantuan sabun. “Aish.. kenapa tidak mau lepas?” aku menggerutu lagi. Padahal sabunnya sudah cukup banyak! Akhirnya aku menyerah dan kembali ke kelas.

“Bisa lepas?” Jonghyun bertanya padaku. “Aniyo.. huaa aku harus bagaimana?!” jawabku sambil menarik-narik baju seragam Jonghyun. “Tenang saja, pasti Taemin melepas cincinnya kan? Tenang tenang!” Jonghyun menenangkanku. Ah benar juga, pasti dia melepasnya kan? Aku sedikit lega tapi entah mengapa perasaanku tidak enak (._.)

==

Taemin’s POV

Aku menatap jari manisku yang memerah. Dan juga menatap sebal ke sebuah benda sial yang seharusnya bisa lepas dari jari mansiku. “Aish kau membuatku malu tahu tidak?” aku bicara pada benda sial yang bernama cincin itu. Daritadi semua orang di kelasku sudah memperhatikan aku yang gagal melepas benda sekecil ini dari tanganku. Untungnya mereka tidak bertanya ini cincin apa. Tentu saja aneh untuk seorang namja memakai cincin, emas putih pula.

“Kau kenapa?” Minho yang baru datang. “Tolong aku carikan plester, jariku berdarah” jawabku asal. “Coba ku lihat?” ia mencoba melihat jariku. “Jangan! Kalau kau lihat nanti jadi infeksi” kataku bercanda. “Ya! Mataku ini memancarkan cahaya tahu bukan kuman! Sebentar aku ke UKS dulu”

Sebenarnya jariku hanya merah-merah saja tidak sampai berdarah. Aku sengaja meminta plester untuk menutup cincin itu.

“Ini” Minho menyerahkan plester itu. “Gomawo Minho-ya” aku membuka plester itu dan memakainya di jariku. Beres. Walaupun jika dilihat dari dekat kelihatannya luka ini aneh. Sudahlah.

“Taemin-sshi!” Key memanggilku. Tidak biasanya. Kami memang sekelas tapi tidak dekat. Anak itu terlalu pintar untuk jadi teman dekatku.

“Ini dari Hyunmi” Key menyerahkan barang itu. Pasti kotak makanan. Sudah kuduga..

==

Hyunmi’s POV

Aku masih memikirkan cincin yang tidak mau lepas ini. Bagaimana kalau tidak bisa lepas seumur hidup? Lalu jari manisku nanti jadi mengecil, ah ini dia alasanku tidak suka pakai cincin!
“Hyunmi-ah! Jangan bengong!”

“eh.. Sungrin!” rupanya dia sudah datang. “Aku tidak bengong kok!” kataku sambil masih menatap cincin itu. “Kau.. pake cincin? Bukannya aku tidak suka pakai cincin?” tanya Sungrin heran.

Mati aku! “Ah.. aku sedang mencoba pakai cincin.. umma yang menyuruhku..”

“Oh.. baguslah! Nanti kapan-kapan kita buat cincin persahabatan ya?” kata Sungrin. “Ah.. pasti..” kataku setengah hati.

Ah iya! Dimsum nya! “Sungrin-ah, aku keluar sebentar ya!” aku bangun dari kursiku lalu membawa kotak makanan itu. “Mau kemana?”

“Memberikan bekal untuk..” ups! Untuk siapa? Kalau aku bilang untuk Taemin pasti persahabatanku hancur saat ini juga.

“Untuk Key! Iya kan Hyunmi?” tiba-tiba Jonghyun datang. Ah kau penyelamatku Jjong!! “Ne, kau tau saja Jjong.. sudah ya nanti keburu bel masuk!” aku buru-buru keluar kelas dan menuju kelas Taemin. Mianhae Sungrin, aku membohongimu lagi..

==

Sungrin POV

“Sungrin-ah, aku keluar sebentar ya!” Hyunmi beranjak dari tempatnya sambil membawa kotak bekal. Dia membawa bekal untuk siapa? “Mau kemana?” tanyaku

“Memberikan bekal untuk..” jawabannya menggantung. Aku menunggu terus jawabannya.
“Untuk Key! Iya kan Hyunmi?” Jonghyun datang menghampiri kami.

“Ne, kau tau saja Jjong.. sudah ya nanti keburu bel masuk!” ia berlari lalu tersenyum. Untuk Key ya? Mereka sudah jadian?

“Jjong-ah! Hyunmi dan Key sudah jadian?” tanyaku pada Jjong yang duduk di depanku. “Hmm.. iya sudah, hari Sabtu..” jawab Jjong.

“Wah..” aku tersenyum. “Kita ikuti Hyunmi yuk!” aku menarik lengan Jjong dan mengajaknya keluar kelas.

“Tadi dia ke arah sini atau ke arah sana Jjong?” aku melihat ke kanan dan kiri, siapa tahu Hyunmi masih terlihat. “Ya! Kau tahu tidak mengintip orang pacaran itu tidak sopan!” Jjong melepaskan lengannya dari genggamanku. “Arasseo, tapi sekali ini saja ya? Temani aku ayo..”

“Itu dia!”

Hyunmi sedang menyerahkan bekalnya pada Key. Key tersenyum. Lalu Hyunmi pergi. Tapi Key mengejarnya. Lalu Hyunmi menunjukkan sebuah kalung pada Key. Sepertinya mereka sudah lama ya pacarannya? Tapi tidak mungkin, harusnya Hyunmi bilang padaku dulu kan?

“Sudah lihat kan? Ayo kembali ke kelas! Nanti ketahuan!” Jjong mulai tidak sabar. Kenapa dia cerewetnya melebihi aku sih? “Ya sudah kau duluan saja, aku mau ketemu Key dulu, oke?”

“Mworago? Ah ya sudahlah terserah kau saja” ia berlari meninggalkanku sementara aku berjalan ke dekat Key. “Key-sshi!”

“Ne?” ia menoleh ke arah ku.

==

Hyunmi’s POV

“Dimana kelasnya…” aku menggumam sambil mencari kelas Taemin. Dia kelas C kan? Hah aku lupa.

“Hyunmi-ah!” panggil seseorang di belakangku. Aku menoleh. “Ah, Kibum!”
“Sudah hampir bel masuk kau masih berkeliaran disini, ada apa?” tanya Key padaku. “Hmm, aniyo aku mau ke kelas XI C..” jawabku.

“Itu kan kelasku, kau mau bertemu siapa?” tanya Key lagi. “Oh kau satu kelas dengan Taemin?” tanyaku balik. “Ne, waeyo?”

Aku titipkan saja kotak bekal ini padanya, mumpung dia sekelas dengan Taemin. “Hmm.. bisa kau berikan ini pada Taemin? Ini dari ibuku untuk dia” ujarku sambil menyerahkan kotak bekal itu pada Key. “Untuk Taemin? Kau dekat dengannya?” Key bertanya lagi, namun dengan nada yang lain.

“Aniyo.. bukan aku.. tapi ibuku dan ibunya sahabat dari SMA” aku terkekeh. “Tolong titip ya? Gomawo Kibum..” aku bergegas menuju kelas tapi..

“Jakkaman!”
“Wae?”
Ia mendekatiku. “Kau.. pakai kalung itu tidak?”

Ah kalung itu.. “Ini” aku menunjukkan kalung kunci yang terpasang di leherku. “aku pakai kan?”
“ah iya.. aku pikir kau tidak suka kalung itu”
“Mwoya? Aku suka kok, sudah ya aku ke kelas dulu, pulang sekolah kita bertemu lagi”
“Dahh..”

Aku berlari menuju kelas. Untunglah belum bel dan belum ada guru. Tapi, dimana Sungrin? (._.)a

“Jonghyunnie.. mana Sungrin?” aku bertanya pada Jonghyun yang sedang asik mendengarkan musik. Pasti dia tidak dengar. “Jonghyun-ah!” aku sedikit berteriak. Masih juga tidak mendengar. Aku membuka earphone nya dan berteriak di telinganya “KIM JONGHYUUUN!!!!”

“Waeyo? Tidak usah berteriak di telingaku dong Hyunmi-ah!” katanya seperti tidak sadar sudah membuat orang jengkel. “Salah sendiri di panggil tidak dengar! Mana Sungrin?”

“Molla, ke toilet mungkin” jawabnya. “oh..”

Ah itu dia! Tapi aneh, raut wajahnya berubah. “Sungrin-ah! Waeyo?” tanyaku setelah ia duduk di kursinya. “Aniyo.. memangnya ada apa?” dia malah balik bertanya. Ia seperti menyembunyikan sesuatu. Dan sepertinya dia sedikit shock. Baiklah kalu begitu aku tidak akan mengganggunya.

“Park seonsang-nim datang!”

”Selamat pagi anak-anak, hari ini ada dua pengumuman dan dua-duanya berita gembira untuk kalian. Yang pertama adalah hari ini dan besok kalian belajar di rumah masing-masing..”

Dan seluruh murid langsung bersorak. Aku juga. Kalau begitu hari ini aku cuma latihan dance saja kan? Yes!

“Tenang dulu semuanya! Pengumuman yang kedua adalah sekolah akan memberikan hadiah untuk siswa-siswi kelas XI yang di saat pembagian rapor nanti mendapat peringkat 10 besar di rangking satu angkatan akan mendapatkan liburan ke sebuah tempat yang masih di rahasiakan. Jadi yang ingin mendapatkan hadiah itu, harus rajin belajar mulai dari sekarang. Sekarang kalian boleh pulang! Annyeonghi gyeseyo yorobun”

Liburan ya? Baiklah aku akan belajar giat!

“Hyunmi-ah, kau mau pulang tidak? Sudah lama kita tidak pulang bersama” ajak Sungrin. “Iya kau terlalu sibuk sekarang” tambah Jonghyun. “Sungguh aku mau pulang dengan kalian, tapi akhir semester nanti aku ada pertunjukkan dance di sekolah lain, aku harus latihan..”

“Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu ya! Fighting!” Jonghyun berlalu sambil melambaikan tangan. “Annyeong Hyunmi-ah.. jangan kecewakan aku ya?”

Aku menangkap sesuatu yang lain dari perkataan Sungrin. Entahlah. “Tidak akan. Annyeong!” aku juga mengambil tas ku dan pergi menuju ruang latihan.

==

Sungrin’s POV

“Kau kenpa? Tumben diam?” kata Jonghyun. “Ah aniyo.. eh, aku mau bertanya sesuatu”
“wae?”

“Kau… berbohong ya padaku? Key dan Hyunmi… tidak pacaran kan?” tanyaku langsung to the point.

“Tentu saja aku bohong, kenapa baru sadar sekarang kalau aku membohongimu?” ia tersenyum jahil. “Huh dasar!” aku berhenti berjalan. “Kau marah ya? Mianhae” katanya lembut. Tidak biasanya.

“Kwaenchanha, hmm tapi aku sudah sadar dari tadi sebenarnya” jawabku.

~
“Key-sshi!”

“Ne?” ia menoleh ke arahku. “Sedang apa tadi kau dengan Hyunmi? Mesranya.. sudah berapa lama pacaran?” tanyaku padanya.

“Mwoya?” ia tampak kaget. “kau.. mengira aku dan Hyunmi pacaran? Kami cuma sahabat, tidak lebih”

“Jinca? Kalau begitu mengapa Hyunmi memberimu bekal?” selidikku lagi. Aku masih belum yakin akan perkataanya.

“Bekal ini? Ini bukan untukku” jawabnya lagi. “Lalu untuk siapa?” aku jadi bingung. Kalau bukan untuk Key untuk siapa? “Ini untuk Lee Taemin. Kau kenal dia kan?”

Taemin? Untuk apa Hyunmi memberikan bekal untuk Taemin? “Oh iya aku kenal dia. Tapi mengapa dia memberikan bekal untuk Taemin?”

“Molla. Ah mianhae Sungrin-sshi aku harus kembali ke kelas, annyeong haseyo” katanya terburu-buru. “Annyeong haseyo..”
~

“Oh begitu” nada bicara Jonghyun mulai agak cemas. “Wae?” tanyaku. “Ani..”

“Aku penasaran ada apa antara Hyunmi dan Taemin..” ujarku

“Hmm.. aku juga” ujar Jonghyun, kali ini dengan nada bicara yang makin aneh.

“Hyunmi.. dia.. tidak akan menyakiti perasaanku kan? Iya kan Jjong?”

Jonghyun berhenti berjalan lalu memutar tubuhku ke hadapannya “Pastinya! Kau tenang saja! Kau tidak yakin pada sahabatmu sendiri?”

Ah tentu saja! Mana mungkin sahabatku mengkhianatiku? “Aku yakin padanya, dan aku juga yakin padamu, kita sahabat dan tidak akan saling menyakiti, iya kan?” aku lantas memeluk Jonghyun.

“Terima kasih telah percaya pada kami Sungrin-ah..”

==

Hyunmi’s POV

“Yap harap kalian berkumpul dulu sebentar” ujar pelatih kami sebelum mulai latihan. “Ada apa pak?”

“Ini.. ternyata konsep kita sudah dipakai sekolah lain, terpaksa kita harus ganti konsep”

“Ganti ke konsep apa?” tanya Taemin. Aku juga penasaran.

“Aku sudah memikirkannya, karena kebetulan sekali jumlah anggota laki-laki dan perempuan sama jumlahnya, kita akan dansa berpasangan ala Eropa klasik yang digabungkan dengan unsur-unsur modern. Pasangannya boleh memilih sendiri”

Ku lihat beberapa temanku sudah mendapat pasangan. Sementara aku? Hanya menunggu. Aku bingung mau dengan siapa.

“Park Hyunmi! Sudah dapat pasangan?” tanya pelatih padaku. Aku menggeleng. “Kalau begitu pas sekali, dancing queen dan dancing king kita bersatu”

Mworago?

“Uri Leader Taemin akan berpasangan denganmu. Yorobun! Setuju tidak kalau Hyunmi dan Taemin berpasangan?”

“SETUJU!!!” dan semua orang bertepuk tangan. Aku mengehela nafas dan melirik ke arah Taemin. Dari pandangannya ia mengatakan ia sudah pasrah.

“Kalau begitu latihannya bisa dimulai sekarang kan?”

==

“Taemin! Hyunmi! Jarak kalian kurang dekat! Taemin! Pegang tangan Hyunmi dengan kuat! Ayo kita mulai lagi, tap tap tap!”

‘Kurang dekat apanya!’ ucapku dalam hati. Jarak kami sudah sangat dekat! Pandangan mata kami sudah bertemu berkali-kali. Dan entah mengapa itu cukup membuatku gugup. Dan setelah dilihat-lihat, dia.. tampan juga. Hey Hyunmi sadarlah!

“Baiklah! Cukup latihannya untuk hari ini, besok kita latihan lagi. Silahkan ganti baju dan pulang!” pelatih menyudahi latihan hari ini. Ah akhirnya…

Aku segara mengganti bajuku dan keluar ruang latihan. Menunggu Taemin mengembalikan kotak bekalku lalu pulang.

Aku duduk di bangku taman sekolah untuk menunggunya keluar dari ruang latihan. Ah itu dia. “Taemin-ah!”

Ia menengok ke arahku dan menghampiriku. “Wae?”

“Itu, kotak bekalku, kembalikan”

“Oh ini” ia malah duduk di sampingku. “Aku belum memakannya, aku makan dulu ya” ia membuka kotaknya. “Oh dim sum ya” ia mulai memakannya.

Aku hanya melihat ke arah dim sum itu. Jujur aku penasaran dengan rasanya. Resep spesial keluarga ibu…

“Kenapa melihat ke sini terus?” Taemin membuyarkan lamunanku. “Ani” jawabku.

Tiba-tiba aku menangkap sesuatu di jari manisnya. “jarimu itu.. kenapa?”

“Ah ini” ia malah membuka plesternya. “kau lihat? Cincin sial ini menempel terus, tidak mau lepas, tuh” ia mencoba melepaskan cincin itu. “coba kau yang lepaskan”

“Hah? Kau pikir aku bisa melepas cincin yang kau pakai? Punyaku saja aku tidak bisa!”

“Maksudmu?”

“Lihat!” aku menunjukkan jari-jariku juga. “Punyaku juga tidak bisa lepas! Ottohkeyo?”
“Ada apa dengan cincin ini? Mengapa mereka tidak mau lepas!!”

“Jangan-jangan memang sudah takdir..”

“Mworago?”

“ANDWAE!”

-TBC-


Read more...

Senin, 02 Agustus 2010

Our Status : Engaged [part 4]

Key’s POV
“Terima kasih ya untuk hari ini, tugasku sudah selesai semua sekarang, ah kau memang sahabatku yang paling pintar!” aku tersenyum mendengarnya. “Ah sama-sama, berkat bantuanmu tugasku juga sudah selesai juga” jawabku.

“Apa? Aku tidak membantu apa-apa Kibum, kau yang membantuku, terima kasih sekali lagi!” Hyunmi lagi-lagi tersenyum. ‘Ah kau membantuku tahu! Membantuku mencerahkan hari ini, membuatku semangat belajar hari ini!’ gumamku dalam hati. “Cheonmaneyo Hyunmi-ah! Sudah beres semua?”

“Ne, ayo pulang, kaza!” ajaknya. Kami keluar dari perpustakaan dan berjalan pulang. Kebetulan rumah kami searah, jadi bisa bersama. Sepanjang jalan ia menceritakan kehidupannya seminggu ini, seperti biasa, selalu ceria. Dan aku senang mendengarnya.

“Aku sampai duluan! Annyeong Kibum-ah!” ia membuka pagar rumahnya. “Annyeong..” aku juga mengucapkan selamat tinggal. Tapi tunggu dulu! Sepertinya ada yang terlupa..

“Ah, Hyunmi-ah!” panggilku sebelum Hyunmi masuk ke rumahnya
“Waeyo?”
“Jakkaman!” aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebuah kotak. “Ini!”
Ia menghampiriku, keluar pagar lagi. “Ige mwoya?”. “Untukmu, hadiah dari ku, yang mungkin sudah kau tunggu sejak dulu” aku membuatnya penasaran. “Bukanya di dalam saja ya? I hope you like it. Bye!”
“Arasseo, thanks Key!”

==

Hyunmi’s POV

“Aku pulang” aku masuk ke dalam rumah. Sepi. Kemana orang-orang? “Ahjumma!”

“Ne?” Kim ahjumma mendatangiku. “Umma appa dimana?” tanyaku. “Sedang pergi bersama keluarga Lee, dengar-dengar katanya ke toko perhiasan, lalu..”

“Ah! Algaesseumnida Kim ahjumma, aku naik ke kamar dulu” aku sengaja memotong pembicaraannya, pasti umma appa dan mereka sedang mengurusi untuk acara besok. Menyebalkan. Rencana Taemin harus berhasil, dia harus kabur!

Aku merebahkan tubuhku di kasur dan meletakkan hadiah dari Keybum di perutku. “Mwoya ige?” aku bangun dan membuka kotaknya. Ah! Ini… buku. Buku yang memang sudah aku tunggu sejak lama! “Akhirnya kau menerbitkannya ya, tidak beritahu padaku dulu” aku tersenyum kecil dan mengeluarkan buku itu dari kotaknya dan mulai membacanya.

Ada tulisan tangannya di halaman pertama buku itu,

“Annyeong haseyo Hyunmi-sshi!” mwoya? Formal sekali anak ini (-_-)
“Mianhamnida tidak memberitahumu tentang buku ini,” ya! Tidak akan aku maafkan Key!
“Tapi kau pasti akan memaafkanku jika kau tahu, buku ini buku yang paling pertama yang harusnya diberikan kepada penulisnya, tapi karena kau sudah menantikannya, jadi aku berikan saja padamu. Kau beruntung sudah dapat buku ini duluan! Yang lain harus menunggu seminggu lagi untuk mendapatkannya! This is special for you. Kekekeke”

“Semoga kau suka ya, selamat membaca Park Hyunmi!”

Anak ini.. narsis sekali sih (=.=)

 “aku akan membaca bukumu nanti arachi?” aku bicara pada buku itu dan hendak memasukkannya lagi ke dalam kotak. Tapi aku menemukan sesuatu di dalam kotak itu : kalung berbentuk kunci. Bentuknya seperti kunci antik, lucu sekali. 

‘Loverholic robotronic loverholic robotronic’

Aku membuka flip LG Lollipop Cyon milikku. Keybum ternyata.

From : Kim Keybum
Sudah buka hadiahku? Kekeke ^.^
~
To : Kim Keybum
Sudah! Jeongmal kamsahamnida Kibum-sshi~..
~
From : Kim Keybum
Formal sekali sih? Waeyo?
~
To : Kim Keybum
Kau duluan yang formal! Kekeke~ aku suka kalung kunci nya ^^
~

From : Kim Keybum
Ah catatanku ya? Kekeke~ syukurlah kau suka kalung itu, biar ingat padaku terus, oke?
~
To : Kim Keybum
Ne! Mwoya? Narsisnya sahabat kunci ku (+_+)
~
From : Kim Keybum
Kekeke~ bukunya jangan lupa di baca ya?
~

Pasti kubaca, dasar cerewet! Tapi nanti ya habis aku tidur siang? Aku sudah mengantuk nih tiduran di ruangan AC begini. Hihihi.

==

Taemin’s POV

Apa ini? Maksudku, apa-apaan ini? Hari ini aku benar-benar jengkel. Dari jam 10 sampai sekarang jam 3 sore para ahjumma dan ahjussi ini mengajakku berkeliling mal. Dan kalian tahu mereka mengajakku kemana saja? Ke toko perhiasan dan ke butik! Hanya 2 tempat itu saja!! Pasti ini untuk acara besok. Tenang saja, aku bakal kabur kok jadi kaian tidak usah repot mengurusi acara itu!

Aku lapar. Benar-benar melewati jam makan siangku. Aish..

“Taemin! Sini coba dulu jas nya!” umma menyuruhku mencoba jas-jas itu lagi. Begitulah dari tadi kerjaanku mondar mandir mencoba jas ini, celana itu, kemeja ini dan dasi itu.. melelahkan kau tahu? Kenapa tidak langsung pilih saja sih?

“Palli ya! Jangan lambat begitu! Kau kenapa sih? Lapar?” tanya appa. Tentu saja lah aku lapar! Aku menangguk kecil. “Baiklah setelah kau mencoba yang ini kau boleh makan, tapi sendirian, dan jangan kabur! Nanti kembali lagi kesini, cari sepatu. Arasseo?” kali ini umma sangat-sangat cerewet. “Algasseumnida”

Dan.. selesai! Hah aku ingin makan ayam sepertinya. Ah itu dia. Aku menuju ke restoran dengan papan nama “Mexicana” *reader: woo promosi mulu lo!*

Aku langsung memesan satu porsi ayam goreng dan kimchi. Aigoo ya, mashita! Aku makan banyak sekali. Tak apalah, wajar aku masih dalam masa pertumbuhan kan? Haha.

‘We gonna rocka rocka rocka rocka rocka rocka so fantastic’

Aish.. sms mengganggu saja! Aku buru buru melihat HP ku dan membaca sms nya. Minho rupanya.

”Ya! Besok jadi tidak? Kalau jadi aku menculikmu jam berapa?”

Baboya! Kenapa pakai kata menculik sih?

To : Minho
Jadi, jam 7 pagi saja, jangan terlambat, ara? Tapi kenapa pakai kata menculik sih? (-_-)

Dia tidak membalasnya lagi, baiklah lanjutkan makannya! Masih ada beberapa potong ayam di hadapanku. Dengan cepat aku memakannya, sebelum aku di panggil lagi untuk mencoba sepatu-sepatu itu (-_-)

Dan.. benar saja..

“Taeminnie!” umma masuk ke restoran ini. “Kenapa hanya makan tapi lama sekali?”

MWOYA?? Aku kan baru saja makan! “Mwo? aku baru sebentar umma, aku habiskan dulu ya? Aku masih lapar..”

“Andwae, ayo keluar dari sini, palli, urusan kita disini belum selesai sayang” umma menarik tanganku dan membawaku keluar dari restoran. Bahkan aku belum cuci tangan! Jinca... (--“)

==

Hyunmi’s POV

‘Juliette..Oh~’

“Nuguyaaa~” haah telpon yang mengganggu tidurku saja. Aku melihat display name nya. ‘Bling-Bling Jonghyun’. Tidak di sekolah, tidak di rumah, selalu saja membangunkanku saat tidur (-.-).

“Mwoyaa?” aku menjawab telponnya
“Hmm.. aniyo” mwoya? Dasar golongan darah AB (-_-).
“Kalau begitu aku tutup ya telponnya, daaah..”
“Jangaaan!”
“Aish.. kenapa menelponku? Tahu tidak kau mengganggu tidur siang seorang putri cantik?”
“Aigooya.. mianhamnida tuan putri.. itu aku ingin bertanya..”
“Tanya apa?”
“Besok kau jadi..”
“Jadi, kenapa kau mau datang?” (-_-)
“Ah tidak.. chukkae ya!”
“Tapi Taemin sudah berencana kabur kok, kemungkinan acaranya batal”
“Jeongmal? Chukkae!”
“Mwo? dasar kau bling bling jonghyun aneh!”
“Biar aneh tapi ganteng kan?”
“Iya lah terserah kau saja! Eh jangan beritahu ini pada siapa-siapa ya? Apalagi ke Sungrin..”
“Tenang saja lah, sahabat bling-bling mu bisa di andalkan!”
“Oke gomawo Jonghyun-ah, annyeong!
“Annyeong!”

Ah.. dasar sahabat aneh. Tapi biarpun aneh dia adalah namja paling baik padaku yang pernah aku kenal (setelah appaku tentunya, kkkk). Sudahlah aku mau melanjutkan tidur. Semoga besok semuanya berjalan seperti yang ku inginkan (^_^).

==

Taemin’s POV

Minggu, pukul 7 pagi waktu Korea bagian kamar Lee Taemin *reader: apadah saa -_-*

“Dimana Choi Minho? Aish..” aku berdiri di balkon kamarku sambil melihat ke arah jalan, mencari si ‘penculikku’ atau lebih tepatnya penyelamatku. Iya kalau dia berhasil membawaku kabur. Kalau tidak?

“Lee Taemin! Sst!”

 “Ah akhirnya kau datang” aku menengok ke arah datangnya suara. “Jakkaman aku turun dulu”. Ah untung aku dulu anggota pramuka, aku masih punya tangga dari tali, bisa turun dengan aman, asal tidak berisik pasti aku bisa kabur. Fighting.

Yap! Aku mulai turun dan sedikit lagi berhasil! Tapi..

‘BRUKKK’ sial! Aku harus kabur sekarang! Terdengar suara ibuku. “Mwoya igeee?”

“Palli ya!” Minho menyuruhku lebih cepat. “Arasseo!” aku buru-buru membuka pagar dan meloncat (?) ke motor Minho. “Palli!!”

Ah.. leganya, sudah kabur dari acara itu. Dan Minho mengebut! Aku semakin lega. “Minho ya, gomawo!” aku menepuk pundaknya sambil sedikit tersenyum karena lega. “Cheonmaneyo Taeminnie, tapi aku rasa kau harus menarik kata-kata gomawo mu” kata Minho sedikit cemas. “Waeyo?” aku melihat ke depan.

“A...a..appa?”

==

Hyunmi’s POV

“Dimana mereka?” umma nampak panik karena keluarga Lee belom datang juga. ‘Sepertinya Taemin berhasil, yes!’ aku bersorak dalam hati. Aku kan memang tidak di takdirkan bersama dia umma, sudahlah lupakan saja acara ini..

“Iya, dimana ya mereka? Hyunmi sudah cantik begini..” appa juga ikutan panik. Aku makin senang. Sepertinya Taemin benar-benar berhasil kabur. “Mereka tidak jadi datang ya? Baiklah aku ganti baju saja ya..”

“Enak saja! Mereka pasti datang!”

“Nah itu mereka!” appa berseru. Mwoya?

==

“Kenapa kau datang hah?” aku menyikut lengan Taemin sesaat setelah acara selesai. “Karena aku gagal! Begitu saja harus ku jelaskan!” dia kelihatan kesal. “Kenapa kau gagal! Aku kan jadi mendrita sekarang! Aish..” aku juga ikutan kesal. “Kau menyalahkanku? Kenapa tidak kau saja yang kabur? Aku juga sudah berusaha tahu tidak?”

“Ah kau menyebalkan!”

“Kau yang menyebalkan! Dasar wanita..”

-TBC-

p.s. : maaf keluarnya lama.. lagi bener-bener hiatus.. abis itu laptop yang biasa di pake buat nulis udah lenyap.. jadinya agak lama deh keluarnya.. hoho happy reading ya :D

Read more...

Sabtu, 31 Juli 2010

GA JADI PINDAAAAAH ^____^

YOROBUN! KITA GA JADI PINDAH....

SOALNYA... SETELAH DILIHAT-LIHAT, FANGIRLNATION UDAH GAMPANG DI CARI DI GOOGLE.. TERUS YA, BLOG YANG DI WORDPRESS ITU BELOM JADI.. MAKANYA KITA BALIK LAGI KESINI!

eh iya katanya Tiara dia mau cari author baru... yang berminat ngomong di cbox ya... okeh?


Read more...