ANNYEONG HASEYOOOOO!
YANG KANGEN TIARA YANG KANGEN TIARA, SEKARANG ORANGNYA BALIK NIH!
ENJOY HER BRAND NEW FF! ^O^
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Aku mau kau berjanji satu hal,”
”Apa?”
”Kau tunggu aku sampai aku kembali ke sisimu,”
”Apa kau akan kembali?”
”......
SIAL!! Aku terbangun dari mimpiku. Kenapa aku selalu terbangun saat dia belum menjawab pertanyaan itu. Ini sudah keempat kalinya aku mendapatkan mimpi seperti itu dan sudah empat kali juga aku tebangun dengan pertanyaan yang belum sempat terjawab. Di mimpi itu aku bisa melihat sesosok lelaki yang amat sangat kucintai. Sudah 4 tahun dia menghilang tanpa kabar, dan 4 tahun juga aku masih mencintainya. Dia meninggalkanku, meninggalkan perasaan cintanya di hatiku yang paling dalam. Aku masih menunggu, dan terus menunggu. Aku pun tak tahu sampai kapan aku akan menunggunya.......
*****
Aku menuruni tangga rumahku dengan membawa beberapa tumpuk buku sebagai bahan skripsiku yang tinggal 4 minggu lagi.
”Pagi Ririn,” sapa Ummaku ketika aku menarik kursi meja makan.
”Pagi Umma. Appa sudah berangkat ya?” tanyaku sambil meminum susu putih yang sudah tersedia di depanku. Umma hanya mengangguk sambil duduk di hadapanku. Appaku sudah pensiun beberapa bulan yang lalu dan sekarang kerjaannya hanya mengantarkan adikku ke sekolah atau terkadang menjaga toko bunga punyanya.
“Ririn, kau sudah punya jawaban?” tanya Umma serius.
“Umma.... aku mohon jangan bahas itu sekarang. Aku tidak bisa menjawabnya. Sekarang aku hanya ingin fokus pada skripsiku dulu,” jawabku enggan.
“Umma tahu Ririn. Tapi, Appa dan Umma sudah semakin tua. Kami hanya ingin melihatmu bahagia dan...... kami ingin menimang cucu sebelum ajal menjemput kami,” ucap Umma lirih.
”Umma, tolong jangan berbicara seperti itu. Semua ada waktunya Umma,” jawabku. Aku sebal jika Umma sudah membicarakan hal ini dan selalu menghubungkannya dengan kematian.
”Sanpai kapan Ririn? Kau sudah terlalu lama menutup hatimu untuk lelaki lain! 4 tahun Ririn! Bukalah matamu! Buka hatimu! Kalu begini terus sama saja kau menyiksa dirimu sendiri,” Umma menatapku dalam. Sudah berulang kali Umma mengutarakan hal ini kepadaku, tetapi tetap saja hatiku sedih mendengarnya.
Umma benar, mungkin sudah saatnya aku membuka hatimu. Tapi, hatiku sendiri masih meyakini bahwa dia akan kembali. Orang yang meninggalkanku 4 tahun yang lalu akan kembali. Aku harap hatiku benar kali ini..
”Baiklah Umma, aku akan mencoba, tapi mungkin belum bisa dalam waktu dekat ini. Aku janji Umma, aku akan berusaha sebisaku untuk menerima Donghae. Aku berangkat ya, Umma hati-hati dirumah,” kataku akhirnya. Ya, Donghae. Lee Donghae adalah namja yang hendak dijodohkan Umma denganku.
*****
”RIRIN-AH! Jeongmal bogoshipoyo. Apa kabarmuuu?” tanya Nichan girang sambil memelukku setelah aku memasuki kelas.
”Nichaaaaaaaan! Aku baik, baik sekali. Kau apa kabar?” jawabku balas memeluknya.
”Aku baik Ririn! Mengapa lama sekali datangnya? Aku kira kau tak akan masuk kuliah hari ini,” ucapnya.
”Aaaah tadi busnya penuh, jadi aku harus menunggu bus selanjutnya. Tidak mungkin aku tidak masuk Nichan, 4 minggu lagi kita kan skripsi haha. Asik tidak liburanmu? Kulitmu menghitam, padahal cuma 2 minggu liburan di Bali,” tanyaku sambil menuntunnya duduk dan aku duduk disebelahnya. Nichan memang mengambil cuti kuliah selama 2 minggu dan dia memutuskan untuk liburan di Bali. Aku bingung kenapa dia masih berpikiran untuk liburan padahal skripsi sudah didepan mata.
”Di Bali? Sangat sangat menyenangkan. Kapan-kapan kau harus kesana ya, bersamaku tentunya hahaha,” jawabnya cekikian. ”Heeem, bagaimana hubunganmu dengan Donghae?” lanjutnya.
”Donghae? Aku tidak tahu kabarnya. Tapi hubunganku dengannya masih sama saja seperti dulu, tidak ada sedikit pun yang berubah,” jawabku sesantai mungkin. Kenapa semua orang menanyakan tentang hubunganku dengan Donghae? Tadi pagi Umma, sekarang Nichan. Siapa lagi nanti?
”Sejak aku di Bali, Donghae selalu menanyakan kabarmu. Aku tidak bisa menjawab bagaimana kabarmu. Karena aku pun tidak tahu. Dia bilang kau selalu tidak ada dirumah ketika dia menelfon rumahmu, trus kau selalu tidak ada dirumah setiap dia mengunjungi rumahmu. Kau beli handphone lah Ririn, aku juga jadi bingung jika mau menghubungi dirimu,” jawab Nichan panjang.
”Ne, aku juga maunya begitu. Tapi, selalu tidak ada waktu. Sekarang fikiranku hanya terfokus pada skripsi. Aku mau kuliahku cepat selesai dan mendapatkan hasil yang terbaik. Lalu aku mrndapatkan pekerjaan yang aku inginkan dan membantu kedua orangtuaku,“ kataku sambil tersenyum tipis kepada sahabat baikku.
”Baiklah. Aku ke kelasku ya! Dosenku sudah mau masuk sepertinya. Sampai ketemu nanti Ririn,” kata Nichan menutup pembicaraan kami.
Aku mengikuti mata pelajaran di kampus dengan baik walalupun tadi sempat diserang rasa kantuk, dan aku bersyukur kegiatan belajar mengajarku hari ini selesai. Aku duduk dibawah pohon rindang di samping taman yang berada di dekat kelas Nichan. Aku menunggunya karena dia janji akan ke toko buku bersamaku untuk mencari beberapa bahan skripsi sekalian menemaniku membeli handphone.
Aku memakai headset dan memutar beberapa lagu yang dapat menenangkan hatiku. Aku menatap ke langit yang cerah hari ini, aku mengirup udara segar dalam-dalam. Ya aku sangat suasana disini. Tenang, damai.
”Hai,” aku mendengar suara samar-samar dari samping kananku. Aku mengalihkan pandangan ke arah samping kananku.
”Oppa,” ucapku kaget sambil melepas headset sebelah kananku. ”Sedang apa kau disini?” tanyaku ketika melihat sosok Donghae sudah duduk disampingku.
”Aku sedang memperhatikanmu, hehe. Kau menunggu Nichan ya?” tanyanya sambil menyunggingkan senyuman termanisnya. Sudah lama aku tidak melihat senyumannya itu.
Kedua sisi bibirku tertarik dan ikut tersenyum. ”Iya Oppa. Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau apa kabar?” tanyaku.
”Kabarku baik dan menjadi lebih baik lagi setelah melihatmu hari ini,” jawabnya tulus.
Aku kembali menatap langit luas di hadapanku.
”Ririiiiin,” Nichan berlari tergopoh gopoh menghampiriku. ”Haaah haah. Oppa, sedang apa kau disini?” tanya Nichan kepada Donghae dengan nafas yang masih tidak beraturan.
”Mengunjungi Ririn lah Nichan,” jawab Donghae santai.
Nichan hanya mengangguk sesaat ”Ririn, mianhae. Jeongmal mianhae! Aku tidak bisa menemanimu membeli handphone. Umma menyuruhku pulang cepat. Mianheeee,” katanya dengan raut muka menyesal.
”Hm tak apa Nichan. Tapi bagaimana dengan bahan skripsimu?” tanyaku kepadanya.
”Nanti saja aku meminta Oppaku untuk membelikannya. Baiklah aku pulang duluan ya Ririn, kau hati-hati. Dadaaaaaah, daaah Oppa,” tutup Nichan sambil pergi meninggalkanku dan Donghae.
”Hati-hati Nichan,” jawab Donghae sambil melambai-lambaikan tangannya.
”Kau mau membeli handphone? Ayo aku temani?” ucap Donghae sambil menatapku.
”Apa tidak merepotkanmu, Oppa?” jawabku canggung.
”Tentu tidak. Ayo!” jawabnya sambil menarik tanganku menuju mobilnya.
*****
”Makan dulu yuk, aku lapar,” ajak Donghae sambil memegang perutnya dengan tampang memohon. Aku tertawa melihatnya dan mengangguk. Aku sudah mendapatkan handphone yang aku butuhkan, setidaknya aku bisa lebih mudah berkomunikasi sekarang.
Aku dan Donghae memasuki restoran cepat saji dan memesan makanan.
”Mana handphonemu?” tanya Donghae sambil menengadahkan tangannya.
Aku menyerahkan handphoneku ketangannya. Terlihat dia menekan keypad handphoneku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut di restoran ini. Tanpa sengaja aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenal. Aku menutup mataku kemudian membukanya lagi. Sudah tidak ada! Aku mengedarkan pandanganku sekali lagi, benar-benar tidak ada. Apakah itu hanya khayalanku semata? Ya aku hanya terlalu merindukannya! Yang tadi itu hanya khayalanku. Tapi... kenapa aku merasa pandanganku tak salah, aku merasa dia ada di dekatku.
”Rin.. Ririn, ini handphonemu. Gomawo,” kata Donghae membuyarkan semua lamunanku.
”Ya! Kau apakan handphoneku Oppa?” tanyaku sambil mengatur perasaanku yang mulai labil. Aku harus melupakan hal tadi.
”Tenang Ririn-ah, aku hanya menyimpan nomerku haha,” jawabnya senang. Aku hanya mengangguk dan menatap layar handphoneku. Donghae oppa >.<. Aku tersenyum melihat nama yang tertera untuk nomor Donghae Oppa. Tidak beberapa lama, makanan pesanan kami datang. Kulihat Donghae lahap menghabiskan makanannya, ternyata dia benar-benar lapar.
”Haaaah, kenyang!” ucap Donghae setelah piring dihadapannya bersih tanpa sisa.
”Ayo pulang Oppa, ini sudah malam. Aku harus melanjutkan skripsiku,” kataku setelah menyeruput habis minuman bersoda yang aku pesan.
”Ayo! Aku antar Puteri ke Istananya ya,” katanya sambil mengandeng tanganku.
*****
”Gomawo ya Oppa sudah menemaniku membeli handphone dan mentraktirku makan. Aku senaaaang sekali hari ini,” kataku sebelum turun dari mobilnya.
”Aku yang harusnya berterima kasih Ririn. Kau sudah memberikan kesempatan untuk menemanimu hari ini. Aku harap kau memberi kesempatan lagi untukku lain waktu,” jawabnya sambil menggenggam tanganku. ”Aku sangat senang hari ini melebihi rasa senangmu,” katanya lagi sambil tersenyum.
”Tunggu,” ujar Donghae ketika aku hendak membuka pintu mobil. Dia keluar dan membukakan pintuku.
”Silahkan Tuan Putri,” katanya sambil membungkukan setengah badannya.
”Kamsahamnida,” jawabku kaget dengan perlakuannya kepadaku.
”Sekali lagi terima kasih untuk hari ini Ririn-ah,” katanya sambil mengecup keningku singkat. ”Selamat malam, tidur yang nyenyak ya,” katanya lagi sambil mengacak rambutku.
”Nado Oppa,” jawabku dengan senyum setulus mungkin. Mobil Donghae menjauh dari pandanganku.
Kemudian pandanganku beralih ke 20 meter disebelah kiriku. Aku memicingkan mataku dan melihat motor sport dengan seseorang yang menaikinya. Aku tidak melihat jelas siapa orang itu karena gelap dan dia memakai helm. Tapi kurasa dia sudah menunggu disitu cukup lama. Tiba-tiba motor itu melaju melewatiku dengan cepat. Entah kenapa aku jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku menaikkan bahuku dan memutuskan untuk tidak memikirkan siapa yang mengendarai motor itu. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berfikir sebentar. Mungkin memang sudah saatnya aku membuka hatiku untuk lelaki lain.......
*****
Aku melihat jam tanganku, sudah lebih dari 30 menit aku menunggu disini. Aku memilih untuk menunggu 20 meter dari rumahnya karena aku juga masih harus mengumpulkan keberanianku untuk menemuinya. Sudah hampir seminggu aku di Korea dan baru hari ini aku merasa keberanianku cukup untuk menemuinya.
Aku masih merasa bersalah karena sudah 4 tahun meninggalkannya tanpa sebab dan tanpa memberi kabar sedikitpun. Aku sudah menyiapkan diriku kalau nanti dia marah dan tidak mau menerimaku lagi, aku pantas mendapatkan itu. Aku hanya ingin menjelaskan kenapa aku pergi meninggalkannya tanpa sebab. Aku hanya ingin dia tahu kalau selama 4 tahun aku menyimpan hatiku baik-baik hanya untuknya.
Tidak beberapa lama ada mobil yang menepi di depan rumahnya. Cukup lama terparkir disitu tapi tidak ada orang yang keluar. Sedang apa mereka didalam? Mungkinkah yeoja yang aku tunggu berada didalam? Terlalu banyak pertanyaan di benakku sekarang.
Setelah beberapa saat ada namja yang keluar dan membukakan pintu penumpang disebelahnya. Aku membuka penutup helmku sedikit saat seorang yeoja keluar. Aku bisa melihatnya jelas walaupun dengan penerangan yang sangat minim. Hatiku terlonjak melihat yeoja itu. Ya itu Ririn, Park Ririn. Aku rindu sekali padanya.
Dia tersenyum kemudian namja di depannya mencium keningnya singkat, lalu mengacak rambutnya yang tergerai. Dia pun tersenyum lagi setelah mobil namja itu menjauhinya. Tak berapa lama Ririn menatapku lama. Aku pun tersadar sesuatu. Aku sudah tidak mungkin lagi bisa kembali padanya.
Ketakutanku yang terbesar benar-benar terjadi. Kekasih yang dulu aku tinggalkan tanpa sebab sudah melupakanku dan membuka lembaran baru hidupnya. Mataku terasa panas, aku menarik nafas panjang dan melajukan motorku dengan cepat melewati dirinya yang masih mengamatiku.
*****
Sudah seminggu berlalu. Hari ini aku janjian dengan Donghae di sebuah kafe dekat kampusku. Dia mau membantuku menyelesaikan skripsiku yang sudah hampir selesai setengahnya. Aku mengangkat tema Perkembangan Musik di Korea Selatan dan Pengaruhnya untuk Kalangan Remaja. Haha awalnya aku bingung mau mengangkat tema apa, tapi karena belakangan ini di Korea banyak bermunculan boy band dan girl band baru serta antusias remaja yang mulai naik jadinya aku memutuskan untuk mengangkat tema itu.
Aku berjalan sendirian menuju kafe itu. Heem tempat ini kembali mengingatkanku pada lelaki yang entah sekarang berada dimana. Hari ini, aku merasa membuka kembali kenangan saat bersamanya. Padahal sudah seminggu belakangan ini aku berusaha sangat kuat untuk menutup kenangan itu.
Aku menunggu Donghae di pojok kafe. Sebenarnya waktu janjian yang ditentukan kemarin masih setengah jam lagi, tapi aku sengaja datang lebih awal. Entah mengapa aku ingin datang lebih awal. Aku ingin menikmati kedamaian kafe ini sendirian.
Hubunganku dengan Donghae lebih dekat sekarang. Aku juga sering menghabiskan waktuku dengannya. Hanya satu yang belum berubah. Status. Aku memang sedang dalam proses membuka hatiku untuknya, tapi tidak mudah untukku berubah secepat itu. Aku butuh proses. 3 hari yang lalu Donghae menyatakan perasaannya padaku, dengan halus aku menolaknya.
Aku hanya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, aku tidak mau menyakiti Donghae karena hanya menjadikannya sebagai pelampiasan. Donghae orang baik, dia tulus. Aku merasa sangat jahat jika menyakiti hatinya.
Tak berapa lama pintu kafe ini terbuka dan aku bisa melihat Donghae masuk.
”Ririn, kau sudah sampai? Sudah lama ya? Ini kan masih 15 menit lagi dari jadwal janjian kita?” pertanyaannya keluar lancar setelah melihatku duduk termenung di pojok kafe. Dia membuka kacamata hitamnya dan duduk dihadapanku. Aku tidak menyangka dia datang secepat ini.
”Ne, Oppa. Aku juga baru datang kok. Kau juga kenapa sudah datang jam segini?” tanyaku kepadanya.
”Ah anni, aku hanya tidak ingin membuatmu menunggu saja. Ternyata kau datang lebih dulu dan menungguku. Mianhae Ririn-ah,” jawabnya merasa bersalah. Aku tertegun mendengar jawabannya.
”Haha buat apa minta maaf Oppa. Kau tidak salah, aku memang sengaja datang lebih awal karena tidak ada kerjaan di kampus,” jawabku sambil tersenyum.
”Kau belum memesan? Mau pesan apa?” tanyanya sambil membuka-buka buku menu.
”Aku ikut Oppa saja. Tapi jangan pesan daging babi ya Oppa,” jawabku singkat.
”Hm baiklah aku tau kau tidak suka daging babi. Kita makan dulu ya, nanti baru aku bantu mengerjakan skripsimu. Ahjussi,” katanya seraya memanggil pelayan kafe ini. Ahjussi yang dipanggil Donghae menghampiri meja kami.
”Ya tuan mau pesan apa?” tanya ahjussi itu.
”Hem, 2 ramyun dan 2 air mineral dingin ya Ahjussi,” jawab Donghae sambil tersenyum kepada Ahjussi. Ahjussi itupun berjalan memberikan pesanan kami kepada koki kafe ini.
Tak beberapa lama pesanan kami datang. Kami melahapnya singkat karena mungkin sama-sama lapar. Setelah itu dia membantuku melanjutkan skripsiku. Dia hanya memberikan usul dalam bentuk garis besarnya saja untuk bab-bab berikutnya nanti biar aku yang melanjutkan sendiri. Begitulah katanya. Sudah sekitar 5 jam aku dan Donghae berada di kafe ini. Aku melihat jam tanganku, sudah jam setengah 7 rupanya.
”Oppa, kurasa cukup. Kau sudah membantuku banyak hari ini. Kita pulang yuk, kasian Ummaku sendirian,” kataku akhirnya. Aku juga sudah menguap berulang kali daritadi.
”Dongsaeng dan Appamu kemana?” jawabnya sambil mengangguk dan membereskan kertas-kertas yang berantakan diatas meja.
”Appa masih menjaga toko bunga. Biasanya beliau pulang pukul 8, sedangkan dongsaengku sedang menginap di sekolahnya,” jawabku ikut membereskan meja dari kertas dan botol air mineral yang berantakan.
”Baiklah. Kau keluar duluan ya. Aku membayar dulu,” katanya setelah meja sudah kembali bersih. Aku mengangguk singkat dan melangkah menuju pintu keluar. Aku menarik nafas lega dan memandang langit yang mulai gelap. Kulihat ada beberapa bintang yang muncul. Tanpa sadar aku berjalan maju menuju ke arah jalan.
CIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!!!!!
Reflek aku loncat kebelakang ketika sadar ada suara motor yang tiba-tiba ngerem mendadak. Haaash hampir saja aku tertabrak oleh motor. Pengendara motor itu melihat kearahku. Aku mengamatinya cermat. Seperti pernah melihat sebelumnya. Aku berusaha menggali ingatanku. Ah aku ingat, ini motor sport yang kemarin aku lihat di dekat rumahku. Aku merasa mengenal dekat pengendara motor ini. Ah mungkin hanya perasaanku saja.
Pengendara motor menggerak-gerakkan kepalanya seolah tersadar dari sesuatu. Dia memalingkan mukanya kearah jalan. ”Mianhae Nona,” katanya singkat tanpa melihat kearahku dan kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Suara itu! Memang terdenger lebih berat karena dia memakai helm, tapi aku mengenali suara itu. Apa mungkin...? Ah tidak mungkin, batinku.
”Ririn, kau kenapa? Mukamu pucat? Siapa lelaki tadi? Dia melukaimu?” tanya Donghae sambil merangkul bahuku panik.
”Kwaenchanha Oppa. Dia tidak melukaiku. Aku... akupun tidak tahu siapa dia...,” jawabku setengah tidak yakin.
”Baiklah ayo pulang,” katanya sambil menuntunku menuju mobilnya.
*****
Aku melajukan motorku cepat. Aku ingin cepat sampai sekolahnya Sang Wan. Untung jalan tidak terlalu ramai, jadi aku bisa ngebut sesuka hatiku. Tidak sabar rasanya ingin bertemu Sang Wan.
CIIIIIIIIIIIIIIIIT
Nafasku memburu. Aku hampir menabrak seorang yeoja. Dari kejauhan aku sudah melihat yeoja ini, tapi tiba-tiba dia melangkahkan kakinya seperti mau menyebrang jalan. Aku reflek menge-rem motorku. Untungnya reflek yeoja itu juga bagus karena dia langsung loncat menjauhi motorku yang hampir menabraknya.
Aku menoleh ke arahnya. Ririn! Yeoja yang hampir aku tabrak adalah Ririn. Astaga aku akan amat sangat merasa bersalah jika tadi aku benar-benar menabraknya. Membayangkannya saja aku tidak bisa. Aku menatapnya lama. Tidak ada yang berubah, masih cantik seperti 4 tahun yang lalu, lebih cantik malah.
Mukanya pucat. Mungkin masih shock dengan kejadian tadi, rasanya aku ingin turun dari motorku dan bergerak memeluknya. Tapi sayang, aku melihat namja yang memakai kacamata hitam bergerak menghampiri Ririn. Aku tersadar dari lamunanku dan mengalihkan pandanganku darinya. Aku menarik nafasku dalam, ”Mianhae Nona,” kataku singkat lalu kembali melajukan motorku cepat. Sempat aku melihat dari spion, namja yang tadi merangkul Ririn menuju mobil yang sama yang pernah aku liat seminggu yang lalu di depan rumah Ririn.
*****
Akhirnya aku sampai juga di sekolah Sang Wan. Aku turun dari motor dan membuka helmku. Aku mengeluarkan handphone dari kantung celanaku dan mencari sebuah nama.
”Ya, kau dimana Sang Wan?” ucapku ketika sambungan telfonku tersambung.
”Aku dibelakangmu Hyung,”
Dengan cepat aku menekan tombol merah dan berbalik ke arah belakang.
”Sang Wan,” aku memeluk dongsaengku ini. ”Kau apa kabar hah? Sudah besar kau sekarang, haha,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan. Namanya Park Sang Wan. Adik kandung Ririn, dulu saat pertama kali Ririn mengenalkanku pada Sang Wan aku langsung tertarik padanya. Pendekatan dengan Sang Wan tidak terlalu susah karena waktu itu Sang Wan masih berumur 13 tahun.
”Hyung, aku sudah memang sudah besar hahaha. Aku baik Hyung. Kau bagaimana?” tanyanya balik. ”Kita duduk disitu saja yuk Hyung,” ajaknya sambil berjalan menuju bangku di dekat lampu taman sekolah.
”Aku baik, apalagi setelah bertemu dengan Noona-mu,” jawabku asal sambil duduk disebelah Sang Wan.
”Kau sudah bertemu dengan Noona, Hyung? Lalu buat apa kau meminta bantuanku?” tanyanya tidak sabar. ”Noonaku tambah cantik kan, Hyung?” canda Sang Wan membuatku tersenyum.
”Noonamu cantik bawaan lahir Sang Wan. Hm satu minggu yang lalu aku melihat Ririn diantar seorang namja sampai kedepan rumah. Tadinya aku ingin menjelaskan semuanya, tapi... ya kau tahu lah perasaanku,” ujarku mulai bercerita.
”Jadi, kau baru sekali bertemu dengan Noona? Itupun kau hanya memperhatikannya dari jauh?” tanya Sang Wan penasaran.
”Hari ini aku bertemu dengannya lagi. Tepat sebelum aku kesini. Dan kau tahu? Dia bersama namja yang waktu itu mengantar Ririn pulang kerumah. Kau tahu dia siapa?” tanyaku penasaran. Sang Wan mengrenyitkan dahinya, berfikir sebentar.
”Kurasa dia Donghae Hyung. Ya! Setelah kau pergi dengan urusanmu, aku sudah tidak bisa lagi mengusik kehidupan Noona, Noona menjadi sangat tertutup, Hyung. Noona juga tidak keliatan dekat dengan siapapun. Tapi, yang aku tahu Umma ingin menjodohkan Noona dengan Donghae Hyung,” jawab Sang Wan yakin.
“Mereka mau menikah dalam waktu dekat ini?” tanyaku hati-hati. Sebenarnya aku takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Sang Wan.
”Kemarin Noona cerita, Donghae Hyung memang menyatakan perasaannya kepada Noona, tapi Noona masih belum bisa menerima, karena ia tidak ingin menjadikan Donghae Hyung sebagai pelampiasan. Kurasa Noona belum bisa melupakanmu, Hyung,” jawab Sang Wan.
”Tapi, minggu lalu kulihat Noonamu itu sangat bahagia,” ucapku putus asa. Entah mengapa aku belum yakin, padahal ucapan Sang Wan barusan harusnya membuatku sedikit bernafas lega.
”Kau lupa, Hyung? Ririn Noona itu pintar menyembunyikan perasaannya. Lagipula aku lebih setuju kalau Noona menikah denganmu dibanding Donghae Hyung. Donghae Hyung baik sih, cuman dia tidak pernah mengajakku bermain sepertimu,” jawab Sang Wan cekikikan. Aku mengangguk setuju dan sempat tersenyum tipis. Kami terdiam lama.
”Urusanmu sudah selesai, Hyung?” tanya Sang Wan memecahkan keheningan malam.
”Sudah. Eh kamu tidak memberi tahu Noonamu kan kalau aku sudah di Korea?” selidikku kepada Sang Wan.
”Ooops kemarin aku keceplosan Hyung,” aku memelototinya. ”Haha tidaklah Hyung, kau bisa mempercayaiku 100%. Semuanya aman kalau ditanganku,” lanjutnya lagi.
”Oiya Hyung, Noona 2 minggu lagi skripsi loh. Kau datang ya ke acara wisudanya. Nanti aku akan memberitahukan tentang hasil sidangnya itu. Trus nanti aku beritahu juga kapan, dimana, jam berapa acaranya berlangsung,” lanjut Sang Wan sambil memperhatikanku.
“Hyung, mau sampai kapan kau begini terus? Aku tahu kau rindu pada Noona dan aku yakin Noona pun rindu padamu Hyung. Tunjukkanlah dirimu, jelaskanlah semuanya. Noona pasti akan mendengarkan dan mengerti, Hyung. Kalau aku jadi Hyung, aku juga pasti akan melakukan itu,” jelas Sang Wan setelah melihat ekspresi keraguan dari wajahku.
”Gomawoyo, dongsaeng. Kau benar, aku rindu sekali pada Noonamu! Baiklah, jangan lupa memberitahuku dimana dan kapan acara wisudanya ya. Aku pulang dulu,” kataku sambil berjalan menuju motor dan memakai helmku.
”Sip Hyung, ingat! Semuanya beres ditanganku,” jawabnya asal.
Aku menaiki motorku dan mulai menyalakan mesinnya. Dan mulai melajukan motorku pelan.
”HYUNG!!!” Aku menghentikan motorku karena mendengar Sang Wan memanggilku. Sang Wan setengah berlari menghampiriku. ”Satu hal yang aku tahu tentang kalian berdua sampai sekarang. Kalian masih saling membutuhkan dan mencintai. Kejar Noonaku ya, Hyung,“ ujar Sang Wan sambil menepuk pundakku ringan dan tersenyum.
*****
”Jangan turun, Oppa,” ucapku saat Donghae Oppa hendak membuka pintu mobilnya.
”Waeyo?” tanyanya bingung.
”Hhhh... Oppa, terima kasih sudah membantuku tadi. Terima kasih atas semua perhatian yang kau sudah curahkan kepadaku. Aku butuh waktu Oppa, biarkan aku memikirkan semua ini. Sendirian!” jawabku sambil menatap matanya.
”Tapi.........”
”Aku tidak ingin kau menemuiku sampai 2 minggu kedepan. Kita bertemu setelah aku selesai sidang ya, Oppa. Aku mohoon,” ucapku lagi. Aku tak memberikan celah sedikitpun untuk Donghae berbicara.
”Baiklah, tapi kau juga harus memberikan jawabanmu setelah sidang ya,” jawab Donghae akhirnya.
”2 hari setelah acara wisudaku. Bagaimana?” tawarku. Kurasa aku belum siap jika secepat itu.
”Baiklah. Turunlah, sudah malam. Tidur yang nyenyak ya,” ucap Donghae sambil tersenyum. Aku bisa melihat kekecewaan yang tersirat dari wajahnya.
Aku melangkahkan kakiku gontai menuju kedalam rumah. Aku langsung menaiki tangga kelantai dua dan memasuki kamarku. Kurogoh handphoneku dari dalam tas.
To: Park Sang Wan :D
Kau kapan pulang? Aku mau cerita sesuatu.
Setelah beberapa menit, aku belum juga mendapatkan balasan darinya. Mungkin dia sedang sibuk ya di sekolahnya? Aku memutuskan untuk mandi sambil berharap Sang Wan membalas smsku.
Setelah keluar dari kamar mandi aku mengecek handphoneku. Aissssh kenapa belum dibalas juga sih? Aku terduduk lunglai di samping tempat tidurku. Aku memeluk lututku sendiri. Entah ada energi apa yang membuatku tiba-tiba berjalan menuju lemari bajuku dan mengambil kotak coklat muda yang berada dibagian bawah.
Aku menarik nafas panjang sebelum memutuskan untuk membuka kotak kusam yang kusimpan sejak 4 tahun yang lalu itu. Kubuka kotak itu perlahan, mataku langsung panas. Air mata pertamaku menetes ketika aku meraih beberapa tiket nonton film ataupun nonton konser. Kemudian ada beberapa partitur yang waktu itu ketinggalan dirumahku. Ada beberapa foto kami berdua, ada surat-surat yang waktu itu pernah diberikannya kepadaku. Ada... banyak kenangan kami berdua disitu.
Tangisku semakin deras ketika aku mendapatkan plastisin berbentuk bintang yang sudah lengket dan melekat di dasar kotak itu. Aku berusaha mengambilnya dan berusaha tidak merusak bentuknya. Aku masih bisa membaca tulisan yang diukir diatas plastisin bintang itu.... ”Happy 1st year anniversary Ririn-ah ©© Jeongmal Saranghaeyo. Yours-Henry Lau”
Drrrrrrt. Drrrrrrt. Drrrrrt.
Aku merangkak menuju kasur karena sudah tidak sanggup untuk berdiri tegak. Aku terlalu lelah. Dahiku berkerut melihat nomor yang tertera di layar handphoneku Unknown Number.
”Yeoboseyo.....”
Tuuut.....tuuuutttt.........tuuuuuut..........
-TBC-
you also can see this post on fangirlnation.wordpress.com
YANG KANGEN TIARA YANG KANGEN TIARA, SEKARANG ORANGNYA BALIK NIH!
ENJOY HER BRAND NEW FF! ^O^
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Aku mau kau berjanji satu hal,”
”Apa?”
”Kau tunggu aku sampai aku kembali ke sisimu,”
”Apa kau akan kembali?”
”......
SIAL!! Aku terbangun dari mimpiku. Kenapa aku selalu terbangun saat dia belum menjawab pertanyaan itu. Ini sudah keempat kalinya aku mendapatkan mimpi seperti itu dan sudah empat kali juga aku tebangun dengan pertanyaan yang belum sempat terjawab. Di mimpi itu aku bisa melihat sesosok lelaki yang amat sangat kucintai. Sudah 4 tahun dia menghilang tanpa kabar, dan 4 tahun juga aku masih mencintainya. Dia meninggalkanku, meninggalkan perasaan cintanya di hatiku yang paling dalam. Aku masih menunggu, dan terus menunggu. Aku pun tak tahu sampai kapan aku akan menunggunya.......
*****
Aku menuruni tangga rumahku dengan membawa beberapa tumpuk buku sebagai bahan skripsiku yang tinggal 4 minggu lagi.
”Pagi Ririn,” sapa Ummaku ketika aku menarik kursi meja makan.
”Pagi Umma. Appa sudah berangkat ya?” tanyaku sambil meminum susu putih yang sudah tersedia di depanku. Umma hanya mengangguk sambil duduk di hadapanku. Appaku sudah pensiun beberapa bulan yang lalu dan sekarang kerjaannya hanya mengantarkan adikku ke sekolah atau terkadang menjaga toko bunga punyanya.
“Ririn, kau sudah punya jawaban?” tanya Umma serius.
“Umma.... aku mohon jangan bahas itu sekarang. Aku tidak bisa menjawabnya. Sekarang aku hanya ingin fokus pada skripsiku dulu,” jawabku enggan.
“Umma tahu Ririn. Tapi, Appa dan Umma sudah semakin tua. Kami hanya ingin melihatmu bahagia dan...... kami ingin menimang cucu sebelum ajal menjemput kami,” ucap Umma lirih.
”Umma, tolong jangan berbicara seperti itu. Semua ada waktunya Umma,” jawabku. Aku sebal jika Umma sudah membicarakan hal ini dan selalu menghubungkannya dengan kematian.
”Sanpai kapan Ririn? Kau sudah terlalu lama menutup hatimu untuk lelaki lain! 4 tahun Ririn! Bukalah matamu! Buka hatimu! Kalu begini terus sama saja kau menyiksa dirimu sendiri,” Umma menatapku dalam. Sudah berulang kali Umma mengutarakan hal ini kepadaku, tetapi tetap saja hatiku sedih mendengarnya.
Umma benar, mungkin sudah saatnya aku membuka hatimu. Tapi, hatiku sendiri masih meyakini bahwa dia akan kembali. Orang yang meninggalkanku 4 tahun yang lalu akan kembali. Aku harap hatiku benar kali ini..
”Baiklah Umma, aku akan mencoba, tapi mungkin belum bisa dalam waktu dekat ini. Aku janji Umma, aku akan berusaha sebisaku untuk menerima Donghae. Aku berangkat ya, Umma hati-hati dirumah,” kataku akhirnya. Ya, Donghae. Lee Donghae adalah namja yang hendak dijodohkan Umma denganku.
*****
”RIRIN-AH! Jeongmal bogoshipoyo. Apa kabarmuuu?” tanya Nichan girang sambil memelukku setelah aku memasuki kelas.
”Nichaaaaaaaan! Aku baik, baik sekali. Kau apa kabar?” jawabku balas memeluknya.
”Aku baik Ririn! Mengapa lama sekali datangnya? Aku kira kau tak akan masuk kuliah hari ini,” ucapnya.
”Aaaah tadi busnya penuh, jadi aku harus menunggu bus selanjutnya. Tidak mungkin aku tidak masuk Nichan, 4 minggu lagi kita kan skripsi haha. Asik tidak liburanmu? Kulitmu menghitam, padahal cuma 2 minggu liburan di Bali,” tanyaku sambil menuntunnya duduk dan aku duduk disebelahnya. Nichan memang mengambil cuti kuliah selama 2 minggu dan dia memutuskan untuk liburan di Bali. Aku bingung kenapa dia masih berpikiran untuk liburan padahal skripsi sudah didepan mata.
”Di Bali? Sangat sangat menyenangkan. Kapan-kapan kau harus kesana ya, bersamaku tentunya hahaha,” jawabnya cekikian. ”Heeem, bagaimana hubunganmu dengan Donghae?” lanjutnya.
”Donghae? Aku tidak tahu kabarnya. Tapi hubunganku dengannya masih sama saja seperti dulu, tidak ada sedikit pun yang berubah,” jawabku sesantai mungkin. Kenapa semua orang menanyakan tentang hubunganku dengan Donghae? Tadi pagi Umma, sekarang Nichan. Siapa lagi nanti?
”Sejak aku di Bali, Donghae selalu menanyakan kabarmu. Aku tidak bisa menjawab bagaimana kabarmu. Karena aku pun tidak tahu. Dia bilang kau selalu tidak ada dirumah ketika dia menelfon rumahmu, trus kau selalu tidak ada dirumah setiap dia mengunjungi rumahmu. Kau beli handphone lah Ririn, aku juga jadi bingung jika mau menghubungi dirimu,” jawab Nichan panjang.
”Ne, aku juga maunya begitu. Tapi, selalu tidak ada waktu. Sekarang fikiranku hanya terfokus pada skripsi. Aku mau kuliahku cepat selesai dan mendapatkan hasil yang terbaik. Lalu aku mrndapatkan pekerjaan yang aku inginkan dan membantu kedua orangtuaku,“ kataku sambil tersenyum tipis kepada sahabat baikku.
”Baiklah. Aku ke kelasku ya! Dosenku sudah mau masuk sepertinya. Sampai ketemu nanti Ririn,” kata Nichan menutup pembicaraan kami.
Aku mengikuti mata pelajaran di kampus dengan baik walalupun tadi sempat diserang rasa kantuk, dan aku bersyukur kegiatan belajar mengajarku hari ini selesai. Aku duduk dibawah pohon rindang di samping taman yang berada di dekat kelas Nichan. Aku menunggunya karena dia janji akan ke toko buku bersamaku untuk mencari beberapa bahan skripsi sekalian menemaniku membeli handphone.
Aku memakai headset dan memutar beberapa lagu yang dapat menenangkan hatiku. Aku menatap ke langit yang cerah hari ini, aku mengirup udara segar dalam-dalam. Ya aku sangat suasana disini. Tenang, damai.
”Hai,” aku mendengar suara samar-samar dari samping kananku. Aku mengalihkan pandangan ke arah samping kananku.
”Oppa,” ucapku kaget sambil melepas headset sebelah kananku. ”Sedang apa kau disini?” tanyaku ketika melihat sosok Donghae sudah duduk disampingku.
”Aku sedang memperhatikanmu, hehe. Kau menunggu Nichan ya?” tanyanya sambil menyunggingkan senyuman termanisnya. Sudah lama aku tidak melihat senyumannya itu.
Kedua sisi bibirku tertarik dan ikut tersenyum. ”Iya Oppa. Sudah lama aku tidak melihatmu. Kau apa kabar?” tanyaku.
”Kabarku baik dan menjadi lebih baik lagi setelah melihatmu hari ini,” jawabnya tulus.
Aku kembali menatap langit luas di hadapanku.
”Ririiiiin,” Nichan berlari tergopoh gopoh menghampiriku. ”Haaah haah. Oppa, sedang apa kau disini?” tanya Nichan kepada Donghae dengan nafas yang masih tidak beraturan.
”Mengunjungi Ririn lah Nichan,” jawab Donghae santai.
Nichan hanya mengangguk sesaat ”Ririn, mianhae. Jeongmal mianhae! Aku tidak bisa menemanimu membeli handphone. Umma menyuruhku pulang cepat. Mianheeee,” katanya dengan raut muka menyesal.
”Hm tak apa Nichan. Tapi bagaimana dengan bahan skripsimu?” tanyaku kepadanya.
”Nanti saja aku meminta Oppaku untuk membelikannya. Baiklah aku pulang duluan ya Ririn, kau hati-hati. Dadaaaaaah, daaah Oppa,” tutup Nichan sambil pergi meninggalkanku dan Donghae.
”Hati-hati Nichan,” jawab Donghae sambil melambai-lambaikan tangannya.
”Kau mau membeli handphone? Ayo aku temani?” ucap Donghae sambil menatapku.
”Apa tidak merepotkanmu, Oppa?” jawabku canggung.
”Tentu tidak. Ayo!” jawabnya sambil menarik tanganku menuju mobilnya.
*****
”Makan dulu yuk, aku lapar,” ajak Donghae sambil memegang perutnya dengan tampang memohon. Aku tertawa melihatnya dan mengangguk. Aku sudah mendapatkan handphone yang aku butuhkan, setidaknya aku bisa lebih mudah berkomunikasi sekarang.
Aku dan Donghae memasuki restoran cepat saji dan memesan makanan.
”Mana handphonemu?” tanya Donghae sambil menengadahkan tangannya.
Aku menyerahkan handphoneku ketangannya. Terlihat dia menekan keypad handphoneku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut di restoran ini. Tanpa sengaja aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenal. Aku menutup mataku kemudian membukanya lagi. Sudah tidak ada! Aku mengedarkan pandanganku sekali lagi, benar-benar tidak ada. Apakah itu hanya khayalanku semata? Ya aku hanya terlalu merindukannya! Yang tadi itu hanya khayalanku. Tapi... kenapa aku merasa pandanganku tak salah, aku merasa dia ada di dekatku.
”Rin.. Ririn, ini handphonemu. Gomawo,” kata Donghae membuyarkan semua lamunanku.
”Ya! Kau apakan handphoneku Oppa?” tanyaku sambil mengatur perasaanku yang mulai labil. Aku harus melupakan hal tadi.
”Tenang Ririn-ah, aku hanya menyimpan nomerku haha,” jawabnya senang. Aku hanya mengangguk dan menatap layar handphoneku. Donghae oppa >.<. Aku tersenyum melihat nama yang tertera untuk nomor Donghae Oppa. Tidak beberapa lama, makanan pesanan kami datang. Kulihat Donghae lahap menghabiskan makanannya, ternyata dia benar-benar lapar.
”Haaaah, kenyang!” ucap Donghae setelah piring dihadapannya bersih tanpa sisa.
”Ayo pulang Oppa, ini sudah malam. Aku harus melanjutkan skripsiku,” kataku setelah menyeruput habis minuman bersoda yang aku pesan.
”Ayo! Aku antar Puteri ke Istananya ya,” katanya sambil mengandeng tanganku.
*****
”Gomawo ya Oppa sudah menemaniku membeli handphone dan mentraktirku makan. Aku senaaaang sekali hari ini,” kataku sebelum turun dari mobilnya.
”Aku yang harusnya berterima kasih Ririn. Kau sudah memberikan kesempatan untuk menemanimu hari ini. Aku harap kau memberi kesempatan lagi untukku lain waktu,” jawabnya sambil menggenggam tanganku. ”Aku sangat senang hari ini melebihi rasa senangmu,” katanya lagi sambil tersenyum.
”Tunggu,” ujar Donghae ketika aku hendak membuka pintu mobil. Dia keluar dan membukakan pintuku.
”Silahkan Tuan Putri,” katanya sambil membungkukan setengah badannya.
”Kamsahamnida,” jawabku kaget dengan perlakuannya kepadaku.
”Sekali lagi terima kasih untuk hari ini Ririn-ah,” katanya sambil mengecup keningku singkat. ”Selamat malam, tidur yang nyenyak ya,” katanya lagi sambil mengacak rambutku.
”Nado Oppa,” jawabku dengan senyum setulus mungkin. Mobil Donghae menjauh dari pandanganku.
Kemudian pandanganku beralih ke 20 meter disebelah kiriku. Aku memicingkan mataku dan melihat motor sport dengan seseorang yang menaikinya. Aku tidak melihat jelas siapa orang itu karena gelap dan dia memakai helm. Tapi kurasa dia sudah menunggu disitu cukup lama. Tiba-tiba motor itu melaju melewatiku dengan cepat. Entah kenapa aku jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku menaikkan bahuku dan memutuskan untuk tidak memikirkan siapa yang mengendarai motor itu. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berfikir sebentar. Mungkin memang sudah saatnya aku membuka hatiku untuk lelaki lain.......
*****
Aku melihat jam tanganku, sudah lebih dari 30 menit aku menunggu disini. Aku memilih untuk menunggu 20 meter dari rumahnya karena aku juga masih harus mengumpulkan keberanianku untuk menemuinya. Sudah hampir seminggu aku di Korea dan baru hari ini aku merasa keberanianku cukup untuk menemuinya.
Aku masih merasa bersalah karena sudah 4 tahun meninggalkannya tanpa sebab dan tanpa memberi kabar sedikitpun. Aku sudah menyiapkan diriku kalau nanti dia marah dan tidak mau menerimaku lagi, aku pantas mendapatkan itu. Aku hanya ingin menjelaskan kenapa aku pergi meninggalkannya tanpa sebab. Aku hanya ingin dia tahu kalau selama 4 tahun aku menyimpan hatiku baik-baik hanya untuknya.
Tidak beberapa lama ada mobil yang menepi di depan rumahnya. Cukup lama terparkir disitu tapi tidak ada orang yang keluar. Sedang apa mereka didalam? Mungkinkah yeoja yang aku tunggu berada didalam? Terlalu banyak pertanyaan di benakku sekarang.
Setelah beberapa saat ada namja yang keluar dan membukakan pintu penumpang disebelahnya. Aku membuka penutup helmku sedikit saat seorang yeoja keluar. Aku bisa melihatnya jelas walaupun dengan penerangan yang sangat minim. Hatiku terlonjak melihat yeoja itu. Ya itu Ririn, Park Ririn. Aku rindu sekali padanya.
Dia tersenyum kemudian namja di depannya mencium keningnya singkat, lalu mengacak rambutnya yang tergerai. Dia pun tersenyum lagi setelah mobil namja itu menjauhinya. Tak berapa lama Ririn menatapku lama. Aku pun tersadar sesuatu. Aku sudah tidak mungkin lagi bisa kembali padanya.
Ketakutanku yang terbesar benar-benar terjadi. Kekasih yang dulu aku tinggalkan tanpa sebab sudah melupakanku dan membuka lembaran baru hidupnya. Mataku terasa panas, aku menarik nafas panjang dan melajukan motorku dengan cepat melewati dirinya yang masih mengamatiku.
*****
Sudah seminggu berlalu. Hari ini aku janjian dengan Donghae di sebuah kafe dekat kampusku. Dia mau membantuku menyelesaikan skripsiku yang sudah hampir selesai setengahnya. Aku mengangkat tema Perkembangan Musik di Korea Selatan dan Pengaruhnya untuk Kalangan Remaja. Haha awalnya aku bingung mau mengangkat tema apa, tapi karena belakangan ini di Korea banyak bermunculan boy band dan girl band baru serta antusias remaja yang mulai naik jadinya aku memutuskan untuk mengangkat tema itu.
Aku berjalan sendirian menuju kafe itu. Heem tempat ini kembali mengingatkanku pada lelaki yang entah sekarang berada dimana. Hari ini, aku merasa membuka kembali kenangan saat bersamanya. Padahal sudah seminggu belakangan ini aku berusaha sangat kuat untuk menutup kenangan itu.
Aku menunggu Donghae di pojok kafe. Sebenarnya waktu janjian yang ditentukan kemarin masih setengah jam lagi, tapi aku sengaja datang lebih awal. Entah mengapa aku ingin datang lebih awal. Aku ingin menikmati kedamaian kafe ini sendirian.
Hubunganku dengan Donghae lebih dekat sekarang. Aku juga sering menghabiskan waktuku dengannya. Hanya satu yang belum berubah. Status. Aku memang sedang dalam proses membuka hatiku untuknya, tapi tidak mudah untukku berubah secepat itu. Aku butuh proses. 3 hari yang lalu Donghae menyatakan perasaannya padaku, dengan halus aku menolaknya.
Aku hanya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, aku tidak mau menyakiti Donghae karena hanya menjadikannya sebagai pelampiasan. Donghae orang baik, dia tulus. Aku merasa sangat jahat jika menyakiti hatinya.
Tak berapa lama pintu kafe ini terbuka dan aku bisa melihat Donghae masuk.
”Ririn, kau sudah sampai? Sudah lama ya? Ini kan masih 15 menit lagi dari jadwal janjian kita?” pertanyaannya keluar lancar setelah melihatku duduk termenung di pojok kafe. Dia membuka kacamata hitamnya dan duduk dihadapanku. Aku tidak menyangka dia datang secepat ini.
”Ne, Oppa. Aku juga baru datang kok. Kau juga kenapa sudah datang jam segini?” tanyaku kepadanya.
”Ah anni, aku hanya tidak ingin membuatmu menunggu saja. Ternyata kau datang lebih dulu dan menungguku. Mianhae Ririn-ah,” jawabnya merasa bersalah. Aku tertegun mendengar jawabannya.
”Haha buat apa minta maaf Oppa. Kau tidak salah, aku memang sengaja datang lebih awal karena tidak ada kerjaan di kampus,” jawabku sambil tersenyum.
”Kau belum memesan? Mau pesan apa?” tanyanya sambil membuka-buka buku menu.
”Aku ikut Oppa saja. Tapi jangan pesan daging babi ya Oppa,” jawabku singkat.
”Hm baiklah aku tau kau tidak suka daging babi. Kita makan dulu ya, nanti baru aku bantu mengerjakan skripsimu. Ahjussi,” katanya seraya memanggil pelayan kafe ini. Ahjussi yang dipanggil Donghae menghampiri meja kami.
”Ya tuan mau pesan apa?” tanya ahjussi itu.
”Hem, 2 ramyun dan 2 air mineral dingin ya Ahjussi,” jawab Donghae sambil tersenyum kepada Ahjussi. Ahjussi itupun berjalan memberikan pesanan kami kepada koki kafe ini.
Tak beberapa lama pesanan kami datang. Kami melahapnya singkat karena mungkin sama-sama lapar. Setelah itu dia membantuku melanjutkan skripsiku. Dia hanya memberikan usul dalam bentuk garis besarnya saja untuk bab-bab berikutnya nanti biar aku yang melanjutkan sendiri. Begitulah katanya. Sudah sekitar 5 jam aku dan Donghae berada di kafe ini. Aku melihat jam tanganku, sudah jam setengah 7 rupanya.
”Oppa, kurasa cukup. Kau sudah membantuku banyak hari ini. Kita pulang yuk, kasian Ummaku sendirian,” kataku akhirnya. Aku juga sudah menguap berulang kali daritadi.
”Dongsaeng dan Appamu kemana?” jawabnya sambil mengangguk dan membereskan kertas-kertas yang berantakan diatas meja.
”Appa masih menjaga toko bunga. Biasanya beliau pulang pukul 8, sedangkan dongsaengku sedang menginap di sekolahnya,” jawabku ikut membereskan meja dari kertas dan botol air mineral yang berantakan.
”Baiklah. Kau keluar duluan ya. Aku membayar dulu,” katanya setelah meja sudah kembali bersih. Aku mengangguk singkat dan melangkah menuju pintu keluar. Aku menarik nafas lega dan memandang langit yang mulai gelap. Kulihat ada beberapa bintang yang muncul. Tanpa sadar aku berjalan maju menuju ke arah jalan.
CIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!!!!!
Reflek aku loncat kebelakang ketika sadar ada suara motor yang tiba-tiba ngerem mendadak. Haaash hampir saja aku tertabrak oleh motor. Pengendara motor itu melihat kearahku. Aku mengamatinya cermat. Seperti pernah melihat sebelumnya. Aku berusaha menggali ingatanku. Ah aku ingat, ini motor sport yang kemarin aku lihat di dekat rumahku. Aku merasa mengenal dekat pengendara motor ini. Ah mungkin hanya perasaanku saja.
Pengendara motor menggerak-gerakkan kepalanya seolah tersadar dari sesuatu. Dia memalingkan mukanya kearah jalan. ”Mianhae Nona,” katanya singkat tanpa melihat kearahku dan kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Suara itu! Memang terdenger lebih berat karena dia memakai helm, tapi aku mengenali suara itu. Apa mungkin...? Ah tidak mungkin, batinku.
”Ririn, kau kenapa? Mukamu pucat? Siapa lelaki tadi? Dia melukaimu?” tanya Donghae sambil merangkul bahuku panik.
”Kwaenchanha Oppa. Dia tidak melukaiku. Aku... akupun tidak tahu siapa dia...,” jawabku setengah tidak yakin.
”Baiklah ayo pulang,” katanya sambil menuntunku menuju mobilnya.
*****
Aku melajukan motorku cepat. Aku ingin cepat sampai sekolahnya Sang Wan. Untung jalan tidak terlalu ramai, jadi aku bisa ngebut sesuka hatiku. Tidak sabar rasanya ingin bertemu Sang Wan.
CIIIIIIIIIIIIIIIIT
Nafasku memburu. Aku hampir menabrak seorang yeoja. Dari kejauhan aku sudah melihat yeoja ini, tapi tiba-tiba dia melangkahkan kakinya seperti mau menyebrang jalan. Aku reflek menge-rem motorku. Untungnya reflek yeoja itu juga bagus karena dia langsung loncat menjauhi motorku yang hampir menabraknya.
Aku menoleh ke arahnya. Ririn! Yeoja yang hampir aku tabrak adalah Ririn. Astaga aku akan amat sangat merasa bersalah jika tadi aku benar-benar menabraknya. Membayangkannya saja aku tidak bisa. Aku menatapnya lama. Tidak ada yang berubah, masih cantik seperti 4 tahun yang lalu, lebih cantik malah.
Mukanya pucat. Mungkin masih shock dengan kejadian tadi, rasanya aku ingin turun dari motorku dan bergerak memeluknya. Tapi sayang, aku melihat namja yang memakai kacamata hitam bergerak menghampiri Ririn. Aku tersadar dari lamunanku dan mengalihkan pandanganku darinya. Aku menarik nafasku dalam, ”Mianhae Nona,” kataku singkat lalu kembali melajukan motorku cepat. Sempat aku melihat dari spion, namja yang tadi merangkul Ririn menuju mobil yang sama yang pernah aku liat seminggu yang lalu di depan rumah Ririn.
*****
Akhirnya aku sampai juga di sekolah Sang Wan. Aku turun dari motor dan membuka helmku. Aku mengeluarkan handphone dari kantung celanaku dan mencari sebuah nama.
”Ya, kau dimana Sang Wan?” ucapku ketika sambungan telfonku tersambung.
”Aku dibelakangmu Hyung,”
Dengan cepat aku menekan tombol merah dan berbalik ke arah belakang.
”Sang Wan,” aku memeluk dongsaengku ini. ”Kau apa kabar hah? Sudah besar kau sekarang, haha,” kataku sambil mengacak rambutnya ringan. Namanya Park Sang Wan. Adik kandung Ririn, dulu saat pertama kali Ririn mengenalkanku pada Sang Wan aku langsung tertarik padanya. Pendekatan dengan Sang Wan tidak terlalu susah karena waktu itu Sang Wan masih berumur 13 tahun.
”Hyung, aku sudah memang sudah besar hahaha. Aku baik Hyung. Kau bagaimana?” tanyanya balik. ”Kita duduk disitu saja yuk Hyung,” ajaknya sambil berjalan menuju bangku di dekat lampu taman sekolah.
”Aku baik, apalagi setelah bertemu dengan Noona-mu,” jawabku asal sambil duduk disebelah Sang Wan.
”Kau sudah bertemu dengan Noona, Hyung? Lalu buat apa kau meminta bantuanku?” tanyanya tidak sabar. ”Noonaku tambah cantik kan, Hyung?” canda Sang Wan membuatku tersenyum.
”Noonamu cantik bawaan lahir Sang Wan. Hm satu minggu yang lalu aku melihat Ririn diantar seorang namja sampai kedepan rumah. Tadinya aku ingin menjelaskan semuanya, tapi... ya kau tahu lah perasaanku,” ujarku mulai bercerita.
”Jadi, kau baru sekali bertemu dengan Noona? Itupun kau hanya memperhatikannya dari jauh?” tanya Sang Wan penasaran.
”Hari ini aku bertemu dengannya lagi. Tepat sebelum aku kesini. Dan kau tahu? Dia bersama namja yang waktu itu mengantar Ririn pulang kerumah. Kau tahu dia siapa?” tanyaku penasaran. Sang Wan mengrenyitkan dahinya, berfikir sebentar.
”Kurasa dia Donghae Hyung. Ya! Setelah kau pergi dengan urusanmu, aku sudah tidak bisa lagi mengusik kehidupan Noona, Noona menjadi sangat tertutup, Hyung. Noona juga tidak keliatan dekat dengan siapapun. Tapi, yang aku tahu Umma ingin menjodohkan Noona dengan Donghae Hyung,” jawab Sang Wan yakin.
“Mereka mau menikah dalam waktu dekat ini?” tanyaku hati-hati. Sebenarnya aku takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Sang Wan.
”Kemarin Noona cerita, Donghae Hyung memang menyatakan perasaannya kepada Noona, tapi Noona masih belum bisa menerima, karena ia tidak ingin menjadikan Donghae Hyung sebagai pelampiasan. Kurasa Noona belum bisa melupakanmu, Hyung,” jawab Sang Wan.
”Tapi, minggu lalu kulihat Noonamu itu sangat bahagia,” ucapku putus asa. Entah mengapa aku belum yakin, padahal ucapan Sang Wan barusan harusnya membuatku sedikit bernafas lega.
”Kau lupa, Hyung? Ririn Noona itu pintar menyembunyikan perasaannya. Lagipula aku lebih setuju kalau Noona menikah denganmu dibanding Donghae Hyung. Donghae Hyung baik sih, cuman dia tidak pernah mengajakku bermain sepertimu,” jawab Sang Wan cekikikan. Aku mengangguk setuju dan sempat tersenyum tipis. Kami terdiam lama.
”Urusanmu sudah selesai, Hyung?” tanya Sang Wan memecahkan keheningan malam.
”Sudah. Eh kamu tidak memberi tahu Noonamu kan kalau aku sudah di Korea?” selidikku kepada Sang Wan.
”Ooops kemarin aku keceplosan Hyung,” aku memelototinya. ”Haha tidaklah Hyung, kau bisa mempercayaiku 100%. Semuanya aman kalau ditanganku,” lanjutnya lagi.
”Oiya Hyung, Noona 2 minggu lagi skripsi loh. Kau datang ya ke acara wisudanya. Nanti aku akan memberitahukan tentang hasil sidangnya itu. Trus nanti aku beritahu juga kapan, dimana, jam berapa acaranya berlangsung,” lanjut Sang Wan sambil memperhatikanku.
“Hyung, mau sampai kapan kau begini terus? Aku tahu kau rindu pada Noona dan aku yakin Noona pun rindu padamu Hyung. Tunjukkanlah dirimu, jelaskanlah semuanya. Noona pasti akan mendengarkan dan mengerti, Hyung. Kalau aku jadi Hyung, aku juga pasti akan melakukan itu,” jelas Sang Wan setelah melihat ekspresi keraguan dari wajahku.
”Gomawoyo, dongsaeng. Kau benar, aku rindu sekali pada Noonamu! Baiklah, jangan lupa memberitahuku dimana dan kapan acara wisudanya ya. Aku pulang dulu,” kataku sambil berjalan menuju motor dan memakai helmku.
”Sip Hyung, ingat! Semuanya beres ditanganku,” jawabnya asal.
Aku menaiki motorku dan mulai menyalakan mesinnya. Dan mulai melajukan motorku pelan.
”HYUNG!!!” Aku menghentikan motorku karena mendengar Sang Wan memanggilku. Sang Wan setengah berlari menghampiriku. ”Satu hal yang aku tahu tentang kalian berdua sampai sekarang. Kalian masih saling membutuhkan dan mencintai. Kejar Noonaku ya, Hyung,“ ujar Sang Wan sambil menepuk pundakku ringan dan tersenyum.
*****
”Jangan turun, Oppa,” ucapku saat Donghae Oppa hendak membuka pintu mobilnya.
”Waeyo?” tanyanya bingung.
”Hhhh... Oppa, terima kasih sudah membantuku tadi. Terima kasih atas semua perhatian yang kau sudah curahkan kepadaku. Aku butuh waktu Oppa, biarkan aku memikirkan semua ini. Sendirian!” jawabku sambil menatap matanya.
”Tapi.........”
”Aku tidak ingin kau menemuiku sampai 2 minggu kedepan. Kita bertemu setelah aku selesai sidang ya, Oppa. Aku mohoon,” ucapku lagi. Aku tak memberikan celah sedikitpun untuk Donghae berbicara.
”Baiklah, tapi kau juga harus memberikan jawabanmu setelah sidang ya,” jawab Donghae akhirnya.
”2 hari setelah acara wisudaku. Bagaimana?” tawarku. Kurasa aku belum siap jika secepat itu.
”Baiklah. Turunlah, sudah malam. Tidur yang nyenyak ya,” ucap Donghae sambil tersenyum. Aku bisa melihat kekecewaan yang tersirat dari wajahnya.
Aku melangkahkan kakiku gontai menuju kedalam rumah. Aku langsung menaiki tangga kelantai dua dan memasuki kamarku. Kurogoh handphoneku dari dalam tas.
To: Park Sang Wan :D
Kau kapan pulang? Aku mau cerita sesuatu.
Setelah beberapa menit, aku belum juga mendapatkan balasan darinya. Mungkin dia sedang sibuk ya di sekolahnya? Aku memutuskan untuk mandi sambil berharap Sang Wan membalas smsku.
Setelah keluar dari kamar mandi aku mengecek handphoneku. Aissssh kenapa belum dibalas juga sih? Aku terduduk lunglai di samping tempat tidurku. Aku memeluk lututku sendiri. Entah ada energi apa yang membuatku tiba-tiba berjalan menuju lemari bajuku dan mengambil kotak coklat muda yang berada dibagian bawah.
Aku menarik nafas panjang sebelum memutuskan untuk membuka kotak kusam yang kusimpan sejak 4 tahun yang lalu itu. Kubuka kotak itu perlahan, mataku langsung panas. Air mata pertamaku menetes ketika aku meraih beberapa tiket nonton film ataupun nonton konser. Kemudian ada beberapa partitur yang waktu itu ketinggalan dirumahku. Ada beberapa foto kami berdua, ada surat-surat yang waktu itu pernah diberikannya kepadaku. Ada... banyak kenangan kami berdua disitu.
Tangisku semakin deras ketika aku mendapatkan plastisin berbentuk bintang yang sudah lengket dan melekat di dasar kotak itu. Aku berusaha mengambilnya dan berusaha tidak merusak bentuknya. Aku masih bisa membaca tulisan yang diukir diatas plastisin bintang itu.... ”Happy 1st year anniversary Ririn-ah ©© Jeongmal Saranghaeyo. Yours-Henry Lau”
Drrrrrrt. Drrrrrrt. Drrrrrt.
Aku merangkak menuju kasur karena sudah tidak sanggup untuk berdiri tegak. Aku terlalu lelah. Dahiku berkerut melihat nomor yang tertera di layar handphoneku Unknown Number.
”Yeoboseyo.....”
Tuuut.....tuuuutttt.........tuuuuuut..........
-TBC-
you also can see this post on fangirlnation.wordpress.com
Read more...