Laman

Senin, 31 Mei 2010

SHINee's Leader is my Namja Chingu {part 1}

Nichan’s POV

Koper, check. Kamera, check. Makanan, check. Sepatu, check. Sepertinya sudah lengkap. “Baiklah ayo berangkat!” seruku yang memang sudah tidak sabar untuk liburan kali ini. “Ya sudah masukkan saja barang-barangmu ke mobilku” Jihyun masih sibuk dengan mobilnya. “Barang-barangmu sudah masuk semua?” aku bertanya padanya. “Sudah. Nah beres. Ayo berangkat!”

“Chagiiiiiii! Tunggu sebentar!” Minji berteriak dari dalam rumahnya. “Wae? Ayo berangkat!!” Jihyun ikut berteriak dari luar. Minji berlari menuju mobil. “Mian tadi aku nyari sepatu dulu. Ayo berangkat!”

Yeey! Hari ini aku dan sahabatku serta pacarnya yang juga sahabatku (jadi ribet) pergi liburan! Kami ingin hiking di Bukhansan. Sebenarnya kami masih kurang satu orang, yaitu pacarku. Kalian semua pasti sudah mengenalnya. Kalian tahu Lee Jinki kan? Masih kurang familiar? Itu loh, SHINee’s Leader, Onew. Kalian tahu? Kami berpacaran sejak dia mulai debut sampai sekarang. Tidak ada yang tahu, hanya aku dan 2 sahabatku

Aku melihat 2 sahabatku itu bermesraan di kursi depan. Aah aku iri! Jinki-ya, bogoshipoyo, sejak SHINee mengeluarkan album Ring Ding Dong, kami makin jarang bertemu. Hanya bertemu di sms atau telpon. Itu juga jarang. Sedang apa ya dia?

“Chagi, kita sampai berapa lama lagi?” Minji bertanya pada Jihyun yang sibuk menyetir. “Kira-kira satu jam lagi” jawabnya. Mwo? satu jam lagi? Omo, aku tidur sajalah kalau begitu. Aku membetulkan posisi badanku agar dapat posisi tidur super nyaman.

‘Juliette, oh~’

Ada telpon, ah Jinki! “Yobeseyo, Jinki-ya! Bogoshipoyo! Tumben menelponku” aku menjawab telponnya semangat. “Nado! Aku sedang menunggu waktu latihan, jadi aku menelpon. Kau sedang apa?” tanyanya. Ah aku mendengar suaranya lagi! “Aku sedang di perjalanan ke Bukhansan! Hiking! Harusnya kau juga ikut, kita sudah lama tidak bertemu”

“Jinca? Aku ingin ke situ” katanya memelas.
“Ke sini saja tidak ada yang melarang kok” aku bercanda.
“Oke sebentar ya, aku cegat taksi dulu”
“Kau serius?”
“Iyalah, kau menginap di rumah lamanya Jihyun ya?”
“Ne, hey Jinki, kau serius ingin menyusul?”
“Iyaa! Kau tidak mau aku datang ya? Kau tidak rindu padaku?”
“Ya mau, tapi latihanmu?”
“Aku sudah dapat taksi, tunggu aku ya? Annyeong chagi!”

KLEK. Telepon di tutup. Hey dia serius ingin menyusul kami? Yang benar saja. Mungkin dia bercanda. “Kenapa Nichan? Jinki menelponmu?” Jihyun bertanya padaku. “Ne, dan dia bilang dia mau menyusul kita..” jawabku. “Mwo? yang benar saja dia menyusul kita. Dia bercanda kali” kata Jihyun yang masih menyetir mobil dengan serius. “Iya pasti dia bercanda, namja chingu mu kan memang begitu dari dulu” sambung Minji.

Tentu saja dia bercanda. Pikirku. Mana mungkin dia mangkir dari pekerjaannya. Ia kan sangat profesional meski dia masih 21 tahun. Sudahlah tidak usah dipkirkan.

==

Onew’s POV

Hari ini seperti biasa aku bangun pagi, lalu sarapan, lalu latihan untuk album terbaru kami. Jujur, aku sudah mulai muak dengan semua yang ku lakukan. Aku ingin liburan, ingin bertemu udara segarku, Park Nichan. Sedang apa ya? Ku telepon saja ah.

“Yobeseyo, Jinki-ya! Bogoshipoyo! Tumben menelponku” ia menjawab teleponku. Ah, suaranya seperti air yang segar untuk jiwaku. “Nado! Aku sedang menunggu waktu latihan, jadi aku menelpon. Kau sedang apa?” aku bertanya padanya. “Aku sedang di perjalanan ke Bukhansan! Hiking! Harusnya kau juga ikut, kita sudah lama tidak bertemu”. Mwo? hiking? Pasti di rumah lamanya Jihyun. Hey, apa aku menyusul mereka saja? “Jinca? Aku ingin ke situ” aku melihat sekeliling, sepertinya aman. “Ke sini saja tidak ada yang melarang kok” jawabnya lagi. Aku jadi makin semangat untuk pergi. “Oke sebentar ya, aku cegat taksi dulu” aku berjalan keluar gedung SM. “Kau serius?” ia meragukan perkataanku.

“Iyalah, kau menginap di rumah lamanya Jihyun ya?” aku melihat sekeliling mencari taksi kosong.

“Ne, hey Jinki, kau serius ingin menyusul?” ia masih ragu rupanya.
“Iyaa! Kau tidak mau aku datang ya? Kau tidak rindu padaku?”
“Ya mau, tapi latihanmu?”

Nah, dapat taksi. Aku masuk kedalam taksi itu. “Aku sudah dapat taksi, tunggu aku ya? Annyeong chagi!”aku menutup telpon. “Ke Bukhansan ya ahjussi, tolong cepat” kataku pada supir ahjussi. Yes! Aku sudah sabar bertemu udara segar!

==

Nichan’s POV

Akhirnya sampai juga! Wuaah sudah lama aku tidak kesini. Terakhir saat aku, Minji, Jinki, dan Jihyun masih kelas 2 SMP. Sekarang kami sudah lulus sekolah. Waktu yang sangat lama ya. “Nichan-ah! Ayo bantu aku keluarkan barang-barang, kita masak!” Minji membawa semua peralatan kami untuk masak makan siang hari ini. “Ne! Aku keluarkan makanannya ya!” aku menuju mobil dan mengeluarkan bahan makanan. Lalu tiba-tiba..

“Chagi!” seseorang memelukku dari belakang. “Ah!” aku kaget dan semua makanan. Pasti ini.. “Jinki-ya! Mengapa kau ada disini? Lihat tuh makanannya jatuh semua” aku melepaskan pelukannya. “Hehe mianhae, aku bantu sini”

“Nichan-ah! Kwaenchanha?” Jihyun keluar dari dapur bersama chagiya nya. “Kwaenchanhaa!” aku menjawab. “Ada siapa sih di luar? Kenapa ribut sekali” kata Jihyun lagi. “Ada aku! Lee Jinki!”

“Mwo? Jinki?” Jihyun dan Minji keluar rumah. “Jinki-ya! Bogoshipoyo~” Jihyun berpelukan dengan sahabat jiwanya. “Nado! Bagaimana kau dengan Minji?” tanya Jinki. “Seperti yang kau lihat” jawabnya.

“Kenapa kau bisa di sini? Bukannya kau mau latihan? Bagaimana dengan...hmph” Jinki membekap mulutku. “Sudah jangan banyak tanya, kau cerewet sekali sih.. ayo masuk kita masak, aku lapar nih”

==

Author’s POV

Sementara itu di gedung SM..

“Jonghyun-sshi, mana Onew? Bukankah ia datang lebih dulu?” tanya sang koreografer pada Jonghyun yang juga kebingungan karena tidak bisa menemukan Leader SHINee yang satu itu. “Molla, iya, tadi dia datang duluan. Tapi kemana dia sekarang?” Jonghyun mengutak-ngatik handphonenya, mencari nomor Onew. “Aku telpon dia”

Tidak ada jawaban. “Sial, mailbox” Jonghyun mulai kesal. “Kemana sih dia?” Minho ikut-ikutan bingung dengan hyungnya yang tiba-tiba menghilang. “Di culik kali hyung” Taemin nimbrung dengan santainya. “Andwae! Hati-hati kalau bicara, babo!” Key menjitak kepala Taemin. “Ya! Sakit tau! Umma macam apa kau” Taemin mengelus kepalanya yang sakit.
“Umma yang peduli pada suaminya! Apa kau?” Key membela diri. “Ya! Key, Taemin, bukannya ikutan mencari..” Jonghyun melerai kedua dongsaengnya itu.

“Mau mencari kemana lagi? Bukankah kita sudah berkeliling di sekitar sini, lalu menelponnya, dan memang di tidak ketemu, mau bagaimana?” kata Key. “Telpon pacaranya?” usul Minho. “”Emang dia punya pacar? Diakan payah sekali untuk urusan wanita” Jonghyun berpendapat.

“Bukannya punya?” tebak Taemin. “Kau salah dengar mungkin. Sudah kita latihan saja dulu, mungkin beberapa saat lagi dia datang” Minho menenangkan suasana. Mereka kembali latihan.

==

Nichan’s POV

“Mwo? kabur? Leader macam apa kau ini Jinki? Bisa-bisanya..” aku kaget mendengar Jinki yang bisanya sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. “Chagi, kau tidak mengerti, aku hanya ingin bersenang-senang untuk 2 hari ini saja.. tolong jangan usir aku ya? Jebal..” oh jebal Jinki, jangan memohon dengan muka seperti bayi, aku tidak bisa menolak tahuu!

“Sudahlah Nichan, aku tau kau pasti merindukannya, kasihan sekali dia kalau harus balik lagi untuk latihan” inilagi Minji ikut-ikutan membujukku. “Sekali-sekali ada artis yang gabung dengan kita boleh juga loh, Nichan” lanjut Jihyun sambil menyuap makanan. “Ahaha bisa saja kau” Jinki bertos-tosan dengan Jihyun.

“Baiklah kau tidak akan ku usir” aku menyerah. “Tapi kau janji habis pulang dari sini kembali bekerja seperti biasa” lanjutku. Jinki tersenyum senang, dan ciumannya mendarat di pipiku. “Kyaa! Tidak sopan!” pipiku bersemu merah. Jinki! Kau..

“Kkk, gomawo chagi, saranghae! Aku main dulu ya? Jihyun-ah! Ayo main badminton!” ia berlalu, membawa raketnya dan mulai bermain. Ah apa-apaan ini? Aku di kalahkan sebuah ciuman dari seorang SHINee’s Onew? Omona~ pipiku sudah balik seperti semula belum ya?

Aku dan Minji melihat namja chingu kami bermain badminton. Haha lucu sekali mereka, sudah lama mereka tidak bermain seperti itu. Yap sejak Jinki debut di SHINee, Jihyun bermain dengan kami terus, untung belum jadi banci, haha (siap-siap di tinju Minji).

“Ya! Kalian berdua! Daripada menonton kami lebih baik ikutan kami, main ganda campuran” usul Jinki. “Ayo ikut, balli!” Jihyun menarik Minji. Jinki juga menarikku. “Ayo chagi..” aku pun ikut bermain dengan mereka.

Malam menjelang, kami sudah kelelahan dan selesai bermain. Seperti biasa, kami kalah. Jinki makin payah di olahraga. “Hhhh Jinki-ya! Makanya kau belajar sama Minho biar bisa menang” aku berkata pada Jinki yang masih kelelahan setelah bermain. “Hehe mianhae! Yang penting senang kan?” katanya sambil mengibaskan rambutnya. Omo, dia keren juga kalau seperti itu. “Ne! Mandi sana, kau bau” aku menutup hidungku, bercanda. “Jinca? Okelah aku mandi”

==

“Ayo kita tidur, besok pagi kita hiking!” Jihyun menyuruh kami tidur. “Ne! Chaljayo yorobun! Ayo Nichan aku ngantuk” Minji menarikku masuk ke dalam kamar. “Eits, tunggu dulu” Jinki menarik tanganku yang satu lagi. “Biarkan kami berdua dulu” heh? Apa yang mau dia lakukan? “Kalian? berdua? Mau ngapain?” tanya Minji pada Jinki. “Itu urusanku, kau tidur saja sana” kini aku sudah berada di sisi Jinki. “Ah ara, ara, aku masuk duluan, tapi kalian jangan berbuat macam-macam ya!”

“Nah sekarang kita sudah berdua” ia tersenyum. “Lalu mengapa kalau kita sudah berdua saja?”
“Tidak kenapa-kenapa. Kau diam saja ya, jangan bergerak, aku tidak – akan – berbuat- sesuatu – yang – buruk – padamu. Arasseo?”
“Ne, arasseo”
Ia menatap wajahku lekat, lamaa sekali. “Kau kenapa Jinki?” aku bertanya padanya yang masih menatapku. “Aku baik-baik saja” jawabnya. “Aku mau tidur sekarang, chaljayo cahgi~” ia beranjak pergi ke kamarnya.
Jinki yang aneh. Aneh aneh aneeh! “Random sekali kau, kenapa dulu aku mau jadi pacarmu ya?” ucapku dalam hati. “Cha-chaljayo”.

==

“sst, Nichan-ah, bangun chagi!” seseorang berbisik di kupingku mengganggu ketentraman pagi ini. “Mwo? Jinki-ya! Ngapain disini? Masuk kamar perempuan seenaknya!” aku sedikit berteriak karena kaget tiba-tiba ada Jinki di sampingku. “Kau bisa tidak berisik tidak? Aku ingin mengajakmu hiking duluan”

Mwo? Anak ini.. “Andwae! Aku mau tidur lagi ah, masih gelap tauu” aku menarik selimutku lagi. “Jebal Nichan-ah, aku mau hiking sekarang, temani aku ya ya?” ia memohon dengan seperti biasa, memasang tampang bagai seorang malaikat. “Ne, ne, aku sikat gigi dulu”

==

“Hap! Awas di situ agak licin” Jinki membantuku menaiki gunung Bukhansan ini. Di pagi yang masih gelap dan dingin. “Nah kita sudah sampai” ia tersenyum senang. “Ah.. udara segar. Sudah lama aku tidak dapat yang seperti in” katanya lagi. “Sebenarnya kau mau melakukan apa di sini chagi?”

“Kau tidak ingat sekarang hari apa?” ia balik bertanya. “Hmm, Sabtu?” jawabku. “Aish.. kau lupa ya? Hari ini tepat 2 tahun kita berpacaran, ingat tidak?”

Mwo? Kami sudah 2 tahun berpacaran? Sejak SHINee mulai debut sampai sekarang? “Jinca? Kita sudah 2 tahun berpacaran? Aku pikir baru 2 bulan, hihi” aku sedikit kaget. “Iya bodoh, aku minta hadiah dong” ia mendahkan tangannya. “Sudah mengataiku bodoh masih minta hadiah. Namja chingu payah!” aku pura-pura ngambek. “Aku? Payah?”

“Ne! Namja paling payah se Korea” kataku lagi. Senang sekali rasanya mengejeknya payah. “Apa kau masih mengejekku payah jika aku memberikanmu ini?” katanya seperti telah menyiapkan sesuatu. “Memberikanku apa?” aku balik bertanya. “Jam berapa sekarang?” ia bertanya lagi. Aku melihat jam digitalku “Masih jam 05.58”. “Oh sebentar lagi”. Sebentar lagi?


“Coba kau balik arah” ia menyuruhku berbalik arah. “Kau mau apasih sebenarnya?” aku masih bingung dengan apa yang sudah Jinki rencanakan padaku. “Mau memberikanmu hadiah yang akan mebuatmu tersenyum” katanya. “Aku tutup matamu sebentar ya” ia menutup mataku hati-hati. “Ne..”

“Hana, dul, set!”

Aku membuka mataku dan... aku tersenyum lebar


Read more...

Rabu, 26 Mei 2010

YOU

*Flashback*

*Park Ririn POV*

“PARK RIRIIIIIN,” teriak Nichan ketika aku baru memasuki kelasku.

“Ne?” jawabku santai sambil duduk disamping sahabatku itu.

“Darimana saja kau baru datang jam segini?” ucapnya lagi dengan nada yang lebih tenang.

Aku menaruh tanganku di dagu. “Mian, aku kesiangan. Semalem aku harus membantu Yesung oppa menyelesaikan skripsinya,”

“WAA, YESUNG OPPA. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Sampaikan salamku ya, Ririn!” jawab Nichan semangat sambil mengeluarkan kerlingan andalannya ketika menginginkan sesuatu. Dia temanku dari SMP hingga sekarang, dan begitulah kebiasaannya ketika aku menyebutkan nama oppa-ku. Ya memang sih bisa dibilang oppa-ku itu ganteng dan menyenangkan, tak heran jika banyak yang suka padanya. Termasuk teman dekatku sendiri.

”Iya iya, tenang saja. Oiya tadi kenapa kau berteriak seperti itu kepadaku dan hampir membuatku kehilangan pendengaranku?” tanyaku.

” Hari ini ada murid baru pindahan dari Kanada. Dan yang paling penting dia lucuuuuu bangeeeeeeeeeeeet Ririn!” jawab Nichan lebih bersemangat sambil menunjukan muka sok-imutnya.

”Jeongmal? Selucu itukah? Memangnya kau sudah melihatnya?” jawabku sambil mengeluarkan hape karena ada sms. Oh Yesung Oppa.

”Sudah, tadi pas dia ke ruang kepala sekolah. Sumpah Ririn lucu banget mukanya, pipinya Rin, pipinyaaaaaaaa,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan bahuku.

”Iya, iya nanti kau tunjukkan saja padaku. Hm, aku punya berita bagus buatmu. Nanti siang Yesung Oppa akan menjemputku dan mentraktir makan. Kau mau ikut?” tanyaku padanya dan itu membuatnya melupakan masalah murid baru kanada yang ’katanya’ lucu itu. Nichan tersenyum lebar. Dan aku sudah tau jawabannya.



*Henry POV*

”Iya pak. Gomawo,” ucapku sambil menundukkan kepalaku kepada kepala sekolah baruku, Pak Leeteuk.

”Ya. Silahkan Pak Siwon antar dia ke kelasnya,” ucap Pak Leeteuk ke Pak Siwon, wali kelasku. ”Ya. Ayo Henry, ikuti saya,”

Aku mengikutinya dari belakang bahu gagahnya, mungkin usianya sekitar 28-an. Beberapa murid melihatku dan beberapa ada yang berbisik, ’Itu murid barunya?’ ’Wah, benar kata kau, dia lumayan juga’ ’Cool banget’ ’Pak Siwon makin lama makin ganteng saja’ dan masih banyak lagi yang kudengar. Kukira semuanya berbisik tentang diriku, ternyata ada juga yang membicarakan Pak Siwon, dia guru favorit ternyata.

Ya, aku sudah didepan kelasku. Di depanya tertulis X-A. Pak Siwon masuk duluan dan katanya ketika dia sudah memanggil namaku, aku baru boleh masuk. Sambil menunggu beliau memanggil namaku aku masih melihat murid-murid perempuan mengobrol ke arahku. ”Henry, ayo masuk!” panggil Pak Siwon. Dan aku memasuki kelasku. Seluruh siswa yang ada didalam melihatku dan mereka kembali berbisik, kali ini benar-benar berbisik walaupun aku bisa mendengarnya sayup-sayup.

Aku melihat sekeliling kelas itu dan mataku tertuju pada satu perempuan di barisan dua paling belakang. Dia cantik dan hanya dia yang tidak berkomentar apa-apa ketika melihatku masuk sedangkan teman sebangkunya sangat sibuk dengan senyumnya.

”Silahkan perkenalkan namamu,” Pak Siwon membuatku mengalihkan pandanganku dari perempuan itu.

”Oke. Nama saya Henry Lau, kalian bisa memanggil saya Henry. Saya pindahan dari Kanada,” aku memperkenalkan diriku sambil tersenyum. Aku melihat perempuan itu lagi, tapi kali ini dia ikut tersenyum.

” Ada yang mau bertanya?” kali ini Pak Siwon sudah duduk di kursinya. Beberapa murid wanita mengangkat tangannya. ”Baik, hanya 2 pertanyaan saja jadi 2 murid. Silahkan Park Nichan dan kemudian Lee Jungmin”

Aku berharap perempuan itu mengangkat tangannya, ternyata malah teman sebangkunya yang bertanya. ”Henry, kenapa kau pindah ke Korea ? Hm, bahasa koreamu bagus juga,” tanyanya sambil tersenyum mesem.

”Ayahku ditugaskan di Korea dan aku harus ikut. Dulu selama beberapa tahun aku sempat tinggal di Korea , jadi aku bisa sedikit-sedikit,” jawabku. ’Yaampun pipinyaa, senyumnya’ aku mendengar seseorang berbisik lagi. Aku langsung memegang pipiku. Apa yang salah dengan pipiku?

Tanpa dipersilahkan lagi, wanita yang tadi berbisik tentang pipiku bertanya, ”Kau sebenarnya orang mana? Aku melihat banyak perpaduan di wajahmu,” tanyanya. Apa maksud pertanyaannya itu? Hah

”Aku lahir di Taiwan Ibuku orang China dan Ayahku orang Kanada,“

”Oke cukup. Sekarang kau boleh duduk di belakang Nona Ririn. Sekarang keluarkan buku matematika kalian,“ ucap Pak Siwon. Ya, aku mendapatkannya. Namanya Ririn, nama yang cantik. Aku berjalan ke arah kursiku, kursi paling belakang. Aku tersenyum pada gadis itu dan dia membalas senyumku. Ah ternyata cantik sekali dia dari dekat.

”Henry, tolong cepat sedikit. Sedang apa kau berdiri disamping meja Ririn?” Pak Siwon mengagetkanku. Aku mengangguk dan segera duduk di kursiku. Dan aku mulai mengikuti pelajaran matematika walaupun mataku tertuju pada punggung Ririn.



*Park Ririn POV*

Sekarang waktunya istirahat dan kelas ini hampir kosong. Hanya ada Aku, Nichan, dan murid baru itu. Benar juga kata Nichan, dia lucu dan aku suka pipinya. Putih, tembem, dan terkadang kemerahan seperti waktu dia tersenyum kepadaku.

Setiap istirahat aku memang jarang ke kantin, karena aku dan Nichan membawa bekal dari rumah. Dan Henry pun begitu. Lucu sekali ada murid laki-laki yang membawa bekal seperti dia, sepertinya dia anak mama. Aish, mengapa aku jadi memikirkan dia seperti ini sih?

“Rin, mengapa kau melamun sambil senyum-senyum seperti itu, hah? Bahkan kau belom menyentuh makananmu sedikit pun. Makanlah, nanti kau sakit” Tanya Nichan dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.

“Hh, iya iya aku makan,” jawabku. Aku membuka kotak makanku dan mulai memakannya. Hm cowok di belakangku ini mengapa tenang sekali makannya? Apa dia masih malu-malu? Batinku sambil menunduk.

”Hai. Aku Henry,” Aku mengangkat wajahku dan aku melihat wajahnya sudah di depanku. Dia mengulurkan tangannya ke arahku dan tersenyum. AA tolong jangan senyum seperti itu.

”Park Nichan imnida,” Nichan menyambut uluran tangan Henry yang kearakhu.

Henry melepas tangannya dan mengulurkannya lagi kearahku ”Kau?”. Aku bersalaman dengannya, ”Park Ririn imnida,” ucapku sambil menundukan kepalaku.

”Oke, kalian berdua mau tidak menjadi temanku? Aku belum mempunyai teman disini,” tanyanya. Aah aku suka mata sipitnya itu.

”Ya ya. Pasti kita berdua mau menjadi temanmu. Iya, kan Ririn?” tanya Nichan padaku.

”Hah? Iya pasti,”

”OKE. Kita berteman sekarang,” kata Henry sambil tersenyum (lagi).

*flashback end*



µµµ



*Park Ririn POV*

”Kau sedang apa Ririn?” tanya Nichan kepadaku dan membuyarkan lamunanku 4 tahun yang lalu.

”Ah, tidaak. Udara disini enak sekali. Aku suka berada disini,” jawabku tersadar dari lamunanku. Aku memang sedang berada di balkon kamarnya Henry dan merasakan udara yang sangat segar disini.

”Mau sampai kapan kau disini Ririn? Ayo turun, orang-orang sudah menunggu dibawah. Dan dibawah juga makin banyak orang berdatangan,” katanya lagi sambil berdiri disampingku.

”Iya, beberapa menit lagi Nichan,” kataku masih memandang lurus kedepan dan memang sudah banyak mobil yang berdatangan.

”Baiklah. Jangan terlalu lama ya. Nanti kau masuk angin. Mau hujan sepertinya,” respon Nichan sambil berlalu keluar kamar Henry.

Setelah Nichan aku mendengar obrolan Nichan dengan Eunhyuk, kekasihnya. ”Dia belum mau keluar juga, jagi?” itu suara Eunhyuk. ”Belum, mungkin sebentar lagi” jawab Nichan lirih.

Aku berbalik kearah pintu yang belum tertutup sempurna. Eunhyuk terlihat mengelus rambut Nichan lembut, merangkul pundaknya dan menutup pintu. Itu semua membuatku melamun lagi.



µµµ



*Flashback*

*Ririn POV*

”Waa, gak kerasa kita kelas 3 sekarang. Tahun depan berarti kita ujian yaa?” kata Henry sambil menjatuhkan tubuhnya di kasurku. Aku sudah terbiasa dengan sikap Henry yang seperti itu. Berbeda sekali dengan 2 tahun lalu ketika dia memintaku dan Nichan menjadi temannya.

Dulu kesan pertamaku dia pendiam, cool, anak mama, dan semuanya yang baik-baik. Untuk anak baik-baik dan anak mama itu memang benar. Karena mamanya memang selalu menelponnya 3 kali atau bahkan lebih dalam sehari. Tapi untuk pendiam, dan cool sepertinya aku salah besar. Dia baweeeel, seperti anak kecil, dan jorok. Dia jarang mandi dan sering meninggalkan bungkus makanan seenaknya di kasurnya bahkan kasurku dan kasurnya Nichan.

”Iya ya? Dan satu tahun lagi juga kau kembali ke Kanada. Hm,” ucapku sambil duduk di kasurku.

Henry bangun dan bersila di sampingku. “Aku belom memberitahukan ini padamu ya?” kata Henry mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Belum. Apa?” tanyaku penasaran sambil mendorong wajah Henry karena menurutku jaraknya terlalu dekat.

Henry melompat dari tempat tidur dan menuju balkon kamarku. “Yang ke Kanada tahun depan itu hanya orangtuaku saja,”

”Mwo? Kau bagaimana?” tanyaku berjalan menuju balkon.

”Aku tetap tinggal di Korea ,” katanya sambil mengembangkan senyum andalannya kepadaku.

”WAAAAA, YANG BENAR?” kataku membalas senyumannya.

”Ne, Ririn. Aku akan di Korea dan melanjutkan kuliah disini bersamamu dan Nichan tentunya,” katanya sambil mengacak rambutku.

”WAA, aku sangat senang mendengarnya Henry!” kataku dan reflek memeluknya.

”Nanti malam kau datang ke Blue Cafe ya. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Jam 7. On time. ” katanya sambil melepas pelukanku dan mencolek hidungku. Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.

”BUAT APA? KATAKAN SAJA SEKARANG! SEENAKNYA SAJA KAU MEMELUKKU DAN LANGSUNG MENINGGALKANKU!” jawabku meninggikan suara walaupun aku tau Henry sudah keluar.

BRAK! ”HEI, JANGAN BERTERIAK SEPERTI ITU. BAGAIMANA KALAU IBUMU MENDENGARNYA. DAN SATU LAGI, TADI ITU BUKAN AKU YANG MEMELUKMU. TAPI KAU YANG MEMELUKKU, HEHE,” jawabnya cengengesan. Aku tersenyum dan pipiku terasa panas.

”Jangan lupa Blue Cafe jam 7. On Time!” teriak seseorang dibawah dan langsung mengendarai mobilnya cepat. Seperti jin saja dia sudah langsung ada dibawah.

”Ririn, jangan terlambat ya nanti jam 7,” ucap Ummaku sambil membawa selang hendak menyiram tanaman. HENRYYYYY! Batinku



*Henry POV*

”Mom, apakah anakmu ini sudah tampan?” tanyaku.

”Yes, you look so handsome, dear. Sukses ya, Mom yakin kau pasti bisa,” jawab Mom yakin.

“Aku berangkat Mom, salam buat Daddy ya,” kataku sambil mengecup kening Mom dan bergegas pergi.



Sekarang jam 7 kurang 15, dan aku sudah sampai di Blue Café 30 menit yang lalu. Aku sudah menghabiskan 20 menit untuk mengeluarkan perasaanku sekarang pada Nichan dan Eunhyuk disini. Cafe ini, tepatnya tempat aku duduk bersama Nichan dan Eunhyuk sudah disulap menjadi tempat yang indah. Diatas meja ada lilin beraroma yang cantik, dan dihiasi bunga mawar. Ririn akan datang 10 menit lagi. Hmmmm



10 menit kemudian…



“Henry,” akhirnya suara yang kutunggu datang juga.

Aku berbalik, “Ririn,” kataku kaget. Dia cantik sekali, memakai gaun biru tua selutut. Hm tampak serasi denganku yang menggunakan kemeja biru tua senada. ”Kau cantik sekali, Ririn” lanjutku sambil menarik kursi di depanku dan mempersilahkan dia duduk.

”Gomawo. Kau juga terlihat tampan Henry. Dan sepertinya baju kita serasi hihi,” jawabnya sambil duduk didepanku. Aku bingung mau mulai berbicara seperti apa kepadanya. Barusan saja aku menghabiskan makanan utamaku dan tinggal menunggu dessertnya datang.

”Silahkan Tuan, Nona, nikmati dessertnya,” kata pelayan disana ramah. ”Gomawo,” ucapku dan Ririn bebarengan.

”Waa, puding vanila. Kau tau aku suka puding Henry,” kata Ririn, aku hanya tersenyum dan dadaku bergemuruh. Semoga saja Ririn tidak mendengarnya. Aku ’terlihat’ tenang memakan pudingku, sesekali aku menoleh ke pojok belakang dan aku selalu melihat Nichan dan Eunhyuk kompak mengacungkan jempolnya.

”MWOO, kertas apa ini? Kenapa bisa ada di dalam puding enak ini?” teriak Ririn, kemudian dia membuka kertas itu perlahan.

DEG!!!

Aku memberanikan berdiri dan berjalan kearahnya kemudian aku berlutut sambil menggengam tangannya. ”Bagaimana?” tanyaku sambil tersenyum tentunya. Karena aku tahu, dia pasti luluh dengan senyumku hihi

Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Aku menariknya kepelukanku, tapi kemudian adegan yang sudah kutunggu-tunggu itu dirusak oleh duo Nichan-Eunhyuk.

”WOOOOW, CHUKAE YAAA, RIRIN-HENRY,” teriak Nichan sambil memelukku hingga membuat semua pengunjung menoleh ke arah teriakan Nichan. Sedangkan Eunhyuk malah nge-dance yang tidak jelas maksud dan juntrungannya apa. ”CHUKAE BROO!” teriak Eunhyuk tak kalah heboh sambil menepuk pundak Henry.

”Kalian bertiga sekongkol ternyata,” ucapku

”HAHAHA,” mereka bertiga hanya tertawa-tawa

*flashback end*



µµµ



*Park Ririn POV*

Aku tersenyum miris mengingat itu semua. Huh, aku merasa dibawah sudah semakin ramai. Tadi aku mencari sesuatu ditempat Henry biasa menyimpan foto albumnya. Tapi ternyata tidak ada aku hanya mengambil foto album keluarganya saja. Ketika aku menaruh foto album milik Henry ketempat semula aku menemukan banyak bon obat disana. Aku melihat tanggalnya dan ternyata itu beberapa hari sebelum Henry menyatakan perasaannya padaku. Tenyataa...

Aku menuruni tangga. Tadi aku minta izin kepada Ummanya Henry untuk ke kamarnya Henry sebentar. Ternyata disana sudah ada Appanya Nichan yang dulu juga kepala sekolahku Pak Leeteuk, ada Pak Siwon juga dan ada beberapa guruku waktu SMA dua tahun yang lalu. Ada teman-teman SMAku juga. Ada Appa-Ummaku, ada Yesung Oppa yang sedang berbicara bersama Hankyung Oppa, oppanya Nichan. Aku tidak menyangka akan ada banyak orang yang datang.

”Ririn,” kata Yesung Oppa dan Hankyung Oppa yang langsung menghampiriku. ”Kau tak apa?” lanjut Hankyung Oppa.

“Ne, kwaenchanha,” kataku menatap mereka dan langsung berjalan ke arah Appa-Ummanya Henry berdiri.

“Henry,” ucapku, tangan Yesung oppa memegang pundakku.

Aku terisak hebat ketika aku memegang sisi balok persegi panjang. Dan tiba-tiba semuanya gelap...



“Rin, kau sudah sadar?” tanya suara yang ku kenal, Nichan. Tadinya aku berharap itu Henry karena aku mencium aroma tubuhnya di kasur ini, tempat Henry tidur setiap hari. Tapi itu sudah tidak mungkin lagi.

“Aduh, kepalaku pusing Nichan,” aku berusaha bangun dan Nichan membantuku. “Yang lain kemana?” lanjutku.

“Masih dibawah Rin. Kau disini saja dulu ya. Acaranya masih dimulai satu jam lagi,” katanya berkaca-kaca. “RIRIIIIN,” isak Nichan sambil memelukku.

“Nichan, aku tak akan kuat. Aku tidak bisa. AKU GAK BISA!!” teriakku frustasi.

“Kau harus bisa Rin, aku yakin Henry akan sedih melihatmu seperti ini. Dia juga pasti ingin melihatmu bahagia, Rin,” katanya menenangkanku lalu menghapus air mataku yang pecah.

Nichan berjalan menuju lemari baju Henry dan mengeluarkan kotak sangat besar dan sepertinya berat. “Ini titipan dari Henry, tadinya Ummanya Henry yang mau menyerahkannya kepadamu. Tapi, tidak jadi karena kalau melihatmu dia pasti teringat wajah anaknya,” dia menyerahkannya padaku. “Aku kebawah sebentar ya, mau memberitahukan Yesung Oppa kalau kau sudah sadar. Dia khawatir sekali tadi,”

Setelah pintu tertutup, aku membuka kotak itu hati-hati. Hm, kenapa di kotak seperti ini masih saja tercium aroma tubuh Henry. Mataku berkaca-kaca lagi. Napasku tercekat begitu melihat isi kotak itu. Tuhan, aku tidak kuat. Aku mengambil isinya satu persatu.

Ada violin putih kesayangan Henry disitu lengkap dengan tas-nya. Aroma itu lagi.. Ada jaket kulit dariku yang setahun lalu aku berikan kepadanya sewaktu usianya bertambah. Ada beberapa dvd yang memang sengaja dia beli untuk maraton dvd bersamaku, Nichan dan Eunhyuk. Ada barang yang tadi aku cari di tempat foto album. Foto-fotoku dengan Henry, dan Nichan.

Ada pelampung dariku juga yang sering dipakainya untuk belajar berenang walaupun hasilnya nihil. Aku jadi mengingat pembicaraanku dengannya waktu itu di villa-nya Henry, “Kau apa-apaan sih? Bagaimana kalau tidak ada yang menolongmu tadi? Bagaimana kalau kau tenggelam? Kenapa kau tidak memakai pelampung yang ku belikan? Hah? Kau membuatku panik Henry,” ucapku lancar. “Mian jagi, aku hanya mau mencoba tidak memakai pelampung. Aku hanya ingin bisa melindungimu kalau kau tenggelam,” jawab Henry sambil memasang tampang innocent-nya. “Babo, itu sama saja kau mendoakanku tenggelam,” jawabku ngambek dan kita hanya tertawa-tawa sampai malam.

Ada kertas yang waktu itu ada di pudingku. Masih terlihat tulisan tangan Henry disitu. Tes! Air mataku menetes tepat diatas tulisan tangannya itu. Aku masih bisa membacanya, “Maukah kah menjadi kekasihku?”. Tulisan itu membuatku bergetar. Aku ingat sehabis itu Nichan bercerita banyak tentang perasaan Henry padaku. Nichan bercerita, Henry membutuhkan waktu selama beberapa bulan untuk menyatakan perasaannya kepadaku, bahkan menit-menit terakhir sebelum dia menyatakan perasaannya. Aku tidak menyangka Henry masih menyimpan ini semua.

Terakhir aku melihat surat yang tertempel di parfumnya yang masih ada setengah. Aku mencabutnya dan membacanya:

‘Aku mau kau menyimpan semua yang ada disini, Jagi. Aku mohon kau menjaganya dengan baik. Aku pasti kangen saat kamu memarahi ku kalau aku lupa mandi, kalau masih ada bungkus snack, kalau aku berenang tidak menggunakan pelampung, kalau aku meletakkan violinku sembarangan. Aku pasti kangen saat kau mencubit pipiku dan mukamu selalu seperti kepiting rebus saat aku mengeluarkan senyum mautku. Tapi aku suka itu.

Mian, aku tidak mengatakannya dari awal kalau aku sakit. Aku kanker otak stadium 3 waktu itu. Kalau saja aku mengatakan hal ini padamu pasti aku masih berada disisimu sekarang, karena kau pasti akan selalu mengingatkan jam minum obat kepadaku. Mian, aku meninggalkanmu. Jangan sedih ya disana. Kau harus tersenyum, karena kau pasti lebih cantik kalau tersenyum. punya Terima kasih selama ini sudah menjadi teman dekatku sekaligus kekasihku. Satu lagi, kau harus mencari penggantiku, harus yang lebih baik dan lebih sayang padamu ya. Jangan salah pilih. Tapi jangan mencari yang pipinya sepertiku, karena aku yakin hanya aku yang punya pipi seperti ini. Gomawo Ririn-ah. Saranghae’

Aku mengusap air mataku, mengembalikan semua barang milik Henry kedalam kotak itu dan menutupnya rapat. Aku menuju balkon kamar Henry. Aku teringat satu hal lagi, tepat sehari sebelum Henry masuk rumah sakit dan meninggalkanku selamanya.

Waktu itu aku menangis karena mendengar Ummanya Henry menelfonku sambil menangis. Aku yang waktu itu sedang membantu Nichan membuat kejutan untuk ulang tahun Eunhyuk langsung menuju rumah Henry. Ketika aku sampai di kamarnya, aku melihat tubuh Henry dibalut baju tidur serba putih membelakangiku sedang menikmati angin sepoi sepoi di balkonnya. Aku mengendap-endap mendekatinya dan berencana ingin mengagetinya tapi aku gagal. Dia tahu aku sudah datang. Dia menghampiriku dan menarik tanganku menuju balkon.

“Huh, kau tau rencanaku barusan, Henry,” ucapku sambil bergelayut manja di lengannya. Mukanya pucat sekali, rambutnya berantakan diterpa angin sore.

“Aku selalu tahu setiap kau datang, Jagi,” jawabnya sambil tersenyum kearahku. Aku membalas senyumannya dan ikut memandang lurus ke depan. “Ada yang ingin kubicarakan padamu,” lanjut Henry.

“Apa?” tanyaku. “Eh tunggu dulu, sebenarnya kau ini sakit apa Henry? Kau tak pernah bercerita sedikitpun tentang penyakitmu ini?” lanjutku sebelum Henry menjawabnya.

“Kanker otak,” jawabnya santai tanpa melihat ekspesi mukaku. Mulutku terkatup. Dadaku sesak, aku makin kuat mencengkram lengan Henry. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Aku bingung. Takut! “Stadium 4,” kali ini dia menoleh kearahku, tersenyum.

DEG! KANKER OTAK? STADIUM 4?

Aku ingat waktu itu mataku perih. Nafasku hampir habis. Setelah beberapa jam Henry bercerita tentang penyakitnya, dia masuk rumah sakit dan pergi...



“AAAAAH, sudah cukup aku mengingat hal itu. Aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak menangis,” ucapku sedikit berteriak pada diriku sendiri. Aku memutuskan untuk segera menuruni tangga. Acara pemakaman Henry akan dilaksanakan 10 menit lagi. Saat aku sampai di ruang tadi tempatku pingsan, aku melihat peti Henry sudah tertutup. “Gomawo, Henry,” kataku dalam hati.



-THE END-


Read more...

Selasa, 25 Mei 2010

2 Weeks with 13 Adorable Boys [part4]

;;MINHO’S P.O.V;;

“Minho-ah! Bisa tolong ambilkan handphone ku tidak? Tadi tertinggal di ruangannya SuJu sunbae-nim” perintah Jonghyun hyung padaku. “Eh hapeku juga hyung!” kata Taemin. “Ne, jakkaman!” kataku.

Aku berjalan pelan menuju ruangan dimana aku melihat sepasang mata yang paling indah yang pernah kulihat. Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi rasanya matanya lebih mempunyai banyak kharisma daripada mataku. Bagaimana mungkin! Aku kan Minho si Flaming Charisma!

Sepertinya ini ruangannya, aku membuka pintu dan... aku melihat sepasang mata itu lagi. Tidak, aku tidak boleh gugup. “Loh kamu masih disini?” tanyaku padanya yang kini telah berpindah duduk di sofa. “Iya, aku tidak tahu kemana Teuki oppa dan yang lainnya. Jadi aku hanya diam disini” katanya. “Oh iya ada apa kamu kesini?”

“Aku ingin mengambil hapenya Jonghyun hyung dan Taemin. Apa masih ada?” tanyaku. “Iya masih ada, ini di sini” jawabnya. Aish.. kenapa aku harus berjalan mendekati dia? Bisa mati aku melihat matanya.

Aku pun mengambil hp Jonghyun hyung dan Taemin, sial tidak sengaja aku tersandung, aku jadi terduduk di sofa, aigoo jarakku dengannya dekat sekali. Jantungku berdebar kencang.
“Kwanchanha Minho?” tanyanya. “Kwanchanhayo” jawabku. Tepat setelah aku mengatakan “Kwaenchanhayo” lampu ruangan itu tiba-tiba mati. “Huaaa!” Sunghyo berteriak panik. Dan secara refleks aku memeluknya untuk menenangkannya. Sungguh aku tidak merencanakan ini. Aku pernah membaca buku yang berkata apa yang kulakukan tadi itu memang sifat alamiah dari laki-laki yaitu melindungi perempuan.

“Mianhae Sunghyo-ah, aku tidak bermaksud..” aku meminta maaf padanya. “Kwanchanha oppa,” jawabnya terbata. “Tapi aku takut kegelapan oppa, coba buka pintunya, aku takut” lanjutnya. Maka aku berjalan mendekati pintu dan... Sial! Pintunya terkunci dari luar! Aish..

“Kenapa oppa?” tanya Sunghyo padaku. Terdengar sekali dari nada bicaranya ia ketakutan. “Sepertinya kita terkunci, Sunghyo-ah” jawabku sambil menuju ke sofa lagi. “Apa? Terkunci? Jeongmal oppa?” tanyanya lagi. “Ne”

“Akan ku coba telpon Onew hyung” akhirnya aku pun ambil tindakkan. Aku mengambil hape Taemin dan mencoba menelpon Onew hyung. “Maaf pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan”. Aish! Taemin kamu itu artis tapi kok nggak punya pulsa? -_-

Aku mencoba dengan hape Jonghyun hyung. Lebih sia-sia ternyata, hapenya Lowbatt. Dan hape ku tertinggal di minibus. Bagus sekali.

“Sepertinya kita terjebak disini sampai besok pagi..” kata Sunghyo. “Iya, sabar ya Sunghyo” jawabku. “Kita dengarkan lagu dari hape Taemin saja ya oppa, aku mulai bosan” katanya.
Dan kami memutar lagu yang ada di hape Taemin yang kebanyakan isinya adalah lagu dari grup kami. Dasar Taemin narsis -_-

Lagu berganti ke Ring Ding Dong. “Wah Ring Ding Dong” kata Sunghyo senang. “Kamu suka Ring Ding Dong?” tanya ku padanya. Ia mengangguk semangat. “Aku bahkan bisa dancenya, percaya tidak?” lanjutnya. “Jeongmal? Woah!” aku memberikan applause padanya. “Tapi itu dulu, sebelum aku duduk di kursi roda ini kkk~” tambahnya.

Aneh, sekarang aku merasakan makna lagu itu, jantungku seperti mengeluarkan nada “ring ding dong”. Mungkin karena sekarang aku duduk dengannya, di kondisi mati lampu. Haduh aku kenapa sih -_-

Beberapa saat kemudan..BLAM! Lampu yang ada di meja rias menyala semua, tapi aneh, lampu itu kan tadi sudah di matikan, kenapa bukan lampu utama yang menyala? “Sunghyo-ah sepertinya di sini agak hororr ya..” kataku. Hey kegugupan ku sepertinya mulai hilang (n_n)
“Masa oppa, iya sih memang agak aneh..” sekarang aku bisa melihat matanya lagi. Teduh. Lagu pun berganti dengan Juliette. “Kau suka Juliette juga tidak?” tanyaku. “Ne, suka sekali, aku selalu ingin menari mendengar lagu ini” katanya senang. “Andai kakiku tidak seperti ini, huuh” lanjutnya. Ia lucu sekali saat menggerutu seperti itu. Aku tidak akan melupakan wajahnya saat menggerutu seperti ini. Hehe.

Tidak terasa kami telah mengobrol banyak, bahkan sedikit bercanda juga, terkandang kami saling pandang, tentu saja hanya sebentar. Aku takut untuk terlalu lama menatap matanya yang indah itu. Aku takut tidak bisa melupakannya. Aku senang bisa akrab dengannya, aku suka bisa manatap matanya, wajahnya. Kurasa aku.........

“Wah Marry You” katanya kaget. “Akhirnya ada lagu selain SHINee..” kataku. Aku sangat menyukai lagu ini, tidak terasa kami ikut menyanyi. Rasanya hangat sekali bisa sedekat ini dengan Sunghyo. Bahkan Sunghyo meletakan kepalanya di pundakku. Omona..

“Would you marry me?” kataku bercanda. Tidak ada respon. Apa ia terlalu kaget? Aku menoleh ke arah wajahnya. Aigoo, dia tertidur di pundakku, sepertinya pulas sekali. Hey Sunghyo-ah, apa pundakku senyaman itu? “Kau kelelahan ya?” aku menyelimutinya dengan jaketku yang sebelumnya sudah ku lepas. “Chaljayo, sunghyo-ah”. Wajahnya saat tidur membuatku gila! Tega sekali kau padaku, baru pertama kali bertemu kau membuatku tersiksa dengan matamu! Aish..

Aku juga ikutan mengantuk, akupun menutup mataku dan pergi ke alam mimpi bersama Sunghyo – semoga. Kkkk
==
“Aigoo, manisnya..”
“Aaah aku iri pada Minho!”
“Minho hyuuung, gantiaan!”
“Ssst bisa diam tidak? Lihatlah pemandangan indah ini.. manis sekali bukan?”

Berisik sekali. Aku mencoba membuka mataku pelan. “Whoaaa! Sedang apa kalian!” teriakku kaget. Bagaimana aku tidak kaget, ada 17 orang yang memperhatikanku sedekat ini. “Harusnya kami yang bertanya, sedang apa kalian?” goda Kangin hyung. Aish..

Aku mengalihkan pembicaraan. “Hey, lihatlah ia masih tertidur, bisa tidak jangan berisik?” kataku pelan sambil mengelus pelan kepala Sunghyo. Rambutnya halus sekali. Aku melihat raut muka Jonghyun hyung. Kelihatannya ia tidak senang dengan apa yang kulakukan pada Sunghyo. Taemin juga.

“Hey beraninya kau mengelus rambut dongsaengku tanpa izinku” kata Leeteuk hyung. “Aish, mianhae hyung, aku hanya..” kataku. “Haha kwaenchanha, gomawo telah menjaga dongsaengku ya!” ternyata dia tidak marah. Aku jadi malu. Haha

Sunghyo terbangun. Ia kelihatan kaget sekali. “Oppa! Jangan melihat kesini! Aaah kalian ya!” gerutunya lagi. Ya ampun tega sekali kau Sunghyo di pagi ini sudah membuat aku jatuh cinta pada ke-aegyo-an mu.

Akhirnya kami pulang. Ah malam yang cukup menyenangkan walaupun harus ada acara ‘mati lampu’ segala. Kkk. “Beruntungnya kau Minho, sebenarnya aku duluan yang menyukai Sunghyo, baiklah dia aku serahkan padamu, jaga ia baik-baik ya?” kata Jonghyun hyung. “Apaan sih hyung? Aku ini di kerjai tahu” kataku. “Tapi hyung senang sekali kan?” tanya Taemin. Jujur aku senang sekali.. saranghae, Sunghyo-ah.

;;SUNGHYO’S P.O.V.;;

“Oppa jahaaaaaat! Aku deg-degan setengah mati tahu!” kataku pada seluruh oppaku di dorm. Ternyata tadi malam itu rencana mereka semua! Aaaaargh! “Hey tapi kau senang kan Sunghyo?” goda Yesung oppa. “Pasti senang lah, sampai tertidur di pundaknya Minho masa nggak senang?” haha” tambah Heechul oppa. “Maaf ya Sunghyo kami membuatmu panik..” lanjut Kyuhyun oppa sambil tersenyum. Kalau tersenyum seperti itu aku jadi luluh nih. Oppaaaaa kau jahat sekali sih!

“Oh iya kami ada hadiah untukmu, semoga senang ya!” Shindong oppa menyerahkan sesuatu padaku. Inikan.. handphone. “Kami berikan handphone padamu. Di dalamnya sudah ada nomor hp Minho jadi kau..” Donghae oppa belum selesai bicara. “Oppa! Apaan sih!”potongku. “Digunakan ya Sunghyo cantik, anggap saja kenang-kenangan dari kami” kata Kibum oppa.

Gomawoyo Super Junior oppa, kalian memang telah berhasil membuatku senang, yaa walaupun awalnya aku sangat malu dan deg-degan sekali saat bertemu Minho. Aku berjanji aku akan bisa jalan dan menari Sorry-Sorry untuk kalian. saranghae oppa (n_n)

TO BE CONTINUED....
Read more...

2 Weeks with 13 Adorable Boys [part3]

;;KYUHYUN’S P.O.V.;;

Aku melihatnya masih tertidur dari balik pintu. Bangunkan tidak ya? Ini sudah pagi sih. Lagian aku juga kesepian, semua member kecuali aku pergi merencanakan sesuatu untuk SungHyo, semenjak ia menjadi bagian dari keluarga kami, kami membuat sesuatu yang berkesan baginya (n_n)

“SungHyo-ah, bangun, sudah pagi” kataku sambil tersenyum. Ku goyangkan sedikit badannya. Dia terlihat kaget. “Mianhae ya aku mengganggu tidurmu” kataku. “Ah kwaenchanayo oppa, memang sudah pagi, gomawo telah membangunkanku oppa” katanya sambil mencoba bangun, aku membantunya menaiki kursi rodanya.

“Loh, kok sepi sekali? Mana yang lainnya?” tanyanya. “Mereka sedang ada schedule masing-masing hanya aku yang kosong” jawabku. “Kamu bersiap dulu ya, aku sudah siapkan sarapan untukmu”

“Gomawo oppa telah menyelamatkan aku saat aku kecelakaan. Jeongmal gomawoyo...” katanya. “Hmm, kwaenchanha, aku hanya ingin kamu tidak menderita seperti aku saat kecelakaan dulu” kataku sambil mengelus rambutnya.

Hana du set kudega utjyeo~~~

Handphone ku berbunyi, Teuki hyung rupanya. Wah cepat sekali buat rencananya. “Yobeseyo?” jawabku

“Yah Kyuhyun-ah! Kami sudah buat rencananya! Kamu temani dia sampai siang ya? Nanti sore akan kami jemput!” kata Teuki hyung. “Ne!” kataku menutup telpon.

“Siapa oppa?” tanya Sunghyo. Hehe, iseng ah. “Minho, katanya sekarang dia mau kesini.”

“Uhuk!” ternyata dia kaget, haha lucunya, air yang sedang diminumnya sampai muncrat! “Jeongmal oppa? SHINee Minho? DATANG KESINI?!” katanya kaget.

“Gak ding, aku bercanda, kkkk mianhaeyo” kataku sambil mengambilkan tisu padanya. “Ah oppa! Lihat tuh bajuku jadi basah!” gerutunya. Mengapa mukanya jadi imut sekali? Aduh apaan sih >,
“Ya sudah aku ganti baju dulu. Oppa jahat!” katanya sambil mendorong kursi rodanya kembali menuju kamarnya. Mianhamnida Sunghyo-ah, aku hanya ingin membuatmu senang (n_n).


;;AUTHOR’S P.O.V.;;

Sebelum itu di dorm SHINee..

“Donghae-yah! Nanti kamu ajak Minho kemana dulu gitu ya? Biar ngomongin rencananya lancar!” kata Heechul saat berjalan menuju dorm SHINee. “Iya, rencana ini harus berhasil!”
TING TONG!

“Taemin! Buka pintunya dong” perintah Jonghyun pada dongsaengnya itu. “Ne hyung!” Taemin berjalan mendekati pintu dan menbukanya perlahan “Wuah! SuJu sunbae-nim!”

“Ada apa hyung? Pagi-pagi udah main ke sini” kata Onew sambil memeluk semua member Super Junior yang ada di sana. “Begini.. hmm mana Minho?” kata Leeteuk memulai
pembicaraan. “Dia masih mandi hyung, paling sebentar lagi keluar.” kata Taemin. “Sebentar ya, kita tunggu Minho keluar dulu” kata Donghae meneruskan. SHINee member hanya bisa bengong tak mengerti.

5 menit kemudian..

“Ah! Donghae hyung! Super Junior sunbae-nim!” sapa Minho pada super junior. “Minho-ah!” Donghae bangun lalu memeluk dongsaengnya itu. “Aku di sini ingin mengajakmu jalan pagi! Yuk?” ajak Donghae. “Loh? Yang lain ga pengen ikut?” tanya Minho. “Yang lain pada pengen arisan! Aku gak pengen ikut. Hehe. Yuk ah”

“Tuh hyung, Minhonya udah pergi” kata Taemin “Ada apa sih?”

“Gini lho...” Heechul menceritakan semuanya, termasuk rencana mereka untuk membuat SungHyo senang, dan SHINee pun setuju untuk membantu mereka.

“Eh hyung, mau liat si.. itu dong siapa namanya? Sunghyo!” kata Jonghyun pada Super Junior. “Nih aku punya fotonya” kata Sungmin. “Aku juga punya” kata Yesung. “Aku punya banyak!” kata Kibum.

“Coba liat” Jonghyun melihat foto Sungmin bersama SungHyo. Ia terdiam beberapa lama. “Hyung,” kata Jonghyun “Apa?” tanya Sungmin. “cantiiiiiik! Ama aku aja deh jangan sama Minho!” pinta Jonghyun. “Heh! Mana bisa! Dia itu Minho bias jjong!” kata Heechul sambil menggetok kepalanya. “Coba liat juga dong hyung!” kata Key dan Taemin. Heechul menyerahkan HP-nya yang kebetulan juga ada fotonya bersama Sunghyo.

“Cantik, wajahnya bersinar, matanya bulat. Tipenya Minho banget” kata Key. “Ini bukan cantik lagi, cantik banget! Umurnya berapa hyung?” tanya Taemin. “16 atau 17 kayaknya” jawab Leeteuk. “Waah seumuran! Hyung, deketin aku ama dia ya? Please..” kata Taemin memohon pada mereka. “Aish! Udah dibilangkan? Dia itu cinta mati ama Minho! Kita mau bikin surprise buat dia!” kata Siwon.

“Oke, gomawo ya udah mau bantuin kita, buat Jjong ama Taem, nanti boleh deketin Sunghyo, tapi jangan macem-macem!” kata Shindong berterima kasih pada SHINee. “Ayo kita yel-yel buat nambah semangat! SUPER SHINEE FIGHTING!”

;;SUNGHYO’S P.O.V.;;

Sore hari, studio Music Bank

WUAAAH! Aku tidak menyangka aku akan pergi ke tempat ini! Tempat yang penuh dengan penyanyi terkenal di Korea Selatan. Music Bank! Oppa-oppaku baik sekali mengajakku jalan jalan ke tempat seperti ini. Gomawo oppa (n_n).

“Hey Sunghyo, kamu senang tidak kami ajak kesini?” tanya Shindong oppa padaku. Tentu saja aku senang! Kenapa harus ditanya sih? Aku hanya tersenyum senang. Tentunya lebih senang jika aku tidak harus naik kursi roda in hehe.

Shindong oppa membawaku menuju ruang rias mereka, sepertinya mereka sudah bersiap untuk tampil. Kyaaaaa! Mereka tampan sekali dengan kostum yang mereka gunakan! “Aku ganteng kan Sunghyo?” tanya Heechul oppa padaku. Tentu saja aku menjawab “Iya oppa! Ganteng sekali!”.

“Kyuhyun hyuuung!” ada yang memanggil Kyuhyun dari luar sana. “Halo!” Kyuhyun oppa menengok ke arah datangnya suara. Aku juga ikut menengok. YA AMPUN ITU SHINEE TAEMIN! Kalo Taemin ada di sini berarti....

“Donghae hyung! Besok kita jalan pagi lagi ya!” aigoo, aku mengenal suaranya. Sekarang aku tak berani menengok. Aku hanya diam. Tiba-tiba.. Donghae oppa memutar kursi rodaku sehingga aku kini menghadap ke arah pintu yang sudah di penuhi oleh SHINee member. Tentu saja aku juga melihat.. Minho. Omona, kenapa hari ini dia harus ganteng?(>//<)

Minho dan Donghae oppa lalu berpelukkan. Lalu ia melihat ke arah ku sejenak. Tidaak! Minho, jangan membuat mukaku jadi merah tomat ya? Aish..

“Kamu Sunghyo?” ucap sebuah suara. Oh ternyata Jonghyun. Kyaa! SHINee’s Jonghyun tau namaku? Mimpi apa aku semalam? “Ne~ kok Jonghyun-sshi bisa tahu namaku?” ampun deh ini pertanyaan babo. Ya sudahlah memang kenapa kalo dia tahu namaku?

“Dari SuJu sunbae-nim, panggil aku Jonghyun oppa ya!” katanya sambil mengajakku bersalaman. “Halo! Sunghyo kan? Aku Taemin!” katanya sambil tersenyum. Ah aneh, harusnya dia tidak usah bilang, kan semua orang sudah mengetahui namanya. Hihi

Aku belum berkenalan dengan mereka semua sampai...

“Annyeong haseyo, siapa namamu? Donghae hyung kemarin bercerita tentang kamu..” tanya Minho sambil mengajakku bersalaman. A-I-G-O-O-O. Aku menyambut tangannya, semoga mukaku tidak merah atau aku pingsan -_-. “Aku Ahn Sung Hyo.. dangsineul mannaseo gippeumnida.” Jawabku. Entah hanya firasatku saja atau memang tangannya gemetar? Padahal aku sudah mengurangi rasa gugupku, tentu dengan tidak melihat matanya yang menyimpan banyak kharismanya >.<

“Sudah dulu kenalannya.” kata Leeteuk oppa. “Nah, doakan kami menang ya hari ini!” lanjut Leeteuk oppa menggenggam tanganku. “Iya oppa, pasti!” kataku. “JANGAN LUPA DOAKAN KAMI YAA SUNGHYO NA DONGSAENG!” kata semua member. “Iya oppa! Super Junior fighting!”

“Kami boleh di sini sebentar hyung?” tanya Jonghyun oppa. “Tentu saja boleh. Jaga adikku baik-baik ya!” kata Kyuhyun oppa sambil lalu.

Setelah Super Junior oppa pergi, aku mengobrol dengan Jonghyun oppa dan Taemin. Mereka lucu sekali ternyata, suka bercanda, mereka membuat mood ku naik. Hehe.

“Sunghyo-ah, boleh minta nomor handphone?” tanya Jonghyun. Mwo? nomor handphone? Handphone ku kan hancur saat aku kecelakaan. Aish.. gagal deh dapat nomor mereka. “Mianhae oppa, handphoneku rusak saat aku kecelakaan..”

“Eh iya kamu habis kecelakaan ya? Semoga cepat sembuh ya..” kata Taemin lembut. Omona wajahnya imut sekali, wajar sih dia kan masih seumurku, kata Kibum oppa saja aku imut *apasih*.

“Ne~ gomawo Taemin” kataku. Aku melihat Jonghyun oppa mengambil hapenya. “Sunghyo? Selca yuk?” ajak Jonghyun oppa. “Yuk aku juga mau!” kata Taemin. Loh mengapa jadi terbalik? Yang artis disini siapa sekarang? >.<

“Senyum ya! Hana dul set!” kata Taemin mengambil foto kami. “Bagus juga” kataku. “Tentu saja bagus, ada gadis cantik sepertimu sih” kata Jongyun oppa setengah berbisik. HEH? APA TADI KATANYA? AKU TIDAK MIMPI KAAAN? “Oppa tadi bilang apa?” tanyaku untuk menyakinkan.”Tadi aku bilang.. gadis cantik” katanya lagi. Oppa, kau membuatku ingin berteriaak! “Maafkan hyung ku ya sunghyo, dia memang begitu hehe” kata Taemin.
“Kwaenchanha. Aku senang kok mendengarnya.”

“SHINee Jonghyun Taemin! Stand by sekarang ya!” kata seseorang yang mengatur jalannya acara di MuBank. “Yah Sunghyo, kami harus pergi sekarang, annyeong..” kata Taemin. “Annyeong Sunghyo-ah, nanti telpon aku pake hape Leeteuk hyung ya?” pamit Jonghyun oppa. “Hah? Ne oppa, ne” kataku masih agak kaget dengan ucapannya.

Yah mereka semua pergi, aku sendirian deh.

Eh ngomong-ngomong aku sudah nunggu mereka berapa lama ya? Kok belum kembali kesini? Aduh aku jadi takut nih.

Sepertinya sudah 1 jam aku disini. Kemana sih mereka? Jangan jangan aku di tinggal? Ah mana mungkin.. tapi mungkin saja mereka lupa mereka membawa ku. Haah kejamnya -_-

Aku mencoba turun dari kursi rodaku, ingin duduk di sofa. Daaan.... hap! Berhasil! Kakiku sudah mulai menguat rupanya. Eh ini kan hp nya Taemin dan Jonghyun oppa. Tertinggal rupanya.

Seseorang membuka pintu. Ternyata.. Minho.

TO BE CONTINUED~~~~~~~~~

Read more...

Birthday Surprise

Jaekyong’s POV

Aku menangis di dalam taksi yang berjalan menuju rumahku. Masih kesal dengan semua kejujuran seorang namja yang selama ini aku cintai sepenuh hati. Bagaimana tidak kesal! Jika kalian menjadi aku, kalian pasti akan menangis juga.

[Bonamana Cafe, 04.00pm]

“Mianhae oppa, aku terlambat. Tadi ada masalah sedikit di sekolah” aku memeinta maaf pada Kibum oppa yang sudah menungguku. “Kwaenchanha, duduklah aku ingin bicara” raut mukanya tampak serius. “Ada apa oppa?” aku mulai cemas.

“Tapi kau janji dulu tidak akan marah” katanya lagi. “Ne, cepat katakan ada apa? Jangan membuatku khawatir” jawabku. Ia menggenggam tanganku “Mianhae Jaekyong-ah, sebenarnya..” katanya menggantung. “Apa oppa? Apa?” aku tidak sabar.

“Sebenarnya aku, mencintai oppamu, Jungsoo-sshi” katanya pelan namun rasanya jantungku seperti tertusuk pisau tukang daging. Sakit sekali. Kupingku juga sakit mendengarnya, perkataanya bagaikan petir di siang bolong. Sungguh membuatku kaget.
“Oppa, kau jangan bercanda, kau bercanda kan?!” kataku dengan nada yang meninggi dan hampir menangis. Ia hanya terdiam dan menggelengkan kepala. “Mianhae...”


“Lepaskan tanganku, aku mau pulang!” aku melepaskan tanganku dan keluar cafe. “Mianhae Jaekyong-ah!” dia berteriak meminta maaf. Aku menangis dan mencegat taksi lalu pergi.

PARK JAEKYONG BABO! Kenapa aku bisa mencintai namja gay macam Kim Kibum? Jadi, selama ini namja yang ku peluk, ke cium, kucintai, seorang gay? Kau juga meyebalkan Kibum! Aku benci Kim Kibum!!! Aku mungkin tidak akan sesedih ini jika ia mencintai.. ehm pria lain. TAPI KENAPA HARUS OPPAKU? KENAPA HARUS JUNGSOO OPPA? Aish mengapa aku harus mempunyai kisah seperti ini?

Ah handphoneku berbunyi. Jungsoo oppa, malas ku angkat ah. Biarkan saja. Aku masih kesal dan sedih dengan apa yang menimpaku hari ini. Aku tidak ingin bercerita pada siapapun, karena pasti tidak hanya aku yang malu, tapi juga Kibum dan Jungsoo oppa.
==
Kibum’s POV

“Sebenarnya aku mencintai oppamu, Jungsoo-sshi” kataku pelan dan memasang tampang menyesal. Ia terdiam beberapa saat. Dari air mukanya sangat terlihat kalau dia kaget, aku menahan tawaku. “Oppa, kau jangan bercanda, kau bercanda kan?!” nadanya mulai meninggi dan seperti ingin menangis. Mukanya memerah. Aku diam lalu menggeleng. “Mianhae...”

“Lepaskan tanganku, aku mau pulang!” aku melepaskan genggaman tanganku. Ia pergi. “Mianhae Jaekyong-ah!” aku sedikit berteriak. Dia sudah pergi. Dan aku tertawa keras sekali, mungkin semua orang di cafe mendengar suara tertawaku. Hahaha aduh Jaekyong-ah, kamu kenapa polos sekali sih? Mau saja di bohongi olehku. Kkkk~

Handphone ku berbunyi, ah Teuki hyung. Perlu ku jelaskan, Teuki ini adalah panggilan akrab ku pada Jungsso hyung, sudah lama aku mengenalnya dan dari dulu aku memang menggunakan nama Teuki untuknya.
“Yobeseyo” aku menjawab telponnya dengan sedikit tertawa.
“Bagaimana? Berhasil?” tanyanya penasaran
“Sangat berhasil! Dia pasti marah sekarang! Kkkk~”
“Jinca? Huah kau pintar berakting ya Kim Kibum!”
“Kau baru sadar? Memang dari dulu hyung!”
“Tidak salah dongsaengku memilihmu jadi namja chingu.”
“Tentu saja! Sekarang gantian hyung yang melanjutkan rencana!
“Ne arasseo, gomawo Kibum!”
“Cheonmaneyo hyung!” itulah akhir percakapan kami. Semoga rencana ini berhasil! Mianhae chagiya, aku hanya ingin membuat sesuatu yang beda saat ulang tahunmu tahun ini. Kkk~

==

Jaekyong’s POV

“Aku pulang” aku masuk ke dalam rumah. Aku menemukan Jungsoo oppa duduk melamun di sofa. “Ah kau sudah pulang,” ia tersenyum sedikit. “Kau kenapa? Habis menangis?” tanyanya padaku. Mungkin ia melihat mataku yang sembab. “Hmm iya, kwaechanha, tenang saja” aku mengucek mataku. “Oppa mengapa melamun?” aku gantian bertanya. “Terlalu sedih untuk ku ceritakan..” jawabnya. “Ayolah oppa ceritakan..” aku sedikit memaksa. “Baiklah, aku, aku putus dengan Sunghyo..” katanya sedih.

“Waeyo? Kalian kan pasangan yang selalu bikin iri pasangan lain? Kenapa berpisah?” aku sedikit terkejut. Oppaku dengan sahabatku, Sunghyo memang pasangan yang sangat mesra. Aku heran mengapa hubungan mereka harus berakhir. “Aku mencintai orang lain.. dan aku menyesal” jawabnya.

“Lalu Sunghyo bagaimana?” aku khawatir dengan sahabatku itu. “Molla, bisa kau katakan padanya aku minta maaf?” pinta Jungsoo oppa padaku. “Ne, nati aku sampaikan, aku masuk ke kamar dulu” aku bernjak dari sofa. “Tapi, siapa yang oppa cintai sekarang?”

“Tidak bisa ku sebutkan” ia berlalu. “Sudahlah kau tidur saja, sudah malam” dan menyuruhku tidur. Aku menurut karena memang sudah malam dan aku ingin melepas semua perasaan kesal dan sedihku dengan tidur. Semoga besok menjadi lebih baik.

==

“Kami berdua sudah menjadi sepasang kekasih..” Jungsoo oppa tersenyum dan menggenggam tangan Kibum. “Mwo? Kalian.. pasti bercanda iyakan?”
“Kami tidak main-main...”
“Aku benci kalian, AKU BENCIIIIIIII! “
“Sunghyo-ah, mianhae..”
“ANDWAEEEE!”
HAH! Untung hanya mimpi. Mimpi yang menyeramkan, lebih menyeramkan dari sadako. Mengapa aku harus mimpi seperti ini sih? Bagaimana kalau mimpiku kenyataan? Aku hanya bisa.. menangis....

==

Aku datang ke sekolah dengan mata sembab dan mengantuk. Setelah mimpi itu aku tidak bisa tidur karena aku menangis. Rambutku juga acak-acakan. Sudahlah siapa peduli? Aku berjalan menuju kelas dengan langkah gontai.

“Ya Jaekyong-ah, kwaenchanha?” Sunghyo yang sudah ada di kelas melihatku yang masuk kelas dengan keadaan seperti ini. “Kwaenchanha, biarkan aku duduk dulu” aku berjalan menuju mejaku. Sunghyo berjalan di belakangku. “Hey, kau tidak kelihatan ‘baik-baik saja’, kau tahu? Ada apa?” ia memintaku untuk bercerita. “Kau dulu yang cerita, kau habis putus dengan Jungsoo oppa kan?”

“Heh, ku sudah tahu?” ia tampak kaget. “Ya begitulah, ini untuk kebahagiaan kami” lanjutnya. “Sudah jangan pikirkan aku, kau kenapa?” tanyanya lagi. “Tidak bisa ku jelaskan, terlalu menyebalkan, menyakitkan, menjijikan!” aku mulai menangis lagi. “Sssh kau ini kenapa sih? Ceritakan saja jika membebanimu, aku siap mendengarkan..” ia memelukku dan
menenangkanku. “Aku, aku, huaaaa” tangisku akhirnya pecah juga. “Kenapa?” tanyanya lagi. “Aku tidak bisa cerita, aku lebih terluka jika kau menyuruhku mengunkitnya lagi..” aku gantian memeluk Sunghyo. “Baiklah jika kau tidak mau cerita, aku tidak akan memaksa”

Aku tidak bisa konsentrasi sama sekali pada pelajaran di sekolah. Di kepalaku hanya ada namja bodoh itu, Kibum. Aku tidak nafsu makan, tidak mau melakukan apapun. Aku hanya ingin pulang lalu menangis lagi. Inilah akibat kalau kau terlalu cinta, saat harus melepaskan orang yang kau cintai kau akan stress sepertiku.

==

“Jaekyong-ah, ayo makan, aku sudah memasak untukmu nanti makanannya keburu dingin” Jungsoo oppa menyuruhku makan. “Aku nggak lapar, tidak mau makan oppa” aku menjawab dari kamar. “Heh tidak boleh, nanti Appa dan Umma marah padaku, ayoo makan!” kata Jungsoo oppa lagi. “Oppa aku tidak mau makaaaaaaaaan!” jawabku lagi. “Jika kau tidak makan 2 hari lagi kau tidak ku kasih iPod baru!” katanya lagi. Aduh oppa jangan membujukku dengan iPod dong, aku tidak bisa menolak tahu! “Ah oppaaa kau jahat sekali!” akhirnya aku membuka pintu. “Nah gitu dong, ini baru Jaekyong, dongsaengku yang paling cantik!”

“Ayo makan” Jungsoo oppa mengambilkan aku makanan yang ada di meja. Aku makan setengah hati. “Hey, kau tahu? Kau tidak cantik jika kau makan seperti itu. Makan yang benar!” Jungsoo oppa melihatku yang makan dengan setengah hati. “Ne oppa araji” aku melanjutkan makan, kali ini dengan lebih sunggh-sungguh. “Kenapa sih sedih terus? Padahal 2 hari lagi kau kan ulang tahun, harusnya kan kau senang” tanya Jungsoo oppa yang heran melihatku yang tidak karuan ini.

“Aku senang kok” aku mencoba tersenyum. “Tidak usah bohong, kamu pikir oppa buta tidak bisa lihat raut mukamu?” kata Jungsoo oppa. “aku tidak tahu masalahmu, tapi sudahlah lupakan saja, jangan terlalu serius menanggapinya, santai saja” Jungsoo oppa membelai rambutku sayang. Ah oppa tidak tahu rasanya sih punya pacar yang seperti itu. Aku juga ingin melupakan si babo Kim Kibum itu, tapi susah sekali..

“Eh iya sudah lama aku tidak melihat Kibum datang ke rumah, dia sedang sibuk ya Jaekyong?” Jungsoo oppa bertanya lagi. “Eh, Kibum? Aku tidak yahu” jawabku mencoba santai. “Mana bisa kau tidak tahu, kau kan yeoja chingu nya” katanya lagi. “Jeongmal molla oppa, aku tidak di telpon dia akhir-akhir ini” jawabku. Lagian mana mau aku di telpon lelaki tidak normal seperti itu? Ih tidak usah ya!

“Waeyo? Hmm mungkin dia ingin membuatmu kangen ya?” katanya sambil membereskan meja. Aku tidak menjawab. “Wah kalian so sweet banget sih? Aku jadi iri” lanjutnya lagi. Apanya yang so sweet! Jungsoo oppa aneh! “Lebih so sweet oppa dengan Sunghyo lagi, sayang sekali kalian putus” kataku mengalihkan pembicaraan dari Kibum dan aku.

“Kami kan putus untuk kebahagiaan kami” jawabnya. “Ah sudahlah tidak usah memikirkan cinta, sekarang kau tidur ya, jangan sedih lagi, mimpi indah” Jungsoo oppa memelukku lalu pergi ke kamarnya. Semoga saja aku tidak mimpi aneh itu lagi. Semoga.

==

Kibum’s POV

Hmm sudah H-1 ya? Cepat juga dari saat aku bilang kalau aku seorang ‘gay’. Aduh aku rindu pada nae yeoja chingu, sudah 2 hari aku tidak ada telpon dan sms, di sekolah tidak pernah bertemu (kalau tidak sengaja bertemu pun pasti dia menghindar T.T), hah jeongmal bogoshipoh Jaekyong-ah. Teuki hyung juga menyuruhku tidak boleh mengirimkan kabar padamu agar terlihat kalau aku sudah melupakanmu. Padahal aku kan kangen T.T .

Ah iya dimana Sunghyo dan Teuki hyung? Aku sudah menunggu di Bonamana cafe dari pulang sekolah tadi, hampir setengah jam. Kami ingin merencanakan untuk besok, supaya tidak ketahuan oeh Jaekyong makanya kami berkumpul di sini. Tapi mereka belom datang.

Nah itu mereka. “Teuki hyung! Sunghyo-ah! Lama sekali sih kalian..” aku memanggil mereka. “Hehe mianhae Kibum, tadi kami main dulu di taman” kata Teuki hyung menarik kursi dan duduk di hadapanku. “Mwo? ke taman? Ngapain? Kalian kan sudah besar tapi masih main di taman..” tanyaku heran. “Main sebentar, aku rindu sekali dengan pacarku ini” kata Teuki hyung sambil merangkul Sunghyo. Ampun pasangan ini mesra sekali sih, bikin iri! “Aigoo hyung jangan bikin aku iri..” kataku memelas. “Oops mianhae, aku lupa kau pasti lebih rindu pada dongsaengku”

“Iya! Sudahlah ayo kita bicarakan untuk besok, kita harus buat dia shock dulu” kataku. “Tapi jangan terlalu shock, kasihan sekali dia sudah 2 hari menangis terus” kata Sunghyo. “Iya, jangan terlalu membuatnya shock, aku setuju padamu chagiya” Teuki hyung malah terus bermesraan dengan Sunghyo. “Ya! Kalian berdua! Jangan membuatku iri ku bilang” kataku dengan nada agak tinggi. “Iya maaf aku lupa, hehe. Aku sudah punya rencana kok” kata Teuki hyung tersenyum seperti telah merencanakan sesuatu. “Apa itu chagi?” tanya Sunghyo. “Jadi begini...”

“Hahahha, aku suka idemu oppa! Oppa memang pintar!” pekik Sunghyo senang
“Teuki hyung, kau serius merencanakan hal ini? Ini terlalu gila..”
“Sudahlah, aku yakin ini akan berhasil. Tenang saja!” Teuki hyung tersenyum penuh kemenangan. Aku hanya bisa pasrah, yah semoga saja rencana ini berhasil.

==

Jaekyong’s POV

Tepat hari ini aku berulang tahun yang ke 17. Harusnya aku senang hari. Memang sih teman-temanku mengucapkan selamat padaku, tapi aku belum mendapat selamat dari sahabatku Sunghyo, dari Jungsoo oppa juga belum, dari.. si babo Kibum juga belum.

Sunghyo pasti sibuk dengan ekstrakulikuler wall magazine, Jungsoo oppa sibuk dengan kuliahnya, Kibum pasti sibuk menutupi jati dirinya. Ya sudahlah tidak apa. Sekarang aku mau pulang saja. Menenangkan diriku di rumah, tidur maksudku.

Aku keluar gedung sekolah dan melangkah menuju rumahku. Hey, tapi siapa itu? Ku rasa aku mengenal mobilnya. Tunggu dulu, itu kan Jungsoo oppa! Dia mau menjemputku? Aku berjalan ke arah mobilnya. Ternyata di bukan menjemputku, tapi menjemput..Kibum oppa. Aneh, mengapa Jungsoo oppa menjemput Kibum bukan menjemputku? Yang anehnya lagi mereka berjalan ke rumahku. Ada apa ini? Jangan bilang kalau... Andwae!

==

Kibum’s POV

“Mana sih dia? Lama sekali” aku melihat jam, sudah 15 menit. Aku melihat sekeliling. Ada Jaekyong berjalan keluar gedung sekolah. Waduh Teuki hyung harus cepat datang. Bisa gagal semua rencananya.

Ah itu dia mobilnya. “Maaf aku lama, agak lama memilih kuenya” kata Teuki hyung dari dalam mobil. “Ah kwaenchanha, ayo kita harus cepat, aku tadi melihat Jaekyong masih di sekitar sini” aku masuk kedalam mobil. “Ne arasseo, ayo kita ngebut!” Teuki hyung melajukan mobilnya cepat. Dan kini sudah sampai rumah keluarga Park. “Ayo cepat masuk, Sunghyo sudah di dalam”

“Ah kalian sudah datang, cepat kalian bersiap sana” kata Sunghyo sambil mempersiapkan kue untuk Jaekyong. “Bersiap bagaimana?” aku bingung. “Ya... bertelanjang dada” kata Sunghyo agak ragu. “Mwo? Sekarang? Ah aku belum siap” kataku kaget. “Ya sudah kau tidak usah sekarang, cukup buka saja jas sekolahmu dan lepas 2 kancing di bagian atas kemejamu” usul Teuki hyung. “Aku saja yang buka baju, aku mau pamer abs ku sekarang” lanjutnya. “Heh hyung tidak usah terlalu pede seperti itu aku jadi geli mendengarnya” kataku sinis. “Oke aku bersembunyi dulu ya” kata Sunghyo berlalu menuju ruang tengah.

“Ah itu dia datang” aku berseru. “Ayo siap di posisi masing-masing, aku duduk di sofa saja lah” kata Teuki hyung. Sementara aku hanya berdiri di depan Teuki hyung yang duduk di sofa. Tiba-tiba terdengar suara orang membuka pintu. “Jungsoo oppa..?”
Oke ini saatnya. Posisiku sekarang agak maju dan menunduk. Bersiap.
“AIGOO! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”
==
Jaekyong’s POV

Aku berjalan pulang dengan perasaan cemas. Perasaanku campur aduk sambil menduga-duga. Omona, aku takut sekali. Positive thingking, Jaekyong, everything is okay. Aku memacu jalanku lebih cepat lagi. Aku penasaran!

Akhirnya sampai di pintu gerbang rumahku, ada mobil Jungsoo oppa, apa ada Kibum juga di dalam? Aku berjalan pelan-pelan menuju pintu rumahku dan memutar engsel pintu dengan pelan. “Jungsoo oppa..?”

Dan aku mendapatkan pemandangan mengerikan. Sedang apa mereka? Jungsoo oppa yang telanjang dada dan.. Kibum yang memegang dagu oppaku. Ada apa ini? Perasaanku campur aduk, ingin marah dan menangis sekaligus. “AIGOO! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” aku berteriak.

Jungsoo oppa beranjak dari sofa. “Semuanya bisa ku jelaskan Jaekyong..” katanya dengam muka panik. “Apa yang mau kau jelaskan oppa? Semuanya sudah jelas!” aku hampir menangis.
“Jaekyong-ah, dengarkan aku dulu” kali ini Kibum ikut bicara. “Kau lagi,kau lagi. Jadi kau yang membuat Jungsoo oppa putus dengan Sunghyo? Bajingan!” aku tidak tahan untuk marah.

“Aku tahu aku bajingan, tapi dengarkan aku dulu!” Kibum memegang pundakku dan menahanku untuk pergi. “Apa lagi? Semuanya sudah jelas Kibum!” tangisku pecah. Kibum memelukku dan berbisik “Saengil chukkae hamnida chagiya”. Apa lagi ini?

“Saengil chukkae hamnida, saengil chukkae hamnida, saranghaeyo Park Jaekyong, saengil chukkae hamnida!” seseorang membawa kue dan bernyanyi selamat ulang tahun. Omona, itu kan Sunghyo! Aku semakin tidak mengerti.

“Saengil chukkae naui dongsaeng! Saranghaeyo! Mianhae membuatmu menangis..” sekarang gantian Jungsoo oppa yang memelukku. Jangan bilang kalau aku....

“Chagi, mianhae aku, Teuki hyung, dan Sunghyo mengerjaimu, jeongmal mianhae..” Kibum menggenggam tanganku meminta maaf. Sial jadi selama ini aku menangis siang malam hanya untuk dikerjai? JAHAT!

“Jadi aku dikerjai? Heeey aku menangis siang malam tidak nafsu makan 2 hari hanya untuk sebuah kebohongan? Jungsoo oppa, Kibum kalian jahat sekaliiiii!” aku melepas genggaman tangan Kibum dan memukul pundaknya. “Ya! Sakit tahu! Sekarang kau yang jahat!” kata kibum meringis kesakitan. “Dan kau Sunghyo! Kau juga sudah tahu?”aku bertanya pada Sunghyo yang asik tertawa melihatku dan Kibum. “Eh? Yaa begitulah, hehe” ia tersenyum. “Sudahlah ayo tiup lilinnya dulu..”

Pesta kecil-kecilan ini pun berakhir. Jungsoo oppa dan Sunghyo pergi jalan berdua. Katanya mereka kangen. Ya sudahlah toh aku juga rindu pada namja babo ini: Kim Kibum. Rinduuuu sekali.

“Hey, kemarin kau marah ya?” tanya Kibum membuyarkan lamunanku dan duduk di sampingku. Haah kenapa masih bertanya! “Tentu saja, kau me-nye-bal-kan tahu?” aku merengut kesal. “Mianhae.. sudah jangan cemberut kau jelek kalau begitu terus, ayo tersenyum” Kibum membentuk senyuman di wajahku. “Nah begini kan cantik” katanya lagi. Aku jadi melayang kalau begini caranya, hehe.

“Kau ini bisanya menggombal saja” aku melepaskan tangannya dari wajahku. “Kan setiap wanita selalu ingin di gombali” katanya lagi sambil mencolek daguku. “heh tapi aku tidak yang seperti ituu” aku mengelak. “Ah masa?” Kibum merangkak mendekati wajahku.”Iya! Apa yang mau kau lakukan” ia terus merangkak mendekati wajahku.

“Memberikanmu.. ini” ia mengelurkan sesuatu dari tangannya. Kalung berbentuk burung merpati. “Berbalik badan, aku akan pakaikan ini untukmu” aku berbalik dan dia memasang kalung indah itu lalu memelukku dari belakang. “Saengil chukkae chagiya, saranghae..” pelukkannya makin erat. “Nado saranghaeyo..” kataku.
“Chagi..”
“Mwo?”
“Aku...”
“Hmm?”
“Mau...”
“Mau apa?”
“Ke toilet”
GUBRAK!
Kim Kibum babo!! “Hah, ya sudah sana, dasar kau ini”. “Tunggu ya, aku tidak lama kok” ia berjalan ke toliet. Aku duduk menunggunya sambil melihat-lihat isi handphone Kibum. Eh ada sms, dari Jungsoo oppa. Aku membukanya.

“Chagiya, kau dimana?”

Mwo? Chagiya? Jungsoo oppa memenggil Kibum chagiya? Ada apa ini?

“KIM KIBUUUUUUUUUUUUUM! SINI KAU!”

==the end==

Di dedikasikan untuk adik kelas saya yang cinta mati ama Kibum : Restu Nalita. Maaf ya jelek ff nya hehe 
Read more...

2 Weeks with 13 Adorable Boys [part2]

“Kita mau kemana oppa?” tanyaku pada Eunhyuk oppa yang mendorong kursi rodaku keluar dorm. “Hari ini kita mau ke rumah sakit, kita mau terapi kaki kamu, jadi kamu bisa lari-lari lagi deh!” jawab Leeteuk oppa sambil tersenyum.

Aduh aku merepotkan sekali sih? Sudah diberi tempat tinggal sementara, biaya rumah sakit ditanggung mereka, aduh jadi tidak enak hati nih.

“Oh, berarti kalau aku bisa lari nanti, aku bisa kabur dari urusan makan sayur dong! Yeey!” kataku. “Enak saja! Makan sayur itu wajib anak cantik!” kata Eunhyuk sambil mencubit pipiku. Lalu kami naik minibus Super Junior menuju rumah sakit.

Saat di rumah sakit...

“Nona Ahn, silahkan masuk ruang terapi.” kata seorang suster. Teuki oppa mendorong kursi rodaku menuju ruang terapi sambil membisikiku “Ahn SungHyo hwaiting!”

Dari kejauhan terdengar juga Eunhyuk, Heechul, Kibum, dan Kangin oppa berteriak “CEPAT SEMBUH AHN SUNG HYO! AHN SUNG HYO HWAITING!” ampuun, mereka bikin aku melayang terus nih. Hihihi.
Terapi pun dimulai. Aku disuruh menaik berapa alat-alat yang akan menguatkan kakiku. Alat-alatnya sangat aneh. Yang paling normal hanya sebuah alat mirip sepeda yang tak beroda. Sudahlah aku ikuti saja apa kata dokter -,-

Dari kejauhan aku melihat oppa-oppaku melihat bagaimana aku di terapi. Ah kan jadi malu (>///<). Mereka memberikan semangat. Aku lihat Eunhyuk oppa paling bersemangat memberikanku semangat (?). Dia menari-nari sambil berteriak tanpa suara “Ahn Sung Hyo hwaiting!”. Aku jadi terharu T.T

Akhirnya rangkaian terapi pun usai. Senangnyaa bisa keluar dari gudang penuh barang aneh itu. “Nah 2 hari lagi kamu terapi lagi ya? Arasseo?” kata Leeteuk oppa. “Ne oppa!” jawabku.
“Nanti kalo udah bisa jalan, kamu bikin janji ya ama oppa?” kata Eunhyuk oppa.
“Janji apa?”
“Kalo kamu udah bisa jalan kamu harus bisa nari Sorry-Sorry”
“Heh?”

“Hyung kesian bener dia baru bisa jalan lagi udah disuruh nari Sorry-Sorry” kata Kibum oppa. “Udah jangan dengerin omongannya si Monkey oppa ya?” kata Kibum oppa lagi sambil menutup telingaku. Aigoo mukaku jadi merah nih (>///<). Sekarang muka Kibum oppa dengan mukaku sangat dekaaaat sekali.

“Eh gak apa-apa kok oppa, aku malah jadi semangat nih. Hihi” jawabku. “Wah bagus dong!” kata Kangin oppa. “Aku akan terus nyemangatin kamu biar bisa jalan lagi! Semangat!” kata Kangin oppa lagi.

“Iya oppa kan emang selalu nyemangatin aku, sampe bikin aku makan sayur. Hueek” kataku lagi. “Hahaha mianhae SungHyo-ah! Tapi sayur enak kan?” tanya Kangin oppa. “Hueek” jawabku.

“Aduh SungHyo! Kok kamu lucu bangeeeet sih?” kata Leeteuk oppa sambil mencubit pipiku. “Tau nih kamu terlalu polos untuk remaja umur 16 tahun!” kata Eunhyuk oppa sambil mencubit pipiku juga. Ah masa sih aku sepolos itu? “Aku mau deh punya dongsaeng kaya kamu!”
“Ah udah deh oppa! Kita pulang aja yuk?”
==
Ah kenyangnya, gomawo Hankyung oppa yang membuatkan makan malam kali ini. Oh! Aku baru ingat hari ini ada Dream Team. Aku arus lihat Minho. Kyaaa!

“Oppa, aku mau nonton Dream Team dong!” kataku pada Yesung oppa. Seolah ia bisa menebak pikiranku ia berkata “mau nonton Minho ya?”. GLEK! Ketahuan deh “Engga kok Cuma pengen nonton aja..” kataku. “Ah masa? Biasanya cewek-cewek mau nonton Dream Team soalnya ada Minho lho, masa kamu enggak?” haaah mampus deh aku. “Emm.. aku kan mau nonton Eunhyuk oppa!” fiuh.. untung nemu alasan.
“Ah boong gak percaya!” kata Yesung oppa.
“Hey ada apa kok ribut ribut?” kata Shindong oppa sambil membawa buah.
“Ini loh masa SungHyo naksir ama Minho!” kata Yesung oppa cukup keras sehingga seluruh dorm dapat mendengar apa yang dia katakan. “Oppa! Aniyo!!”

“ciyekaan naksir ama Minho, aku bilangin ke dia deh salam sayang dari kamu unyuu” kata Donghae oppa sambil bergaya imut. Tidaaaaak mau ditaruh mana mukaku? “Aigoo oppa nggak kok aku nggak naksir Minho! Cuma...”

“Cuma apa?” kata semua orang di ruangan itu (kecuali aku tentunya).

“Iya deh ngaku! Aku Minho bias!” jawabku terpaksa. Iya terpaksa, habis Ryeowook dan Sungmin oppa mengelitiki aku dari belakang -_-.

“Nah kan ngaku juga! Sunghyo.. Sunghyo, ngomong gitu aja susah!” kata Yesung oppa. Ya iyalah susah! Aku kan gak mau ngasih tau orang lain kalo aku sebenernya cinta-mati-banget sama Minho. Maluu (>///<)

“Eh tapi.. kita belom tau kamu suka siapa di Super Junior...” kata Eunyuk oppa tiba tiba.
“Eh iya kamu suka siapa di Super Junior? “ tanya Donghae oppa. “Iya suka siapa? Kamu bias ama siapa?”
Jujur gak ya? Sebenarnya aku itu.. Kyuhyun bias. Makanya pas di rumah sakit aku senang banget. Kyuhyun oppa selalu menggenggam tanganku, pokoknya perhatian deh! Maaf ya kawan, bukannya aku membuat kalian cemburu, tapi memang itu kenyataanya. Aku sendiri masih tak percaya kalau tanganku pernah digenggam oleh dia >,<

“Mau di kelitikin lagi sunghyo-ah?” kata Sungmin oppa agak mengancam. Tetap saja nadanya mengancam tapi mukanya masih cute. “aniyo oppa” jawabku. “Jawab dong makanya! Siapa? Aku kan?”kata Heechul oppa. “Gak mungkin! Pasti aku ya kan? Aku kan Korea’s number 1 Handsome Man!” kata Kangin oppa “Aniyoo! Pasti aku!” “Bukan. Aku!” kata Kyuhyun oppa.
Jadi ini rasanya ya tinggal dengan Super Junior, super berisik! Hihihi. “Hey sudah-sudah. Sekarang waktunya SungHyo tidur..” kata Leeteuk oppa sambil buru-buru menyelamatkanku dari kerumunan oppa-oppa narsis. Ah leeteuk oppa memang paling baik! Jeongmal gomawoyo oppa ^^.
“Gomawo oppa telah menyelamatkan aku! Fiuuh lega deh” ucapku pada Leeteuk oppa. “Kkkk~ mianhae SungHyo-ah, kamu gak betah ya?” tanya Leeteuk oppa padaku sambil tersenyum. Ku beritahu ya, wajah Leeteuk oppa itu ganteng banget dari dekat. Sumpah!
“Hmm betah-betah aja kok oppa hehe.” Jawabku. “Oppa,” panggil ku pada leeteuk oppa. “ceritain deh waktu itu kok aku bisa kecelakaan? Aku benar-benar nggak ingat” tanyaku.
“hemm jadi waktu itu kami lihat kamu lagi menyebrang, kamu tidak melihat jalan, tiba tiba minibus kami menabrak kamu.” jawab Teuki oppa. “Lalu?”

“Yang pertama turun dari mobil dan menyelamatkan kamu adalah Kyuhyun, dia buru-buru menggendongmu masuk ke dalam mobil, dan menyuruh supir untuk mengebut ke rumah sakit, saat di rumah sakit iya selalu berkata ‘aku tidak ingin orang lain sepertiku’ dan dia selalu memperhatikan keadaan mu dari jam-ke-jam. Sepertinya dia tidak ingin ada orang yang sama nasibnya dengan dia, mengalami kecelakaan parah.”

Aku tersentak mendengar perkataan Leeteuk oppa. Benarkah Kyuhyun oppa seperti itu? “Jeongmal oppa?” kataku masih tak percaya. Aku tahu saat aku sadar Kyuhyun oppa menggenggam tanganku sangat erat sekali. “Sebenarnya di balik sikapnya yang jahil itu, dia menyimpan trauma mendalam..” kata Teuki oppa. Bener ya ternyata dia itu puitis.
“Sudahlah SungHyo, kamu tidur saja. Sudah malam kan?” kata Teuki oppa sambil membantuku turun dari kursi roda. “Chalja oppa” kataku. “Chalja, eh besok kamu harus kelihatan sehat ya! Oke?”
“Memang kenapa?” tanyaku. “Sudahlah, chaljayo~”

TO BE CONTINUED~~~~~
Read more...

Selasa, 11 Mei 2010

2 Weeks with 13 Adorable Boys [part1]

Entah apa yang harus ku katakan sekarang. Aku disini, bersama 13 cowok-super-ganteng-super-multitalenta di hadapanku. Di sebuah ruang rumah sakit yang sepertinya VVIP. Bagaimana mungkin aku ada di sini?

Oke aku akan perkenalkan diriku dulu. Namaku Ahn Sung Hyo, umurku 16 tahun, dan entah mengapa aku ada di sini.

Ah, kepala ku sakit, di perban lagi. Ada apa sesungguhnya denganku? Aku tidak mengingat apapun belakangan ini.

“Ah kau sudah sadar... syukurlah” ucap sebuah suara. Siapakah itu? Rasanya aku mengenal mukanya...

“Dia sudah sadar?” ucap sebuah suara lagi. Ah lagi lagi aku merasa mengenalnya. Tapi siapa? Ayo Sung Hyo, ingat, ingat..

”Kau sudah sadar?” ucap sebuah suara yang lainnya. “Kwaenchanhayo?” kali ini dia menggenggam tanganku.

Akhirnya aku tersadar. Lelaki yang sedang menggenggam tanganku ini kan Super Junior’s Kyuhyun! Kyaaaaa~ bagaimana mungkin? Menonton konser mereka saja aku tidak pernah! Sekarang mereka ada di hadapanku dan memperhatikan aku sedekat ini? Rasanya aku mau mati. Tapi tidak jadi deh. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan bertemu denga mereka? Kkk

“Ne, kwaenchanha” jawabku. “Tapi mengapa aku ada di sini?” tanyaku lagi.

“Kau tadi tertabrak mobil kami saat kau ingin menyebrang, kamu sempat pingsan sampai 12 jam.” Kata seorang lelaki berbadan tinggi dan sepertinya sangat atletis. “Untunglah kau sudah sadar sekarang” katanya lagi sambil mengelus kepalaku. Ya ampun dia kan Siwon! Tidak mungkin! Barusan ia mengelus kepalaku? Ah masa? Mungkin aku mimpi? Sepertinya tidak.\

“Jeongmal? Aigoo. Gamsahamnida telah membawaku ke sini. Besok aku akan pulang” kataku. “Emm, sebenarnya kau tak bisa pulang, dokter bilang syaraf-syaraf pada kakimu agak shock, jadi kau belum bisa berjalan...” kata.... Eunhyuk! Ya ampun dia sangat tampan jika dilihat dari dekat.

“Apa? Pasti orangtuaku mencari ku!” kataku panik. “Kau bisa berikan nomor telpon rumah mu? Dan siapa namamu?” tanya... kali ini Leeteuk.

Mwo? Nomor telepon? Aku tidak hafal, aku baru 5 hari pindah ke daerah ini. “Joneun Ahn Sung Hyo imnida. Aku tidak tahu oppa, aku baru 5 hari pindah ke daerah ini. Jangankan nomor telepon, alamat rumahku saja aku tidak tahu..” jawabku

“Lalu bagaimana hyung?” tanya Kyuhyun pada Leeteuk. Omona, dia masih menggenggam tanganku >,<
“Maukah kau untuk sementara tinggal di dorm kami?”


Sampailah aku di sini. Di dorm yang sangat besar sekali untukku. Ya iayalah, ini kan untuk 13 orang. “Wah aku tidak menyangka di sini sangat rapih..” ujarku pada mereka.

“Ehm, aku yang membereskan semuanya” kata Heechul oppa. “Jeongmal oppa? Hebat!” pujiku padanya. “yah Sung Hyo-ah, jangan mudah percaya dengan omongannya!” kata Leeteuk oppa sambil memelukku dari belakang. Ya ampun oppa, kalau kau memelukku seperti ini terus aku bisa pingsan >.<

“Aish~ hyung jangan membuatku malu!” balas Heechul oppa. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka. “Ayo Sunghyo ku tunjukkan kamarmu” kata Heechul oppa sembari mendorong kursi rodaku menuju ke arah kamar.

“Maaf tidak terlalu besar, tapi ku rasa cukup nyaman” kata Heechul oppa, eh ternyata Heechul oppa itu kalem sekali ya jika bertemu orang baru. Hihihi. “Iya oppa, nggak apa-apa kok, ini sudah berlebihan buat aku. Gamsahamnida oppa.”

“Waktunya makan malaaaam! Ayo Sunghyo makan yang banyak ya!” kata Ryeowook oppa sambil mengambilkan nasi untukku. Aduh oppa baik banget deh! Jadi makin ngefans! “Gomawo oppa, iya aku pasti makan banyak! Hihi” kataku.

“Sunghyo mau makan apa? Oppa ambilkan ya?” kata Yesung oppa. “Pake ayam mau?” tawar Shindong oppa. “Makan sayur juga ya biar sembuh?” kata Leeteuk oppa. Heh? Aku sama sekali gak suka sayur. Hueek. “Oppa, aku gak suka sayur, gak enak!” kataku pada Leeteuk oppa. Tapi perkataanku itu ternyata membawa dampak besar.

“Oke semuanya, singkirin semua makanan kecuali sayur. Kita bikin Sunghyo suka makan sayuuur!” Kangin oppa menyuruh semua menyingkirkan semua ayam, ikan, daging dari meja. “Tidaaaaak!” aku lupa aku tak bisa kabur, aku kan belom bisa jalan! Aduuh aku gak mau makan sayur!

“Ayo Sunghyo buka mulutnyaaaa... aaa” kata Donghae oppa. “Gak mau oppa!” ingin sekali aku menyingkirkan sayur itu dari depan wajahku, tapi apa daya? Tanganku di pegangi Kyuhyun oppa. Akhirnya aku menutup mulutku. Tapi... “Aduh Sunghyo minta dibukain ya mulutnya? Sini oppa bantuin!” kata Hankyung oppa mencoba membuka mulutku lebar-lebar. Akhirnya sebongkah kecil brokoli pun masuk ke dalam mulutku. Ingin aku muntahkan rasanya.

“Gimana? Enak kan sayurnya?” goda Kibum oppa sambil tersenyum. Aduh oppa senyumnya..
“Enak apaan? Mau muntah nih!” kataku. Semua hanya tertawa melihat tingkahku.
Mulai besok, hari-hariku bersama mereka akan dimulai....

TO BE CONTINUED ^^
Read more...

Minggu, 09 Mei 2010

Super Father [part 1]


Sore hari di dorm Super Junior. Suju members lagi pada nonton SHINee Hello Baby yang episode terakhir nih. Mereka nonton dengan serius.
“Hyung! Liat deh si Yoogeun lucu banget ya?” kata Ryeowook si eternal magnae. “Iya lucu banget. Waktu itu aku pernah ketemu lho..” pamer Leeteuk. “Dimana hyung?” tanya Kangin. “Di SBS pas taping Star King, aku sempet ngegendong dia tapi dianya gak mau” kata Eunhyuk sedih. “Mungkin muka Eunhyuk hyung lagi jelek kali jadi dianya gak mau digendong ama Eunhyuk hyung! Hahahaha!” ejek si evil magnae, Kyuhyun.
“Huss Kyuhyun-ah! Jangan di ketawain! Ntar tambah jelek dia! Hahaha!” tambah siwon
“udah ah jangan ejek ejekan!” kata Sungmin. “Omona~ kalo liat Yoogeun pengen cepet nikah trus punya anak deh..”



Saat makan malam....
“Eh kok tiba tiba aku juga pengen punya anak juga ya? Gara-gara Yoogeun nih!” kata Yesung
“Andwae! Ngurus Ddangkoma aja belom gape udah pengen ngurus anak!” olok si Heechul. “Iya deeeh yang gape ngurus kucing!” jawab Yesung setengah kesel .
“hush hush udah udah! Tapi emang bener deh kalo liat anak kaya Yoogeun yang lucu banget pasti bikin pengen punya anak juga. Mana bisa dance Ring Ding Dong lagi! Beuuuh...” kata Hankyung pake gaya The Changcuters.
“coba bisa dance Sorry Sorry ya hyung? Langsung adopsi!” tambah Yesung lagi “wah wah bener tuh! Pasti lucu banget deh unyunyunyuuu”kata Shindong gemas.
“Kalo aku, gak bakal aku ajarin dance” kata Kyuhyun nimbrung. “Trus apa? Nyanyi?” tanya Donghae
“Nggak juga” jawab Kyuhyun
“Trus apa dong?” tanya Donghae lagi.
“Ajarin main Starcraft dong hyung! Ngapain ajarin ngedance? Capek! Mendingan Starcraft! Seru dan asyik!” kata Khyuhyun dengan nada mirip kaya Fitri Tropica (Author: mianhae chagiya aku merusak image mu T.T)
Semua terdiam mendengar ucapan Kyuhyun, menatap Kyuhyun sinis
“Mwo?” kata Kyu heran (Author: plis deh kok suami gue lemot bener yak -__-)
“udah lah Kyu sekarang amu cuci piring aja” perintah Heechul. “Ne hyung

Di kamar Kyuhyun dan Sungmin..
“Sungmin hyung, bengong aja sih” tanya Kyuhyun sambil menyenggol Sungmin.
“Eh? Lagi mikirin..”
“Yoogeun? Aigoo~” potong Kyuhyun
“Abisan lucu banget sih.. aduh..” jawab Sungmin
“Udah ah hyung, tidur aja yuk!” ajak Kyuhyun “ne dongsaeng-ah!”

Jam 6 pagi. Dorm suju
“Yah Ryeowook-ah! Tumben udah bangun..” sapa Sungmin sambil minum secangkir teh. “Iya nih hyung! Lagi semangat bangun pagi kkkk!” jawab Ryeowook. “Lari pagi yuk wookie?” ajak Sungmin semangat. “ Yuk hyung!”

Saat mereka membuka pintu keluar dorm, mereka melihat sebuah keranjang yang berisi..

“Apaan nih hyung?” tanya Ryeowook pada Sungmin.
“AIGOO~! Ini mah bayi!” Sungmin buru-bura menggendong bayi yang sedang tidur itu.
“Tapi ini bayi siapa hyung? Kok bisa nyasar kesini?” tanya Ryeowook lagi dengan muka polos polos ucul. “Meneketehe! Udah deh bawa masuk dulu bayinya! Pasti kedinginan deh”
“TEUKI HYUUUUUUNG! KITA PUNYA BAYIIIIIIIIIII! (?)” teriak Ryeowook memanggil Leeteuk yang masih tertidur. “heh Wookie! Lo rusuh amat sih?” kata Sungmin agak sewot. “Eh mian hyung, excited sih!” kata Ryeowook meminta maaf.



“Apaan sih pagi pagi udah rusuh? Ganggu aja nih, lagi mimpiin Syahrini juga!” omel Leeteuk. “Syahrini teh saha, hyung?” tanya Ryeowook
“Itu loh, yang duet ama Anang! Masa gak tau? Gak gaul ah!” jawab Leeteuk. Ryeowook hanya mengangguk sambil berkata “Oh..”
“eh ada apaan sih pagi pagi berisik amat..?” tiba-tiba Siwon datang. “Iniloh, tadi aku sama Wookie nemu bayi di depan rumah..” kata Sungmin mencoba menjelaskan.
“MWO?! BAYI?” kata Siwon dan Leeteuk kaget. “Ne, nih bayinya..” Sungmin menyodorkan bayinya. “Eh Teuki hyung, kok bayinya mirip ama....” kata Siwon menggantung. “Kibum ya..” tambah Leeteuk.
“Wah jangan-jangan ini anaknya Kibum?” ceplos Ryeowook.
“Huss! Jangan ngawur deh!” kata Sungmin sambil melihat baju yang digunakan bayi itu. “Ada namanya! Kim Kwang Jin” lanjut Sungmin.
“makin yakin itu anaknya Kibum, marganya Kim masa -_-“ kata Siwon curiga

Tiba tiba...
TING TONG!
“annyeonghaseyo... eh hyung! Aku pulang nih! Kok gak disambut?” Kibum datang.
“Yah Kim Kibum, sini.” Panggil Leeteuk. “waeyo hyung?” tanya Kibum.
“kamu udah punya anak?” tanya Leeteuk lagi. “Hah? Yang boneng aja hyung, pacar aja gak punya apalagi anak!” jawab Kibum gak nyante.
“Tapi masa ini bayinya mirip kamu, liat deh” kata Ryeowook nimbrung.
“eh iya” kata Kibum setuju. “Tapi suwer deh hyung, bukan anak aku!”
“hey.. ada apa ini rame amat?” Hankyung tiba tiba muncul “HEY, KIM KIBUM IS BACK YO!” entah kesambet setan apa dia menyapa Kibum pake gaya b-boy. “Yeah Kim Kibum is here” bales Kibum. Hankyung belum menyadari apa yang terjadi sampai...

“HEH ITU SUNGMIN GENDONG APAAN?” teriak Hankyung kaget. “ssst! Jangan berisik ngapa hyung! Lagi tidur ini!” omel Sungmin
“Eh mianhae Min-ah.. tapi ini bayi siapa deh?”
“gatau hyung, tadi neu di depan dorm” kata Ryeowook
“Coba sini liat.. unyunyunyu aegyo! Tapi kok mirip Kibum yah? Jangan-jangaaan..”
“Apa hyung?” tanya Kibum sinis. “Aniyo Kibum-ah” jawab Hankyung agak stress .
“Parah banget nih ah! Gue pulang bukannya disambut malah dituduh punya bayi! Grr!” gerutu Kibum dalam hati.
“nah sekarang bayinya mau kita apain hyung?” tanya Siwon. “Ya kita rawatlah! Masa mau dibuang lagi? Gini gini hyung juga manusia punya rasa punya hati (?)”

“Aku nggak mau ngerawat ah, hyung aja” kata Kibum lagi. “Enak aja! Urineun chu peo juni oeo! Harus selalu bersama duoong” kata Leeteuk. “nah sekarang ayo kita belanja buat keperluannya Kwang Jin!”
“Duitnya?” tanya Sungmin. “Ada bank kita tuh” jawab Leeteuk sambil nunjuk Siwon. “Heh? Aku? Lagi? Okelah kalo beg beg begitu -_-“ jawab Siwon pasrah

Maka Hankyung, Sungmin, Leeteuk, Kibum, Ryeowook dan Siwon pergi ke mal membeli peralatan bayi untuk Kwang Jin sementara Kwang Jin tertidur di kamar Sungmin dan Kyuhyun. Satu persatu member super junior yang lain pun mulai bangun.

“Hoahm... udah pagi ya?” Kyuhyun terbangun lalu menengok ke arah kasur Sungmin. “eladalah. SUNGMIN HYUNG BERUBAH JADI BAYI LAGI! TIDAAAAAK” teriak Kyuhyun ala sinetron Indonesia.

“Apaan sih Kyu? Rusuh amaat!” Heechul datang ke kamar Kyuhyun.
“Iyanih Kyu ganggu aja, ada apaan sih Kyu?” Eunhyuk juga dtang ke kamar Kyuhyun. “Tuh liat! Masa Sungmin hyung berubah jadi bayi lagi!” kata Kyuhyun sambil menunjuk ke arah Kwang Jin. “Yang bener aja deh Kyu, itu bayi lain kalee bukan Sungmin...” jawab Heeschul dengan muka setengah ngantuk. “Kebanyakan main game sih, otaknya terkontaminasi” kata Eunhyuk berjalan mendekati kasur Sungmin. “ Gendong ah.. wuih berat juga ya?” kata Eunhyuk lagi
“Nyoba gendong juga dong hyung” kata Kyuhyun. Eunhyuk menyerahkan Kwang Jin pada Kyuhyun. “Hap! Bisa juga gue gendong bayi” ujar Kyuhyun senang. “Eh tapi kok mukanya familiar banget ya hyung? Kaya mukan siapaaa gitu..”
“Kayak muka aku kan? Aku emang baby face sih gimana yaa” kata Heechul narsis. “Aish! Bukan hyung! Liatin deh mukannya!” kata Kyuhyun lagi
“ Ini mah... Kibum..” kata Eunhyuk dan Heechul berbarengan.

“HAAAA MASA ITU ANAKNYA KIBUM?” tiba tiba Yesung dtang mengagetkan Kyuhyun, Heechul dan Eunhyuk. “YAH KIM JONG WOON! NGAGETIN TAUK!” ujar Kyuhyun, Eunhyuk dan Heechul berbarengan.
“hehe sorry sorry sorry sorry” Yesung meminta maaf. “Eh tapi beneran itu anaknya Kibum?”
“Ya gak tau, muka sih mirip, tapi... masa Kibum sih?” jawab Heechul.
“Nyoba gendong dong Kyu” Yesung meminta Kyu menyerahkan Kwang Jin. Saat Yesung mencoba menggendong Kwang Jin....
“hueeeee... huaaaaa”
“Nah lo bangun bayinyaa” kata Kyuhyun.
“cup cup cup.. jangan nangis dong...” kata Yesung mencoba menenangkan Kwang Jin. Tiba tiba.....
“ih kok basah ya?” kata Yesung
“Ih bau pesing” lanjut Kyuhyun
“Jangan – jangaaan...” sambung Eunhyuk. “AIGOO~~~ dia ngompol!” lanjut Heechul.
Muka Kwang Jin cerah ceria setelah mengompoli Yesung. Hal itu membuat Kyuhyun tertawa geli sekali. “Hahahaha.. nasibmu hyung! Hahaha”
“Sabar ya Yesung-ah.. kkkk” kata Heechul.
“Bayinya di gendong terus ya hyung, nanti kalo kena kasurnya Sungmin bisa marah dia.”kata Eunhyuk mengingatkan.
“Eh eh jangan ngabur dong!” kata Yesung
“Aku mandi dulu ya hyung..” kata Kyuhyun sambil lalu.
“Aku sama Eunhyuk sarapan dulu ya yesung-ah, annyeoong..”
“Aish! Pagi pagi bukannya wangi malah pesing!” gerutu Yesung.
TO BE CONTINUED....



Read more...